Wednesday, April 12, 2017

KE JOGJA NOSTALGIA MASA KULIAH Day 3

Selasa 28 Maret 2017 Day 3

Seperti sehari sebelumnya, aku memulai kegiatan pukul 06.00 pagi, mandi, kemudian packing. Setelah itu, membangunkan Angie.

Pukul setengah delapan kita meninggalkan penginapan. Hawanya dingin dan segar. Kita bertemu dengan serombongan wisatawan yang tentunya semalam sebelumnya juga menginap di lokasi itu.

20 menit kemudian, kita melihat penampakan angkutan umum datang. Hwaaaa ... we are safe! We would be back to Jogja! :D

Sebelum berangkat ke Jogja, aku nawarin Angie untuk mampir ke Museum Ullen Sentalu. Waktu itu aku berpikir akan mudah mendapatkan ojek di kawasan Tlogo Putri. Namun karena ternyata selama di Tlogo Putri, kita sama sekali tidak melihat penampakan seorang tukang ojek sekalipun, terpaksa kita batalkan dolan ke museum Ullen Sentalu ini. Sebagai ganti, aku menawari Angie untuk berkunjung ke beberapa candi, atau ke Tebing Breksi. How to go there? Radit telah memberitahu bahwa kita bisa menyewa sepeda motor. Beberapa persewaan sepeda motor bisa kita dapatkan di Jalan Pasar Kembang, tak jauh dari stasiun Tugu. Namun, ternyata Angie enggan kuajak jauh-jauh.

Dari Kaliurang, kita butuh waktu kurang lebih satu seperempat jam – dengan naik angkutan umum – untuk sampai di kawasan UGM. Kita berhenti di satu halte Trans Jogja di seberang fakultas Pertanian (atau perpustakaan yak?) Dari sana, kita naik Trans Jogja koridor 2 B untuk sampai di Malioboro.

Yak, sekali lagi kita jalan-jalan di Malioboro! Sekaligus beli oleh-oleh untuk orang rumah. J Kurang lebih pukul 13.00 kita telah sampai di halte Trans Jogja seberang Rumah Pintar. Setelah menunggu kurang lebih selama 40 menit, bus yang ditungguin para (calon) penumpang yang memenuhi halte saat itu tiba juga. J

Kita sampai di terminal Jombor sekitar pukul 14.30. kembali ke Semarang, kita naik bus Ramayana lagi. Jika waktu berangkat, bus lumayan sepi, kali ini, bus penuh!

Perjalanan cukup lancar, tanpa kendala satu pun. Kita sampai di Sukun saat adzan maghrib terdengar dari beberapa masjid di sekitar Sukun.

Sampai jumpa di kisah dolan Angie dan emaknya yang akan datang yak! :D


LG 12.12 05/04/2017 

KE JOGJA NOSTALGIA MASA KULIAH Day 2

Senin 27 Maret 2017 Day 2

Pukul enam pagi aku putuskan untuk meninggalkan tempat tidur untuk mandi dan siap-siap. Setelah sarapan nasi kuning yang disediakan oleh hotel, aku dan Angie meninggalkan hotel pukul setengah delapan.

Aku ingat dulu ada (banyak) angkutan menuju Kaliurang, yang berangkat dari terminal Terban, di ujung Jalan c. Simanjuntak. Aku dan Angie berjalan menuju perempatan dimana Mirota Kampus terletak. Kita menunggu angkutan di depan Fakultas Pertanian UGM. Kata Raditya, meski jarang, sekarang masih ada angkutan umum menuju Kaliurang.

Tidak lama berselang, satu angkutan umum dengan tulisan KALIURANG di kaca depan datang. Ah ... ternyata sekarang angkutan itu tidak melewati Jalan C. Simanjuntak kala meninggalkan terminal Terban, namun muter ke Jalan Cik Di Tiro. Kalau tahu begitu, kita ga perlu berjalan kaki menuju perempatan, cukup menunggu angkutan lewat di seberang RS. Panti Rapih. J

Angkutan yang kita naiki meninggalkan fakultas Pertanian pukul 07.44. dengan berjalan sangat lambat, colt menuju utara, ke arah Kaliurang. Dengan begini, aku justru bisa menikmati pemandangan di sepanjang jalan (kenangan). :D Sudah ada banyak bangunan yang berubah fungsi. Di Jakal km 4,8 dulu ada toko ARTHA, tempat orang menuju untuk membeli segala jenis kamera, film, maupun untuk ‘afdruk’ alias cetak foto. Sekarang bangunannya masih ada, namun sudah berubah fungsi. Ada warung makan yang telah berubah menjadi distro. :D Yang menyenangkan, aku masih melihat bangunan kos tempat aku tinggal tahun 2005 masih ada, tempat aku ‘berjuang’ menyelesaikan menulis tesis di tahun 2005 itu.

Sekitar pukul 08.44 angkutan sampai di satu pasar yang terletak di Jakal km 17. Semua penumpang telah turun. Tinggal aku dan Angie. Waduw, alamat kita bakal dipindah nih. Baru aku selesai berpikir begitu, sang sopir meminta kita untuk pindah ke angkutan lain. Di angkutan ini, aku melihat ada 6 penumpang lain, 5 perempuan, 1 laki-laki. Dua perempuan berkerudung,  3 perempuan lain berambut putih, si laki-laki juga berambut putih, yang menunjukkan bahwa mereka telah senior dalam hidup ini. Selain 5 penumpang, mobil juga penuh dengan barang-barang bawaan mereka, berbagai jenis sayur mayur, dan tetek bengek lain yang menunjukkan bahwa mereka (mungkin) adalah pedagang yang berjualan di kawasan Tlogo Putri, Kaliurang.

Aku bertanya dengan seorang penumpang yang duduk di sebelah Angie, jam berapa angkutan terakhir meninggalkan Kaliurang di sore hari. Jawabannya sangat mengagetkanku karena angkutan yang kunaiki itulah angkutan umum terakhir yang menuju Tlogo Putri, dan tentu sang sopir tidak akan menunggu lama. Setelah semua penumpang turun, dia akan langsung kembali ke arah Jogja.

“Sekarang jarang Mbak angkutan seperti ini dari Jogja ke Kaliurang. Dulu sih banyak. Sekarang orang-orang lebih memilih berkunjung ke Kaliurang dengan naik kendaraan sendiri, lebih leluasa mungkin ya, sehingga angkutan umum seperti ini sudah jarang yang beroperasi.”

