Wednesday, August 30, 2023

Dolan ke Jatim, Day 3

DOLAN KE GILI KETAPANG DAN BJBR



Sabtu 19 Agustus 2023

 

Sejak awal, aku tidak ada pikiran untuk berkunjung ke Gili Ketapang, meski tentu saja aku kepengen. Dolan ke BJBR saja sudah cukup. Apalagi ketika Angie mengeluh lelah sehari sebelumnya. Tapi, pagi ini, Ranz mencoba merayuku untuk mau ke Gili Ketapang. Paginya kami ke Gili Ketapang dulu, siangnya baru ke BJBR. Kan BJBR buka sampai jam 8 malam.

 

Aku pun mencoba merayu Angie untuk mau ke Gili Ketapang terlebih dahulu. Atau jika dia tidak mau ikut, mungkin pagi itu biar dia leyeh-leyeh dulu di hotel, aku, Ranz dan Deven ke Gili Ketapang. Pulangnya, kami jemput dia di hotel, kemudian bareng-bareng ke BJBR. Namun setelah aku tunjukkan foto-foto Gili Ketapang dari google ke Angie, Angie mau ikut! Yuhuuuu. Setelah sarapan, kami pun buru-buru mandi dan siap-siap.

 

di perahu

 

Kebetulan, hotel yang kami inapi lokasinya tidak jauh dari dermaga pelabuhan Tanjung Tembaga. Dengan taksi online kami berempat menuju ke sana. Saat akan masuk pelabuhan, taksi kena retribusi empat ribu rupiah, sedangkan kami berempat kena 'charge' duapuluh ribu rupiah. (seorang bayar lima ribu rupiah). Sesampai sana, ada sebuah perahu yang sudah berisi lumayan banyak penumpang yang akan menyeberang ke Gili Ketapang. Apakah setelah kami berempat naik perahu, perahu segera berangkat? No way! Wkwkwkwk … kami masih harus menunggu sampai perahu benar-benar penuh! Orang-orang di sekitar kami berbicara dengan bahasa Madura yang membuat kami merasa 'alienated', lol. Masing-masing kami membayar Rp. 10.000,00.

 

Kami naik perahu sekitar pukul 09.00, dan perahu akhirnya berangkat pukul 09.44. air laut yang berwarna biru cukup menghibur hati yang tadi sempat merasa tidak sabar mengapa perahu tidak segera diberangkatkan, lol. Perahu yang kami naiki sampai di Gili Ketapang pukul 10.10. butuh kurang lebih 35 menit dari pelabuhan Tanjung Tembaga menuju Gili Ketapang. 

 

naik bentor menuju pantai Pasir Putih, Gili Ketapang

 

Sesampai dermaga Gili Ketapang, Ranz langsung mengajak naik bentor. Kami berempat membayar Rp. 35.000,00. oleh si bapak bentor, kami langsung diantar ke pantai 'pasir putih'.

 

Karena ga kepikiran akan nyemplung laut, aku tidak membawa celana pendek maupun sendal jepit. Ternyata o ternyata, setelah melihat air laut yang begitu jernih, dan pasir putih yang lembut, aku tak kuasa menahan diri untuk tidak nyemplung! Akhirnya? Ranz membelikanku sendal jepit (lagi!) hahahaha … kemudian aku membeli celana pendek. Aku juga menawari Angie beli celana pendek agar dia bisa ikutan nyemplung ke laut.

