Showing posts with label Angie. Show all posts
Showing posts with label Angie. Show all posts

Wednesday, May 08, 2024

P i a n i k a

 


Kemarin, Selasa 7 Mei 2024, seorang rekan kerja datang ke rumah pagi hari, belum ada jam 09.00. Aku heran, tidak ada hujan tidak ada angin, ngapain dia datang ke rumah? kalau masalah pekerjaan kan kami bisa ngobrol di kantor. tapi mengapa dia perlu bela-belain datang ke rumah yak?

Ternyata o ternyata, dia mengembalikan pianika yang entah kapan dia pinjam, aku sendiri sudah lupa. Mungkin bahkan sejak Angie masih duduk di bangku SMA, karena seingatku, Angie sudah tidak membutuhkan itu di sekolah. Ini berarti sebelum tahun 2009. (Angie lulus SMA tahun 2009). 

Saat dia bilang mau 'pinjam' pianika itu, dia malah 'nembung' mau dia beli saja itu pianikanya. Aku -- yang tidak memiliki sense of business, lol -- malah merasa tidak enak hati, mosok mau dia beli? Dia bersikeras ingin membelinya, aku bersikeras untuk meminjamkannya saja, meski dia bilang dia akan pinjam dalam waktu lama. Bertahun-tahun. Aku bilang tidak apa-apa. Pakai saja selama anak-anaknya butuh.

Sekitar enam tahun yang lalu, saat Rani keponakan duduk di bangku kelas 2 SD, dia bilang dia butuh alat musik, untuk dimainkan di sekolah. Aku maju mundur mau meminta pianika yang dipinjam itu. Sudah terlalu lama, aku jadi tidak enak hati. 'Untung'lah aku sedang punya rezeki, maka aku belikan satu pianika untuk Rani. Semenjak itu, blas, aku tidak lagi ingat pianika milik Angie yang dipinjam.

Kemarin waktu rekan kerja itu mengembalikan, aku mau bilang, "Kamu simpan saja, tidak apa-apa." Tapi, aku kok ya ga enak hati. (hahaha, kok aku serba ga enak hati yak? wkwkwkwk) Dia sudah menyempatkan membawa pianika itu ke rumah, membelikanku chiffon cake sebagai ucapan terima kasih, mosok aku tolak? Dan aku pikir, tentunya anak keduanya pun sudah lulus SMA, jadi sudah tidak membutuhkannya lagi.

Semalam, waktu Angie melihat pianika itu di atas tempat tidur, dia nampak heran, dan berseru, "Loh Ma, kok ada harmonika?" wkwkwkwkwk ... dia sampai salah sebut. 

Kujawab, "Ini pianikanya Angie! yang dulu dipinjam om A."

Well, kisah mengharukan ini -- lol -- kuabadikan di sini saja, in case next time aku ingin mengingat-ingat lagi, kapan pianika ini dikembalikan. Saat pianika dipinjam lebih dari 15 tahun yang lalu, aku tidak menulisnya di sini.

PT56 11.30 08/05/2024

Tuesday, April 20, 2021

Ultah Angie 2021

 


Tidak selalu kami sekeluarga mengadakan acara spesial untuk merayakan ulang tahun, meski acara 'spesial' itu hanya makan-makan di luar. Kebetulan tahun ini ada kisah yang bisa kubagikan. :)

 

Angie berulangtahun pada tanggal 8 April. Tahun ini tanggal 8 April jatuh pada hari Kamis. Dan aku mengajak seluruh anggota keluarga untuk eating out di hari Sabtu siang. Mumpung ada mobil nganggur di rumah, aku mengajak keluarga ke Kampung Jawa Sekatul, Limbangan Boja, Kendal. Terakhir aku mengajak keluargaku kesana di bulan September 2018, hampir 3 tahun yang lalu.

 

Kampung Jawa Sekatul adalah satu destinasi wisata yang cukup komplit, pada zamannya (baca => sebelum pandemi covid 19). Ada restoran yang menawarkan menu masakan Jawa, ada area outbound, berenang, berkemah, juga penginapan. Aku pertama kali kesini dengan Ranz naik sepeda di bulan Oktober 2013.

 

Aku dan keluarga berangkat dari rumah sekitar pukul 12.30. jarak rumah - Sekatul 25 kilometer dengan mengambil rute Pusponjolo - Bunderan Kalibanteng - pasar Jrakah belok kiri ke arah Ngaliyan - BSB - Mijen - Boja - Cangkiran - Sekatul. Bagi yang suka menantang diri dengan trek-trek tanjakan, bolehlah mencoba bersepeda kesini, apalagi sesampai sini kita bisa memilih menu masakan dan minuman yang bisa mengganti energi yang telah kita keluarkan.

 

Sungguh tidak kusangka ternyata setelah pandemi menghantam dunia lebih dari satu tahun, Sekatul pun nampak mengalami dampak pandemi ini. Jika dulu sesampai lokasi, kita agak kesulitan mencari tempat parkir, (terutama yang naik mobil, kalau naik sepeda motor atau sepeda onthel masih mudah. ) kali ini, ruang parkir itu nampak luas sekali karena jarang yang datang kesini. Ketika keluargaku sampai, disana aku melihat tidak lebih dari 7 mobil yang diparkir.

 

Setelah masuk, aku sempat panik ketika tahu bahwa bangunan di balik pendopo tempat dulu orang-orang memesan makanan tutup. Loh, kok tutup? Dimana sekarang kita bisa memesan makanan? Ternyata o ternyata, sekarang para diners bisa memesan makanan di satu area yang merupakan bagian dari pendopo yang terletak di sebelah persis tempat parkir mobil.

 

Meski sepi, kita bisa memesan semua jenis masakan yang tertera di menu makanan. Pihak Sekatul tetap menyediakan semua jenis masakan yang ada di menu. Dan karena lokasinya sepi, aku dan keluarga pun bisa leluasa memilih mau duduk di gazebo sebelah mana, tanpa perlu bersaing dengan para diners lain. Ketika memilih mau duduk di gazebo mana, aku hanya melihat 2 gazebo yang telah diduduki pengunjung lain. Yang lain masih kosong. Ini satu hal yang menyenangkan buat pengunjung seperti aku dan keluarga, tapi tentu tidak begitu menyenangkan bagi pengelola ya. :(

 

Karena sepi, aku melihat kolam renangnya tidak dirawat dengan baik. Dari jauh saja aku melihat kolamnya kotor, air hanya ada sedikit. Aku tidak sempat berjalan-jalan mengitari area, tapi Angie dengan kedua adik sepupunya yang berjalan-jalan, melaporkan ada beberapa area yang tertutup, tidak bisa dilewati.

 



 

 

Untuk tujuh orang, aku memesan satu paket family untuk 4 orang, isinya ayam goreng, nasi, dan satu teko teh, kita bisa memilih hangat atau dingin. Selain itu, aku juga pesan satu kilogram ikan nila goreng (isinya 3 ekor), dan satu teko wedang jeruk hangat.

 



 

 

Sekitar pukul setengah empat kita meninggalkan Sekatul, terutama karena kita mulai merasa titik-titik gerimis turun. Kita lupa membawa payung, tentu kita tidak mau kehujanan saat berjalan kaki keluar dari dalam area menuju tempat parkir.

 

Bye bye Sekatul, kapan-kapan, kita dolan kesini lagi. insyaAllah.

 

19042021

Thursday, April 30, 2015

My Lovely Star, Sang Anugerah Terindah

Enam tahun telah berlalu ...

(check this post, will you?)

 

Enam tahun lalu aku menulis beberapa 'stages' penting perjalanan hidup Angie, oh no, perjalanan hidup kita berdua. :) Dan ... tibalah 'stage' penting berikutnya: Angie wisuda! Yay!

 

Di awal Angie kuliah -- kebetulan dia memilih fakultas yang menurutku juga sangat menarik -- aku sempat berkata pada diri sendiri bahwa aku akan menemaninya belajar.

 

(hah! padahal waktu duduk di bangku SD - SMP - SMA aku ga pernah melakukannya. LOL. I have been very blessed to have her as my one and only daughter karena ga pernah aku harus mengawasinya belajar waktu duduk di bangku sekolah. Maklum, pekerjaanku sebagai guru les Bahasa Inggris yang tiap malam justru sibuk berbagi ilmu dengan anak-anak lain, sehingga di rumah Angie harus belajar sendiri. Aku cukup mengingatkannya, "Belajar itu buat Angie sendiri, buat masa depan Angie. Bukan buat Mama." Dan Angie menyadarinya bahwa yang kukatakan itu benar adanya. Maka jika kadang beberapa teman bercerita mereka harus mengawasi anak-anak mereka belajar, atau sekedar mengerjakan pe-er, aku tidak pernah harus melakukan itu. 😄 )

 

Konon di fakultas Psikologi seseorang akan belajar tentang karakter seseorang, sekaligus mungkin mengkaji mengapa seseorang bisa berkarakter seperti itu. Hmmm ... jika dilihat dari sudut ini, nampaknya ga jauh beda fakultas Psikologi dengan fakultas Sastra, terutama ketika kita mengkaji karya-karya sastra dan mempelajari satu tokoh yang menarik, mengapa karakternya begitu, dll. Itu sebab aku ingin menemani Angie belajar, mendiskusikan satu kasus atau teori, atau apa lah itu.

 

Kenyataannya ternyata tidak seperti itu. Aku tetap sibuk bekerja, dan juga ... sepedaan. LOL. Waktu yang kuluangkan untuknya pun kian sempit, meski jika kita kebetulan punya waktu bersama, kadang kita gunakan untuk membahas sesuatu, yang kita hubungkan dengan beberapa teori yang dia pelajari di kampus.