Ok. Fixed. Berarti aku dan Angie ga bakal bisa kembali ke Jogja di hari yang sama. Kita (terpaksa) menginap di kawasan Tlogo Putri malamnya. Padahal rencana di malam kedua ini, kita akan menginap di rumah Detta – salah satu sobatku – yang rumahnya di Jalan Kaliurang km 8, sekaligus reunian, ngobrol. Bye bye Detta ... J

Di perjalanan, selepas Jakal km 22-an, aku mulai melihat beberapa lokasi yang menawarkan “lava tour Merapi”, satu hal yang ingin kulakukan. Sempat berpikiran untuk berhenti di satu lokasi yang menawarkan itu, namun, kupikir sebaiknya kita sampai di Tlogo Putri saja, yang terletak kurang lebih 25 km dari titik 0 kota Jogja. Tentu saja sambil berharap bahwa nanti di Tlogo Putri, kita bakal menemukan tempat yang menawarkan ‘lava tour’ ini.

Angkutan kedua yang kita naiki menuju Tlogo Putri ini sampai di pelataran parkir Tlogo Putri – di lembah Gunung Merapi – pukul 10.00, kurang lebih 2 jam setelah kita meninggalkan kawasan UGM.

Hal pertama yang kita lakukan setelah sampai di lokasi wisata yang berhawa sejuk ini adalah mampir ke toilet. :D Berhubung kita berdua sedang sama-sama menstruasi, kita sama-sama mudah memproduksi air kencing. LOL. Setelah itu, kita sarapan kedua. :D Sarapan nasi kuning yang kita dapatkan dari hotel Limaran kurang ‘nendang’. LOL. Di salah satu tempat makan yang ada di lokasi, aku memilih menu nasi goreng spesial, sedangkan Angie memilih indomie rebus + telur + sayur.


Usai sarapan kedua, kita masuk ke lokasi wisata yang sekarang disebut “Tlogo Muncar”. Harga tiket Rp. 6000,00 per orang. Terakhir aku kesini tahun 2011, beberapa bulan setelah gunung Merapi meletus, lokasi wisata ini masih porak poranda. Kita tidak bisa berjalan kemana-mana, kecuali hanya memutari lokasi yang terletak tak jauh dari pintu masuk. Rute trekking tak terlihat sama sekali. Rusak.

Kali ini trek menuju Plawangan tetap rusak, tak bisa dilewati. (Gosh, Angie lupa bahwa di tahun 2003, dia kuajak kesini bersama bokapnya, kita trekking menuju Plawangan!) Namun, pemda telah menyediakan menu trekking lain, yakni menuju gardu pandang Pronojiwo. Well, not bad laaah. J Jarak yang harus kita tempuh menuju Pronojiwo kurang lebih 700 meter. (Lebih pendek ketimbang trekking menuju air terjun Semirang yang 1 km. Dan ... jauuuuh lebih pendek ketimbang trekking menuju Curug Lawe. Hahaha ...)




Rute menuju Pronojiwo tidak hanya jauh lebih pendek, namun juga jauh lebih mudah dilewati. Kutengarai, tentu ini karena didukung oleh pemda yang tidak ingin lokasi wisata ini mati, tidak melulu menggantungkan kedatangan wisatawan yang datang ‘hanya’ untuk ber’lava tour’ semata. Demi kelangsungan hidup para pedagang di pelataran parkir juga tentu. Oh ya, daerah ini terkenal dengan jualan ‘jadah’ dan ‘tempe’ bacemnya.

Untuk meringankan trekking, aku dan Angie menitipkan backpack kita di tempat dimana kita sarapan. J meski ini adalah hari Minggu, kita tidak banyak melihat wisatawan yang trekking menuju Pronojiwo.

On the way balik ke pelataran parkir, kita bertemu dengan rombongan anak-anak sekolah dengan guru sekolahnya. Rupanya, anak-anak itu tetap bisa ‘having fun’ berangkat sekolah di hari ‘kejepit’ karena acaranya adalah field trip. :D

Sesampai di ‘playground’, tak jauh dari pintu masuk, maupun air terjun Tlogo Muncar, kita melihat lebih banyak wisatawan ketimbang saat kita baru datang. Bagus lah. J

Menjelang pukul 14.00 kita telah berada di tempat ‘info lava tour Merapi’. Ada 3 jenis tour, yang paling pendek berharga Rp. 350.000,00, yang tengah-tengah Rp. 450.000,00, dan yang paling panjang Rp. 5550.000,00. Kita memilih yang paling pendek, karena itu pun akan memakan waktu 2 jam.

Akhirnyaaaaaaaaaaaa. My dream come true! :D Sudah selama beberapa tahun aku memendam keinginan menjelajah kawasan yang menjadi korban keganasan letusan gunung Merapi tahun 2010!


Tiga lokasi dipilih untuk para wisatawan yang memilih jalur pendek dari ‘lava tour Merapi’ ini. Yang pertama adalah desa Petung, salah satu desa yang terparah terkena keganasan letusan gunung Merapi. Ada sekitar 3 rumah yang masih lumayan utuh dinding-dindingnya. Di rumah itu ditata banyak pernak-pernik peninggalan letusan gunung Merapi. Dari berbagai macam bahan pecah pelah, jam, gambar-gambar, sepeda motor, hingga kerangka binatang (sapi) yang dipajang. Beginilah cara orang-orang di sekitar gunung Merapi kembali bersemangat untuk survive dari letusan gunung, dengan cara memanfaatkan sisa-sisa letusan itu.


Tempat kedua yang kita hampiri adalah lokasi dimana terletak batu ‘alien’. Batu yang ‘mendadak’ ada setelah letusan gunung, yang jika dilihat dari satu sisi tertentu, batu ini ternyata ‘berwajah’, bisa kita lihat bentuk mata, hidung, hingga bibirnya. Di tempat yang sama, ada pemandangan spektakuler, yakni sungai Gendol tempat mengalir lava yang dimuntahkan oleh gunung. Oleh beberapa orang tertetu spot itu dimanfaatkan dengan menyediakan satu papan untuk berfoto-ria. Cukup dengan membayar sepuluh ribu satu orang, kita bisa berfoto dengan latar belakang bukit hijau dimana di depannya adalah sungai Gendol.