 




Kata bapak bentor, tempat untuk bermain dan berfoto-foto, tidak hanya di spot dimana kami dia turunkan dari bentor. Ada spot lain lagi. Tapi ternyata waktu berjalan dengan begitu cepat! Tahu-tahu sudah jam 12.30 dan perut sudah mulai melilit kelaparan. Ranz menawariku apakah kami akan maksi di situ atau setelah menyeberang balik ke Probolinggo. Aku memilih makan di situ saja, dari pada terlambat makan siang, Angie bisa ngambeg. Hahaha … Angie dan Ranz itu sama-sama punya masalah asam lambung, tapi Angie bakal langsung ga tahan jika perutnya perih pedih melilit, Ranz masih agak mending. Aku pesan ikan bakar dua porsi untukku dan Angie. Deven pesan indomie goreng dan telur. Ranz ikutan nyemilin ikan bakar yang kumakan. :)

 

detik-detik Angie mengejar sendal jepitnya yang 'kabur' dibawa ombak 😜

 





 

 

Saat kami makan, ada dua orang lelaki yang ikutan berteduh di gazebo tempat kami duduk-duduk dan makan siang. Ternyata salah satu dari mereka menawari kami untuk menyewa perahu jika kami ingin kembali ke pelabuhan Tanjung Tembaga. Wah … ini asyik, kami ga perlu menunggu lama sampai perahu penuh! Dengan biaya Rp. 150.000,00 kami berempat bisa langsung kembali ke Probolinggo dari spot pantai Pasir Putih itu! 

 



dalam perahu yang kita sewa, sebelum perahu berangkat, tiba-tiba ada 2 orang berlari-lari menuju perahu untuk ikut balik ke dermaga Tanjung Tembaga
 

Sekitar pukul 15.00 kami berempat sudah sampai di BJBR! Tiket BJBR. Tiket masuk Rp. 50.000,00 per orang. Saat taksi memasuki area BJBR menuju tempat parkir, kami melewati pantai buatan yang sudah tidak menyerupai pantai buatan lagi. Hiksss … di sampingnya sekarang dibuat kolam renang. Hari itu hari Sabtu dan kolam renang nampak sepi. Tempat parkir pun sepi, tidak banyak mobil yang terparkir di sana.

 

I can conclude that BJBR underwent sort of damage during pandemic. Pablebuat?

 

Sebelum mulai berjalan ke area mangrove, aku dan Angie ke toilet terlebih dahulu. We needed to change our clothes. Dan Angie yang butuh ganti pembalut tapi dia lupa membawa memintaku untuk membeli di toko dekat kolam renang. Dan … ternyata tidak ada toko yang buka di daerah kolam renang itu. Untungnya Ranz bawa pembalut. Angie was saved!

 


 

Kami pun berjalan masuk ke area mangrove. Jika di tahun 2017 lalu dengan mudah kita akan berpapasan dengan pengunjung lain, maupun pegawai BJBR yang bertebaran di mana-mana untuk ngecek sampah (yang barangkali dibuang sembarangan oleh pengunjung) atau memberitahu arah kemana kita harus berjalan, kami sama sekali tidak bertemu siapa-siapa.

 

(FYI, beberapa minggu sebelum kami berangkat, aku sempat ngecek penginapan di dalam BJBR. Ada beberapa tipe. Yang aku ingini adalah bungalow yang terletak di pinggir laut dengan pemandangan laut lepas. Harganya Rp. 1.350.000,0 untuk dua orang. Kalau maksain sih ya mampu ya, tapi waktu itu aku dan Ranz memutuskan untuk tidak usah menginap di dalam BJBR. Kami menginap di 'kota' saja.) ada bungalow dengan pemandangan hutan bakau, harganya Rp. 950.000,00 untuk dua orang. Membayangkan menghadap hutan bakau di malam hari kok rada-rada spooky ya? Hohoho …)

 

Melihat kondisi ini, aku dan Ranz bersyukur bahwa kami tidak jadi 'memaksa diri' untuk menginap di dalam BJBR. Saking sepinya, jadi beneran spooky pasti, lol. Mana ketika kami tiba di 'jembatan terpanjang untuk naik sepeda di atas laut' kami mendapati bahwa air laut sedang 'turun', pemandangannya jadi benar-benar biasa saja.