 

Aku sudah lupa kapan Angie mulai konsentrasi ke skripsinya. I sucked when realizing bahkan topik utama skripsinya apa aku ga begitu ngeh, boro-boro ikut membantunya membahas sesuatu. Kesulitannya dengan dosen pembimbing yang kurang helpful padanya (konon dosen-dosen fakultas Psikologi 'terkenal' killing sehingga jika di fakultas-fakultas lain mahasiswa sangat mungkin lulus kurang dari delapan semester, di fakultas Psikologi boro-boro daaah) bahkan tak pernah Angie keluhkan padaku. Untunglah dia dikitari teman-teman kuliah yang sangat sayang, perhatian, dan peduli padanya. (Where was I? I was busy with myself. 😞 )

 

Bahwa Angie akhirnya menyelesaikan skripsinya pun aku tidak tahu. Out of the blue dia bilang ke aku, "Mama ... besok Angie ujian skripsi," pada tanggal 26 Februari. I almost didn't believe to hear that. Dan ... pada tanggal 27 Februari itulah dia mempertanggungjawabkan skripsi yang dia tulis di depan dewan penguji, saat yang dulu pernah aku harapkan aku akan bisa menungguinya but due to my work, I could not do it.😕

 

Setelah melakukan revisi di bulan Maret, awal April pun Angie mendaftar wisuda. And her graduation day was on April 28 (syukuran wisuda fakultas yang diselenggarakan di Ballroom Rama Shinta Hotel Patrajasa) and on April 29, at Professor Sudarto building, Tembalang.

 

I am always proud of you, my daughter, as I always love you.

 

CN 07.39 30/04/2015












Monday, March 14, 2011

Grouping in a classroom

"Grouping" alias membagi siswa dalam kelompok-kelompok tertentu merupakan sesuatu yang gampang-gampang mudah. Gampang jika kemampuan siswa dalam satu kelas rata-rata, guru bisa tinggal 'merem' aja waktu melakukannya; sulit jika kemampuan siswa sangat bervariasi, apalagi jika 'gapping'nya sangat terasa jauh.

Sebelum mulai masuk kelas 3 untuk mengajar mata pelajaran SPELLING, beberapa rekan kerja telah 'membekaliku' dua nama di kelas itu yang biasanya dianggap 'pupuk bawang' alias hanya penggembira saja di kelas, kemampuan mereka berada jauh di bawah rata-rata kelas. Sang wali kelas juga telah 'wanti-wanti' agar aku tidak memaksa keduanya untuk menyelesaikan tugas di kelas; biarkan saja mereka menganggapnya sebagai pe-er, dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.

Kebetulan minggu yang lalu, waktu pertama kali membahas "common roots" untuk membuat kosa kata baru, dua anak ini pas kujadikan satu kelompok. Bisa dibayangkan jika anak-anak dari kelompok lain berebutan untuk maju ke depan, dua anak itu duduk anteng di tempat duduk masing-masing; sama sekali tidak terprovokasi untuk ikut rebutan menulis jawaban di 'whiteboard'. Waktu ada beberapa anak yang bilang, "Miss Nana, when two of them have to work together, they will produce nothing Miss ..." aku diam saja, karena kupikir nanti mereka akan kuminta mengerjakan tugas di buku di rumah. (Dengan harapan di rumah mereka akan dibantu oleh orang tua atau mungkin guru privat mereka.)

Tadi siang, aku masuk kelas 3, dengan topik review "common roots". Sebelum memulai 'grouping' salah seorang siswa bilang, "Miss, if you ask those two students work together again, they will not do anything again!" Tapi tadi siang, aku membagi anak-anak menjadi empat kelompok, satu kelompok berisi 3 anak. Waktu sibuk motong-motong kertas kecil-kecil, untuk kemudian kubagi-bagi, apakah anak-anak akan bergabung di kelompok A, B, C, atau D (ada 12 siswa di kelas 3), anak yang sama bilang, "Oh Miss ... please don't make me work with two of them in one group! That means, I will work alone! I am dead!" Dan ada beberapa anak lain yang mengucapkan hal yang sama. Kedua anak itu sendiri bersikap cuek bebek. Aku sendiri waktu mendengarnya malah terbahak-bahak, sambil berkata, "Oh please class, everybody must be able to work with everybody else! You cannot choose with whom. It will depend this lucky draw."

But hal ini mengingatkanku pada satu peristiwa waktu Angie masih duduk di bangku TK. Satu kali waktu acara 'parent-teacher interview' guru wali kelas Angie 'melaporkan' padaku bahwa ada seorang anak perempuan yang sok menangis ketika diminta bekerja bersama Angie dengan alasan Angie bersikap tidak bersahabat dengannya. Tentu saja hal ini mengherankan bagiku karena ga biasanya Angie bersikap seperti itu. Sesampai rumah, aku konfirmasikan ke Angie; jawabannya, "Ah, Angie ga suka bekerja satu kelompok dengannya karena dia tuh lelet Ma. Disuruh ngapa-ngapain ga bisa!" GUBRAKKK!!! Darimana dia belajar seperti itu ya? hihihihi ...

Sewaktu lulus SD, dan ternyata Angie dan si teman itu sama-sama masuk SMP yang sama, dan aku ingatkan 'kejadian' waktu TK itu, Angie bilang, "Masak sih Angie kayak gitu Ma? pantas aja dia nampak takut-takut gitu waktu liat Angie di sekolah." wakakakakaka ...
Like mother like daughter? Kayaknya engga deh. Suwer!!! haghaghaghag ...

And trust me, Angie is a very sweet friend now. ^_^
PT28 18.38 140311

Sunday, June 28, 2009

Penyerahan Kembali ...



Hari Minggu 28 Juni 09 aku menghadiri acara “Pelepasan murid-murid kelas XII SMA Negeri 3 Semarang” di kampus sekolah yang berlokasi di Jalan Pemuda no. 149 Semarang. Waktu berangkat tidak ada rasa haru atau yang sejenisnya itu karena di postingan terakhir tentang Angie di blog http://my-lovely-star.blogspot.com aku menulis tentang perasaan ajaib yang selalu menimpaku tatkala Angie menginjak jenjang yang lebih tinggi.

Namun ternyata aku langsung terjebak perasaan haru tatkala sang MC menyebutkan acaranya sebagai “Penyerahan kembali murid-murid kelas XII SMA 3 kepada orang tua/wali murid”. PENYERAHAN KEMBALI ...
Gosh...

Jadi ingat tiga tahun sebelumnya tatkala Angie baru diterima di SMA 3. Angkatan Angie adalah angkatan pertama program Sekolah Berstandar Internasional, merupakan pilot project sekolah sekaligus pemerintah. Sekolah baru mulai membenahi fasilitas, kesiapan human resources, materi pendidikan, dll. Penerimaan siwa baru “masih” menggunakan sistem ‘rayonisasi’ yang menyebabkan anak-anak yang NEM nya “di bawah standar” asal tinggal di lokasi satu rayon dengan SMA 3 diterima. Tak pelak lagi hal ini menjadi keluhan yang berkepanjangan dari para guru yang merasa terbebani dengan progam SBI tersebut. Para orang tua senantiasa ‘dicekoki’ dengan keluhan ini setiap kali menghadiri rapat pertemuan antara sekolah dan orang tua/wali murid.

Tahun ini, thank God, SMA 3 meluluskan semua murid. Kontan kepala sekolah pun berkoar-koar, “Guru-guru SMA 3 telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa mengajar anak-anak yang memang dari ‘sononya’ sudah pintar. Guru-guru SMA 3 pun telah membuktikan bahwa SMA 3 adalah tempat yang sangat layak untuk mendidik generasi muda bangsa.” Well, untunglah pak kepsek tidak melupakan bahwa para orang tua juga ikut andil. Jadi ingat cerita Angie tatkala dia menghadiri acara ‘prom night’ beberapa saat lalu. Tatkala ada sambutan dari wakil murid-murid kelas XII, dikatakan, “Dengan kelulusan 100% tahun ini, kita telah membuktikan bahwa angkatan kita yang selama ini dianggap ‘underdog’ karena sistem rayonisasi, mampu mempersembahkan hal-hal yang membanggakan bagi almamater kita.”

Pak Kepsek pun dengan bangga menyebutkan dua murid yang mendapatkan beasiswa penuh dari ITB karena terbukti sebagai anak-anak yang cerdas namun berasal dari keluarga yang kurang mampu. (Konon, ITB memberikan 3 beasiwa penuh kepada calon mahasiswa dari seluruh Indonesia, dan dua dimenangkan oleh alumni SMA 3 Semarang.) Hal ini membuktikan bahwa SMA 3 adalah tempat berkumpulnya anak-anak cerdas dan berkualitas, dan bukan berkumpulnya anak-anak orang kaya (namun berotak kurang tajam).

(Hmm ... jadi ingat tatkala aku lulus SMP N 1 lebih dari dua dekade lalu, aku memilih SMA 3, dan bukannya sekolah yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno dengan alasan, “Sekolah itu tempat berkumpulnya anak-anak orang kaya.”  Sedangkan beberapa teman yang menlanjutkan sekolah di sekolah itu mengatakan, “Ga berani sekolah di SMA 3, murid-muridnya pinter-pinter!” Btw, di pertengahan tahun lapanpuluhan, dua sekolah ini saling bersaing untuk menunjukkan mana yang pantas menyandang sekolah terbaik.)

Satu acara yang membuatku amat terharu adalah penyerahan penghargaan kepada lulusan terbaik. Bukan karena salah satu pemenangnya adalah my ex student at LIA, (sehingga aku merasa punya alasan untuk ikut andil mencerdaskannya, wkwkwkwkwk ...) namun karena 23 tahun lalu, aku pun berdiri di situ, sebagai salah satu lulusan terbaik. I didn’t regret that Angie was not there, bukan karena itu. Tapi 23 tahun lalu aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian. (ehem ... LEBAY MODE ON. Wkwkwkwkwk ...) But suer, I was really touched when watching that moment.

Well ... Angie telah dengan resmi dikembalikan kepadaku oleh pihak sekolah. Angie telah resmi menjadi anggota ALSTE (alumni SMA 3 Semarang). Both of us are proud to be members of this community.  😁
Welcome back home, my darling sweetie hunny bunny apple pie.
 
PT56 17.30 280609

Wednesday, May 06, 2009

Tatkala Angie sakit ...

Tatkala Angie sakit ...

1. tiba-tiba aku menjadi penyanyi, karena dia memintaku menyanyi untuknya.
Waktu Angie kecil, aku memang sering meninabobokkannya dengan menyanyi. Aku malah tidak pernah membacakan dongeng untuknya sebagai pengantar tidur.
Hari minggu kemarin tiba-tiba dia memintaku menyanyikan lagu “Yogyakarta” milik KLA. Di tengah aku menyanyikan lagu ini, tiba-tiba Angie nyeletuk, “Sayang Angie tidak diterima di UGM ya Ma? That makes us different. I was studying in the same Junior High as you used to do. Now I am studying at SMA 3, your almamater too.”
I was broken-hearted. I was just speechless.
Tapi kemudian Angie nyeletuk lagi, “Tapi, eh, TK dan SD kita beda kok ya Ma?”
I smiled and commented that even my kindergarten was gone decades ago. LOL. She forgot that she did not really want to follow my step. I majored in ‘Bahasa’ when I was at senior high, karena kecintaanku pada English. Angie did not like this major so she majored in ‘IPA’. Dia juga menolak mentah-mentah untuk mengambil jurusan ‘English Department’ untuk kuliah. Karena my ‘eloquence’ lah akhirnya aku berhasil merayunya untuk memilih ‘English Department’ pada pilihan ketiga di UNDIP. Untungnya dia diterima di pilihan pertama, karena dia bilang, “I would hate to be accepted at this third choice of mine.” LOL.

