Showing posts with label Jogja. Show all posts
Showing posts with label Jogja. Show all posts

Saturday, July 18, 2026

Hello Jogjaaa!

 


Biasanya, annually kami sekeluarga dolan ke luar kota bareng ke Cirebon. Tahun ini berbeda: aku mengajak seluruh keluarga -- Angie, kedua tantenya, kedua sepupunya, dan ayah kedua sepupunya -- ke Jogja. Terakhir kami sekeluarga dolan ke Jogja itu bulan Desember 2020. The reason is this: aku sudah kehabisan ide untuk berkunjung ke mana lagi saat kami menyambangi Cirebon, setelah berziarah ke makam satu-satunya Pakde Angie dan dua sepupunya.

 

Aku memilih berangkat tanggal 27 Juni setelah 'kehebohan' mencari SMA untuk Rani, keponakanku. Menginap semalam di satu resort yang telah pernah aku inapi sebelumnya.

 

Sabtu 27 Juni 2026

 

We left our house around 07.50. alhamdulillah perjalanan lancar, kami sampai di tempat parkir Benteng Vredeburg menjelang pukul 12.30. (kami tidak lewat jalan tol). Baru kali ini aku tahu ada tempat parkir di benteng Vredeburg! Blessing in disguise karena memang destinasi pertama yang aku tuju: untuk mengajak kedua keponakan mengenal sedikit sejarah ketika ibukota Indonesia dipindah ke Jogja. Terakhir kali aku dan Angie ke sini -- if I am not mistaken -- itu sekitar 12 tahun yang lalu.

 

A new thing di sini (bagiku) adalah harga tiket masuk dibedakan dengan tiket masuk pagi/siang dan tiket masuk sore/malam. Dan loket penjualan tiket (pagi/siang) ada di dekat tempat parkir benteng yang terletak di Jl. Panembahan Senopati. Hanya yang sudah membeli tiket bisa 'berkeliaran' di area benteng. Terakhir aku ke sini bersama Deven dan Ranz beberapa tahun lalu, kami masih bisa masuk area 'dalam' tanpa beli tiket. Loket penjualan tiket terletak di 'pintu gerbang' yang terletak di dinding benteng, jadi orang-orang luar masih bebas berkeliaran di 'halaman' luar benteng.

 

Another new thing: sekarang ada kantin di mana pengunjung bisa membeli minuman, makanan, dan souvenir.

 

Satu hal yang 'menyenangkan' bagi kami sekeluarga adalah: bagi pengunjung yang sudah berusia minimal 60 tahun bisa masuk benteng gratis! Suami adik ragilku usianya sudah di atas 60 tahun. Sedangkan untuk orang dewasa -- di bawah 60 tahun -- tiketnya seharga Rp. 20.000,00, untuk pelajar Rp. 15.000,00.





 

Kami sekeluarga berkeliling museum, dari satu ruang diorama ke ruang diorama lain sekitar 1 jam. Waktu itu sebenarnya sedang ada 'workshop dolanan' tapi kami memilih tidak ikutan karena waktu kami terbatas. Setelah cukup puas kami mengelilingi benteng Vredeburg, kami menyeberang menuju Teras Malioboro untuk makan siang dan belanja oleh-oleh.

 

Dari Malioboro, kami menuju café Tuku yang terletak di belakang SMA N 3 Jogja: mumpung di Jogja Angie ingin mencicipi kopinya. Meski kami hanya beli 1 gelas kopi -- yang ingin hanya Angie, aku tidak ingin -- kami berenam turun semua untuk melihat-lihat gedung yang disewa oleh café Tuku.

 

Rencana mau mengajak semua mampir ke Gramedia tidak jadi karena sudah terlalu sore. Dari café Tuku, aku hanya mengajak mampir ke supermarket langgananku berbelanja dulu saat ngekos di kawasan Jl. C. Simanjuntak. Angie pun masih ingat saat kuajak jajan roti atau belanja di Mirota kampus. (eh, namanya sudah ganti ya?)

 

Dari Mirota Kampus, kami langsung menuju Utara; menuju Jl. Griya Taman Asri Pandowoharjo tempat Java Village resort terletak. Kami sampai hotel selepas maghrib.

 

Malam itu kami tidak keluar untuk membeli makan malam: kami membawa bekal dari rumah; bekal yang biasanya kami makan untuk makan siang jika kami dolan ke Cirebon, kali ini kami makan di sore hari.

 

Minggu 28 Juni 2026

 

Acara pagi ini: berenang! Saat kami menginap di kawasan Tlogoputri di akhir tahun 2020, kami jalan-jalan di sekitar penginapan, kali ini kami 'main' di kolam renang karena ada kolam renang di Java Village. Karena dua keponakan belum bisa berenang, salah satu 'acara' di kolam renang tentu adalah mengajari mereka berdua 'meluncur'. Biasanya aku uring-uringan jika tidak sempat berenang 'secara serius' saat berada di kolam renang, lol, kali ini aku ikut menikmati main-main air saja. Aku hanya sempat berenang tidak lebih dari 20 'laps'. Saat kami berenam nyemplung -- adik ragilku hanya menonton di pinggir kolam -- waktu itu hanya ada 2 orang lain di dalam kolam. Sekitar pukul tujuh pagi, suasana kolam renang sudah semakin ramai: semakin banyak orang yang menginap di hotel yang juga ingin berenang. Maka, kami pun meninggalkan kolam renang sekitar pukul tujuh.