 

Karena ga mau kelelahan, saat sampai di resto BJBR, aku langsung mengajak masuk, pesan minum dan cemilan. Kami bisa duduk-duduk di situ sementara menunggu saat membidik sunset. Kebetulan saat itu ada sekelompok orang sedang mengadakan acara di situ, jadi situasi resto cukup rame. Selain kami berempat, ada beberapa rombongan lain yang sedang santai-santai di sana.

 







 

Sekitar jam 5 sore, aku mengajak yang lain meninggalkan resto, menuju spot untuk memotret sunset. Kebetulan saat itu, rombongan orang yang sedang ada acara di situ pun ramai-ramai berjalan ke arah yang sama. Meskipun begitu, situasi tetap belum seramai dulu, Desember 2017.

 

Kami pulang ke hotel sekitar pukul 18.30. Sesampai hotel, Deven dan Angie istirahat di kamar masing-masing, aku dan Ranz ke luar, ke rumah makan tempat kami membeli makan semalam sebelumnya untuk beli makan malam. Angie minta dibeliin sesuatu asal bukan nasi. So? Aku belikan ayam goreng tanpa nasi. Aku dan Ranz masih sama: memesan manuk gemmeck bakar, dan Deven nasi goreng ayam mentega.

 

Minggu 20 Agustus 2023

 

Pagi itu kami tidak punya acara apa-apa. Sarapan datang pukul 06.30, dan kami tetap makan di depan kamar yang kutempati. Setelah itu, kami mandi dan packing.

 

Pukul 10.10 kami meninggalkan penginapan menuju stasiun Probolinggo. Sesampai sana, Angie dan Deven sama-sama merasa kelaparan, lol. Jadi kami mampir di warung bakso yang ada di dalam kawasan stasiun. Baksonya lumayan enak, kuahnya juga. 

 

 

Jam 11.11 kami sudah masuk ke dalam stasiun. Meski di tiket tercatat KA Sritanjung berangkat pukul 11.29, jam 11.11 kereta sudah datang. Jadi kami langsung masuk ke dalam gerbong.

 

Seperti waktu berangkat, KA berhenti agak lama di stasiun Surabaya Kota untuk ganti lokomotif. Kemudian kereta juga berhenti agak lama di stasiun Kertosono karena kehabisan air.

 

KA Sritanjung yang kami tumpangi sampai di stasiun Purwosari pukul 19.20. Mas Martin dan mba Niken, kakaknya Ranz menjemput, dan mengantarku dan Angie ke pool travel Citi*****. Travel yang kami tumpangi meninggalkan pool jam 20.00. alhamdulillah perjalanan lancar. Aku dan Angie sudah sampai rumah dengan selamat sebelum pukul 22.00.

 

Capek? Iya! Excited? Jelasss. Kapan-kapan mau diulangi lagi? Mauuuu, lol.

 

PT56 14.18 24.08.2023

Monday, August 28, 2023

Dolan ke Jatim, Day 2

 KE BROMO DAN MADAKARIPURA




Jumat 18 Agustus 2023

 

Alhamdulillahnya pagi itu, Deven mudah dibangunkan, dan dia nampak sudah sehat lagi. Mungkin memang dia 'mabuk' kendaraan. Setelah istirahat yang cukup, dia sehat lagi.

 

Setelah jeep yang dicarter Fitri datang, rombongan Fitri pun menyusul sampai di Parama. Dia bersama keponakannya, Ambar teman SMP -- yang berarti juga teman Angie SMP -- dan satu orang teman Fitri yang menyetir mobil. Keren juga dia bisa nyetir mobil sampai Cemara Lawang. Masalahnya adalah ini kali pertama dia menyetir mobil naik sampai Cemara Lawang!

 

Karena info yang kami terima bahwa Pananjakan sudah penuh turis, kami diajak ke Seruni Point.