2. dia melakukan satu hal yang dulu waktu masih kecil selalu dia lakukan sebelum tidur.
Can you guess what? Memegang telingaku dan memainkannya. Saking terbiasanya dengan telingaku yang mungil dan tipis ini, dia menolak ‘bermain’ telinga orang lain, misal bokapnya, atau tante-tantenya, atau bahkan Omanya. Dulu waktu dia masih ‘ngedot’, dia akan sangat anteng kalau sembari ngedot, tangannya yang satu menjewer-jewer kupingku, heavenly habit for her, I guarantee. LOL.

3. gosip Angie dirawat di rumah sakit.
Hari Jumat 1 Mei lalu aku sms seorang teman untuk menggantikan aku mengajar karena Angie sakit typhoid. Tak lama kemudian, seorang teman menelponku, “Bu Nana, Angie dirawat di rumah sakit mana? Teman-teman pengen tahu nih.”
Thank God sang dokter tidak menyarankan Angie dirawat di rumah sakit. Dia cuma pesan agar Angie tidak meninggalkan tempat tidur; makan yang lembut-lembut sebangsa bubur; tidak boleh makan makanan yang pedas dan kecut.
Kenyataannya: Angie malah bosen tiduran di kamar, sehingga dia pun pindah-pindah ke kamar tantenya (dua tante), kamar Omanya, kamar pakdenya (yang kebetulan berada di Semarang, dirawat oleh keluarga sendiri, diterapi latihan menggerak-gerakkan tubuh oleh keluarga sendiri, dll). Selain itu, dia ogah banget makan bubur. Saran dokter yang dipatuhi hanyalah tidak makan makanan pedas dan kecut. Payah. Minum obat saja sering dia muntahkan keluar lagi.
Gosip Angie dirawat di rumah sakit pun beredar di komunitas b2w Semarang. Kebetulan ada event FUN BIKE di Semarang pada tanggal 3 Mei. Berhubung aku tidak bisa ikut, aku pamitan di milis dengan alasan, “Angie sakit typhoid.”
Pada tanggal 3 Mei itu, sekitar pukul 09.30 seorang teman menelpon, bertanya Angie dirawat di rumah sakit mana, teman-teman mau menengok. Wedew. Angie dirawat di rumah saja. Tak lama kemudian, serombongan teman-teman b2w pun datang ke rumah. Triyono, pak Ketua, ditemani Eka, Yoni, Arif Tyo, Riu, Fery, dan Yoni. Ipoet dan Maya menyusul sambil membawakan anggur dan jeruk yang uenak, sayangnya yang bisa menikmati yang sehat nih.

4. pertama kali aku membolos mengajar. Selama ini seingatku hampir tidak pernah—atau belum pernah sama sekali—aku tidak masuk kerja dengan alasan, “Angie sakit.” How very unprofessional, menurutku sendiri. Kali ini aku membolos 5 hari. Sebabnya adalah, di pagi hari (pukul 07.00 sampai 15.00) aku telah meninggalkan Angie di rumah dirawat tantenya dan Omanya.
Dulu waktu aku masih mengajar di sebuah uni swasta, aku tidak perlu ngantor 8 jam sehari. Cukup aku ke kantor sebentar, memberi tugas kepada mahasiswa. Kemudian di sore hari, aku masih bisa berangkat mengajar di English course tempat aku bekerja sejak tahun 1996. Jadi tidak ada cerita Nana membolos bekerja karena Angie sakit.
PT56 19.27 050509

Angie got sick

Angie has got sick since Wednesday night, April 29. When I arrived home from teaching around 9pm, she covered herself with a blanket while that night it was a bit hot and damp in Semarang. She usually couldn’t stand the heat.


Realizing my presence, she then whispered, “Will you prepare some hot water for me to take a shower tomorrow morning, Mama?”

I directly understood she did not feel well.

In the middle of that night when her hand touched me, I knew she got sick, so I said, “You don’t need to go to school tomorrow honey. Just stay home.”  

***

Thursday morning I asked my sister to take Angie to a clinic called, “Klinik 24 Jam” located only around 200m from our home. I couldn’t take Angie there by myself because at 7am I have to already arrive at the office. My sister luckily had to leave for her office at 10am on that day. That’s what siblings are for? 

(This reminded me of one dearest friend who in 2004 convinced me to have another baby to accompany Angie because he was sure one day Angie would need a sibling.)No report was sent to me until I went back from the office around 15.00, except Angie asked me to buy her some apples.

Arriving home around 16.00, touching Angie’s forehead, I was shocked because her temperature even got higher than in the morning. The medicine didn’t work on her. Sister said that the young doctor suspected Angie got stressed out and suffered from sore throat only. I myself directly suspected Angie suffered from typhoid.

The first time Angie suffered from this disease three years ago, when she was about to face her final exam at Junior High. Since then, once a year she suffered from it. In fact after the first time she got this kind of disease, I already warned her to take care of her health well, not to make her body very lethargic, not to play under the rain (sometimes she intentionally did that when going home from school it was raining), to pay attention to any food she consumed outside the house, etc.

Around 18.30 that evening I took Angie to a doctor who has a laboratory at his house, so that Angie’s blood was checked too, to make sure what disease she was suffering from.

She got typhoid.

The fourth time.

***

Monday May 4 she forced me to let her go to school to join the final school test (UAS). I failed to persuade her to take a makeup test after she got recovered. Yesterday afternoon her temperature was quite high again. I hurriedly left the office after getting text message from sister about it around 14.15.
Again, I was trying to persuade her to take a makeup test; I believed her temperature increased because she was exhausted to go to school and force herself to think harder to do the test. She was still determined to do her test on schedule.

Today is Tuesday May 5, 2009. This morning when leaving her to the office, I touched her forehead still hot. The whole day I was worriedly waiting for any message from sister.

I arrived home around 15.45. Hurriedly I touched her forehead to check her temperature. Thank God Angie’s temperature has decreased.

She has consumed all medicine from the doctor. I was thinking to take her to the doctor again if her temperature was still high.

Thank God I don’t need to do that.

PT56 18.46 050509

Wednesday, September 10, 2008

Memilih Jurusan

Memilih fakultas maupun jurusan apa yang akan diambil setelah lulus SMA tentu bukan masalah yang mudah. Itu sebabnya semenjak Angie duduk di bangku SMP, aku memintanya untuk menimbang-nimbang jurusan apa yang akan dia ambil selepas SMA nanti, berdasarkan kesukaannya. PSIKOLOGI adalah jurusan pilihan Angie sendiri, mengingat kebiasaannya untuk meminjamkan telinganya untuk menjadi ‘tempat sampah’ alias curhatan teman-teman dekatnya. Kadang-kadang Angie akan berbagi denganku, untuk kemudian mencari solusi bersama, yang nantinya akan dia sampaikan ke teman-temannya.
Itu sebab waktu duduk di bangku SMA kelas 1, aku menyemangatinya untuk bisa masuk ke jurusan IPA di kelas 2 nantinya, karena untuk masuk fakultas PSIKOLOGI di UNDIP, seseorang katanya harus lulus dari IPA. Konon UGM membolehkan seorang lulusan IPS untuk mengambil jurusan PSIKOLOGI. Namun berhubung aku tidak yakin apakah aku akan mampu membiayai kuliahnya di luar kota (harus menyediakan uang ekstra untuk kos, belanja keperluan sehari-hari plus makan, belum lagi transportasi), aku meminta pengertian Angie untuk mengubur mimpinya mengikuti jejak langkahku untuk kuliah di UGM.
Mulai masuk kelas 3 pertengahan bulan Juli lalu, aku mulai membuka wacana baru buat Angie, mempersiapkannya memilih jurusan lain, selain PSIKOLOGI. Rencana, dia akan kuminta (dan Angie pun setuju, karena begitu juga saran guru wali kelasnya) mengambil IPC. Berarti Angie perlu memilih dua jurusan alternatif.
“Give me some suggestions, Mama.” Katanya.
Kedokteran is out of question karena terlalu mahal bagiku, plus dia jijik melihat darah, dan takut melihat cadaver, apalagi harus terlibat dengan makhluk tanpa nyawa itu terus setiap hari. Kalaupun masuk fakultas Teknik, aku sarankan dia untuk masuk Teknik Industri. Sedangkan untuk jurusan IPS, aku beri dia alternatif fakultas Hukum, Komunikasi atau Sastra Inggris. Untuk fakultas Ekonomi, dia tidak menikmati Akuntansi.
Surprisingly, dia memilih jurusan yang dulu aku tolak mentah-mentah tatkala my late Dad menyarankanku è HUKUM. Dia pengen jadi notaris katanya.
She really wants to be different from me. English Department is really not in her ‘dictionary’.
Beberapa minggu kemudian, dia bercerita tentang salah seorang sobatnya yang masih bingung memilih jurusan apa nantinya.
“Kirain dia mau masuk Kedokteran Gigi. Biar jadi Dokter Gigi, kayak Mamanya.” Kataku.
“Dia bilang itu pilihan Mamanya. Namun ternyata itu bukan pilihan hatinya. Dan Mamanya tidak memberinya gambaran jurusan-jurusan lain.” Kata Angie.
Dan masalah ini pun tidak hanya menimpa sobat Angie tersebut. Banyak teman dekat Angie lain yang belum tahu kemana akan melangkah.
“Kamu pertimbangkan dulu, kira-kira kamu punya bakat dimana,” saran Angie kepada teman-temannya; saran yang sama yang dulu kukatakan kepadanya waktu akhirnya dia memutuskan untuk memilih PSIKOLOGI.
“Perasaan aku ga punya bakat apa-apa tuh?” komplain mereka.
“Lah, pelajaran apa yang kamu sukai?” tanya Angie.
“Ga ada juga.” Jawab mereka. LOL.
Repot deh.
Pengalamanku waktu bekerja di sebuah Bimbingan Belajar satu dekade yang lalu, para tentor memang membantu anak didik untuk memilih jurusan apa yang akan dipilih sewaktu test masuk perguruan tinggi negeri, berdasarkan kesukaan, plus hasil nilai tes yang diadakan secara periodik di lembaga tersebut. Namun, demi gengsi lembaga—bahwa lembaga tersebut mampu ‘menembuskan’ anak didiknya untuk diterima di perguruan tinggi negeri dalam jumlah yang mendekati 100%--biasanya para tentor memberikan saran yang agak bias, mereka pilihkan PTN yang terletak di kota kecil, atau bahkan di luar Jawa, atau fakultas yang memiliki ranking rendah, yang penting si anak didik diterima di PTN, terlepas dari apakah pilihan itu memenuhi minat, bakat, plus kesukaan si anak. Hasilnya? Bisa jadi seseorang tidak akan bisa menikmati kuliahnya, dan menyebabkan proses studi tersendat.
PT56 12.30 070908