Tempat ketiga yang kita sambangi adalah Bunker Kaliadem. Aku dan Angie tidak bisa terlalu menjelajah disini karena mendadak turun hujan. Bunker ini pun menjadi korban keganasan lahar panas yang dihasilkan dari letusan gunung Merapi di tahun 2010. Ada 2 sukarelawan yang meninggal disini, terpanggang api. L


Dari Bunker Kaliadem, kita kembali ke titik semula, pelataran parkir Tlogo Putri. Dalam perjalanan, sopir jeep yang kita naiki (lupa nanya namanya :D) menawarkan kita untuk nyebur ke sungai yang kita lewati. Angie dengan bersuka cita menerima tawaran itu. Lumayan, menambah pengalaman, naik mobil jeep melewati sungai yang berair. LOL.

Kita sampai di Tlogo Putri kembali sekitar pukul 16.00 dalam kondisi hujan deras. Sopir jeep yang baik hati itu mengantar kita ke salah satu penginapan, yang terletak tak jauh dari patung Elang Jawa. Saat beristirahat.

Jelang maghrib kita keluar untuk makan malam. Penginapan itu sekaligus juga rumah makan, sehingga mudah bagi kita untuk mencari makan. J Kali ini, aku memilih menu capcay goreng, sedangkan Angie memilih bihun rebus.


Malam itu kita nonton debat paslon gubernur cawagub DKI nomor 2 dan nomor 3 di Metro TV sebelum tidur. J Hawa yang cukup dingin mengantar kita ke kelelapan yang lumayan nyaman.

KE JOGJA NOSTALGIA MASA KULIAH Day 1

KE JOGJA
NOSTALGIA MASA KULIAH

Barangkali semenjak aku mengenal ‘bikepacking’ a.k.a mbolang naik sepeda, Jogja kota tempatku kuliah, itu sebab dia menyandang gelar “my second hometown”, kukunjungi hampir tiap tahun. (2011 dalam event Jogja Attack, 2012 Joglo Attack, 2013 raceplorer dagadu plus JLFR, 2014 reuni bersama rekan kuliah S1 dan Jamselinas4, 2015 outing bersama rekan-rekan kantor, 2016 Pitulungan alias ultah JFB plus mbolang bareng anak-anak ‘pelor’, LOL, Februari 2017 ngikut J150K). Namun karena selalu (sok) sibuk dengan kegiatan ini itu, sisi nostalgia tidak begitu terasa. Kecuali pas reuni tahun 2014 itu.

Kali ini aku dolan ke Jogja, tanpa Austin maupun Snow White, namun hanya berdua dengan Angie, my Lovely Star.

Minggu 26 Maret 2017  Day 1

Aku dan Angie meninggalkan kota Semarang sekitar pukul 08.00, naik bus Ramayana dari Sukun. Perjalanan agak tersendat saat kita melewati kawasan Jambu – Ambarawa karena ada kecelakaan. Hujan terus mengguyur sepanjang perjalanan. Hawa di dalam bus dingin – gegara AC, di luar pun dingin. J bus tidak penuh penumpang, mungkin kurang dari 15 orang.

Bus yang kita naiki sampai di terminal Jombor sekitar pukul 11.25. Tinggal gerimis. Jika dulu dari Jombor, untuk menuju Malioboro, kita harus naik bus kota jalur 5 berhenti di Mirota Kampus kemudian berganti bus kota jalur 2 atau 4, kali ini cukup sekali naik Trans Jogja jalur 2B. (Kalau tidak salah ingat.)

Hal pertama yang membuat Angie menganggapku ‘sok tau’ Jogja, padahal telah meninggalkan Jogja sejak awal tahun 2006, adalah ketika kondektur berkata, “halte Mangkubumi 2 ... stasiun ... stasiun ...” aku mengajaknya turun dari bus. Sebagai anak yang menurut ke Emaknya, dia turun, tapi protes, “Ma ... ini kan belum Malioboro? Kok turun disini?”

Jawabku, “Yang ... kayaknya bus ini ga lewat Malioboro deh, tadi si kondektur nyebut Malioboro juga kan?”

“Iya ... tapi kan juga nyebut halte Mangkubumi 2?” protes Angie. LOL.

Namun karena jarak yang kita tempuh berjalan kaki menuju Malioboro cukup dekat, plus cuaca mendung – gerimis telah reda – Angie ga lama-lama protes. J

Perut kita berdua mulai keroncongan. Kita butuh pertolongan pertama pada perut lapar. LOL. Namun, yang pertama kali harus dilakukan adalah mencari toilet umum; kita butuh membuang yang harus kita buang. J

Kita “menemukan” toilet di samping gedung Dinas Pariwisata. Syukurlah. Setelah itu, baru kita mampir ke satu warung bakso + mie ayam untuk makan siang.


Saat makan siang, Angie melihat sepasang lelaki perempuan yang jika dilihat dari model wajahnya, mereka adalah turis dari Korea. Angie berbisik, “Ma ... itu ada turis dari Korea!” aku yang ga begitu memahami beda tekstur wajah orang Korea atau Cina atau Jepang atau mana pun yang memiliki mata sipit atau kecil, sempat menoleh ke arah dua orang yang ditunjuk Angie, sambil manggut-manggut. Ternyata, eh, ternyata, sepasang turis berwajah Korea itu mampir ke warung tempat aku dan Angie sedang makan! LOL.

Mereka duduk di meja di belakang tempat aku duduk. Sang pelayan segera menghampiri mereka sambil menyodorkan menu. Mereka berbicara dalam Bahasa Inggris, dan sang pelayan memahami secukupnya. J setelah itu, kudengar mereka bercakap-cakap dalam bahasa yang aku agak familiar karena sering mendengar dalam film Korea yang Angie tonton. Owh ... ternyata benar, mereka dari Korea. J

Usai makan, kita melanjutkan perjalanan. Tujuan kita adalah ke Tamansari. Waktu mencari becak yang akan membawa ke Tamansari, Angie bercerita bahwa ternyata sepasang turis dari Korea itu bukanlah sepasang kekasih atau pun suami istri. Waktu mereka ngobrol, Angie sempat mendengar, karena suara mereka cukup keras. Si cewe bilang, “Kamu jangan naksir aku lho ya. Sudah banyak cowo yang naksir aku. Kita temenan saja.” LOL. (Sebagai seorang Korean freak, maklum lah ya jika Angie belajar bahasa Korea. J )

Tidak mudah, ternyata, mendapatkan becak yang bersedia membawa kita ke Tamansari. Semua tukang becak minta harga yang cukup tinggi, berkisar antara Rp. 30.000,00 sampai Rp. 40.000,00. Namun ... pucuk dicinta ulam tiba. Di seberang benteng Vredeburg, kita ditawari seorang tukang becak dengan harga hanya Rp. 15.000,00. Waaaah ... kita tentu langsung mau! Becaknya cukup sempit (bandingkan dengan becak-becak di Semarang yang besar dan gagah LOL.) namun cukup lah untuk kita berdua berhimpitan, plus 2 backpack kita.