 

  • (FYI, pertama kali ke Bromo di tahun 1990, aku dan kawan-kawan kuliah berjalan kaki dari (mungkin) Cemara Lawang sampai Gunung Bromo, melewati lautan pasir. Kami menyaksikan matahari terbit dari pinggir kawan Bromo.
  • Kali kedua ke Bromo di tahun 2000, aku dan kawan-kawan (LIA) diajak ke Pananjakan (1). Setelah turun dari jeep, kami hanya butuh naik tangga tak lebih dari 30 anak tangga, kami sudah sampai 'puncak' dan tinggal menunggu matahari terbit.
  • Kali ketiga di tahun 2017, aku dan Ranz 'mengikuti' rombongan jeep maupun motor menuju Pananjakan naik sepeda. Kami tidak sampai atas karena hujan turun. Di mana pun kami berhenti, jelas kami tidak akan sempat menyaksikan sinar matahari terbit.

 

Seruni Point terletak kurang lebih hanya 2 kilometer dari penginapan kami, dengan trek naik turun. Sesampai di tempat 'parkir' jeep, kami turun. Dari situ, kami masih harus jalan kaki sejauh kurang lebih 2 kilometer lagi, dengan trek mendaki yang cukup ekstrim. Aku ternyata kaget bahwa kami harus berjalan lumayan 'jauh', lol. (Aku telanjur membayangkan jalan kaki paling hanya 500 meter je, lol.) dan sepagi itu, dadaku rasanya berat saat berjalan mendaki. Aku pun mengajak Ranz balik ke tempat parkir jeep. Di situ ada gardu pandang yang bisa dipakai untuk menyaksikan matahari terbit. Katanya. Aku biarkan Angie berjalan bersama Fitri, Ambar dan Fani (keponakan Fitri) ke puncak Seruni. Namun, ternyata Ranz tergoda tawaran naik kuda. Untuk menyewa satu kuda, kami dipatok harga Rp. 100.000,00. Ranz menyewa 3 kuda: untukku, untuknya dan untuk Deven.

 





 

Berhubung waktu itu suasana masih gelap gulita, aku tidak sadar melewati Angie yang sedang berjalan. Dia dan Fitri 'terpaksa' berjalan pelan-pelan menemani Ambar yang katanya sama sekali tidak pernah berolahraga. Hoho … Angie pun tidak menyangka aku sudah menyalipnya. Ha ha …

 


 

 

Setelah turun dari kuda, kami masih harus mendaki tangga sekitar 250 anak tangga! Jika kondisi kakiku sehat, ini sih kecil ya. (untuk menuju air terjun Grojogan Sewu, para pengunjung harus melewati 1250 anak tangga!) untunglah pagi itu, kakiku bisa diajak kompromi, malah nafasku yang harus aku kelola dengan baik.

 


 

Sampai atas, jelas sudah banyak wisatawan lain, most of them were foreigners. Bangga dong ya jadi orang Indonesia, ketenaran keindahan Bromo sampai ke manca negara! Hasilnya? Ya susah 'rebutan' lokasi strategis untuk memotret sunrise, lha orang bule itu tinggi-tinggi je. Hahahahahaha …

 

Saat semburat oranye mulai muncul di ufuk Timur, orang-orang pun menyiapkan hp/kamera masing-masing. Tunggu punya tunggu, kok dari tadi Cuma semburat warna oranye doang ya yang muncul? Mataharinya manaaa? Ternyata, bukit yang terlihat dari Seruni point itu menghalangi kami untuk bisa mendapatkan pemandangan sunrise yang ciamik. Ouw … ya sudahlaaah, tidak apa-apa. Hahahaha …

 

Meskipun begitu, kami bisa mendapatkan pemandangan yang ciamik ke Gunung Batok, Gunung Bromo dan sekitarnya. Tapiiii, titik-titik strategis telah dipenuhi para bule yang badannya tinggi-tinggi itu. Hadeeeeh.

 


 





Kami turun ke tempat jeep parkir sekitar pukul 06.30. Jeep yang aku tumpangi tidak terlihat di situ, entah kemana. Sopirnya nampak penuh rahasia memang sejak awal. Hiksss … Aku dll perlu menunggu sekitar 15 menit, itu pun setelah Fitri menelpon orang itu.