Tuesday, August 26, 2008

PENSAGA

Malam ini, Sabtu 23 Agust. 08 ada acara yang lumayan penting di sekolah Angie, PENTAS SENI SMA N 3 SEMARANG, atau yang lebih dikenal dengan PENSAGA. Untuk tahun ini ada dua band yang cukup terkenal yang diundang, yakni SHEILA ON SEVEN, dan THE CHANGCUTERS (tulisannya bener ga? ) Kupikir acara ini sebegitu pentingnya seperti acara pesta prom yang pertama kali kukenal (dan juga dikenal Angie) lewat buku PRINCESS DIARIES sehingga merupakan kewajiban bagi semua siswa untuk datang. Berhubung sekolah-sekolah lain pun menyelenggarakan acara yang sama—di lain waktu tentu saja—maka keberhasilan—dibuktikan dengan lakunya tiket—acara ini pun menjadi kebanggaan sekolah masing-masing.
Khusus untuk tahun ini, cerita Angie, SMA N 3 Semarang disaingi oleh “musuh bebuyutannya” SMA N 1 Semarang yang dengan sengaja menyelenggarakan PENSMANSA—or whatever you call it, I don’t really pay attention to it—pada hari yang sama. Semula SMANSA berencana untuk mengundang ANDRA & THE BACKBONE yang sedang naik daun untuk menarik perhatian anak-anak remaja sekota Semarang, agar mereka lebih memilih untuk hadir ke SMANSA daripada ke SMAGA. Rencana ini gagal karena konon ANDRA & THE BACKBONE sedang berada di Australia sehingga menolak undangan ke Semarang. Sebagai gantinya, SMANSA mengundang KOTAK yang merupakan band INDI, yang diharapkan akan mampu menarik minat para remaja yang suka ber-band ria, dan memimpikan memiliki rekaman suatu saat nanti dengan cara ber-INDI ria.
Bisa ditebak siapakah pemenang di atas kerta persaingan antara dua Sekolah Menengah yang semenjak dua dekade lalu (atau mungkin lebih lama dari ini) berusaha menunjukkan mana yang lebih baik. Semua tiket masuk PENSAGA tahun ini telah laku terjual H-A-B-I-S.
Aku tidak tahu sejak kapankah “tradisi” mengadakan PENTAS SENI dengan mengundang band-band papan atas—yang bagiku lebih cenderung menghambur-hamburkan uang daripada untuk menimba suatu pengalaman berharga—dimulai di Semarang. (Aku tidak akan pernah tahu jika aku tak memiliki anak remaja tentu!)
Dua dekade yang lalu tradisi yang ada adalah menyelenggarakan pesta sederhana yang biasanya dilaksanakan untuk merayakan HUT SMA N 3 Semarang yang jatuh pada tanggal 1 November. (SMAN 3 Semarang diresmikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 1 November 1877). Pesta ini hanya menampilkan kesenian masing-masing kelas, mulai dari seni tari, membaca puisi, paduan suara, band sederhana, dll. Dan biasanya pesta ini menarik perhatian para alumni yang tanpa ada undangan resmi langsung datang untuk reuni dengan guru-guru.
Dan aku sangat sedih mengetahui tak ada lagi “pesta” khusus untuk merayakan HUT SMA N 3 Semarang, dimana para alumni berdatangan untuk bereuni. Aku tidak yakin apakah para alumni lain akan tertarik untuk menghadiri PENSAGA seperti yang telah dikenal Angie semenjak dua tahun lalu. PENSAGA ini terlalu hingar bingar, banyak anak remaja dari sekolah-sekolah lain berdatangan untuk sekedar hanging out.
Aku lebih sedih lagi tatkala Angie tidak mengizinkanku datang bersamanya.  “You are old enough to hang out with my friends and me, Mom! Don’t make me feel like you are babysitting me!” katanya dua tahun lalu.
Here I am, at home, scribbling something, accompanied by some beautiful melodies I got from one loved one of mine, plus a cup of coffee. And Angie is there, at her school.
PT56 21.05 230808

Tuesday, July 15, 2008

Tahun Ajaran 2008/2009


Hari Sabtu 12 Juli 2008 Angie seharusnya berangkat ke sekolah untuk mengembalikan raport. Selain itu, para siswa juga sekaligus melihat pengumuman mereka masuk ke kelas yang mana. Bagi banyak anak, juga Angie, ternyata hal ini bisa jadi merupakan saat-saat yang mendebarkan hati karena merasa excited siapa saja yang akan menjadi teman sekelas mereka di tahun ajaran baru.

Waktu pertama kali masuk sekolah di SMA N 3 Semarang, Angie sangat senang tatkala tahu bahwa dia satu kelas dengan Nana, sobatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Angie dan Nana pun pernah satu kelas waktu duduk di kelas 2 SMP N 1 Semarang. Naik kelas 2 pada tahun ajaran 2007/2008, Angie masuk kelas XI IA 1, satu kelas dengan Mita, yang telah dia kenal sejak tahun 2004, tatkala mereka berdua belajar Bahasa Inggris di English Course tempat aku bekerja.
 
Di tahun ajaran 2008/2009, akankah Angie ‘seberuntung’ seperti dia duduk di kelas X dan XI karena ‘menemukan’ seseorang yang dia kenal cukup baik tatkala memulai tahun ajaran baru, agar merasa ‘secure’ sebelum akhirnya dia menjalin persahabatan dengan teman-teman sekelas yang lain?

Beberapa hari sebelum tanggal 12 Juli, my Mom berpesan pada Angie agar tinggal di rumah pada hari Sabtu itu karena semua orang harus pergi, padahal di rumah masih ada tukang yang membetulkan ini itu. Aku dan kedua adikku masuk kerja di pagi hari Sabtu, dan kebetulan my Mom ada arisan dengan teman-teman pensiunan Bank Bapindo (my late dad’s workplace). Terpaksa Angie tidak berangkat ke sekolah. Seorang teman sekelasnya di kelas XI IA 1 berbaik hati datang ke rumah untuk membawakan raport Angie ke sekolah, plus membayarkan uang BP3 yang ternyata harus sudah dibayar sebelum memasuki tahun ajaran baru 2008/2009.

Sabtu malam, sepulang aku dari kantor, aku disambut Angie dengan wajah cemberutnya.
 
“Masak ga ada teman-teman “es conelo” yang sekelas dengan Angie nanti di kelas XII!!!” keluh Angie.

(FYI, anak-anak kelas XI IA 1 SMA N 3 Semarang tahun ajaran 2007/2008 mempunyai ‘nickname’ untuk kelas kesayangan mereka, yakni ‘es conelo’. Unfortunately, aku lupa ‘es conelo’ itu singkatan apa.)

Aku tidak menanggapi keluhan Angie ini dengan serius. Aku hanya bilang, “You will meet new friends honey. Who knows you will get some kind, good, and nice new best friends you never get in touch before?”
“Angie sekelas dengan SB!” katanya lagi.

SB adalah nama cewe yang kebetulan naksir berat gebetan Angie. Bahkan konon mereka pernah ‘jadian’, walaupun usia ‘jadian’ mereka hanya dalam hitungan minggu. Aku berpikir mungkin Angie akan ill feel pada SB sehingga ga mungkin Angie mau duduk sebangku dengannya.
“Tapi ada seorang teman sekelas SB waktu kelas XI yang sekelas dengan dia, jadi mereka berdua akan duduk sebangku,” lanjut Angie.

“Oh? Is it possible for you to sit at the same bench and desk with SB after what has happened lately?” tanyaku heran.

I couldn’t interpret what her facial expression meant when hearing me say so. Tapi kemudian Angie bilang, “Daripada duduk sebangku dengan seseorang yang sama sekali ga Angie kenal. Duduk dengan SB pun ga papalah...”

Aku kemudian bercerita bagaimana Angie kecil dulu begitu pede memasuki sebuah komunitas baru, tanpa perlu mengenal seseorang terlebih dahulu. Waktu masuk TK Nasima tahun 1995, dia terlihat begitu menikmati hari-hari awal dia masuk sekolah, tanpa terlihat attached kepadaku. Lulus TK, sebelum mulai tahun ajaran baru di SD, selama liburan dia kumasukkan ke sebuah kursus Bahasa Inggris khusus anak-anak yang terletak di kawasan perumahan Semarang Indah. Aku hanya mengantarnya sampai di depan gedung sebelum pukul 08.00, kemudian aku harus segera kabur ke tempat kerja, aku harus mengajar jam 08.00. Kursus Angie selesai pukul 09.30. Namun berhubung aku selesai mengajar pukul 10.00, aku selalu datang menjemputya setelah pukul 10.00. Angie tidak pernah terlihat bete karena dia menikmati kegiatan-kegiatan yang disediakan oleh Lembaga Pengembangan Anak itu bagi anak-anak yang belum dijemput oleh orang tuanya.
 
Waktu masuk SD (aku sengaja tidak memasukkannya ke SD Nasima yang waktu itu masih brand new, belum ketahuan mutu yang dimiliki, sementara uang BP3 cukup mahal bagi kantongku waktu itu), Angie pun terlihat ‘baik-baik’ saja, kecuali sedikit keluhan karena SD N Siliwangi tidak memiliki gedung ‘seindah’ dan sebersih TK tempat Angie bersekolah.

“Where is that Angie, honey?” tanyaku ke Angie.