 

Sekitar pukul delapan pagi, kami sarapan bersama di 'dining area' yang terletak di bagian 'dalam'. Ada nasi goreng, nasi putih, kwetiau goreng, capcay, ayam goreng, kerupuk, juga ada bubur krecek, roti tawar dan beberapa macam selai. Untuk minuman ada teh, kopi dan 'infused water'.

 

Kami check out sekitar pukul sepuluh, setelah meninggalkan hotel, kami menuju Bhumi Merapi. Aku sudah pernah ke sini dua kali bersama Ranz, tapi Angie dan yang lain belum pernah ke sini. Tiket masuk per orang Rp. 35.000,00.






 

What can people see in Bhumi Merapi? Well, ada beberapa jenis binatang di sini, selain juga bisa naik kuda dan foto-foto di 'langlang buana' 

 

Sekitar jam 13.00 kami memesan makan siang di salah satu 'kantin' yang ada di dalam Bhumi Merapi. Rencanaku untuk mengajak keluarga mampir ke Obelix village tidak jadi; kami baru selesai makan siang sekitar pukul 2 siang. Suami adikku yang menjadi sopir kesulitan melihat dengan jelas jika sudah lepas maghrib.

 

Dar Bhumi Merapi, aku langsung ngecek gmap untuk menuju Jl. Magelang. Sekitar pukul tiga sore, kami sudah sampai perbatasan Sleman - Muntilan. Menjelang maghrib kami sudah sampai di satu rumah makan Padang di Jl. Suyudono, tak jauh dari rumah.

 

Kami sudah sampai rumah sekitar pukul 18.30. alhamdulillah. Next time kami dolan bareng-bareng lagi.

 

MS48 15.51 18 July 2026

 

Friday, July 18, 2025

Endless things to do in Jogja (2)

 


Senin 7 Juli 2025

 

Kami ga bisa berkunjung ke mana pun hari ini karena kami harus buru-buru pulang ke Semarang. Di kantor ada agenda sharing program jam 13.00 yang sangat sayang jika kulewatkan begitu saja. Angie pun manut. (FYI, I offered her to take one day off from her office on Friday 4 July, but she chose to take one day off on Monday 7 July though it means we cannot go anywhere on this particular day except heading home to Semarang.

 

Karena masih ingin menikmati hari libur (aku ga perlu buru-buru bangun pagi untuk nyiapin sarapan dan bekal maksi Angie, lol) aku baru memulai 'ritual' pagi jam 06.45. aku sudah packing hari Minggu malam, so begitu bangun pagi, aku hanya bikin cappuccino buatku dan Angie, lalu aku mandi, dan melanjutkan packing terakhir saat Angie mandi.

 

We left the guest house around 08.00. hari masih cukup pagi namun bukan jam rush hour -- orang-orang berangkat kantor sebelum jam 08.00 kan ya? -- maka kami tidak terhambat kemacetan apa pun sampai di perempatan Pingit, a.k.a menuju Jl. Magelang. Sesampai Jombor, kami mampir salah satu pool shuttle untuk 'menitipkan' 2 backpack yang kami bawa agar dalam perjalanan pulang ke Semarang, kami tidak terbebani barang bawaan kecuali tas cangklong yang kami bawa. 2 backpack kami berat 7,8 kg, dan kami cukup membayar Rp. 25.000,00. alhamdulillah, jauh lebih murah ketimbang biaya yang kami keluarkan saat tahun lalu kami pualgn ke Semarang. Setelah itu, Angie langsung menggeber motornya menuju arah Magelang.

 

Saat sampai perempatan Setos Magelang, Angie bilang butuh istirahat. Aku bilang kami bisa istirahat di alun-alun. "I need to eat, Ma. I am hungry!" katanya sesampai alun-alun, pukul 09.25.. Ya cocok kan? Di sisi Utara alun-alun ada deretan warung makan, kita bisa memilih mau jajan apa. Angie memilih satu gerobag yang menawarkan nasi goreng. Kebetulan di lokasi yang sama ada kupat tahu, aku memesan itu.

 

our brunch, nasgor + kupat tahu

 

Saat sarapan ini, Angie sempat dihubungi kantor dan dia harus mengerjakan sesuatu menggunakan gadget-nya. Well, hari gini, orang memang mudah bisa work from anywhere. Because of this, kami berhenti di sini cukup lama. Kami baru meninggalkan alun-alun sekitar pukul 10.30.

 

Otw dari Wirobrajan menuju Magelang, mataku melek dengan baik, sangat terjaga, tidak terganggu rasa mengantuk sama sekali! Namun, setelah meninggalkan alun-alun Magelang, aku mulai diserang kantuk! Mana aku tidak membawa permen kopi. Parah. Kasihan Angie jika aku ngantuk begini. Hohoho … (This is why Angie always chooses to ride the motorcycle and I sit behind her.) Namun rasa kantuk ini hilang begitu saja ketika di daerah Bedono, Jambu Angie mampir di satu pom bensin, lol. Dari sini sampai Semarang, aku awas lagi, tanpa minum kopi!

 


pom bensin area Bedono

 

Menjelang pasar Ambarawa, Angie sudah berulang kali menunjukkan gelagat ingin berhenti di satu minimarket yang ada counter kopi, tapi, kami ga jua menemukannya. Dia pun lelah dan mengantuk sebenarnya. Hiksss … tapi, minimarket yang diingini Angie ga segera nampak. Hingga akhirnya, dia belok ke satu random minimarket setelah melewati Lemah Abang. Aku membeli dua kaleng kopi, sementara Angie mengistirahatkan tubuhnya sebentar di teras minimarket! Persis saat aku terserang kantuk saat dolan bareng Ranz naik sepeda. Like mother like daughter! Heran juga aku. Wkwkwkwkwk … It was 12.00. masih satu jam lagi aku harus sudah sampai kantor.