 

Dari Seruni Point, kami dibawa ke Bukit Teletubbies. Ternyata memang lokasinya cukup jauh. Naik jeep, lumayan ngebut, kami butuh waktu lebih dari 15 menit je. Bayangin kalau naik sepeda dengan gurun pasir yang pasirnya begitu 'mangsir' (tidak padat seperti saat di musim hujan), beraaat banget pastinya.

 


Kami di Bukit Teletubbies sekitar 30 menit mungkin. (aku lupa melihat jam.) Aku menyempatkan diri pipis. Oh ya, di area sini, untuk pipis, kita diminta membayar Rp. 5000,00. Aku sempat pipis tiga kali saat di area Bromo, boros! Hahahaha …

 

Dari area Bukit Teletubbies, kami ke arah Pasir Berbisik. Ketika jeep yang ditumpangi Fitri dkk sudah berhenti, jeep yang kutumpangi menyusul, berhenti sebentar di samping jeep yang satunya, eh, tiba-tiba jeep yang kutumpangi ngebut pergi. Si sopir sibuk menelpon/ditelpon seseorang, sambil menyebut-nyebut 'toilet'. Semula aku pikir dia sedang ditelpon Fitri. Jeep kemudian berhenti di kawasan Gunung Bromo. Setelah aku turun, jeep langsung kabur.

 


 




Aku bertanya pada Fitri apakah dia tadi menelpon sopir jeep yang kutumpangi. Katanya tidak. Dan sekarang jeep kabur. Ini berarti sopir itu pun melayani wisatawan lain. Sama sekali tidak professional!

 

Mood-ku langsung buruk. Ranz juga. Apalagi aku mencari toilet di sepanjang warung-warung yang ada di situ, tidak kutemukan. Dan ternyata aku salah. Warung-warung itu memang tidak menyediakan toilet; toilet ada di lokasi lain. Saat mencari toilet ini, aku bersama Angie dan Fitril. Ranz bersama Deven menunggu somewhere. Ambar, Fani, dan mas Mail (yang menyetiri mobil yang disewa Fitri dari Semarang) ada di satu warung makan situ.

 

Fitri menelpon sopir (kalau ga salah namanya Susio) beberapa kali, baru akhirnya diangkat. Fitri komplain mengapa tadi tidak berhenti di Pasir Berbisik. Dia ngeles bla bla bla. Tapi dia mau mengantar kami ke Pasir Berbisik lagi. Sayangnya saat itu sudah jam 09.30 (ini setelah kami semua bergabung di satu warung untuk sarapan), dan sopir dari Probolinggo sudah berjanji untuk menjemputku dkk di hotel Parama jam 10.00. Dengan sangat terpaksa, aku, Angie, Ranz dan Deven balik ke hotel langsung. Kami pun tidak berjalan ke kawah Bromo.

 

Nampaknya, jika next time kami ke Bromo lagi, kami harus menginap di Cemara Lawang dua malam, seperti yang aku dan Ranz lakukan di bulan Desember 2017. Biar puas.

 

Kami sampai di hotel pukul 10.05. Kami langsung buru-buru packing. (Kami berempat tidak ada yang mandi di Cemara Lawang. Hahahahahahah …). Kami check out dari hotel sekitar pukul 10.30.

 

Kami sampai di tempat parkir destinasi wisata air terjun Madakaripura sekitar pukul 11.15. Di sini, kami langsung ditawari untuk beli mantel (yang harganya sekitar 8000an kalau beli di mini market, di sini kami beli dengan harga sepuluh ribu rupiah) dan sendal jepit. Sungai yang dalamnya sampai sekitar 30 - 40 cm termasuk trek yang harus kami lewati menuju air terjun. Itu sebabnya kami sebaiknya tidak mengenakan sepatu, lebih baik pakai sendal. Plus, tebing yang mengucurkan air yang kami lewati akan membuat kami seperti kehujanan.