Angie hanya mengangkat bahunya. Wajahnya terlihat heran, seolah-olah bertanya, “Was little Angie that confident and secure in any new community? Why am I not like that anymore?”

Semalaman itu, sebelum tidur, Angie terus menerus mengeluh, “Angie ga mau masuk sekolah Ma! Gimana sih cara sekolah membagi siapa masuk kelas mana? Masak ga ada satu pun teman ‘es conelo’ yang satu kelas dengan Angie?”

Menjelang pukul 9pm, akhirnya aku berpikir mungkin teman Angie hanya nggodain Angie dengan mengatakan bahwa hanya dia seorang anggota ‘es conelo’ yang masuk kelas XII IA 10.
 
“I think you need to see the announcement by yourself, honey! Siapa tahu ‘Rampink’ sedang keluar isengnya untuk ‘ngerjain’ Angie.” Kataku.

“Ada berapa anak di kelas XI IA 1? Kalau ada 40 siswa, dibagi menjadi 10 kelas, bukankah seharusnya minimal ada 3 sampai 4 anak ‘es conelo’ di tiap-tiap kelas, kalau pembagiannya merata!” kataku lagi.

Harapan Angie muncul lagi, walaupun hanya tipis. Berhubung waktu telah menunjukkan pukul 9pm, aku tidak menawari Angie ke sekolahnya untuk melihat pengumuman itu sendiri. (FYI, aku belum bisa sepenuhnya menghilangkan kebiasaan ‘jam malam’ yang dimulai pukul 9pm di PT56.)

Namun ternyata malam itu Angie tidak bisa tertidur lelap sampai pukul 2 dini hari.

*****

Hari Minggu 13 Juli 08 aku dan adikku ikut ‘fun bike’ yang diselenggarakan oleh sebuah pasar swalayan di Semarang dalam rangka memperingati ulang tahun pasar swalayan tersebut yang ke30. Kita meninggalkan rumah pukul 05.45, Angie masih mendengkur di tempat tidur.

Pukul 09.30 aku dan adikku sudah ramai berkicau di ruang tamu PT56, bercerita to our dearest Mom tentang pengalaman kami berdua mengikuti ‘fun bike’ yang jarak tempuhnya mencapai 12,5 kilometer. Sampai akhirnya aku ingat Angie yang ingin melihat pengumuman pembagian kelas itu sendiri.

Sekalian olah raga dan ngirit bensin, aku dan Angie ke SMA N 3 naik sepeda, aku naik WINNER, Angie naik POLYGON PREMIERE milik adikku.
Ternyata ...

Rampink tidak sedang iseng ngerjain Angie. Angie memang satu-satunya anak ‘es conelo’ di kelas XII IA 10 tahun ajaran 2008/2009.
Angie pun terlihat gusar.

“Honey, believe me, you will find new good friends later. Okay?” Begitu aku terus menerus meyakinkannya.

LL 12.04 140708

Thursday, April 17, 2008

Angie's 17th birthday

Angie reaches the age of seventeen!!!

Rasanya baru kemarin dia suka nggigitin putingku tatkala dia sedang minum minuman terbaik untuk bayi—ASI. Atau mungkin dalam hal ini ASI bisa diganti menjadi ASMN, singkatan dari ‘air susu Mama Nana’. LOL. LOL. Kalau kemudian aku meringis kesakitan, Angie memandangku dengan sorot mata bandel plus iseng, seakan bertanya, “Sakit ya Ma? Kok Angie enak aja? Abisnya, ‘bittenable’ sih...” gitu kali makna pandangan mata itu. LOL. 


Aku ingat tatkala aku duduk di bangku SMA, banyak teman sekolahku yang khusus mengadakan ‘perayaan’ pesta ulang tahun yang ketujuhbelas. Aku—yang di’juluk’i Abangku korban norma yang dibuat oleh masyarakat; and he is 100% right—pun ikut-ikutan. Hal ini membuatku menerka-nerka apakah Angie pun ingin merayakan ulang tahunnya yang ketujuhbelas, yang jatuh pada tanggal 8 April 2008 yang lalu. Namun ternyata ‘Bintang Cantik’ku ini tidak tertarik untuk mengadakan apa yang dulu diselenggarakan oleh my dearest Mom untuk anak perempuannya yang pertama.


No matter what, aku tetaplah menganggap bahwa angka 17 merupakan angka spesial, sehingga aku ingin melakukan sesuatu yang spesial pula buat anak semata wayangku itu. Pilihanku adalah, membelikannya sebuah hape baru. Untuk mendapatkan jenis hape yang dia inginkan, aku beli tabloid PULSA yang khusus mengulas berbagai macam hape. Setelah menimbang-nimbang (dari segi features yang ada, plus harga yang ‘ekonomis’ , akhirnya Angie memilih hape Sony Ericsson K550i. 


Selain itu, sebenarnya aku ingin menraktir Angie dan beberapa teman dekatnya. Alasan yang kukemukakan kepada Angie, “Mama pengen liat teman-teman Angie yang biasa Angie sebut namanya, such as Lia (yang suka manggil Angie “Cinta”, lha kok saingan dengan nyokapnya? LOL), ‘Rampinq’ (bukan nama sebenarnya tentu saja, hanya nama julukan, saking rampingnya anak satu ini) dan beberapa yang lain. Rencana makan siang bersama ini tanggal 9 April karena kebetulan aku masuk ngajar jam 5, sehingga aku bisa ikut menemani anak-anak itu makan siang, sepulang dari sekolah jam 13.30, dan ga perlu terburu-buru. Namun, ternyata rencana ini gagal lantaran kelas Angie hari itu menghadapi pertandingan sepak bola dengan kelas lain (dalam rangka ‘liga SMA3 Semarang’). Angie memilih membatalkan acara makan siang, dan ikut menjadi ‘penggembira’ tim sepak bola kelasnya, bersama teman-teman sekelasnya.



Diam-diam, teman-teman Angie merencanakan sesuatu, untuk membuat Angie selalu ingat peristiwa ulang tahunnya yang ketujuhbelas. Guess what? 


Mereka memberi Angie hadiah yang serba Mickey Mouse (untuk alasan yang private, aku tidak menuliskannya di sini mengapa Angie suka banget pada Mickey Mouse akhir-akhir ini. :)) mulai dari tempat hape, tempat pensil, gantungan hape, ketiganya dihiasi gambar Mickey Mouse, plus boneka Mickey Mouse, dan boneka mungil Mashimaru (if I am not mistaken to remember the name. LOL.)
Selain itu ...


Seusai pertandingan sepak bola yang berakhir seri, Angie di’hujani’ tepung terigu oleh teman-temannya. Plus ... di’kucurin’ telur dari atas kepala sampai kaki, sehingga praktis Angie berbau amis seluruh tubuhnya, termasuk seragam sekolah, tas, sampai sepatu dan kaos kaki. 


Sampai hari ini (Senin 14 April 08) Angie masih komplain bau amis telur yang menurut hidungnya masih menempel di seragam sekolahnya, meskipun telah dicuci berkali-kali, direndam di dalam air yang dicampur pewangi dan pelembut, plus disemprotin parfum sampai setengah botol. LOL. 


Hari Minggu 13 April 08 kemarin aku mengajaknya ke salah satu toko yang berjualan hape, yang terletak di jalan Singosari Raya. Aku membelikannya hape yang dia inginkan (karena ada cybershot) K550i. Sangking senangnya dengan hape yang berwarna hitam cute itu, waktu kita berdua mampir di SANTIAGO, rumah makan tempat kita makan siang, Angie menjadikanku model saat dia mencoba-coba kamera yang ada di d

alam hape barunya. LOL. Sesampai di rumah, ga henti-henti dia mencium pipiku.
Btw, tatkala membaca SANG PEMIMPI, novel kedua Andrea Hirata dalam tetralogi LASKAR PELANGI, ada satu adegan yang sangat menyentuh perasaanku, tatkala Ikal mengekspresikan rasa sayang, hormat, dan kekagumannya kepada ayahnya, karena sang ayah tetap merasa bangga kepada anak kelimanya itu, meskipun sang anak ‘terjungkal’ dari rangking 3 ke rangking 75.

“ ... dan riak-riaknya yang berkecipuk siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku.” (halaman 155)

Jika ada pepatah yang mengatakan “cinta seorang anak (konon hanya) sepanjang galah, sedangkan cinta ibu kepada anaknya sepanjang jalan”, aku ingin sekali satu saat nanti, Angie pun mengekspresikan cintanya kepadaku, “Sayangku pada Mama tak akan lekang dimakan usia.”

Happy birthday, my beloved daughter.
Wish you all the best of the best for your life.
I have always loved you deeply.
And I will always love you forever.


PT56 140408

Wednesday, December 19, 2007

Angie versus Mia


Angie means my Lovely Star—Dzikrina Angie Pitaloka; while Mia is the nickname of Mia Thermopolis, the narrator of teen-lit novel entitled Princess Diaries written by Meg Cabot.

I bought the first serial of Princess Diaries in 2003, four years ago, when Angie was twelve years ago. In the first book, Mia was fourteen years old. As far as I remember Princess Diaries is the first teen-lit novel Angie read. At first, she complained why I bought here such a book, “Mia is fourteen while I am only twelve,” she said.
 
“Well honey, only two years difference, that’s not a big deal of course. I do hope you can get a good lesson from this novel.” I reasoned four years ago.

And my guess was right: Angie loved it. And sometimes she even was so absorbed that she saw herself as a “princess to be”. LOL. I assume she mixed it with Cinderella story (with its Cinderella complex!!!) (Un)luckily, in the first serial, Meg Cabot didn’t illustrate Mia as a feminist, only her mother: as a feminist who often did weird things with her weird feminist friends. It was similar to Angie and me: Angie didn’t know much about feminism, and perhaps she also saw me as weirdo: a feminist who was much different from her friends’ mothers, or our female neighbors who seemed to enjoy being full housewives. Unfortunately, in the first series of Princess Diaries, the relationship between Mia and her mother was not as open as my relationship with Angie since Mia seemed not to like her mother’s “weird” things many feminists (probably) do: such as not marrying Mia’s father, although she already got a baby from the man: Mia. One thing I remember (though I don’t remember in which serial Cabot wrote about it): when Mia’s mother offered her to talk about sexuality openly by coming to Mia’s room and encouraging her to talk about it heart to heart: instead of having a lively and comfortable talk with her feminist mother, Mia rejected it, saying to herself: “Sex? Oh no, my mom must be insane thinking that I am already interested in sex.” Well, I don’t remember how old Mia was when Cabot narrated that part. (FYI, I have the complete serials of Princess Diaries, only Angie doesn’t collect them in one bookshelf. Perhaps some books are borrowed by her friends. 