 

Kami istirahat di situ hanya sekitar 10 menit, lalu Angie melanjutkan perjalanan. Kami sampai area Tugumuda sekitar pukul 12.45. aku pun memberi instruksi Angie untuk mampir ke pool shuttle terlebih dahulu untuk menjemput 2 backpack kami, pool terletak di sebelah stasiun Poncol. Dari sana, Angie ngedrop aku di kantor. It was 13.05. yes, aku telat sedikit, but it was okay. Dia lanjut pulang ke rumah. Syukurlah, jarak kantorku ke rumah hanya 1,1 km!

 

I finished joining the sharing program at 17.15, Angie then picked me up. And then we went home.

 

Alhamdulillah perjalanan dolan kami berjalan lancar. Dan saat menulis ini -- 10 hari kemudian -- aku pun sudah kangen turing lagi!!! Wohohoho …

 

PT56 15.01 17 July 2025

Endless things to do in Jogja (1)

 


Without any specific agenda, I offered Angie to go to Jogja on the first weekend of July 2025. mumpung aku libur di hari Sabtu 5 Juli itu. (I got around 10-day break from my workplace, and 5th July was between those 10 days.) FYI, my weekdays are from Monday til Saturday, and Saturday is my most hectic day.

 

Sabtu 5 Juli 2015

 

Karena Angie menolak mengambil cuti dari kantor di hari Jumat, maka kami berdua berangkat ke Jogja di hari Sabtu 5 Juli. Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 08.15, naik motor. Yep, orang bilang perjalanan seperti ini disebut 'turing', sementara aku biasa menggunakan istilah 'bikepacking' a.k.a 'bike traveling' jika aku dan Ranz dolan ke luar kota naik sepeda.

 

Perasaan, (haha, menggunakan perasaanku ini) Angie menaiki motornya lumayan cepat lah -- dibandingin jika aku yang 'nyetir' motor for sure, lol -- kami sampai di satu minimarket setelah melewati gapura masuk kota Magelang sekitar pukul 10.15. (kami sempat mampir beli bensin di pom bensin Lemah Abang, dan antrinya lumayan panjang!) di minimarket ini, kami beristirahat lebih dari 1 jam, kami sekalian hunting penginapan. (ada sedikit masalah dengan buking hotel yang telah kulakukan sebelumnya.) ini yang membuat kami lumayan lama istirahat di sini.

 

Angie sempat khawatir kami tidak mendapatkan penginapan, so aku bilang, "don't worry honey, if that is the case, I will contact Radit, we will stay at his boarding house." lol. Radit is a friend of mine, dia punya kos. Padahal aku ya ga yakin apakah ada kamar kosong di kosannya, lol.

 

We continued our trip around 11.30. and yes, as you can guess, perjalanan menjadi tersendat setelah melewati Jombor. Jalan Magelang di area sini padat dengan kendaraan! Kami mendapatkan penginapan di satu guest house milik satu universitas swasta Jogja, di area Wirobrajan. Dan … kami sampai di sana pukul 14.00! Lol. Gile kan? Semarang - Magelang 2 jam, Magelang - Wirobrajan Jogja 2,5 jam! Lol.

 

Setelah check in, kupikir kita bisa lumayan istirahat sekitar 1 - 2 jam lah ya. Ternyata o ternyata, Angie bikin 'date' dengan seorang ex workmate yang tinggal di Jogja pukul 3 sore itu! Yes, mumpung ada ART JOG, Angie mengajakku ke sana. Dan Angie janjian dengan temannya itu untuk bertemu di sana. Pablebuat? Aku Cuma ganti baju, sedikit touch up, agar wajah tidak terlalu terlihat kuyu, lol, lalu berangkat. Dari google map kulihat jarak guest house ke Art Jogja hanya sekitar 2,3 km. (Aku sengaja mencari penginapan di area Wirobrajan agar tidak jauk ke lokasi Art Jog.)

 

Sesampai kami di Museum Nasional Jogja, aku bilang ke Angie untuk mencari kantin terlebih dahulu: aku kelaparan! Saat kami menunggu pesanan kami matang, temannya Angie datang, nyamperin kami berdua. Aku dan Angie makan, mas Bayu hanya memesan kopi. Usai makan, kami berjalan ke pintu masuk museum. Ternyata, kami perlu mengantri untuk membeli tiket! Well, meski ga lama sih. The price of the ticket: Rp. 80.000,00 per person.

 

Three of us spent around 2 hours exploring Art Jog.

 

Sepulang dari Art Jog, aku dan Angie mampir ke WS untuk makan malam. I was not hungry but Angie needed to eat something. Ya wis, aku ikut makan deh, lol. Jarang-jarang aku jajan steak soalnya. Lol.

 

Minggu 6 Juli 2025

 

I had no idea at all where to take Angie on this day. Angie yang pertama mengusulkan untuk ke Natan Art Space and Coffee boutique. She has always been enchanted by cafes which also provide books. (contoh, dia yang pertama ke Lana Café di area Purwosari Surakarta.) Waktu aku ngecek lokasinya di gmap, aku lihat lokasinya di Kotagede, aku pun langsung googling destinasi wisata yang terletak di sekitar situ. Dan, aku 'menemukan' situs WARUNG BOTO! Waaaah … sudah lumayan lama aku kepengen ke sini! Tapi karena biasanya aku dan Ranz menginap di kawasan Jakal km 5 jika dolan ke Jogja, kupikir Kotagede itu lumayan jauh dari Jakal, mungkin saja Ranz bakal menolak kuajak ke sini. (lah, padahal terakhir kami bikepacking ke Jogja, kami malah ngepit ke Nanggulan, yang jaraknya 40 km dari Jakal, lol.)