 

Setelah membeli 3 mantel (Ranz sudah bawa sendiri) dan satu pasang sendal jepit buatku (Ranz, Deven, dan Angie sudah bawa sendal jepit), kami dihampiri seorang lelaki. Dia menawarkan diri menjadi guide, "trek yang dilewati nanti sulit," katanya. Dia mematok harga seratus ribu rupiah. Ranz pun menawarnya menjadi limapuluh ribu rupiah. Si bapak menggumam tidak jelas, kalau tidak salah dia bilang, "di sini itu ada karang taruna yang mengelola." bla bla bla … Kemudian dia bilang lagi, "ojek … ini butuh 3 ojek,"

 

Whattt? Kok butuh ojek?

 

Si bapak menjelaskan, "iya, lokasinya jauh kalau tidak naik ojek nanti kelamaan sampainya." Satu motor ojek dihargai limabelas ribu rupiah.  Aku ingat waktu kami akan ke destinasi wisata Srambang, dari tempat parkir kami juga disarankan naik ojek, dengan biaya limaribu rupiah. Aku naik ojek bareng Deven, Ranz sendiri, Angie juga sendiri.

 

Ternyata memang benar, kita butuh naik ojek. Jarak dari tempat parkir menuju loket membeli tiket masuk jauh juga je, mana trek naik turun pula. Sudah untung permukaan jalan sudah bagus.

 





 

Setelah sampai, di sisi kanan ada beberapa warung. Salah satu dari penjual warung menjajakan minuman sambil bilang, "nanti jalannya jauh, di dalam tidak ada warung." akhirnya aku beli 1 botol air mineral plus 3 biji pisang goreng yang masih hangat. Lumayan, aku makan 1 biji, 2 biji lain untuk Deven dan Angie.

 

Aku ingat sopir yang mengantar kami ke Cemara Lawang dari Probolinggo bilang bahwa jalan kaki menuju air terjun tidak terlalu jauh. So? Aku berharap maksimal 1 kilometer lah ya. Ternyata???

 

Untunglah kondisi kakiku baik-baik saja, juga nafasku (yang sempat ngos-ngosan paginya saat mendaki Seruni Point.) Dengan semangat aku terus mengikuti bapak guide yang nampaknya berjalan santai, namun ternyata cukup cepat jika dibandingkan dengan langkahku. Haha … Aku sempat khawatir jika Deven kelelahan, namun ternyata dia 'tough' juga. Mungkin jarak air terjun - loket penjualan tiket sekitar 2 - 2,5 km.

 

Aku yang paling bersemangat menuju Madakaripura, terus berada di belakang si bapak. Deven ada bersamaku, di belakang ada Angie dan Ranz. Lebih sering Ranz di paling belakang. Kalau dalam pasukan sepeda, posisinya itu disebut 'sweeper'. :D

 

Menjelang sampai lokasi dimana kami harus masuk ke sungai, ada post tempat seseorang berjaga; di sini disediakan helm-helm yang harus dikenakan oleh wisatawan, in case ada batu yang jatuh dari tebing. Atau, minimal melindungi kepala dari curah air terjun. Di sini, 'fungsi' si bapak guide baru terasa, lol. Dia menggandeng kami (eh, terutama aku dan Deven, lol) saat melewati sungai. Dia memilihkan jalur yang aman dan tidak licin.

 

Setelah melewati sungai, kami sampai di satu lokasi untuk foto-foto, di tempat ini jika kami melepas mantel, curahan air terjun akan dengan mudah membasahi kami (makanya aku ga berani mengeluarkan hp, 'untung' hpnya Ranz waterproof, jadi dia tetap bisa memotret kami.) aku lihat, Angie tidak tahan untuk tidak mengabadikan keindahan tebing dan air terjunnya sehingga dia pun nekad mengeluarkan hpnya, yang tidak waterproof.