Realizing that as a teenager, Angie is still undergoing unstable mental progress, frankly speaking I often feel worried that Angie will blatantly follow her “role models” in some teen-lit novels she reads, including Princess Diaries. (The era when I bought her some religious collection short stories has been over! It is because in those stories the narration is clearly only between black and white, good and bad, no character is in grey area. In the reality, life is not just black and white like that, oftentimes we are surrounded by “grey things”, moreover I raise Angie as a secular, which in my opinion is often related to grey area.) Mostly after reading some teen-lit novels or watching movies/soap operas on television about teenagers, I wait for Angie to ask me about what she has read/watched, and discuss it together. She seldom does that, though.
 
In the last serial of Princess Diaries (the title is “Princess in the Brink” if I am not mistaken), Mia was narrated to be thinking of doing lovemaking for the first time with Michael. I assumed, no matter what, Cabot wouldn’t let it happen. (Honestly, as a feminist living in Indonesia, an area called “the Eastern” part of the globe, thinking of Angie will do it before getting married—moreover in a very young age, just like Mia who was still sixteen years old, the same age as Angie at the moment—really scared me, although I DO REALIZE that doing sex is everybody’s right.)

I must admit that there was a relief feeling in me when coming to the part that Mia didn’t do that with Michael. (silly of me! LOL.) Surprisingly, Cabot then wrote the “intimate scene” between Mia and her mother, because Mia needed to confide in someone, and she chose her mother as the first person to release her disappointment knowing that in fact Michael was no longer virgin. 

After reading that, I noticed that recently, Angie loved to be intimate with me on the bed before both of us fell asleep: one thing she used to love doing as a kid, but she seldom did that after she reached teenage.

Two nights ago, while lying on the bed in the dark, Angie was very close to me, kissing my right ears, and whispered, “You smell nice Mama. Will I still smell good like you after I become a mother?” LOL.

As what always happens to anybody else, kids will always be kid, won’t they? Anyway, I still love when Angie does things like what she used to do to me when she was a small kid.  A mother will always be a mother? LOL. LOL.

PT56 15.30 151207

Monday, October 22, 2007

Angie and Pocahontas




“Mama, nanti tolong pinjamkan VCD POCAHONTAS di Lestat ya Ma. Ada tugas dari sekolah?”
Itu adalah sms yang Angie kirimkan beberapa minggu yang lalu.
“Kalau Lestat punya Sayang, ntar Mama pinjamkan. Mama juga mau nonton. Soalnya di rental yang di Puspowarno ga punya. Beberapa tahun lalu Mama nyari kesana ga ada.” Itu sms jawabanku.
Dan ternyata Lestat VCD/DVD rental tempatku menjadi member tidak punya VCD “Pocahontas”, yang dimiliki hanya “Pocahontas 2”. Angie semula tidak mau pinjam, namun aku bilang, “It’s okay honey. Let’s rent it. We will look for the story of Pocahontas in the internet, and then combine it with the story in “Pocahontas 2”.
Sesampai rumah, Angie langsung nonton “Pocahontas 2” yang ternyata membuatnya bingung. “Angie ga bisa bayangin ceritanya bagaimana Mama. Harus nonton dari yang pertama dulu.”
Akhirnya aku buka-buka buku THE NORTON ANTHOLOGY OF AMERICAN LITERATURE. Aku baca pas bagian John Smith, salah satu the first settler di Amerika Serikat di awal abad ke 17, sekitar tahun 1620-an. Ada sedikit cerita tentang Pocahontas tatkala dia dan rakyatnya membantu John Smith survive in that wilderness.
*****
Angie dan kelompoknya mendapatkan tugas dari guru Bahasa Inggrisnya untuk mementaskan cerita “Pocahontas”. Mementaskan di sini maksudku tidak hanya bermain di atas pentas, namun merekamnya menggunakan handycam. Untungnya salah satu teman di kelompoknya mendapatkan DVD POCAHONTAS, sehingga Angie dan teman-temannya pun menonton bareng, termasuk VCD POCAHONTAS 2 yang kusewa dari Lestat, untuk mendapatkan gambaran what the story is like.
Kemudian mereka berbagi tugas. Dua anak membuat naskah “Pocahontas” ala mereka. Kemudian mereka menyerahkan naskah itu kepada Angie, sembari berkata, “Bilangin Nyokapmu agar diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dong.” Wah ...  “Jangan lupa, bilangin agar pilihan kata dan grammarnya jangan terlalu canggih, ntar ketahuan kalau naskah itu bukan bikinan kita.” LOL.
Kenyataannya hari Senin 8 Oktober lalu, sepulang dari kursus Bahasa Inggris, (sekitar pukul 21.00, karena mampir dulu ke warnet, trus mampir ke “permak jeans”, baru balik ke rumah, mana hujan deras banget malam itu, yang membuat busi motorku terciprat air banjir dan mogok 10 hari setelah itu), Angie langsung nongkrong di depan monitor desktop sehingga aku mengetik/membaca artikel menggunakan the cutie. I made her a cup of hot nescafe. Angie menerjemahkan naskah yang dibuat temannya ke dalam Bahasa Inggris sendiri, tanpa merepotkanku. Hanya sesekali bertanya beberapa kosa kata, atau grammar.
Sekitar pukul 23.30 aku sudah teler sedangkan Angie masih bekerja di depan desktop. Setelah mematikan the cutie, aku langsung menempatkan diri di pojok, memeluk guling dan pamitan ke Angie, “Mama udah ga kuat Sayang. Mama bobo duluan ya?” Aku pikir tentu ga lama lagi Angie akan nyusul tidur, karena dia kan ga betah melek sampai malam?
Sekitar pukul 02.30 aku terbangun, dan terkejut melihat Angie yang tetap dalam posisi yang sama sebelum aku jatuh tertidur: duduk di depan monitor, mengetik, sesekali memelototi kertas berisi naskah berbahasa Indonesia yang dia letakkan di samping monitor, sambil sesekali juga chatting lewat hape menggunakan fasilitas ‘MXIT” yang akhir-akhir ini populer melanda anak-anak remaja di Indonesia. Oh God, I felt so guilty, to let my Lovely Star work all alone. “Honey ... belum bobo dari tadi?” teriakku.
Dengan tenangnya, Angie menjawab, “Belum Ma. Lah teman-teman minta naskah ini sudah jadi besok. Kita mau latihan di sekolah sekitar pukul 09.00.”
Namun akhirnya sekitar pukul 03.00, Angie beranjak ke tempat tidur, berusaha mengistirahatkan mata dan tubuhnya sejenak sebelum akhirnya kubangunkan pukul 03.30 untuk makan sahur.
Seusai sahur, Angie tidur, setelah sempat mengeluh, “Kerjaan belum selesai. Angie sudah capek dan ngantuk. Ah, Angie mau bobo dulu.”
Akhirnya sekitar pukul 05.00-06.30 aku menyelesaikan menerjemahkan naskah itu.
Angie bangun sekitar pukul 06.45 setelah alarm di hape berbunyi. Dia langsung duduk di depan monitor komputer lagi, siap melanjutkan pekerjaannya. Namun, sebelum ‘nyawanya berkumpul lagi’, LOL, aku bilang padanya, “I have finished it honey. It’s done now.”
Angie menatapku dengan bengong (belum benar-benar bangun dia kayaknya LOL), but then smiled, didn’t say anything. Namun dari sorot matanya aku tahu, she wanted to say, “Thanks a lot Mama. You are the best.” Cie ... LOL.
*****
Minggu pagi 21 Oktober 07 aku sedang bersiap-siap berangkat berenang tatkala aku iseng membaca sms di hapeku. Ada sms dari teman Angie untuk mengajak berkumpul di sekolah sekitar pukul 07.00 karena mereka akan berangkat menuju Gedong Songo untuk pengambilan gambar drama POCAHONTAS. Sehari sebelumnya Angie dan beberapa temannya sudah ke sana, hunting tempat-tempat untuk pengambilan gambar.
“Angie mau pergi lagi hari ini?” tanyaku, retorika. LOL.
Angie yang masih molor cuma mengangguk.
“Mama pengen berenang nih. Gimana?”
“Yah ... ga ada yang ngantar Angie ke sekolah dong Ma? Angie sama teman-teman janjian ketemuan di sekolah pukul 07.00, trus berangkat bersama-sama ke Gedong Songo.”
Setelah sempat bingung sejenak, apakah aku akan memanjakan keegoisanku untuk berangkat berenang, atau mengalah to stay home dan mengantar Angie ke sekolah, akhirnya I made up my mind: kutanggalkan baju berenangku dan menyalakan desktop.
Mengetik sedikit di diary, main game sebentar, kemudian menyiapkan sarapan Angie setelah dia usai mandi.
Sekitar pukul 07.00 aku mengantarnya ke sekolah. Seorang teman Angie wanti-wanti, “Janjian kumpul di sekolah jam 07.00 ya Ngie? Jangan telat loh!”
Kenyataannya, aku harus menemani Angie menunggu teman-temannya kurang lebih 40 menit di depan gedung sekolah agar Angie ga perlu merasa menjadi seperti “anak ilang”. LOL.
Pulang dari mengantar Angie ke sekolah, I made a cup of cold cappuccino, karena meskipun masih pagi, udara di Semarang sudah terasa hangat, sebelum akhirnya menjadi panas di siang hari.  Then, balik ke kamar, nongkrong lagi di depan monitor desktop.
Dan inilah hasil my ‘humming’ about Angie and Pocahontas. LOL.
Btw, beberapa minggu lalu waktu Angie meminta sumbangan ide untuk menulis paper di tempatnya kursus bahasa Inggris, dengan iseng aku bilang, “Hubungan antara Pocahontas dan sejarah berdirinya negara Amerika Serikat...”
Angie langsung manyun. LOL. Dan aku bilang, “Well, your class teacher will comment, ‘Ini sih Bu Nana banget!!!’” LOL.
“Atau ini Sayang ... ‘Keberadaan pusat wisata kuliner Waroeng Semawis sebagai salah satu upaya pembauran etnik di Semarang’ ...”
Angie pun tambah manyun. Hahahahaha ...
PT56 09.20 211007

Friday, September 14, 2007

Angie's Oral Exam


 

Angie has been studying English in an English course where I work for around three years. However, she has never been in my class, and I have never been an oral examiner in her class during the promotion test. This term—term III 2007—I almost became her class teacher in High Intermediate 3. (Un)fortunately, when Angie knew about it, she asked me to exchange the class with another workmate of mine. So, she got another teacher in her class—not me.