 

Kami meninggalkan guest house sekitar pukul 08.30. Yang pertama kami tuju adalah situs Warung Boto. Thanks to gmap! Yay! Kami tidak kesulitan untuk menemukan lokasinya. Melihat penampakan situs satu ini -- nampak kurang terawat ya? Hikss -- aku mengajak Angie untuk mencari warung untuk sarapan terlebih dahulu. Lucky us, tidak jauh dari situ, kami menemukan satu warung makan yang berjualan gudeg. Gudeg, in fact, is not Angie's cup of tea. Tapi, dia tidak nolak lah kuajak sarapan di situ. (we didn't see any other food stall around there.)

 

Usai sarapan nasi gudeg, kami menuju situs Warung Boto. Menurut ibu penjual gudeg, pengunjung tidak perlu membeli tiket, tapi diharapkan memberi uang sekadarnya kepada di penjaga. Situs yang juga disebut sebagai situs Pesanggrahan Rejawinangun ini cukup menawan bagiku yang suka berkunjung ke lokasi-lokasi heritage. Selain kami berdua, saat itu, kami juga bertemu 2 pasang 'turis' lain. Sebelum meninggalkan situs, kami menyerahkan uang Rp. 10.000,00 ke seseorang yang kami tengarai sebagai penjaga situs, dan membayar Rp. 5.000,00 untuk parkir motor.

 

Dari sana, kami menuju ke Kampung Purbayan, Kotagede. Aku menemukan nama ini di google. And I was very excited when exploring this area. Angie seemed as excited as I was. Ada lumayan banyak rumah-rumah lawas yang memang sengaja dijaga agar terjaga keasliannya. Di salah satu rumah itu, ada sebuah café yang menarikku untuk mampir jajan dan berfoto-foto. To our excitement, di dalam juga tersedia buku-buku yang diletakkan di beberapa rak buku. Ada satu sepeda 'bmx' jadul merek kuwahara 'haro', sejenis sepeda bmx Ranz yang dia tinggal di ex kosnya. Juga ada satu mesin tik merk olympia, mesin tik merk ini yang dulu menemaniku saat kuliah S1. well, waktu itu di rumah ada 2 mesin tik, yang satu merk brother. Nah, Papi memilih olympia ini yang kubawa ke Jogja.

 

Aku memesan minuman sejenis wedang uwuh, sementara Angie memesan es timun. Selain itu, kami memesan satu porsi pisang goreng. Kami sengaja tidak membeli kopi, agar nanti di Natan, kami bisa jajan kopi.

 


 

Setelah meninggalkan Kampung Purbayan, aku mengajak Angie mampir ke masjid Kotagede yang juga merupakan heritage building. Kami 'hanya' berfoto-foto di halaman, tidak masuk ke masjid. Aku lihat beberapa rombongan orang yang berfoto dengan mengenakan kebaya dan kain., Ranz yang sudah pernah ke sini juga bilang hal ini ke aku, saat aku bilang ke dia aku dan Angie akan ke Kotagede. Tapi, Angie tidak tertarik untuk menyewa 'busana tradisional' ini. Hohoho …

 

Dari sini, kami baru ke Natan Art Space. Kupikir, well, kuharapkan lol, tempat ini seperti Lana Café, yang menyediakan buku-buku untuk dibaca di lokasi sementara jajan. Ternyata, di sini, kami menemukan TOKO BUKU. Ini berarti buku-buku yang ada di rak DIJUAL, bukan untuk dipinjam untuk dibaca di tempat, lol. Honestly, I was disappointed. Hiksss … dan, kami berdua tidak memesan kopi di sini, aku memesan juice melon, Angie pesan apa ya? Aku lupa. Lol. Gerimis sempat turun saat kami nongkrong di sini. Angie sempat browsing tempat lain yang ingin dia kunjungi saat kami di Natan. And she found one, another art gallery.

 

Saat kami ke luar dari Natan, kami baru ngeh kalau ada RM Padang di seberangnya! Karena kami lumayan lapar, kami mampir makan di situ. Kami beli satu porsi nasi dengan lauk perkedel dan rendang daging. Kami makan cukup satu porsi saja.

 



 

Usai makan siang yang cukup kesorean ini, Angie mengajakku ke Kiniko Art Gallery. Aku biarkan dia yang membaca gmap sekalian nyetir motor. You know what? Setelah sempat nyasar ke arah Timur lumayan jauh, kami kembali ke arah Wirobrajan! Lol. Oemjiii! Lol.

 


 

Jika kemarin saat masuk Art Jog, kami membeli tiket Rp. 160.000,00 untuk berdua, di Kiniko, GRATIS! And ternyata Angie ga ngeh dong kalau kita telah kembali ke arah Wirobrajan! Lol. Aku jadi curiga jangan-jangan Angie nih dyslexia arah ya? Hmfttt … saat meninggalkan Kiniko dan menuju Malioboro untuk beli oleh-oleh, kami melewati guest house tempat kami menginap, so I said, "ini loh yang, guest house tempat kita menginap." dia heran dong. Wakakakakaka …

 

Otw ke Malioboro, hujan turun. Aku yang biasanya ogah pakai mantel -- apalagi kan aku 'Cuma' mbonceng? Lol -- terpaksa ikut pakai mantel karena Angie memaksaku pakai mantel. Mendekati Malioboro, jelas perjalanan tersendat karena macet! Lol. Kami belok ke Jalan Sosromenduran, meski sebenarnya ada tanda dilarang masuk, lol. Tapi karena sebelum kami belok ke situ, ada 3 motor lain masuk ke jalan itu dari arah Barat, kami ikutan. Hoho … setelah menemukan ada satu area memarkir motor, aku mengajak Angie untuk berhenti, menitip parkir motor di sana, lalu berjalan ke arah Jl. Malioboro.

