Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts

Monday, December 15, 2008

Two sides ...

Segala sesuatu memiliki dua mata pisau: positif dan negatif, tergantung dari perspektif mana kita memandangnya. Demikian juga teknologi. Teknologi telpon selular misalnya. Di satu sisi sangat membantu seseorang yang dalam kegiatannya sehari-hari sangat ‘mobile’ sementara dia harus tetap mudah dijangkau dan menjangkau. Ini dari sisi positif. Dari segi negatif, misalnya saja, kemungkinan terkena radiasi yang cukup tinggi dari telpon seluar, seseorang memiliki kecenderungan untuk terkena penyakit ini itu, misalnya saja tumor otak, kurang suburnya sperma, dll.
Bagi para pelajar, terutama di musim ujian, teknologi komunikasi via telpon selular, baik melalui sms, maupun feature yang lain (misal, MXIT), sangat ‘membantu’ mereka untuk saling meminta dan memberi contekan. ‘Membantu’ jika dilihat dari perspektif mereka, karena meringankan beban harus belajar keras; ‘merusak’ mungkin dari perspektif guru yang mengharapkan para siswanya belajar dengan baik, dan tidak menggunakan ‘metode’ contek mencontek.
Hal ini pun dilakukan oleh seorang Angie. :-D Apakah sebagai nyokapnya aku tahu? Aku tahu banget! Seperti aku juga tahu bahwa meskipun dia tidak meninggalkan ‘budaya’ saling membantu dan meminta bantuan dalam ujian, dia tetap saja belajar dengan giat di musim-musim ujian, seperti minggu lalu. Mengapa aku diam saja? Bukan karena aku berpikir ‘Angie membantuku’ tatkala mencontek temannya atau memberikan contekan (agar memperoleh nilai bagus, sehingga ini berarti Angie membantuku kan?), namun lebih cenderung karena aku sudah cukup menghargai usaha dia untuk belajar dengan giat. Kalau ternyata yang dia pelajari tidak keluar pada soal-soal ujian, ya boleh sajalah dia mencontek temannya.
Aku ada alasan lain untuk hal ini. Sebagai seorang guru, aku lebih suka tatkala siswa-siswiku memahami suatu permasalahan dengan benar, suatu teori dengan benar, menganalisis suatu peristiwa dengan benar, dll, daripada hanya sekedar menghafalkan untuk ujian, setelah itu lupa. ‘Kultur’ pendidikan di Indonesia, hafalan jauh lebih terkenal daripada memahami suatu permasalahan, mengerti teori, maupun memahami mengapa suatu peristiwa terjadi pada satu waktu tertentu. Nampak kemungkinan para pendidik tidak mementingkan apakah anak didiknya memahami topik yang didiskusikan, yang penting mereka hafal. Ataukah mereka tidak mengerti beda hafalan dan pemahaman?
Apa resiko tatkala seorang siswa/mahasiswa lulus hanya karena hafalan saja? Ketika dia memasuki dunia kerja, dia tidak akan memahami kasus/topik atau apapun itu yang dia hadapi, karena dia hanya hafal, namun tidak paham. Ketika diberi permasalahan yang sama, namun dengan kasus lain, dia akan mudah grogi dan tidak mampu memecahkannya dengan baik.
Aku selalu menekankan pada Angie, juga para siswa/siswiku, bahwa pemahaman jauh lebih penting daripada hanya sekedar menghafalkan. Pemahaman membutuhkan waktu dan proses yang lebih panjang. Ini sebab banyak siswa/mahasiswa lebih memilih jalan pintas—menghafalkan. Hal ini juga yang nampaknya lebih dituntut dari para guru/dosen. Atau mereka berpikir bahwa jika seorang siswa/mahasiswa hafal, hal ini siswa/mahasiswa tersebut paham?
***
Beberapa hari lalu Angie sms, “Ma ... hapenya Angie disita!”
Aku langsung menelponnya—via nomor telpon temannya. “How did it happen honey?”
Bahwasanya dia tidak hati-hati tatkala menggunakan hape ketika ujian, (ketika mencontek atau pun memberi contekan tentu saja), LOL, adalah alasan utamanya.
Dua hari kemudian, aku ke sekolah Angie—yang juga almamaterku—untuk bertemu Wakasek, untuk mengambil hapenya. Tidak banyak basa basi, hanya Angie harus menandatangani sebuah surat pernyataan bahwa dia tidak akan melakukannya lagi. Aku harus ikut menandatangani surat pernyataan itu.
Setelah selesai, Angie diminta keluar ruangan, karena pak Wakasek akan berbicara khusus denganku.
Aku pikir ada sesuatu yang penting yang akan diperbincangkan denganku selaku ortu Angie; atau mungkin sekedar ‘judgmental’ character of a teacher, bahwa sebagai ortu, aku ga merhatiin anak yang contek-contekan. Dan dia akan memintaku untuk lebih memperhatikan Angie. (Biasa, ini hasil dari cara berpikirku yang terlalu cepat, LOL, atau aku ternyata memiliki sifat defensif yah? LOL.)
Ternyata ... oh ternyata ...
The vice principal talked something else.
He said he accidentally (though I don’t believe that he did it accidentally) read a new message from Angie’s dad, and fussily and nosily asked me, “Have you been separated from him?”
G-U-B-R-A-K!!!
Well ... teknologi pun telah ‘membantu’ orang asing tahu hal-hal yang dia tak perlu tahu!!!
PT56 141208