A week ago when the schedule for the promotion test was issued, which teacher would proctor which class, and which teacher would oral-examine which class, I found my name to be the oral examiner of Angie’s class. I told my workmate who was teaching Angie’s class this term, “I will oral examine Angie’s class. But this time, I will not exchange it with anybody else. I will not tell her either so that it will be a surprise for her.

“I want to know her capability in English,” I reasoned. My workmate smiled widely to hear that.
In the morning before the oral test, Angie asked, “Who will oral examine my class, Mama?”
“I am sorry honey, I haven’t taken a look at the schedule yet,” I avoided giving an answer. LOL.

*****

That afternoon, after the bell rang, I went to Angie’s classroom. I didn’t find her among the students crowding the classroom. However, after I entered the room, talking to some students inside, I saw Angie standing outside, trying to peep who was the oral examiner, and seemed surprised to see me there. I waved and smiled to her. LOL. I heard some of her classmates say, “Angie, you don’t need to take oral test here. You can do it later, at home.” LOL. LOL.

In her turn, as usual, Angie paired up with Nana, her close friend since they were in elementary school. When I asked Angie to read a passage, to score her pronunciation, she seemed relaxed, as if she wanted to tell me, “No need to worry about me, Mama. I am good.” LOL. And yes, she didn’t make any mistake at all! (FYI, she often complains at home when I ask her to practice her pronunciation.) When I gave her compliment, “Good” with one of my thumbs up, she made a V with her right hand on her head, confidently. LOL. By doing that, as if she wanted to tell me, “See? No need to worry about me, right?” LOL.

After the reading step to score the pronunciation, the examiner gave a case to be discussed in pairs. I gave Angie and Nana a case of “designing babies”, Perhaps because both of them—especially Angie—felt really at ease with me, they seemed very relaxed when discussing the topic. I was sometimes amazed with Angie’s answer, and I had to tell myself that she had my intellect in her. LOL. LOL.

Nana agreed with designing babies phenomenon, such as what kind of sex a couple wants to have for their baby. Nana said she wanted to have a baby girl, “So that I can do girly things to her, to make her as beautiful as me.” She said jokingly but confidently. LOL. Angie is on the way around. Although she didn’t mind people’s business to choose what sex for their future babies, Angie didn’t want to do that. “It is up to God what my baby will be. I would prefer to have a surprise rather than a made-up one.”

That’s my girl!!! LOL.

LL 18.53 130907

Monday, July 30, 2007

Seorang Teman ...

Aku punya seorang teman yang begitu ingin anaknya tumbuh seperti Angie, a very understanding child who is not demanding to the parents. Salah satu “upayanya” (or whatever you call it) adalah dengan memberi anak perempuannya nama yang mirip dengan Angie, yakni Anggun, dengan nickname yang sama, Angie. Selain itu tentu saja dengan rajin bertanya-tanya kepadaku caraku membesarkan Angie menjadi an understanding child who is not demanding. Sayangnya aku sudah lupa apakah aku memang memiliki kiat-kiat khusus to “create” such a child, kecuali satu hal: tentu saja membesarkannya dengan penuh kasih sayang yang terbuka dan juga pengertian terhadapnya.


Hari Sabtu kemarin, 28 Juli 07 dia bercerita kepadaku bahwa dia telah melihat tanda-tanda yang bagus di diri Anggun alias Angie. Saat Anggun sakit, temanku memilih menggendong dia dan bukan adiknya yang baru berusia dua setengah bulan. Ternyata, secara mengharukan, Anggun yang baru berusia kurang lebih dua tahun terbata-bata mengatakan, “Adik ... adik ...” sambil menunjuk ke adiknya. Temanku menerjemahkannya sebagai, “Ibu menggendong adik saja.”

perhaps this pic was taken some time in 1993 - 1994


Mendengar cerita itu aku jadi ingat Angie kecil yang sangat posesif kepadaku. Suatu hari Angie kecil kuajak menengok seorang tetangga—sebaya denganku—yang baru saja melahirkan seorang bayi. Sembari ngobrol, aku sempat menggendong si bayi. Dan sebelum pulang, aku mencium si bayi.


Tanpa kusadari ternyata hal ini membuat Angie cemburu. Dalam perjalanan pulang, jalan kaki (jarak rumah kita tidak lebih dari 5 menit jalan kaki), Angie menolak kugandeng tangannya. Raut wajahnya menunjukkan rasa gusar dan marah yang membuatku heran, what’s up? Waktu akan kugendong, dia menolak dengan keras. LOL. Benar-benar membuatku heran.


Sesampai rumah, Angie tetap saja ngambek tatkala aku bercerita kepada adikku tentang Angie yang tanpa ba bi bu ngambek ga karuan apa yang dia inginkan. Waktu bercerita aku berusaha mengingat-ingat kronologis kejadian sore itu, sampai akhirnya aku menemukan jawabannya: Angie cemburu! Hahaha ...


Setelah tahu alasan yang membuat Angie ngambek, aku pangku dia, kupeluk dan kucium (pakai acara kejar-kejaran dulu di rumah, karena Angie masih berusaha menolakku LOL), dan kuajak dia bicara dari hati ke hati, semampuku bagaimana memberi dia pengertian bahwa tatkala Mamanya menggendong dan mencium bayi lain, itu bukan berarti Mamanya telah pindah ke lain hati. LOL. Setelah melihat rona wajah Angie lega, tidak lagi ngambek, aku pun ikut lega. LOL.


Temanku yang mendengarkan ceritaku betapa posesifnya Angie kecil pun heran, “Kok Angie kecil begitu?” jauh dari bayangannya tentang seorang anak yang penuh pengertian dan bukan seorang penuntut? LOL.


PT56 10.35 290707





 

Tuesday, July 17, 2007

Hari pertama Angie ...


 


Hari pertama Angie di sekolah pada tahun ajaran 2007/2008

 

Angie bangun lebih pagi dari biasanya, pukul 05.20. Dia memang berpesan kepadaku untuk dibangunkan lebih pagi sehingga dia bisa mempersiapkan diri berangkat sekolah lebih awal. Satu hal penting yang ingin dia lakukan adalah agar dia lebih leluasa untuk memilih tempat duduk, yang menurutnya strategis.

 

Jam 06.15 aku mengantarkannya ke sekolah. Jalanan benar-benar jauh lebih padat dibanding selama tiga minggu sebelumnya waktu anak-anak sekolah menikmati libur kenaikan kelas.

 

Siang hari sekitar pukul 13.30 dia kirim sms, “Ma, Angie berangkat les Bahasa Inggris dari rumah mbak Nana. Ma, tolong bawain buku HI3 sama sepatu yang biasa tak pake kursus itu loh Ma. Pake sepatu ini kakinya Angie sakit.” (NOTE: tulisan sudah “kuterjemahkan” sehingga dapat dipahami orang awam, tak hanya para remaja. LOL.) FYI, “mbak Nana” yang disebut Angie adalah sobat kentalnya sejak kelas IV SD.

 

Kita bertemu sore hari di kantor, aku mengajar, Angie kursus.

 

Seusai jam pelajaran, kita pulang bersama. Dalam perjalanan pulang, Angie dengan heboh menceritakan pengalaman tidak enaknya di hari pertama tahun ajaran 2007/2008: dia dituduh mencuri hape. Nah lo. Menyebalkan toh?

 

Cerita singkatnya begini. Seperti sekolah-sekolah lain, SMA N 3 pun mengadakan masa orientasi perkenalan sekolah selama tiga hari. Yang berbeda adalah anak-anak SMA N 3 tidak perlu memakai ‘atribut’ yang aneh-aneh, misal, untuk anak perempuan rambut harus dikucir berapa biji, diberi pita berwarna-warni, atau memakai topi karton, dll. Masa perkenalan ini benar-benar ditujukan agar para siswa baru mengenal sekolah mereka yang baru. Salah satunya adalah, para senior masuk ke kelas-kelas X untuk memperkenalkan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti.

 

Tatkala Angie mendapatkan tugas untuk memperkenalkan CEMETI, majalah sekolah, dia harus meninggalkan kelas dan masuk ke kelas-kelas X. Pada waktu itu ditengarai ada 26 hape milik anak kelas X yang hilang. Entah bagaimana ceritanya panitia masa orientasi sekolah masuk ke kelas-kelas dan menggeledah dengan paksa tas-tas yang ada. Kebetulan Angie meninggalkan satu hapenya di tas, hanya mengantongi satu hapenya yang lain dalam rangka touring promoting CEMETI.

 

Ketika salah satu panitia menggeledah tas Angie, dia menemukan hape yang Angie simpan di dalamnya. Dengan serta merta, anak itu menuduh Angie telah melakukan pencurian hape. “Kenapa anak ini ga bawa hapenya di kantong ya? Ini pasti hape curian.” Tuduhan yang sama sekali tidak berdasar. Bahkan guru yang berada di kelasnya pun mengiyakan tuduhan itu. 

 

Untungnya, ketika anak yang tak tahu diri itu melontarkan ide, “Hape ini kita sita saja ya?” beberapa teman-teman sekelas Angie (yang tentu belum mengenal Angie dengan baik) mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang bijaksana. Untungnya lagi, (dasar wong Jowo, sudah dapat tuduhan menyakitkan gini ya tetap saja bilang “untungnya ...” LOL), Mita teman kursus Bahasa Inggris Angie sejak tahun 2004 yang sekarang satu kelas dengan Angie di kelas XI IA 1 melihat kejadian ini, dan dia langsung mengatakan, “Saya kenal Angie sejak dia kelas III SMP. Dan memang dia punya dua buah hape kok. Ini memang hape dia.”

 

Ketika Angie kembali ke kelasnya, dia dipanggil oleh guru yang berada di dalam kelas dan ditanya, “Apa benar kamu punya hape dua? Apa benar hape yang di dalam tasmu ini milikmu?”