 

Honestly, aku sudah sangat lelah! Aku butuh istirahat sebentar untuk memulihkan stamina. Karena saat akan meninggalkan Kiniko, Angie bilang ingin jajan es krim saat di Malioboro, satu toko yang kucari saat sampai di Malioboro ya gelato dong. Angie yang ternyata hasrat jajan es krim telah padam, gegara hujan, kudu kurayu terlebih dahulu untuk mau jajan gelato, lol. And yes, we dropped by at one gelato bistro, dan cukup jajan satu porsi saja. Kami dapat tempat duduk di lantai 2. (terakhir aku dan Ranz mampir sini setahun yang lalu, lantai 2-nya masih tutup.)

 

Usai menghabiskan gelato, aku merasa memiliki stamina lagi. However, on the contrary, Angie malah jadi mlempem, lol. Keasyikan duduk di kursi, dia jadi lelah kuajak jalan berburu oleh-oleh untuk orang rumah. Wakakakaka … akhirnya, setelah mendapatkan yang kami perlu beli -- vest untuk satu tantenya Angie, dan daster untuk tantenya yang lain -- kami pulang. Aku tidak membeli oleh-oleh untuk 2 keponakan di rumah, karena saat dolan ke Tamansiswa beberapa minggu lalu, aku sudah beli oleh-oleh untuk mereka.

 

bakmi Jawa rebus

 

Otw balik ke guest house, hujan sudah berhenti. Angie pengen mie ayam, tapi dalam perjalanan kami tidak menemukan seorang pun penjual mie ayam. So, aku menawari Angie untuk jajan bakmi Jawa. Meski awalnya sempat menolak, akhirnya Angie mau. Ya pablebuat? Adanya bakmi Jawa! Lol. I didn't order anything. Makan setengah porsi nasi padang di Kotagede cukup membuatku kenyang. Plus, kalau 'hanya' jajan bakmi Jawa, aku tidak tergoda untuk ikut beli, lol. Beda dengan sehari sebelumnya saat aku mengajak Angie makmal steak, aku ikutan pesan. Hahahaha …

 

Kami sampai guest house kembali mungkin sekitar pukul delapan malam. Well, 12 jam kami dolan hari ini! Cukup melelahkan jiwa dan raga! Meski juga kami sangat excited! Balanced! Lol.

 to be continued.

Tuesday, January 04, 2022

Dolan Kulon Progo

 

Ini merupakan kisah lanjutan dari yang kuunggah disini.

 

25 Desember 2021

 

Pagi itu cuaca mendung. Aku dan Ranz ke rooftop untuk melihat situasi kolam renang dan mengabadikan pemandangan sekitar apartment. Melihat kolam renang kosong sampai pukul 06.15, aku gatal pingin berenang. Aku pikir pasti yang sudah booking kolam renang mager nih. Setelah maju mundur, akhirnya aku bilang ke petugas yang menjaga apakah dia membolehkanku berenang. Ternyata boleh. Maka, aku dan Ranz buru-buru balik ke kamar, aku persiapan pakai baju berenang, dan balik lagi ke rooftop. To my disappointment, jam 06.23 sudah ada yang nyemplung kolam renang, orang yang reservasinya pukul 06.30. ya sudahlah, belum rezekiku bisa berenang pagi ini.

 





Sekitar jam 07.00 aku dan Ranz balik ke kamar. Ternyata Angie dan Fitri sudah kelaparan, lol. So, tanpa mandi terlebih dahulu, lol, kami keluar cari sarapan. Angie pingin bubur ayam. Ya, yang lain manut deh. :)

 

Setelah sarapan, aku mengajak anak-anak mampir ke Radit, pinjam helm agar aku dan Ranz bisa ngikut Angie dan Fitri yang ternyata ingin dolan ke Kulon Progo. Untunglah Radit ada di kos, dan dia bisa meminjami kami 2 helm sekaligus.

 

Sebelum pukul 10.00 kami sudah meninggalkan apartment untuk menuju Kulon Progo. Tujuan pertama: Pantai Glagah.

 

Ternyata lumayan jauh ya dari Jakal km 5. hihihi … jaraknya hampir 50 kilometer. Well, sekilas sih pantai Glagah ini tidak jauh berbeda dari pantai Parangtritis, pasirnya hitam dan garis pantainya panjang. Yang membedakan tentu saja ada 'laguna' di pantai Glagah. Namun karena laguna penuh dengan perahu-perahu yang disewakan dan orang-orang yang antri ingin naik perahu, kami malas 'berkeliaran' disitu; kami langsung menuju pantai dimana ada 'timbunan' pemecah ombak yang cukup terkenal sebagai objek foto.

 


Angie didn't let me 'pose' :D


Karena kondisi kaki kananku yang sedang tidak ramah untuk dipakai berjalan kaki jauh, (cedera lutut kanan) aku hanya mengajak Ranz foto-foto di pinggir pantai, kemudian duduk-duduk di bawah satu payung yang disewakan. Kami sempat menikmati es kelapa muda.