Wednesday, September 10, 2008

Memilih Jurusan

Memilih fakultas maupun jurusan apa yang akan diambil setelah lulus SMA tentu bukan masalah yang mudah. Itu sebabnya semenjak Angie duduk di bangku SMP, aku memintanya untuk menimbang-nimbang jurusan apa yang akan dia ambil selepas SMA nanti, berdasarkan kesukaannya. PSIKOLOGI adalah jurusan pilihan Angie sendiri, mengingat kebiasaannya untuk meminjamkan telinganya untuk menjadi ‘tempat sampah’ alias curhatan teman-teman dekatnya. Kadang-kadang Angie akan berbagi denganku, untuk kemudian mencari solusi bersama, yang nantinya akan dia sampaikan ke teman-temannya.
Itu sebab waktu duduk di bangku SMA kelas 1, aku menyemangatinya untuk bisa masuk ke jurusan IPA di kelas 2 nantinya, karena untuk masuk fakultas PSIKOLOGI di UNDIP, seseorang katanya harus lulus dari IPA. Konon UGM membolehkan seorang lulusan IPS untuk mengambil jurusan PSIKOLOGI. Namun berhubung aku tidak yakin apakah aku akan mampu membiayai kuliahnya di luar kota (harus menyediakan uang ekstra untuk kos, belanja keperluan sehari-hari plus makan, belum lagi transportasi), aku meminta pengertian Angie untuk mengubur mimpinya mengikuti jejak langkahku untuk kuliah di UGM.
Mulai masuk kelas 3 pertengahan bulan Juli lalu, aku mulai membuka wacana baru buat Angie, mempersiapkannya memilih jurusan lain, selain PSIKOLOGI. Rencana, dia akan kuminta (dan Angie pun setuju, karena begitu juga saran guru wali kelasnya) mengambil IPC. Berarti Angie perlu memilih dua jurusan alternatif.
“Give me some suggestions, Mama.” Katanya.
Kedokteran is out of question karena terlalu mahal bagiku, plus dia jijik melihat darah, dan takut melihat cadaver, apalagi harus terlibat dengan makhluk tanpa nyawa itu terus setiap hari. Kalaupun masuk fakultas Teknik, aku sarankan dia untuk masuk Teknik Industri. Sedangkan untuk jurusan IPS, aku beri dia alternatif fakultas Hukum, Komunikasi atau Sastra Inggris. Untuk fakultas Ekonomi, dia tidak menikmati Akuntansi.
Surprisingly, dia memilih jurusan yang dulu aku tolak mentah-mentah tatkala my late Dad menyarankanku รจ HUKUM. Dia pengen jadi notaris katanya.
She really wants to be different from me. English Department is really not in her ‘dictionary’.
Beberapa minggu kemudian, dia bercerita tentang salah seorang sobatnya yang masih bingung memilih jurusan apa nantinya.
“Kirain dia mau masuk Kedokteran Gigi. Biar jadi Dokter Gigi, kayak Mamanya.” Kataku.
“Dia bilang itu pilihan Mamanya. Namun ternyata itu bukan pilihan hatinya. Dan Mamanya tidak memberinya gambaran jurusan-jurusan lain.” Kata Angie.
Dan masalah ini pun tidak hanya menimpa sobat Angie tersebut. Banyak teman dekat Angie lain yang belum tahu kemana akan melangkah.
“Kamu pertimbangkan dulu, kira-kira kamu punya bakat dimana,” saran Angie kepada teman-temannya; saran yang sama yang dulu kukatakan kepadanya waktu akhirnya dia memutuskan untuk memilih PSIKOLOGI.
“Perasaan aku ga punya bakat apa-apa tuh?” komplain mereka.
“Lah, pelajaran apa yang kamu sukai?” tanya Angie.
“Ga ada juga.” Jawab mereka. LOL.
Repot deh.
Pengalamanku waktu bekerja di sebuah Bimbingan Belajar satu dekade yang lalu, para tentor memang membantu anak didik untuk memilih jurusan apa yang akan dipilih sewaktu test masuk perguruan tinggi negeri, berdasarkan kesukaan, plus hasil nilai tes yang diadakan secara periodik di lembaga tersebut. Namun, demi gengsi lembaga—bahwa lembaga tersebut mampu ‘menembuskan’ anak didiknya untuk diterima di perguruan tinggi negeri dalam jumlah yang mendekati 100%--biasanya para tentor memberikan saran yang agak bias, mereka pilihkan PTN yang terletak di kota kecil, atau bahkan di luar Jawa, atau fakultas yang memiliki ranking rendah, yang penting si anak didik diterima di PTN, terlepas dari apakah pilihan itu memenuhi minat, bakat, plus kesukaan si anak. Hasilnya? Bisa jadi seseorang tidak akan bisa menikmati kuliahnya, dan menyebabkan proses studi tersendat.
PT56 12.30 070908