Sesampai di Tamansari, kuulurkan uang duapuluh ribuan kepada si tukang becak. Waktu aku dan Angie mau berjalan, dia bilang, “Sekedap mbak, jujule dereng.” (sebentar Mbak ... kembaliannya belum.) kujawab, “Kagem njenengan mawon Pak ...” (Buat anda saja Pak.) dan si tukang becak pun terlihat berseri wajahnya, dan mengucapkan terima kasih. That made my day! J

Gerimis kembali turun sebelum kita masuk ke Tamansari. Angie yang butuh ke toilet, mengajakku ke toilet dulu, sembari menunggu gerimis sedikit berkurang.

Karena aku ingin mengajak Angie ke masjid Sumur Gumuling yang terletak di bawah tanah, namun aku tidak tahu jalan menuju kesana, LOL, aku mengiyakan ketika ditawari apakah aku butuh guide. Kepada si bapak guide – yang entah mengapa di mataku nampak mirip bapak mekanik di ‘bengkel’ sepeda di Jalan Suyudono, LOL, rambut gondrongnya dan kumisnya, namun secara fisik dia lebih tinggi badannya – aku sampaikan bahwa aku ingin ke masjid Sumur Gumuling.

Bisa kau bayangkan bukan betapa ramainya Tamansari di hari Minggu, apalagi ini adalah long weekend karena ada tambahan hari libur (Nyepi) di hari Selasa, yang membuat hari Senin adalah hari kejepit. J

Bapak guide menjelaskan nama ketiga kolam yang ada di kawasan dalam Tamansari. Yang pertama disebut “umbul kawitan” yang digunakan mandi anak-anak perempuan dari para selir raja (zaman itu.) yang berada di tengah disebut “umbul sari”, kata “sari” konon berarti harum, digunakan mandi para selir. Saat para selir mandi ini, sang raja ‘menonton’ dari kamar yang terletak di atas. Setelah memilih selir yang akan menemaninya mandi, raja akan melemparkan bunga kepada selir tersebut. Langkah selanjutnya adalah selir yang terpilih itu akan mandi bersama raja di kolam yang letaknya agak tertutup dari kedua kolam yang lain, kolam ini disebut “umbul binangun”; kata ‘binangun’ memiliki arti ‘membangun’, yaitu membangun hubungan antara raja dan selir yang terpilih, dimana saat ‘membangun hubungan’ ini mungkin sang selir akan hamil dan melanjutkan keturunan sang raja. J

Setelah selesai mengitari kawasan kolam dan sekitarnya, bapak guide membawa kita menjelajah kawasan di luar, menuju masjid Sumur Gumuling. Dia juga menjelaskan bahwa para abdi dalem yang mendiami rumah-rumah di kawasan ‘magersari’ (yang berarti tanah itu secara resmi milik keraton) akan direlokasi di kawasan lain mulai tahun 2025, karena tanah di kawasan ‘magersari’ di sekitar Tamansari akan dikembalikan seperti dulu, yakni kolam.

Sang guide menjelaskan awal mula kawasan ‘magersari’ itu dipenuhi bangunan rumah yang kemudian ditempati para abdi dalem adalah saat perang kemerdekaan, para abdi dalem meminta perlindungan dari Sri Sultan dari serangan Belanda. Belanda tidak berani menyerang Sri Sultan rupanya.


Di lokasi masjid Sumur Gumuling juga penuh pengunjung, sehingga tidak leluasa bagiku dan Angie untuk motret, apalagi selfie, maupun wefie, LOL. Angie masih (sok) malu jika berfoto saat banyak orang di sekitar. (She should learn it from me! LOL.)

Sekitar pukul 15.00, kita telah kembali ke pintu masuk/keluar Tamansari. Setelah mampir toilet (lagi!) LOL, kita jajan es teh di satu warung yang ada disitu. Kebetulan gorengannya masih cukup hangat, jadi selain minum segelas es teh, aku juga ngemil 2 biji mendoan.

Kita kembali lagi ke kawan Malioboro dengan naik becak. Ada sedikit ‘incident’ waktu itu. Setelah meninggalkan warung tempat kita beristirahat dan minum es teh, aku melihat sebuah bentor (becak bermotor) datang mengantar penumpang. Aku langsung mengajak Angie naik bentor itu, setelah si tukang bentor menyetujui harga Rp. 20.000,00. Namun, ternyata ‘policy’ (tak tertulis) yang ada tidak membolehkan bentor/becak yang baru saja datang membawa penumpang yang ada di kawasan Tamansari; seorang tukang bentor yang mangkal disitu protes. Akhirnya aku turun dari bentor (yang baru datang itu) dan pindah ke bentor yang mangkal. Kita diantar sampai kantor pos, sebrang Malioboro.

Setelah itu kita jalan-jalan lagi ke Malioboro. Setelah kita rasa cukup, aku mengajak Angie berjalan ke arah Jalan Mataram, take it for granted bahwa masih ada bus kota jalur 2 yang lewat situ menuju kawasan UGM. J Ternyata, oh, ternyata I was wrong! LOL. Di tengah lalu lintas nan padat merayap, tak kulihat penampakan satu pun bus kota maupun Trans Jogja menuju arah utara. (5 tahun lalu, waktu akan mengikuti tour ke Gunung Kidul, kita masih menemukan bus jalur 2 lewat Jalan Mataram! Wait!!! 5 tahun yang lalu? Owhhh ... ternyata sudah cukup lama yaaa? Wkwkwk ...) Kelelahan membuat Angie manyun. LOL. Dia sempat bilang, “Cari penginapan di kawasan sini aja Ma! Angie sudah cape!” LOL. Aku menolak karena keesokan pagi kita berencana akan ke Kaliurang, akan terlalu ‘ribet’ jelang berangkat kesana kalau kita menginap di kawasan Malioboro.

Saat Angie cape, dan duduk beristirahat (untung ada satu tembok tempat kita bisa duduk), kulihat ada bentor yang akan melintas di tengah lalu lintas nan padat. Bless us! LOL. Aku berencana kita menginap di hotel Limaran yang terletak di belakang RS Panti Rapih.