 

Dari pantai Glagah, ternyata Angie dan Fitri ingin ke NYIA, bandara Jogja yang baru, yang terletak di sebelah Barat dari pantai Glagah. Wow. Pantas, kawan2 pesepeda Jogja 'cukup' bersepeda ke NYIA untuk 'sekedar' bergrandfondo. Hahahaha …

 





Honestly, sempat ga pede loh aku dan Ranz: boleh ga sih (hanya) berwisata ke NYIA karena kami tidak perlu naik pesawat terbang? Ternyata boleh! Hahahaha …

 

Dari NYIA, kami ke Waduk Sermo. Nah, ini adalah keinginan terpendamku sejak sekian tahun yang lalu: penasaran sekali ingin bersepeda kesini. Di perjalanan mendekati waduk, aku melihat cukup banyak orang yang bersepeda kesini, rombongan. Treknya mirip Gunung Pati, rolling yang bakal cukup bikin ngos ngosan, hahahaha …

 

Saat hampir sampai waduk, kami harus mendaki tanjakan kemudian turun tanjakan. Ini berarti menuju waduk maupun saat akan meninggalkan waduk, pesepeda harus tetap ngos ngosan. Hahahahaha …







 

Ternyata di Waduk Sermo tidak banyak pilihan untuk kulineran, tidak seperti yang dekat waduk Gajahmungkur. Angie, Fitri, dan Ranz sempat jajan cilok, satu jenis jajanan yang aku tidak bisa turut menikmati. Maka, ketika Fitri shalat, aku mengajak Ranz mlipir ke satu warung mie ayam. Perut hanya terisi bubur ayam sejak pagi.

 

Dari Waduk Sermo, kami langsung balik menuju Jogja. Alhamdulillah sudah ada google map yah jadi ga perlu sering-sering turun untuk bertanya kepada orang yang kita lewati harus menuju rute mana.

 






Destinasi terakhir adalah kafe Kebon Ndalem yang terletak di ujung perempatan dekat Tugu Jogja. Ini juga aku yang ingin mampir.

 

Alhamdulillah hari ini aku sudah mengunjungi 2 lokasi yang ingin kukunjungi: Waduk Sermo dan Kafe Kebon nDalem.

 

Sekitar pukul tujuh malam kami sampai ke apartment. Setelah mandi, aku menemani Ranz keluar beli makmal. Kebetulan tidak jauh dari apartment ada angkringan yang jualan bakmi Jawa. Angie dan Fitri sudah molor di kamarnya.

 

To be continued.


Kelanjutan kisah ada di link ini.

 

PT56 08.18 02/01/2021

 

Monday, January 04, 2021

Piknik Podungge family akhir tahun 2020

 

background: paviliun Bougenville tempat kita menginap

Background:

 

Lebaran 2019 mungkin adalah 'dolan keluar kota' pertama kita bersama: aku dan Angie, adikku Nunuk, dan adik ragilku Riska bersama suami dan dua anaknya. Tujuan kita waktu itu ke Cirebon dengan dua agenda utama (1) menengok makam kakakku, yang meninggal pada tanggal 21 Mei 2019 dan dimakamkan di pemakaman umum 'Kasinengan' tak jauh dari Trangkil, dimana kakakku pernah tinggal bersama istrinya sejak menikah tahun 2005. (2) menjaling silaturahmi dengan (eks?) kakak iparku.

 

Tentu kita berencana untuk melakukan hal yang sama lagi saat libur Lebaran 2020 datang. Akan tetapi seperti yang kita tahu semua bahwa pandemi covid 19 yang kasus pertamanya ditemukan di Bogor di awal bulan Maret 2020 telah mengubah banyak hal. Sejak pertengahan bulan Maret pemerintah menghimbau masyarakat untuk lebih sering tinggal di rumah, ketimbang 'keluyuran' keluar rumah dan mungkin terpapar/menularkan virus corona. Maka, saat Lebaran 2020 tiba, aku dan keluarga anteng saja tinggal di rumah, tidak kemana-mana. Bahkan kita tidak pergi ke 'lapangan' untuk melaksanakan shalat Ied.

 

Pemerintah waktu itu berjanji untuk tetap memberikan cuti libur kepada ASN (terutama) dan karyawan swasta di akhir tahun, dengan harapan bahwa setelah 3 - 5 bulan, kasus covid 19 akan berkurang. Sayangnya, 'penerawangan' ini kurang tepat. Libur weekend panjang di bulan Oktober -- yang membuat banyak orang berpergian antar kota/propinsi -- ternyata meningkatkan kasus covid 19. jumlah pasien yang diketahui positif covid 19 terus meningkat, meski jumlah pasien yang sembuh juga meningkat, namun tetap belum bisa menghentikan kasus covid 19 di Indonesia.

 

Dengan berat hati, pemerintah membatalkan memberikan cuti libur di akhir tahun. Bahkan dengan kasus covid 19 yang kian meningkat, pemerintah malah melakukan pemantauan yang kian ketat pada orang-orang yang tetap akan melakukan traveling antar kota antar propinsi: orang-orang wajib test antigen / swab sebelum melakukan perjalanan.

 

Riska semula berencana pergi mengunjungi kawannya yang tinggal lumayan jauh dari rumah dengan keluarga kecilnya. Untuk itu, dia menyewa sebuah mobil. Namun, setelah menyewa mobil, ternyata kawannya itu tidak berani menerima tamu karena baru saja ada tetangga rumahnya yang positif covid dan meninggal.  Sebagai ganti, dua adikku berencana untuk ke Cirebon. Sudah sempat berkomunikasi dengan kakak ipar yang tinggal di Cirebon, dia sudah bilang oke. Namun ketika pemerintah mengeluarkan pengumuman akan mengadakan test antigen secara random di jalan-jalan, plus ternyata kasus covid 19 di kitaran tempat tinggal kakak iparku juga meningkat, kita terpaksa membatalkan pergi ke Cirebon.