Saturday, September 08, 2007

Peraturan baru ...


 

Tadi pagi, waktu sedang bersiap-siap akan berangkat sekolah, tiba-tiba Angie bilang, “Ma, sekarang ga boleh pake jaket kalo ke sekolah!”

“Lah, emang kenapa?” tanyaku heran.

“Entahlah. Pokoknya begitu masuk pintu pagar, jaket harus dilepas. Kemarin Mama perhatikan ga dua guru yang berdiri di dekat pintu masuk? Mereka melototin Angie kan? Untung jaket belum Angie pake.”

“Well, kalau tidak ada alasan jelas mengapa seorang siswa ga boleh pake jaket itu kan tidak mendidik namanya. Ingat salah satu adegan dalam film NAGABONAR JADI 2 waktu si supir bajaj bilang ke Nagabonar bahwa bajaj dilarang masuk ke jalan tertentu di Jakarta?”

Angie tersenyum geli mengingat adegan itu.

“Di situ, Nagabonar ngotot meminta jawaban yang jelas dari Tukang Polisi (huehehehe ... ada ga tukang polisi? LOL) yang jaga di jalan bebas bajaj, namun dia tidak mendapatkan jawaban yang jelas kecuali ‘memang peraturannya begitu Pak!’ Lah, pertanyaannya mengapa ada peraturan seperti itu? Dan si tukang polisi yang tidak tahu alasannya cuma muter-muter aja jawabannya. Ketika dilihatnya Nagabonar tetap ngotot akhirnya si polisi bilang, merengek tepatnya, “Pak tolong saya Pak. Kalau Bapak tetap nekad juga masuk jalan ini naik bajaj, saya yang akan dipecat.” Nagabonar yang tetap terlihat penasaran akhirnya mengalah jalan kaki karena dia tidak mau membuat si polisi itu terkena masalah. Polisi itu kan cuma orang kecil di jajarannya. Nah, kalau sekolah Angie ingin mendidik anak-anak, tolong dong diberi alasan yang jelas mengapa siswa tidak boleh pake jaket tatkala memasuki gedung sekolah. Jangan asal membuat peraturan tanpa dasar yang jelas.”

(Beginilah salah satu caraku mendidik Angie untuk berpikir secara kritis.)

Angie cuma manggut-manggut. But then tiba-tiba aku justru mendapatkan jawabannya.

“Honey, do you remember one bad happening during orientation period for the new students? You told me some new students lost their cellphones when they had to attend some ceremonies outside the classrooms. You were even one of the accused students only because you had two cellphones. And then later the school found some smugglers entering the school who stole some cellphones. Mereka pura-pura menjadi siswa SMA N 3 dan memanfaatkan masa orientasi sekolah itu—karena biasanya terjadi kelengahan pada masa tersebut berhubung biasanya anak-anak banyak yang berkeliaran di luar kelas karena kegiatan yang dilakukan pada saat tersebut. Mungkin sekolah ingin mengantisipasi hal seperti itu sehingga tatkala para siswa masuk gedung sekolah, mereka harus menunjukkan identitas mereka dengan menunjukkan badge sekolah.”