Untunglah saat kita sampai di hotel Limaran, masih ada 1 kamar kosong. J Angie pun bernafas lega. J Setelah istirahat beberapa saat, kita keluar lagi untuk makan malam di satu warung makan yang terletak di seberang RS. Panti Rapih, kemudian berjalan kaki menuju Mirota Kampus untuk membeli beberapa barang. (hwaaa ... nostalgia nih, zaman aku ngekos di Jl. C. Simanjuntak, sering belanja disini!) 

to be continued :)

Thursday, December 01, 2016

Dolan Magelang

Setelah ikutan outing ke Magelang pada tanggal 9 Oktober 2016 buat rafting di sungai Elo, weekend 26-27 November, kembali aku dan Angie ke Magelang! Meski kita menuju lokasi yang sama -- kawasan Borobudur -- tentu saja kita mengunjungi lokasi-lokasi yang berbeda. :)

Sabtu 26 November 2016

Ini adalah turing naik motor kedua setelah kita ke Lasem di bulan Mei 2015. Dan, kali ini kita juga berempat, aku berboncengan motor dengan Angie, Fitri -- sobat Angie sejak duduk di bangku SMP -- memboncengkan Ranz. Kita meninggalkan kawasan Banjirkanal Barat sekitar pukul 13.45. Suasana masih cukup panas, sang mentari bersinar cukup terik. Kita sampai Ungaran sekitar pukul 14.20, dimana Angie berhenti untuk membeli sarung tangan. Mendung tebal mulai menggayut di sebelah Barat. Ranz menolak tawaranku untuk mampir di satu warung untuk makan siang.

Gerimis mulai turun ketika kita mulai mengikuti kelokan-kelokan Jambu.

Beberapa kali melewati kawasan ini naik sepeda, kali ini naik motor rasanya cepat sekali. Hahahahahah ... Meskipun  tanjakan Jambu tetap terasa panjang. :D

Sekitar pukul 16.00 kita sampai di alun-alun Magelang. Aku memutuskan untuk berhenti disini untuk makan dan beristirahat. Selain tentu saja aku memberikan kesempatan pada Angie untuk menikmati alun-alun Magelang. :)

Jelang pukul 17.45 kita meninggalkan alun-alun. Kita langsung menuju kawasan Borobudur. Mungkin kita sudah lelah, dan suasana yang dingin gegara hujan yang datang dan pergi, kita sempat tersesat, memilih jalan yang justru jauh membuat kita terpaksa memutar. :D

Malam ini kita menginap di hotel Ardian, penginapan yang pernah aku dan Ranz sambangi waktu gowes ke Borobudur untuk Waisak  Waktu itu kita tidak menginap disini, karena mahaaaal. :D Jika di "musim" Waisak kamar non AC berharga Rp. 500.000,00, kali ini kita dapatkan harga setengahnya, Rp. 250.000,00. Kita ambil 2 kamar, dengan diskon Rp. 50.000,00. Untuk dua kamar yang kita inapi, kita cukup membayar Rp. 400.000,00. (satu kamar ukurannya lebih kecil, yang satu agak besar.)

Aku, Ranz, dan Angie sempat keluar sebentar untuk makan malam, sedangkan Fitri lebih memilih molor. :)

Minggu 27 November 2016

Kita meninggalkan penginapan -- tanpa mandi terlebih dahulu LOL -- sekitar pukul 04.15, menuju Punthuk Setumbu. Untunglah pagi itu tidak turun hujan, meski malamnya turun hujan. Meski 3 tahun telah berlalu, Ranz masih ingat jalan menuju Punthuk Setumbu dengan baik. (padahal malamnya, kita sempat hampir tersesat. LOL.)

Meski dalam perjalanan, jalanan yang kita lewati sepi, ternyata sesampai di tempat, disana sudah ramai. Sudah banyak motor yang terparkir di tempat parkir.

Berbeda dengan 3 tahun yang lalu, 'trekking' kita kali ini cukup mudah. Kita ga perlu khawatir bakal melewati trek berlumpur karena oleh masyarakat sekitar, trek menuju puncak Punthuk Setumbu telah dibuat tangga-tangga yang memanjakan.

Pagi itu sinar matahari tak langsung terlihat setelah terbit di ufuk Timur. Untunglah mendung ga kerasan terus menerus menutupi sang mentari, mengabulkan harapan orang-orang yang pagi-pagi telah meninggalkan kenyamanan tempat tidur mereka untuk berburu view sunrise. Seperti kita berempat lah. :D

Dari omongan-omongan yang kita dengar dari orang-orang yang ada disitu, sebenarnya Gereja Ayam -- yang sedang ngehits setelah dijadikan lokasi syuting film AADC 2 -- terletak tak jauh dari Punthuk Setumbu. Namun, jika kita melanjutkan jalan kaki kesana, berarti kita harus balik lagi mendaki Punthuk Setumbu untuk mengambil motor yang kita parkir di tempat parkir Punthuk Setumbu. Itu sebabnya kita balik ke penginapan.

Sebelum sampai penginapan, aku dan Ranz mampir ke satu minimarket untuk membeli cappuccino buatku dan Angie dan coklat buat Ranz. Sementara itu, Angie dan Fitri memilih berputar-putar sebentar, dimana mereka ternyata kemudian "menemukan" lokasi Camera House. Yuhuuuu.

di puncak Camera House

Sekitar pukul 08.00 kita meninggalkan penginapan. Setelah sarapan di satu warung soto, kita langsung ke Camera House. Kita ga lama-lama disini karena setelah ini kita akan ke Gereja Ayam. Dari sana, kita akan menuju kawasan Kopeng, menuju hutan pinus Kragilan.

Satu hal yang mengecewakan kita adalah ketika kita bertanya pada orang lokal arah menuju Gereja Ayam -- kita yakin kita sudah lumayan dekat dengan lokasi yang kita tuju, mungkin hanya sekitar 500 meter -- orang lokal itu enggan memberikan petunjuk. Sebagai ganti, orang itu bilang, "Mari kita antar. Cukup bayar Rp. 30.000,00" Weleeeehhh ... Karena kesal, Ranz memutuskan untuk tidak jadi ke Gereja Ayam. Kita langsung meninggalkan kawasan Borobudur menuju Mertoyudan. Kita janjian dengan Radit disana. Radit lah yang akan mengantar kita menuju Kragilan.