 

Kemudian dua adikku berencana untuk 'plesiran' pergi ke Bandungan/Gedong Songo dan menginap semalam disana, demi mendapatkan suasana yang berbeda, karena di Semarang biasa terpapar hawa panas, lol. Nah, aku yang ternyata tetap belum bisa move on dari Jogja pun mengusulkan untuk dolan ke Jogja, apalagi Kaliurang memang sedang sepi-sepinya. Plus ada seorang kawan medsos yang bilang bahwa Gembira Loka cukup sepi di masa covid begini. Dan … begitulah, akhirnya pada tanggal 26 - 27 Desember kita bertujuh dolan ke Jogja.

 

26 Desember 2020

 

Aku bangun sebelum jam 5 pagi, nyiapin sarapan sederhana dan bekal di perjalanan. Kita berangkat menjelang pukul setengah delapan, terlambat dari rencana kita semula, pukul 7. :)  Kita menuju Jogja melewati jalan 'biasa', bukan jalan tol, menghindari bertemu dengan pasukan test antigen, (who knows?) yang katanya mungkin akan memeriksa mereka yang lewat jalan tol, secara random.

 

Masuk kota Jogja lewat Jl. Magelang, kita belok ke Jl. Diponegoro setelah sampai perempatan Pingit. Aku sengaja mengajak lewat Malioboro untuk sekedar melihat suasana. Dan, benar, jalanan macet seperti biasa meski di sepanjang para pedagang kaki lama belum terlihat tumpukan orang-orang yang ingin belanja. Banyak kereta wisata di pinggir-pinggir dengan kuda-kuda dalam variasi ukuran. 2 keponakanku takjub ketika melihat beberapa kuda dalam ukuran yang sangat besar. :)

 

Sesampai titik 0, kita belok kiri. Untuk sampai Gembira Loka kita harus melewati traffic light di sepanjang jalan ini dan semuanya pas berwarna merah saat kita sampai di titik traffic light. :D Kesan bahwa Jogja itu padat pengunjung saat liburan tetap terlihat, meski di tengah-tengah masa pandemi, dan pemerintah kota Jogja berusaha untuk meredakan laju covid 19.

 

background: kandang onta :)



Ternyata sekarang pengunjung ke Gembira Loka memiliki dua pilihan untuk masuk, pintu masuk Barat untuk mereka yang akan membeli tiket secara cash, sedangkan pintu masuk Timur untuk mereka yang membeli tiket non cash. Kita memilih pintu masuk Barat. Sebelum masuk, kita menghabiskan dulu bekal kita untuk mengisi perut agar tidak terlalu kosong saat berjalan-jalan di dalam kawasan kebun binatang yang cukup luas itu.

 

Aku dan keluarga masuk GL sekitar pukul 11.45. Tata cara sebelum beli tiket: pertama kita ke loket pendaftaran. Disini kita akan ditanyai nomor WA juga menunjukkan KTP (salah satu anggota rombongan sudah cukup). Kemudian kita ke loket pembelian tiket. Disini kita diminta menunjukkan 'message' yang dikirim ke nomor WA yang kita berikan kepada petugas di loket pendaftaran. Sebelum masuk, kita akan diminta mencuci tangan dan suhu badan kita dicek oleh petugas.

 

Harga tiket Rp. 75.000,00 per orang. Anak yang tinggi badannya lebih dari 80 cm harus sudah membeli tiket sendiri. Fasilitas yang diberikan adalah naik kapal/perahu wisata dan kereta wisata di dalam kawasan Gembira Loka secara gratis. Kita boleh naik berulang kali sampai bosan, lol. Jika ingin naik speed boat di dalam 'telaga' di dalam kawasan masih harus bayar lagi ya, entah berapa karena aku tidak naik itu.

 





Kereta wisata ini terasa sangat membantu mereka yang malas berjalan kaki mengitari kawasan wisata GL. Ada beberapa halte dimana kita bisa naik/turun sesuai keinginan/kebutuhan.

 

Sayangnya hujan turun sekitar pukul 13.20. saat itu aku, Angie dan Nunuk adikku sedang masuk area kucing-kucing. Sedangkan Riska dengan suami dan 2 anaknya jalan-jalan di tempat lain. Kebetulan area kucing-kucing ini berada di dekat halte 'Cakar' yang tidak jauh dari pintu keluar Barat. Aku meminta Riska untuk naik kereta dan menyusulku di halte Cakar. Setelah mereka sampai, hujan benar-benar menderas membuat kita tidak bisa kemana-mana. Kebetulan yang ingat membawa payung hanya Angie :D pagi sebelum berangkat, aku sudah sempat memegang payung, tapi waktu melihat Cantiq, kucing peliharaan kita, aku letakkan kembali payung itu, untuk memberi makan Cantiq sebelum berangkat. Dan … kemudian aku lupa.

 

Untunglah menjelang pukul 14.00 hujan sedikit mereda. Kita pun nekat berjalan keluar. Payung dibawa Riska, dia berpayungan berdua dengan Adek, si bungsu. Nunuk melindungi dirinya dan Rani dengan jaketnya yang waterproof. Aku, Angie, dan suami Riska berjalan melenggang. Untung kita bertiga mengenakan topi sehingga lumayan melindungi kepala.

 

Setelah keluar, untung ada area yang terlindung 'atap', disini kita menunggu mas Ari, suaminya Riska, berjalan ke mobil dan menjemput kita.