Sekali lagi, Angie manggut-manggut. Kali ini wajahnya agak cerah karena menemukan jawaban mengapa tiba-tiba siswa-siswi SMA N 3 tidak boleh memakai jaket tatkala memasuki areal sekolah.
Btw, berhubung gosip terheboh yang baru saja kuperbincangkan dengan Angie semalam adalah free sex masuk sekolah, yang menggayuti pikiranku sebenarnya adalah apakah ada hubungan antara siswa tidak boleh memakai jaket tatkala memasuki gedung sekolah dengan gosip terheboh tersebut? Barangkali pihak sekolah menengarai para pelaku free sex tersebut bukan anak-anak SMA N 3? Tapi semalam Angie sempat menyebut beberapa siswa yang telah diinterogasi pihak sekolah berkenaan dengan hal tersebut. Dan seperti pada tulisanku sebelum ini, sudah ada ‘shock therapy’ yang dilakukan oleh pihak sekolah—meskipun menurutku tidak selayaknya dilakukan oleh well-educated people: langsung menuding oknum-oknum tertentu dengan sebutan yang memerahkan telinga, misal “perek”. Kalo untuk siswa laki-laki, apa ya sebutannya? Angie didn’t mention it. Mengapa shock therapy ini hanya berlaku kepada para siswa perempuan saja? Misogini memang tetap terjadi di segala lapisan masyarakat.
Hhhhhhhh ... ... (aku menghela nafas yang benar-benar panjang ...)

PT56 16.52 060907

Tuesday, July 17, 2007

Hari pertama Angie ...


 


Hari pertama Angie di sekolah pada tahun ajaran 2007/2008

 

Angie bangun lebih pagi dari biasanya, pukul 05.20. Dia memang berpesan kepadaku untuk dibangunkan lebih pagi sehingga dia bisa mempersiapkan diri berangkat sekolah lebih awal. Satu hal penting yang ingin dia lakukan adalah agar dia lebih leluasa untuk memilih tempat duduk, yang menurutnya strategis.

 

Jam 06.15 aku mengantarkannya ke sekolah. Jalanan benar-benar jauh lebih padat dibanding selama tiga minggu sebelumnya waktu anak-anak sekolah menikmati libur kenaikan kelas.

 

Siang hari sekitar pukul 13.30 dia kirim sms, “Ma, Angie berangkat les Bahasa Inggris dari rumah mbak Nana. Ma, tolong bawain buku HI3 sama sepatu yang biasa tak pake kursus itu loh Ma. Pake sepatu ini kakinya Angie sakit.” (NOTE: tulisan sudah “kuterjemahkan” sehingga dapat dipahami orang awam, tak hanya para remaja. LOL.) FYI, “mbak Nana” yang disebut Angie adalah sobat kentalnya sejak kelas IV SD.

 

Kita bertemu sore hari di kantor, aku mengajar, Angie kursus.

 

Seusai jam pelajaran, kita pulang bersama. Dalam perjalanan pulang, Angie dengan heboh menceritakan pengalaman tidak enaknya di hari pertama tahun ajaran 2007/2008: dia dituduh mencuri hape. Nah lo. Menyebalkan toh?

 

Cerita singkatnya begini. Seperti sekolah-sekolah lain, SMA N 3 pun mengadakan masa orientasi perkenalan sekolah selama tiga hari. Yang berbeda adalah anak-anak SMA N 3 tidak perlu memakai ‘atribut’ yang aneh-aneh, misal, untuk anak perempuan rambut harus dikucir berapa biji, diberi pita berwarna-warni, atau memakai topi karton, dll. Masa perkenalan ini benar-benar ditujukan agar para siswa baru mengenal sekolah mereka yang baru. Salah satunya adalah, para senior masuk ke kelas-kelas X untuk memperkenalkan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti.

 

Tatkala Angie mendapatkan tugas untuk memperkenalkan CEMETI, majalah sekolah, dia harus meninggalkan kelas dan masuk ke kelas-kelas X. Pada waktu itu ditengarai ada 26 hape milik anak kelas X yang hilang. Entah bagaimana ceritanya panitia masa orientasi sekolah masuk ke kelas-kelas dan menggeledah dengan paksa tas-tas yang ada. Kebetulan Angie meninggalkan satu hapenya di tas, hanya mengantongi satu hapenya yang lain dalam rangka touring promoting CEMETI.