To be continued.

IB 20.45 01-12-2016

Monday, October 24, 2016

Rafting Sungai Elo 09.10.16

Berikut beberapa foto yang dijepret oleh pihak pengelola, rafting di sungai Elo 09 Oktober 2016























Wednesday, October 19, 2016

Karaoke



Seminggu setelah mengajakku ikut piknik di kantornya,  hari Minggu 16 Oktober 2016, Angie 'berhasil' mengajakku berkaraoke dengannya. Seumur-umur, ini adalah kali pertama aku memasuki satu public place yang bernama 'karaoke'. LOL. Better late than never ya? Hihihihi ... Again, there will always be time to do anything for the first time. LOL.

Semula, aku hanya ingin menonton Angie berkaraoke, namun dia kemudian menyuruhku memilih lagu yang ingin kunyanyikan. Aku "terilhami" Angie yang memilih Taylor Swift, yakni Taylor Deane dengan lagunya "Love will lead you back.". Saat mulai menyanyikan lagu yang entah terkenal di dekade berapa, aku sadar, ternyata aku ga begitu familiar dengan lagu ini kecuali bagian reff-nya. Walhasil, aku hanya bisa humming. kekekekeke ... Meskipun begitu, ternyata aku mendapatkan score 86. :D

Yang dinilai apanya dong ya? hahahahah ...

Lagu berikutnya apa ya yang kupilih? Aku lupa. LOL. oh gosh, I have become so forgetful. LOL.

Jadi mulai berpikir, aku perlu membuat daftar penyanyi dan judul-judul lagu yang bakal bisa kunyanyikan ketika diajak Angie berkaraoke lagi. biar dapat score maksimal. kekekekekeke ...

LG 15.35 19.10.2016

Tuesday, October 18, 2016

Rafting di Sungai Elo - Magelang

“There will always be the first time in doing ‘anything’.”

Bagi para pembaca ‘setia’ blogku, tentu jargon yang kutulis di atas tak asing lagi. well, seiring usiaku kian mendewasa – bukan ‘menua’ lho ya lol – tentu kian banyak ‘anything’ dalam jargon itu yang terjadi dalam hidupku, sejak seseorang mengatakan hal itu kepadaku 12 tahun yang lalu.

Kali ini aku ingin bercerita tentang keikutsertaanku ‘piknik’ bersama Angie dan kawan-kawan kerjanya.

(Jadi ingin menulis sekitar setahun yang lalu waktu Angie lulus kuliah, seseorang menyelamatiku sambil bertanya, “Kapan mantu, Miss?” Kujawab, “Gampang ... itu nanti-nanti saja. Yang penting Angie ngajak nyokapnya dolan dulu.” :D Akhirnya, kesampaian, eh? Meski “hanya” ke Magelang.)

Minggu 9 Oktober 2016

Setelah menyaksikan Angie yang sempat galau apakah dia akan ikut ‘outing’ kantornya atau tidak selama beberapa minggu, lol, aku menawarkan diri apakah nyokapnya boleh ikut waktu dia sempat ‘galau’ akan duduk di samping siapa dalam bus nanti. LOL.

Pukul 5 pagi lebih 2 menit di hari Minggu pagi 9 Oktober 2016 itu kita berdua telah sampai di kantor Angie yang terletak di Jalan (arteri) Sukarno – Hatta. Aku sempat heran melihat kawan-kawan kerjanya yang juga telah banyak yang datang. Mereka tipe ‘on time’ ternyata. (atau karena sehari sebelumnya mereka membuat janjian “Siapa yang belum datang jam 5, ditinggal saja.” Ya? Maka mereka on time? LOL.)
Bus yang akan kita tumpangi pun segera datang. Sekitar pukul 05.15 semua telah duduk manis dalam bus, dan bus pun berangkat.

Perjalanan lancar.

ARUNG JERAM SUNGAI ELO

Kita sampai di “Kampung Ulu Resort” sekitar pukul 07.30. disana sudah lumayan banyak rombongan yang akan ikut arung jeram di sungai Elo berdatangan.
Kita ngantri sambil foto-foto.

abaikan yang masuk di frame sebelah kiri :p

Mungkin sekitar pukul 08.00 kita mulai diangkut ke lokasi dimana kita akan memulai petualangan arung jeram kita. Di titik kumpul yang terletak kurang lebih 12 kilometer dari “Kampung Ulu Resort” itu penuh sesak dengan para peserta arung jeram. Semua dipersilakan memilih ‘vest’, helm, dan alat dayung yang tersedia. Kemudian semua mendengarkan instruksi beberapa pemandu. Dinyatakan bahwa arung jeram di Sungai Elo sangat aman bagi para pemula karena jeramnya tidak begitu berbahaya. Bla bla bla ... aku tidak mendengarkan dengan seksama karena di tahun 2014 aku pernah ikut arung jeram di Telaga Waja – Karangasem Bali waktu field trip bareng anak-anak kelas 11 & 12. LOL. It was exciting! Not dangerous at all. J

Rombongan kita yang terdiri dari 28 orang dibagi dalam 5 ‘boat’. Ada 6 orang dalam ‘boat’ yang kutumpangi bersama Angie. Di ‘boat’ lain ada yang hanya terisi 3 atau 4 orang karena berat badan mereka ada yang lumayan ‘ekstra’. LOL.

salah satu jeram dekat tempat kita beristirahat di tengah-tengah rafting

Jarak arung jeram yang kita arungi sekitar 12 kilometer, kata pemandu. Pemandu yang ada di boat yang kutumpangi mengaku bernama ‘Komeng’, dan ternyata usilnya (mungkin) sama dengan komedian yang menggunakan ‘Komeng’. :D meski usil, tentu dia sangat bertanggung-jawab dengan keamanan kita semua. Menurut pengakuannya, dia telah bekerja sebagai pemandu arung jeram selama 7 tahun.
Well, mau tidak mau, tentu aku membandingkan pengalaman arung jeram kali ini dengan arung jeram di Telaga Waja 2 tahun lalu. Hasilnya? Sungai Elo benar-benar diperuntukkan bagi para pemula! Tidak satu jeram pun yang kita lewati yang membuatku merasa perlu berteriak untuk melepaskan ketegangan. Biasa saja. Rasanya malah seperti main-main air di kolam yang panjang, lol.