 

Keluar dari Gembira Loka, aku mengarahkan mas Ari menuju jalan yang ada SMA N 8 di ujung (aku lupa nama jalannya) dimana setelah kita belok kiri, di ujung perempatan ada Balaikota; kita belok kanan ke Jl. Timoho. Keluar dari Jl. Timoho, kita sampai Jl. Solo / Laksa Adi Sucipto. Kita mengambil arah belok ke Jl. Gejayan, kemudian melipir di pinggir Selokan Mataram, kemudian masuk ke Jl. Kaliurang.

 

Sempat mampir di satu minimarket untuk belaja beberapa jenis cemilan dan air mineral untuk bekal, di Jakal km. 9. setelah itu, kita lanjut sampai Tlogo Putri. Rencanaku mau mengajak keluarga menginap di Hotel Srikandi, tempat aku menginap seminggu sebelumnya bersama Ranz, Angie, dan Fitri. Sayangnya, sesampai hotel yang kita tuju, semua kamar sudah terisi. Untungnya ga pakai sulit, kita menemukan hotel yang mirip2 hotel Srikandi, yakni Graha Kinasih, yang terletak di Jl. Boyong, sekitar 1,5 kilometer dari Tlogo Putri. Oleh si pengelola, kita diberi satu paviliun dengan 2 kamar, satu kamar untuk dua orang, satu kamar lagi bisa untuk 4 orang. Ada dapur dan meja/kursi makan, plus ruang tamu. Harganya sangat bersahabat: hanya Rp. 600.000,00. di dapur, kita disediakan kompor gas, air mineral dalam dispenser, piring, gelas sendok, dan beberapa sachet kopi. Alhamdulillaaah.

 

Usai check in, kita keluar mencari makan siang/sore. Ternyata, dari paviliun Bougenville (nama paviliun yang kita tempati) ke RM Pak Parto dekat banget! Tapi karena waktu itu rumah makan sedang tutup (kayaknya sedang ada acara keluarga semacam pengajian) kita ke tempat lain: ke lokasi seberang RM Pak Parto dimana ada gerobag berderet-deret yang berjualan bakso, sate, dll. Sore itu, Angie dan Riska memesan mie bakso, sedangkan yang lain memesan sate ayam plus lontong.

 

Selesai makan, Riska dan keluarganya kembali ke penginapan, sedangkan Aku, Angie, dan Nunuk jalan2 ke Tlogo Putri. Cuaca masih sangat mendung, kadang gerimis tipis, tapi masih oke untuk jalan-jalan.

 

Menjelang maghrib kita sudah kembali ke penginapan. Karena perut terasa cukup kenyang, kita tidak perlu keluar untuk cari makan lagi.

 

Malam itu, aku tidur di kamar yang besar bersama Angie, Nunuk dan Rani. Di kamar yang satunya dipakai Riska, mas Ari, dan Adek.

 

Minggu 27 Desember 2020

 

Liburan itu paling enak bangun agak siangan, lol. Meskipun begitu, pukul enam aku sudah mengajak 2 keponakanku keluar jalan-jalan, bersama Angie dan Nunuk. Meski trek naik turun tajam, 2 keponakanku senang-senang saja tentu karena hawa yang sejuk dan matahari belum terlihat bersinar.

 




Pukul tujuh kita mulai antri mandi. :D sekitar pukul 8 kita keluar, untung RM Pak Parto sudah buka, jadi kita sarapan disini. Pagi itu RM Pak Parto nampak ramai sekali dengan gerombolan para motoris. Mungkin memang para motorist itu biasa mampir makan disitu ya jika mereka 'turing' ke Kaliurang.

 

Setelah sarapan, kita ke Tlogo Putri, ada area main anak-anak dimana kita bisa masuk tanpa perlu membeli tiket. :D kali ini suasana Tlogo Putri cukup ramai, dibandingkan seminggu sebelumnya saat aku, Ranz, Angie dan Fitri menginap. Banyak jeep untuk tour yang mengadu peruntungan datang. Tapi, memang lumayan banyak juga orang-orang yang nampak naik jeep. Aku tidak berani mengajak 2 keponakanku naik jeep. Lagian, toh, 3 tahun sebelumnya aku dan Angie sudah pernah naik sampai Bunker Kali Adem.

 





Dari Tlogo Putri, aku mengajak masuk Taman Kaliurang, hanya berlima. Aku mempersilakan Riska dan mas Ari pulang terlebih dahulu ke penginapan untuk istirahat.

 




Pukul 12.30 kita meninggalkan penginapan. Karena Nunuk ingin melihat 'Stonehenge' KW itu seperti apa, kita kesana. Sempat digoda hujan on the way kesana, untunglah ketika kita sampai, hujan berhenti, memberi kita kesempatan untuk foto-foto. Dari sini, kita turun ke Jakal km 15 untuk makan siang.

 





On the way keluar Jogja, aku mengajak mampir Café Brick, karena aku ingin banget nunjukin Angie café yang bangunannya ala-ala British ini. :D dari sini, Angie mengajak lewat Jl. Palagan, tempat dia lewat seminggu sebelumnya bersama Fitri. Mereka sempat mampir ngopi di La Luna Resort waktu itu.

 

Jam lima sore kita sampai Jl. Magelang, siap meninggalkan kota Jogja. Perjalanan lancar, meski ada sedikit kemacetan di beberapa titik. Kita mampir di satu toko oleh-oleh sebelum keluar Magelang.

 

Kita sampai rumah sekitar pukul 21.30, setelah makan malam di satu warung makan di kawasan Pusponjolo.

 

Semoga di tahun 2021 ini kita berkesempatan traveling bareng lagi. Amiiiin.

 

PT56 09.26 03-Januari-2021

 

Saturday, January 02, 2021