 

Ketika salah satu panitia menggeledah tas Angie, dia menemukan hape yang Angie simpan di dalamnya. Dengan serta merta, anak itu menuduh Angie telah melakukan pencurian hape. “Kenapa anak ini ga bawa hapenya di kantong ya? Ini pasti hape curian.” Tuduhan yang sama sekali tidak berdasar. Bahkan guru yang berada di kelasnya pun mengiyakan tuduhan itu. 

 

Untungnya, ketika anak yang tak tahu diri itu melontarkan ide, “Hape ini kita sita saja ya?” beberapa teman-teman sekelas Angie (yang tentu belum mengenal Angie dengan baik) mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang bijaksana. Untungnya lagi, (dasar wong Jowo, sudah dapat tuduhan menyakitkan gini ya tetap saja bilang “untungnya ...” LOL), Mita teman kursus Bahasa Inggris Angie sejak tahun 2004 yang sekarang satu kelas dengan Angie di kelas XI IA 1 melihat kejadian ini, dan dia langsung mengatakan, “Saya kenal Angie sejak dia kelas III SMP. Dan memang dia punya dua buah hape kok. Ini memang hape dia.”

 

Ketika Angie kembali ke kelasnya, dia dipanggil oleh guru yang berada di dalam kelas dan ditanya, “Apa benar kamu punya hape dua? Apa benar hape yang di dalam tasmu ini milikmu?”

 

Waduh ... aku kesel banget waktu mendengar cerita ini. Sayangnya Angie yang tidak tahan ingin segera bercerita (misal menunggu setelah kita tiba di rumah sehingga dia bisa bercerita secara leluasa), dia bercerita di atas motor. Aku harus membagi konsentrasi antara mendengarkan ceritanya dengan mengendarai motor. Angie yang duduk di belakangku pun tentu tak bisa kupandang mimik wajahnya tatkala bercerita. Apakah dia pun sama kesalnya denganku?

 

Tak lama kemudian, sesampai di rumah, Angie pun bercerita hal lain lagi yang dia sukai. Ketika touring classes untuk promosi mengikuti ekstra kurikuler CEMETI, dia dapati wajah-wajah imut yang biasa dia lihat di kursus Bahasa Inggris. “Waduh Ma ... akhirnya mereka pun ngikutin jejak Angie, bersekolah di SMA N 3. Asik asik ... ada tontonan apik ...” hahahahaha …

 

Dasar remaja. ... LOL.

 

PT56 11.20 170707

foto Angie dijepret tahun 2015

Thursday, July 06, 2006

Kamis, 6 Juli 2006

foto dijepret tahun 2007

Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran ke SMA Negeri.

 

Sekitar jam 9, aku dan Angie meninggalkan rumah menuju ke SMA N 5 setelah mengambil hasil afdruk pas foto Angie dan juga fotocopy surat KK.

 

Keputusan yang kuambil tadi malam, dan Angie juga setuju, pilihan pertama SMAN 3, sedangkan pilihan ke dua SMAN 5. Tapi, berhubung hari Senin yang lalu aku beli formulir pendaftaran di SMA N 5, aku dan Angie berangkat mendaftar ke SMAN 5, meskipun SMAN 5 menjadi pilihan kedua. 

 

Dari SMAN 5, kita berdua jalan-jalan ke Java Mall, Angie males pulang ke rumah, sedang pengen ngeluyur, LOL, so, aku dengan baik hati menemaninya. LOL.

 

Pertama kali yang kita lakukan adalah having brunch at McDonald's there. Aku pesan seporsi PANAS untukku sendiri, sedangkan Angie pesan spaghetti dan french fries. We were talking a lot while having our meal. This is one thing I always enjoy when going windowshopping with my lovely star. Kita makan sambil ngobrol, dan hari ini kebanyakan Angie bercerita tentang teman-temannya.

 

Dari McD, kita naik ke lantai 3, ke TB Gramedia, lihat-lihat buku. Gara-gara lihat buku inilah, aku jadi naksir sebuah buku yang berjudul KAJIAN BUDAYA FEMINIS: TUBUH, SASTRA, dan BUDAYA POP tulisan Aquarini Priyatna Prabasmoro.