Ada satu rest area yang disediakan oleh pengelola, di kilometer 6, setengah dari jarak yang kita tempuh. Disini, kita mendapatkan air kelapa muda dan beberapa makanan kecil. Kita beristirahat disini selama kurang lebih 10 – 15 menit.

Dan ... seperti waktu arung jeram di Telaga Waja, jarak 12 kilometer pun terasa sangat cepat berlalu saat sang pemandu mengatakan, “Nah, di ujung sana, petualangan kita berakhir.” Rasanya? Pengen ngulang lagi dari awal! Hahahahah ...
Pukul 11.30 kita telah kembali ke “Kampung Ulu Resort”. Kita mandi di tempat-tempat yang telah disediakan disini.

Pukul 13.00 kita menikmati hidangan berupa nasi pecel plus ayam goreng, dan tahu tempe goreng. Ada teh panas manis yang tidak kental untuk minum kita.

CANDI BOROBUDUR

Tujuan kedua adalah Candi Borobudur yang terletak tak jauh dari “Kampung Ulu Resort”. Sebelum ini aku berkunjung ke Candi Buddha terbesar di dunia ini awal tahun 2015, bersepeda bersama beberapa kawan dari Semarang. Sedangkan Angie terakhir kali kesini, kalau tidak salah tahun 1998, piknik kantor. LOL.

Kita mulai masuk area Taman Wisata Candi Borobudur sekitar pukul 14.22. kita diberi waktu kurang lebih 1 jam.


Cuaca mulai mendung saat itu, itulah sebabnya aku meminta Angie membawa payung yang telah kita sediakan.

Seperti biasa, Borobudur ramai pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri. ‘Panitia’ dari kantor Angie berinisiatif menyewa kereta sehingga kita tidak perlu berjalan kaki lumayan jauh dari pintu masuk hingga pintu terdekat menuju candi. Padahal aku sempat bilang ke Angie ingin menyewa sepeda. Namun karena di tempat persewaan sepeda tak terlihat sebuah sepeda pun, ya aku ngikut naik kereta. And you know, Angie juga lebih memilih naik kereta ketimbang bersepeda. LOL.


Aku dan Angie menapaki dari teras pertama, mengikuti arah untuk ‘pradaksina’ yang disediakan pengelola candi, meski tidak memutar penuh. LOL. Kemudian naik ke teras yang berikutnya. Ada beberapa titik yang sedang dipugar, batu-batu hitam yang nampak sangat hitam dipasang untuk mengganti beberapa batu-batu yang mungkin memang sudah harus diganti, demi keamanan pengunjung. Batu-batu itu tentu nampak sangat baru, dibanding batu-batu lain yang masih asli. Tapi, tidak apa-apa. Yang penting, Candi Borobudur tetap berdiri megah, tetap bisa dipijak ribuan atau bahkan puluhan ribu pengunjung setiap hari dengan aman.


Menjelang pukul 15.00 saat aku dan Angie berada di puncak, kita mulai merasakan tetes-tetes gerimis. Dengan bergegas kita turun agar tidak kehujanan, meski kita telah sedia payung.


Tatkala kita menapaki ‘lorong’ kios-kios yang menjual berbagai macam cinderamata, hujan mulai turun.

Kita sampai bus sekitar pukul 15.20.

Sampai pukul 16.00 bus yang kita tumpangi masih di tempat parkir bus. Banyak teman kerja Angie yang belum balik ke bus. LOL. Mungkin karena turun hujan, mereka memilih berteduh entah dimana.

Kita meninggalkan lokasi itu pukul 16.30 menuju Jogja.

Rencana tujuan selanjutnya adalah Malioboro, tempat kita bakal belanja oleh-oleh. Sementara itu hujan tetap turun dengan deras.

Bus sudah masuk daerah Sleman, jelang pukul 18.00 ketika si ‘panitia’ menawari kita membatalkan rencana belanja di Malioboro, dan balik arah ke Semarang, setelah mengambil oleh-oleh ‘bakpia’ yang telah dipesan. Semua setuju.

Sekitar pukul 20.00 kita mampir di satu warung bakso dan mie ayam di kawasan Salaman, kalo tidak salah.

Kita sampai di kantor Angie sekitar pukul 23.00. Kita berdua sampai rumah dengan selamat sekitar pukul 23.15.

Next time, ajakin Mama dolan lagi ya Yang? :D

LG 15.34 18/10/2016 

Wednesday, June 15, 2016

Trekking ke Curug Lawe dan Curug Benowo

CLBK = Curug Lawe Benowo Kalisidi

Nama Curug Lawe dan Curug Benowo tentu tidak asing lagi bagi para pehobi trekking, atau sepedaan. Tahun lalu aku telah trekking ke Curug Lawe bersama Ranz. Bulan Mei kemarin aku kembali kesana untuk trekking ke Curug Benowo. Setelah itu, saatnya aku mengajak Angie trekking kesana. :)

By the way, banyak orang bertanya apakah Angie juga suka sepedaan, seperti aku? Sayangnya jawabannya tidak. :D Alasannya simpel : dia ga mau warna kulitnya kian eksotis. LOL. Berbeda denganku yang kalau sepedaan ribet banget harus menutup sebagian besar kulit (NOTE : pakai kaos lengan panjang, pakai celana panjang, pakai bandana untuk menutupi sebagian wajah, pakai helm dan kacamata hitam), Angie maunya pakai baju yang praktis, kaos lengan pendek dan celana pendek. Jadinya ya begitulah, usai sepedaan warna kulit lengan dan kaki tentu kian eksotis. LOL. Kadang, Angie juga malas kuajak trekking. Hahahaha ... Semula dia juga menolak kuajak ke Curug Lawe ketika kubilang trekkingnya sekitar 2,5 km dari tempat parkir. Namun, akhirnya dia justru mengajakku kesana setelah melihat foto-foto Curug Lawe di instagram. :)

22 Mei 2016

Aku sengaja mengajak Angie siap pagi-pagi karena konon jika kita sampai di Curug Lawe agak siang, lokasi itu bakal penuh pengunjung dan membuat kita tidak leluasa berfoto-foto. Pukul 07.30 kita meninggalkan rumah. Kita -- berempat = aku, Angie, Nunuk (adikku) dan Tari, teman kerja adikku. Kita naik dua motor, aku mbonceng Angie, sedangkan Nunuk mbonceng Tari. Yak ... yang sudah stw dibonceng sajalaaahhh. Kekekekekeke ...