 

Waduh ... aku kesel banget waktu mendengar cerita ini. Sayangnya Angie yang tidak tahan ingin segera bercerita (misal menunggu setelah kita tiba di rumah sehingga dia bisa bercerita secara leluasa), dia bercerita di atas motor. Aku harus membagi konsentrasi antara mendengarkan ceritanya dengan mengendarai motor. Angie yang duduk di belakangku pun tentu tak bisa kupandang mimik wajahnya tatkala bercerita. Apakah dia pun sama kesalnya denganku?

 

Tak lama kemudian, sesampai di rumah, Angie pun bercerita hal lain lagi yang dia sukai. Ketika touring classes untuk promosi mengikuti ekstra kurikuler CEMETI, dia dapati wajah-wajah imut yang biasa dia lihat di kursus Bahasa Inggris. “Waduh Ma ... akhirnya mereka pun ngikutin jejak Angie, bersekolah di SMA N 3. Asik asik ... ada tontonan apik ...” hahahahaha …

 

Dasar remaja. ... LOL.

 

PT56 11.20 170707

foto Angie dijepret tahun 2015

Monday, July 16, 2007

From Angie to Jogja


Angie masuk kelas XI IA (baca => Ilmu Alam) 1 mulai Senin 16 Juli 2007. Ini berarti libur kenaikan sekolah telah usai. Tiga minggu telah berlalu.


Hal ini mengingatkanku akan rencana-rencana yang kutulis beberapa minggu lalu, apa-apa yang kurencanakan akan kulakukan bersama Angie s


elama liburan.


1. Ngenet lebih dari biasa, for fun buat Angie, sedangkan untukku sendiri tentu saja blogging.
2. Sewa VCD untuk hiburan, well untuk pengisi waktu saja, lebih murah dibanding aku ajakin nonton di bioskop toh?
3. Membiarkan Angie menggunakan desktop seharian sedangkan aku mengalah menggunakan the cutie.
4. Wisata kuliner
5. Berbelanja di supermarket dekat rumah
6. Ke Toko Buku
7. (Bermimpi) mengunjungi Jogja, kota klangenanku di kala jauh begini.


Dari keenam rencana itu, yang manakah yang akhirnya benar-benar kita lakukan bersama?
1. Ngenet lebih dari biasa
Hal pertama ini benar-benar terjadi. Aku ingat hari Sabtu pertama Angie libur (aku juga pas libur), kita ngejogrok di depan komputer di warnet selama tujuh jam. Ck ck ck ... aku blogging, mulai dari posting, berkunjung ke blog teman-teman plus ninggalin komentar di beberapa posts, plus ngedit template blog (aku sedang hot-hotnya posting di http://jogjaklangenanku.blogspot.com tentu saja), sekaligus membaca messages dari milis. Angie? Downloading lagu-lagu, theme (buat hape SonEr K 510i), video clip, friendster, dll.


2. Sewa VCD
Tidak jadi kulakukan. Entah kenapa kok rasanya aku sibuk banget sampai ga sempet ke VCD rental (yo opo seh sibuknya? LOL). Tapi Angie cukup beruntung karena selama Tantenya libur kerja, dia sewa beberapa VCD dan Angie ikutan nonton. Dua film yang dia ‘bajak’ ke harddisk adalah SHE’S THE MAN dan JOHN TUCKER. Aku sudah sempat diprovokasinya untuk nonton SHE’S THE MAN. Karena kesibukan nyiapin posting buat http://jogjaklangenanku.blogspot.com lah yang membuatku sampai sekarang belum sempat menulis review buat film yang lumayan feministic ini menurutku. 


3. Menggunakan desktop
Kenyataannya selama aku libur kerja (yang berbarengan dengan minggu pertama Angie libur kenaikan), aku tetaplah lebih sering menggunakan desktop dibandingkan Angie, karena aku sedang keranjingan nyiapin posting buat blog klangenanku itu. Untuk sementara ini, demi mengantisipasi kemungkinan terkena virus, the cutie aku “karantina”, flash disk tidak kucolokin ke situ. So, demi mudahnya aku ngetik menggunakan desktop, sehingga tatkala akan kupost di blog, tinggal kutransfer ke flash disk.
Setelah aku masuk kerja lagi, ya Angie pun menggunakan desktop sebosennya selama aku di kantor.


4. Wisata kuliner
Belum jadi kulakukan.  Namun, di akhir libur, hari Minggu 15 Juli 07 akhirnya aku sempat juga menraktir Angie di bakso PAK GEGER yang berlokasi di Jalan Mintojiwo (kalo ga salah ingat LOL), setelah berkunjung ke Gedung Batu Sam Po Kong.


Btw, semenjak posting artikel yang berjudul SEMARANG PESONA ASIA, dan ada sambutan hangat tentang LAWANGSEWU di milis RumahKitaBersama, aku sudah ngebet banget untuk berkunjung ke Lawangsewu plus Sam Po Kong. Angie males melulu kalo kuajak kesana. Untunglah akhirnya aku kesampaian juga “memaksa” Angie untuk menemaniku ke dua tempat tersebut. LOL.


Oh yah, beberapa hari yang lalu, aku sempat juga ngajakin Angie minum es teler dan makan tahu gimbal di Jalan Menteri Supeno, dekat SMA N 1 Semarang. 


5. Berbelanja ke ADA Supermarket
Sebenarnya ini merupakan kegiatan bulanan. Namun selain belanja bulanan, seminggu yang lalu aku ajakin Angie ke ADA Supermarket lagi untuk membelikannya sepatu baru plus buku tulis untuk persiapan masuk sekolah lagi. “She is really in good hands,” aku ingat komentar Rick di tahun 2000 lalu tatkala aku membelikan kacamata berenang, buku bacaan, plus baju baru buat Angie. LOL.
6. Ke toko buku
Seperti di postingan yang kutulis tanggal 4 Juli, aku dan Angie ke toko buku TOGA MAS Semarang. Aku belikan Angie satu teenlit novel, dan untukku sendiri JURNAL PEREMPUAN no 50 dengan topik utama “Pengarusutamaan Gender”.
7. Mimpi ke Jogja

 
Hanya mimpi. :( Kenyataannya aku ga punya dana yang cukup untuk mengajak Angie berkunjung ke kota klangenanku. 


(Kata Angie: “Angie ga pernah kangen Semarang tuh Ma? Rasanya juga Angie ga cinta kota kelahiran Angie ini. Biasa-biasa aja.”


Jawabku: “Honey, you will feel it when you are away from this city. Seperti sekarang, Mama kangen Jogja melulu karena Jogja jauh, dan Mama berada di Semarang. Waktu Mama di Jogja, ya kangen Semarang lah.”)


Waktu aku ke bengkel 10 hari yang lalu, dan harus mengeluarkan dana Rp. 350.000,00 rasanya aku ga rela. Dengan jumlah itu, aku bisa ngajakin Angie ke Jogja, nginep barang semalam di hotel yang murah, dan melakukan ‘napak tilas’, seperti jalan dari kos ke Hasilnet, makan di RM Pak To, trus jalan ke Fakultas Ilmu Budaya lewat Fakultas Kehutanan, belok kanan sedikit, aku akan sampai di balairung, jalan ke selatan, aku akan melewati FISIPOl, Gedung MM lama, Fakultas Ekonomi, dan ... sampailah aku di Fakultas Ilmu Budaya. Dengan hape Angie yang memiliki fasilitas digital camera, aku bisa jepret bangunan-bangunan tertentu sebagai kenang-kenangan (waktu aku masih kuliah S2 kemarin, aku belum mampu membelikannya hape berdigital camera), juga untuk mengisi blog klangenanku. Namun apa daya??? Semua itu hanya ada dalam anganku.


Jadi inget beberapa hari lalu aku mimpi tersesat di daerah UGM, tidak tahu arah. Aku melihat gedung MM yang baru nan megah itu (yang terletak di Jakal, seberang ARTHA Photo), namun lokasi MM ini ada di selatan Gedung Sabha Pramana. Nah lo. Bingung kan? Serasa aku terjebak di sebuah kota metropolis yang megah dengan gedung-gedung tinggi menjulang gagah, dan aku resah tak tahu kemana arah kakiku melangkah. Halah ... Hahahahaha ... Dasar mimpi. Kenyataannya tatkala menuliskan mimpi itu di sini, ah, tentu saja aku ga bakal tersesat kalau hanya belusukan di UGM sih. LOL.


Eh, jadi inget (lagi) waktu bulan Januari 2002 aku dan Julie berangkat ke Jogja untuk membeli formulir pendaftaran S2 (waktu itu aku belum tahu apakah bisa mendaftar lewat internet, so kita berdua melakukan “out of date activity” alias conventional ini. Meskipun telah bertahun-tahun meninggalkan kota Jogja, aku yakin aku masih bisa menemukan jalan menuju UGM, dibandingkan Julie yang sama sekali buta Jogja pada waktu itu.


But ternyata, kita berdua sempat tersesat sampai ke terminal Umbul Harjo. Nah lo. Masalahnya adalah, aku ga tahu kalau bus AKAP sesampai di Jombor belok kanan, trus langsung menuju terminal Umbul Harjo. Waktu aku S1 dulu bus AKAP masuk kota, dan aku turun di Borobudur Plaza, terus ganti bus yang langsung menuju UGM. Terminal Jombor tentu saja belum exist waktu itu. 


Tentu saja kita berdua sampai di UGM akhirnya, but it took longer time. LOL.


Kita berdua langsung jatuh cinta sewaktu melihat Gedung Lengkung, dan membayangkan kuliah di dalamnya. KEREN BO. Kenyataannya? Kita berdua kuliah di situ hanya satu mata kuliah, SEJARAH AMERIKA (AMERICAN HISTORY) yang disampaikan oleh Prof. Ibrahim Alfian, di semester 1. Selebihnya? Di ruang kelas Fakultas Ilmu Budaya atau gedung Pasca Sarjana lama yang terletak di belakang Fakultas Ekonomi, atau di seberang Fakultas Psikologi, ga jauh-jauh amat sih dari Fakultas Ilmu Budaya yang terletak di samping Fakultas Psikologi. 


Nah lo. Semula aku menulis buat blog Angie yang di http://my-lovely-star.blogspot.com Lha kok berakhir di Jogja? Huehehehe ... Ini artinya, tulisan ini bisa kuposting di blog Angie itu, maupun di blog klangenanku, plus blog friendster, dan mungkin pula blog multiply. Dasar narcist. Wakakakaka ... suka pamer diri di beberapa blog sekaligus. LOL. LOL.


PT56 23.30 150707