 

Dari GM, kita berdua mampir ke TB TOGA MAS, toko buku yang selalu memberi diskon. Dan, akhirnya aku membeli buku Aquarini di sini, lumayan kan ngirit berapa ribu rupiah. LOL. Harga semula Rp. 84.000,00, diskon 15% menjadi Rp. 71.400,00 A good buy, huh? LOL.

 

Dari Toga Mas, aku mengantar Angie pulang, baru aku ke kantor.

 

Dan sekarang, sekitar pukul 20.06, aku barusan ngecek JURNAL hasil pendaftar calon siswa di SMAN 3 dan SMAN 5. Well, menurut hasil jurnal, posisi Angie aman di SMAN3 karena dia berasal dari dalam rayon.

 

Really wish her the best luck for her study!!!

 


 


Wednesday, July 05, 2006

Rabu malam, 5 Juli, 2006

foto dijepret tahun 2007, Angie sudah jadi siswa SMA N 3 ๐Ÿ˜

Barusan kelar ngajar jam 7pm tadi, aku langsung cabut ke SMA N 3 dan SMA N 5 untuk menjajal keberuntungan untuk ngeliat jurnal. Sebelum jam 6, aku sms Angie to watch TVKU untuk ngeliat jurnal. Ternyata Angie didn't find such a program on TV. She told me via sms. Itu sebabnya aku langsung cabut ke SMA N 3 dan SMA N 5 untuk ngeliat jurnal.

 

Sebelumnya aku berpikir mungkin situasi sekolah gelap, sepi, so aku ga bakal bisa ngeliat jurnal, and ternyata SALAH BESAR. LOL. Di SMA N 3 kutemui banyak bapak-bapak/ibu-ibu yang lagi nongkrongin papan pengumuman sambil bercakap-cakap kira-kira apakah anaknya masih punya kesempatan untuk diterima. Ketika aku langsung nimbrung dengan menjawab, "312" (pertanyaan salah seorang dari orang-orang itu adalah, "Berapakah 60% dari 520?"), mereka langsung memandangku, dan menyapaku dengan panggilan "mbak..."

 

Jadi inget waktu mengambil hasil kelulusan Angie di SMP N 1. Wali kelasnya mengenaliku sebagai salah satu muridnya, "Lah, dulu siswa SMP N 1 yah?" Setelah aku mengiyakan dan merasa senang ternyata wajahku masih dikenali oleh mantan guru yang sudah berlalu 23 tahun, beliau, bu Endang tanya lagi, "Kamu kakaknya atau ibunya Dzikrina nih?" Bu Endang hampir tidak percaya kalo aku adalah nyokapnya Angie, dan bukan kakaknya. LOL. Wajahku masih keliatan terlalu muda untuk memiliki anak seusia 15 tahun? LOL. Aku yang berwajah awet muda, ato aku yang terlalu muda waktu melahirkan Angie? LOL. I was 23 years old at that time!!! Not too young to have a baby, do you agree? LOL.

 

Balik ke cerita 'perburuanku' akan hasil jurnal.

 

Ah well, Lelaki Terindahku itu apal banget kalo aku lagi nulis email, ato apa aja, selalu ada distraction. LOL.

 

Dari SMA N 3 aku menuju ke SMA N 5 yang berjarak kurang dari 50m. Ternyata di sini pun ada banyak orang. Bahkan ada orang yang jualan hasil jurnal hampir seluruh sekolah negeri di Semarang dengan harga 3000 perak. Aku langsung beli untuk kutunjukkan ke Angie.

 

Dari SMA N 5, aku balik ke kantorku yang satunya untuk ngecek email dan blog. Dan juga nulis 'laporan' singkat ini tentunya.

 

Well, berdasarkan pantauan jurnal yang kulakukan hari ini, kesempatan Angie untuk diterima di SMA N 3 cukup tinggi, karena dia berasal dari dalam rayon!!!

 

Thank goodness.

 

Besok adalah hari terakhir pendaftaran. Aku akan mengajak Angie ke SMA N 3 untuk mendaftar jam 8 pagi!!!

 

Kesimpulanku waktu nulis ini, pilihan pertama jatuh ke SMA N 3 dan pilihan kedua SMA N 5. Entah nanti setelah pulang dan diskusi dengan Angie. Will she agree with me?

 

Tapi yang pasti tadi waktu ninggalin SMA N 3, I said, "SMA N 3, wait for my beloved daughter's arrival as a student here!!!"

 

Wish my lovely star the best luck, will ya?