Dalam perjalanan kita mampir ke 3 pom bensin karena motor yang kita naiki butuh diisi bahan bakar. Yang pertama di pom bensin Jalan Kaligarang. Karena tidak mendapatkan yang kita cari -- pertalite -- kita pun mampir ke pom bensin di ujung Sampangan, dekat Tugu Suharto. Surprisingly pom bensin ini TUTUP. Nah! Ternyata ada ya pom bensin di kota Semarang tutup di hari Minggu pagi? Wew ...

Kita lanjut ke arah Unnes. Rasanya kakiku gatel, pingin gowes. LOL. Sudah setahun lebih aku tidak nanjak ke arah Unnes naik Cleopatra. WEW. Dalam perjalanan kita mendapati satu pom bensin. Berhubung pertalite tak kita temukan, dan khawatir bahan bakar dalam motor keburu habis, motor pun kita isi pertamax. :)

Perjalanan lancar dan aku sangat menikmati pemandangan. Berhubung dua kali kesini aku selalu boncengin Ranz sehingga harus konsentrasi ke jalan, mana motorku sudah tua, harus siap-siap mendadak mati gegara kepanasan. Hahahahah ...

Kita berkunjung ke Curug Lawe. Setelah itu kita mampir ke Curug Benowo. Nunuk menyalakan sportstracker untuk mencatat berapa jauh kita berjalan. Ternyata lumayan jauh lho, 9 kilometer! wawww. :D

Berikut foto-fotonya, hasil jepretan kamera hape seadanya. :D








IB180 13.50 16/06/2016

Tuesday, May 26, 2015

Turing ke Lasem

Untuk pertama kali, aku mengajak Angie 'turing' dengan naik sepeda motor. Ini juga pengalaman pertama bagiku turing naik motor, setelah biasa bikepacking alias turing naik sepeda (lipat) sejak tahun 2011. (Check my blog here). Ga jauh-jauh amat sih, ke Lasem. Jarak Semarang - Lasem (berdasarkan speedometer) kurang lebih 140 kilometer. But still, karena ini adalah pengalaman pertama, tentu perjalanan ini terasa sangat exciting dan challenging.

Dalam perjalanan ini kita berempat naik dua sepeda motor, Angie berboncengan dengan Fitri, salah satu sobatnya sejak SMP, (FYI, Fitri sudah beberapa kali turing naik motor, so this is not her first experience), sedangkan aku dan Ranz berboncengan di motor lain.

Waktu berangkat dari Semarang, Kamis 14 Mei 2015, seperti rencana, aku memboncengkan Ranz sedangkan Fitri memboncengkan Angie. Setelah sarapan garangasem di Kudus, Angie gantian memboncengkan Fitri dengan alasan Fitri tidak bisa naik motor pelan, padahal aku ga bisa ngebut. LOL. Selepas Pati jelang Juwana posisi ini berubah, aku diboncengkan Angie, sedangkan Ranz membonceng Fitri karena aku ngantuk. LOL.

Sesampe Rembang, yang pertama kita sambangi adalah makam Ibu Kartini. Ini tidak termasuk itinerary-ku, Fitri yang ingin kesini, tapi tentu aku tidak keberatan. :)

Dari makam Ibu Kartini kita lanjut ke Lasem. Setelah mampir istirahat dan shalat di masjid agung Lasem yang terletak di pinggir jalan raya pantura, kita ke sentra kuliner lontong Tuyuhan, di kawasan Tuyuhan untuk makan siang yang kesorean.

Tujuan berikutnya adalah Pasujudan Sunan Bonang karena butuh memotret lokasi ini untuk keperluan sesuatu. Dari sana kita ke hotel Tasiksono yang terletak di satu pom bensin. Istirahat sekaligus mandi agar segar kembali.

Malamnya kita ke jalan utama Lasem yang terletak tak jauh dari masjid agung untuk makan malam.

Di hari kedua, Jumat 15 Mei 2015, Fitri terpaksa pulang ke Semarang terlebih dahulu karena ada pekerjaan yang menantinya. Usai mandi dan packing, kita meninggalkan hotel menuju masjid agung, tempat aku janjian dengan mas Bowo yang akan menemani kita ke vihara Ratanavana Arama dan Rumah Candu. Angie dan Ranz berboncengan naik motor, aku naik bus. Untunglah Mas Bowo datang bawa motor sehingga aku ga perlu nyari ojek, aku cukup membonceng mas Bowo. :)

Setelah mas Bowo mengadakan koordinasi yang diperlukan, kita menuju vihara Ratanavana Arama sekitar pukul 10.00. Dari sana kita ke Rumah Candu pukul 11.00.

Jelang pukul 12.00 Angie sudah berada dalam bus kembali ke Semarang. Aku berboncengan dengan Ranz meninggalkan Lasem pada jam yang sama. Karena Ranz khawatir aku bakal mengantuk lagi dalam perjalanan, kita mampir ke satu tempat setiap sekitar 30 kilometer. LOL. Dari Lasem, kita mampir ke sebuah minimarket yang terletak di satu pom bensin kawasan Kaliori. Disini aku minum secangkir cappuccino, Ranz makan mie instan cup.

Pemberhentian berikutnya adalah Pati, kita mampir ke satu tukang rujak, untuk minum Ranz memesan es degan aku es gempol. Di Kudus kita mampir ke satu sentra kuliner jagung dan bakwan jagung bakar. :) Pertama kali aku mencicipi bakwan jagung bakar yang diberi topping sambal rujak. Yummy! :)

Di Demak kita mampir ke sebuah mini market, saat aku ngopi lagi. :)

Kita sampai di Babah Tiam, tempat biasa aku nongkrong bersama beberapa teman di Jalan Imam Bonjol pukul 19.00. 7 jam dari Lasem ke Semarang! xixixixixixi ...

Berikut beberapa foto jepretan Ranz. :)

LG 11.51 27/05/2015

















perhatikan bentuk lontongnya :)







makam Putri Cempo

petilasan Sunan Bonang

rombongan peziarah yang datang setelah kita usai







patung Siddharta Gautama (Sang Buddha) yang sedang bermeditasi dalam perjalanan mencapai 'awakening'





candi Sudhammo Mahathera


penampakan Rumah Candu dari depan


banguna di bagian belakang Rumah Candu

lubang tempat dulu menyelundupkan candu


makam Captain Liem yang dibunuh oleh Belanda karena membantu perjuangan masyarakat Lasem waktu itu


siap kembali ke Semarang :)