 

Di spot itu, ada rombongan bule, sebagian mengenakan mantel, sebagian lain lagi tidak, mereka hanya mengenakan boxer. Mau foto-foto tanpa mereka masuk frame, rada susah, lol.

 

Dari spot itu, si bapak mengajak jalan lebih ke 'dalam' lagi. Kali ini, kami harus naik-naik batu yang cukup besar. (duh kakikuuuuu …) dengan sabar dan telaten si bapak memegang tanganku naik batu, menyeberang, hingga sampai di 'ujung'. Setelah aku, Deven berikutnya yang 'diseberangkan' oleh si bapak. Kemudian dilanjutkan Angie dan Ranz. Keduanya ga mau digandeng si bapak, merasa cukup mampu menjaga diri sendiri. Haha …

 





 

Di spot yang lebih dalam ini, penampakan air terjun Madakaripura jauh lebih ciamik! Aku bersyukur aku mengikuti instruksi si bapaka guide untuk melewati trek naik-naik batu itu: lokasinya mmmm … cantik sekali!

 

(kemarin waktu ke sana, aku berpikir, cukup sekali saja ke Madakaripura. Sekarang saat menuliskan kisahnya, aku merasa, aku ingin dolan ke sini lagi. Ha ha …)

 





 

Setelah kami merasa cukup puas, kami kembali berjalan ke gerbang masuk, dimana terletak loket menjual karcis. Dalam perjalanan kembali, kali ini Angie terseok-seok di belakang. Digodain si bapak, "mbaknya sudah capek ini." haha … lha gimana? Paginya kami bertiga -- aku, Ranz, dan Deven -- naik kuda menuju 'bawah tangga' Seruni Point, Angie jalan kaki. Kali ini, kami bertiga masih segar bugar, Angie lelah.

 

Sebelum balik ke tempat parkir, kami mampir di satu warung untuk jajan. Angie minta dibelikan cappuccino. Aku cukup minum air mineral dan ngemil gorengan. Kali ini, kami hanya 'memakai' ojek 2 sepeda motor untuk Ranz dan Angie. Aku dan Deven mbonceng si bapak guide. Kami sampai di tempat parkir sekitar pukul 14.30. Ranz memberi Rp. 70.000,00 ke si bapak guide.

 

Dari sana, kami langsung menuju Probolinggo. Di Probolinggo, Ranz sudah booking 2 kamar di Graha Wahidin Syariah yang terletak di Jl. Wahidin. Rasanya aku ingin segera mandi, kemudian leyeh-leyeh di tempat tidur!

 

Angie ternyata tidak hanya kelelahan, dia juga kelaparan! Waktu aku bilang, "kata mbak resepsionis, ada rumah makan di sebelah sana," dia langsung ngambeg, lol. "Apa? Kita keluar jalan kaki lagi? Angie capek!" lol. Tapi waktu kutawari go food, dia tidak mau. Jadi, ya aku, Ranz dan Deven keluar, mencari rumah makan terdekat.

 

Kami hanya perlu berjalan kaki kurang lebih sejauh 200 meter, kami sudah sampai di satu rumah makan. Aku memotret menunya dan mengirimkannya ke Angie. Dia memilih nasi goreng ayam mentega, pilihan yang sama dengan yang dipilih Deven. Aku dan Ranz kebetulan juga punya pilihan yang sama: manuk gemmeck alias burung puyuh bakar. Deven juga ingin dibelikan french fries, sementara Angie minta dibelikan jamur crispy plus teh hangat.

 

Setelah memesan dan membayar, kami berjalan kaki 'mencari' minimarket, Deven pengen beli jajanan. Mungkin kami berjalan sekitar 3 kilometer sore itu.

 

Kami berempat makan malam di depan kamar yang aku inapi dengan Angie. Di situ ada satu meja dan empat tempat duduk yang terbuat dari batu.

 

Usai makan malam, mandi, aku sudah tidak kuasa menahan kantuk, bobo lah aku, dengan perut yang kian membengkak. Hiksss … 

 

to be continued.