Showing posts with label Podungge girls. Show all posts
Showing posts with label Podungge girls. Show all posts

Tuesday, May 24, 2022

Ke Cirebon Mei 2022

 

di depan rumah Tangkil

Setelah 3 tahun berlalu, aku dan keluarga tidak bisa dolan ke Cirebon -- disebabkan pandemi covid 19 tentu saja -- akhirnya bulan Mei 2022 ini kami sekeluarga bisa meluangkan waktu untuk kesana; tentu saja agenda utama kami menengok makam kakak tercinta, Yusdi Podungge.

 

Sabtu 14 Mei 2022

 

Pagi-pagi aku menyiapkan bekal untuk kita santap di jalan; menu yang mudah saja dan semua suka: mie goreng, telur dadar dan ayam goreng.

 

Sekitar pukul 08.10 kami sekeluarga meninggalkan rumah. Satu hal yang lupa kami lakukan: membiarkan satu lampu di dalam rumah -- misal di ruang tengah -- untuk tetap menyala agar tidak ketahuan bahwa rumah kosong. Tapi, 'untungnya' Sabtu malam itu ada acara syawalan yang diselenggarakan di depan rumah persis. Jadi lumayan 'aman' lah untuk malam itu. Dan, beda dengan saat kami ke Cirebon tahun 2019, kami menginap 2 malam disana, kali ini kami hanya menginap disana semalam.

 

Alhamdulillah perjalanan kami lancar. Kami sengaja mampir di satu rest area, yang dikenal sebagai Rest Area 260B Heritage-Banjaratma. Selain butuh meluruskan kaki, ke toilet, yang paling utama -- bagiku dan Angie -- adalah foto-foto. Yeay. Lol. Sayangnya dua keponakan sedang kurang enak badan, jadi mereka tidak ikut jalan-jalan di bagunan eks pabrik gula itu. Kami juga memakan bekal yang kami bawa disini.

 



  

Setelah merasa cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Cirebon. Karena tak satu pun dari kami yang mengenal jalan di Cirebon, lol, setelah keluar dari jalan tol, dengan menggunakan bantuan gmap, pelan-pelan kami mencari arah menuju tempat tinggal (eks) istri kakak di daerah Tangkil.

 

You know how I felt? Meski aku termasuk jarang menengok kakak di Cirebon -- jika dibandingkan dengan dua adikku -- entah mengapa aku merasa seperti going back home. Apalagi setelah sampai rumah yang ditinggali kakak dan istrinya -- setelah rumahnya sendiri dikontrakkan dan kemudian dijual -- aku benar-benar merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Tapi, kedua adikku memutuskan tidak ingin merepotkan mbak Tien -- nama (eks) kakak -- maka kami malam itu tidak menginap disana, kami telah booking 3 kamar hotel yang terletak di daerah Jl. Siliwangi.

 

Setelah beramah-tamah sebentar, mbak Tien mengantar kami ke hotel tempat kami menginap agar kami bisa beristirahat dan mandi.

 

Sekitar pukul 16.00 mbak Tien menjemput kami dan menemani kami ke makam Kasinengan. Dari sana, kami ke RM nasi jamblang Ibu Nur. Masih bernuansa lebaran, jadi ya maklum jika situasinya ramai. Tapi tak seramai saat kami kesini di tahun 2019, yang antri ambil makan sampai mengular keluar gedung, hingga kami pindah ke nasi jamblang di Pelabuhan.

 



 

 

Usai makan sore, kami ke alun-alun Kejaksan, karena dua keponakan pingin bermain-main. Nah, kesempatan aku dan Angie berfoto-foto. Hihihi … Tapi kami tidak lama disini. Sekitar pukul 18.00 mbak Tien sudah mengantar kami balik ke hotel.

 

Minggu 15 Mei 2022

 

Sekitar pukul 06.30 mbak Tien menjemput kami dan mengantar kami ke stadion BIMA, dimana biasanya orang-orang Cirebon berolahraga -- jogging di track yang mengitari stadion -- atau sekalian belanja karena disana banyak juga orang-orang berjualan berbagai macam barang plus sarapan.

 

Pagi itu mbak Tien mengajak sarapan di satu warung lesehan yang berjualan nasi pecel, lontong opor dan nasi gudeg. Aku memilih menu nasi pecel, Riska pesan nasi gudeg, yang lain lontong opor, termasuk Angie.

 

Usai sarapan dan jalan-jalan di track jogging secukupnya, sekitar pukul 08.00 kami pulang ke hotel, untuk istirahat, mandi, dan packing.

 

 

Pukul 12.00 kami sudah meluncur ke arah Tangkil, pamitan dengan mbak Tien. Pukul 14.00 kami sudah otw ke Semarang, setelah makan siang di satu rumah makan sebelum masuk jalan tol.

 

Otw, kami mampir di rest area Gringsing Kendal untuk 'buang hajat' di toilet. :)

 

Menjelang maghrib kami telah sampai rumah, safe and sound. Alhamdulillah.

 

PT56 11.51 24/05/2022

 

Thursday, June 13, 2019

Idul Fitri Syawal 1440 H / Juni 2019

Untuk pertama kali dalam hidupku -- sependek ingatan yang kusimpan -- tahun ini keluarga Podungge Semarang memiliki acara keluarga: pergi ke Cirebon. Bukan untuk menengok kakakku yang sakit seperti yang kulakukan di postingan ini, namun untuk "nyekar" kata orang Jawa, alias menengok makam. Ya, kakak yang kutengok pada tanggal 17 - 19 Mei 2019 akhirnya meninggal pada hari Selasa 21 Mei 2019 pukul 13.44 WIB. :(

Latar belakang:

Kedua orangtuaku adalah sepupu -- mereka berdua menyandang nama 'fam' yang sama, yakni Podungge. Ayah konon telah merantau ke Semarang semenjak beliau lulus SD, mengikuti kakakknya yang waktu itu tinggal di Semarang. Mungkin setelah tinggal dan bekerja di Semarang selama kurang lebih 10 tahun, Ayah kembali ke Gorontalo untuk menikah. (kedua orangtuaku tidak saling kenal sebelum menikah itu.) setelah menikah, Ibu diboyong ke Semarang. Semua anak-anaknya lahir di Semarang. Semenjak mereka berdua menikah dan tinggal di Semarang, mereka tidak membiasakan 'mudik' ke Gorontalo di hari lebaran.

Waktu aku masih kecil dulu, aku ingat kadang kedua orangtua mengajak menghadiri satu acara yang diselenggarakan oleh dan untuk orang-orang Gorontalo yang tinggal di Semarang. Entah, mulai kapan acara gathering itu berhenti jadi tak ada lagi acara silaturrahmi antar orang-orang berdarah Gorontalo di Semarang. Tapi, saya masih ingat di tahun 1986 aku dan kakak adik diajak orangtua untuk berkunjung ke rumah sebuah keluarga keluarga Gorontalo waktu lebaran. Tak lama kemudian aku melanjutkan studi di Jogja. Tak ada lagi acara kunjung mengunjungi seperti ini lagi.

Lebaran bagi kami sekeluarga ya shalat Ied di lapangan, kemudian pulang ke rumah, saling salam-salaman (tidak ada ritual sungkeman di budaya Gorontalo), kemudian makan ketupat opor plus sambal goreng ati masakan Ibu. Setelah itu, paling nongkrong di teras menonton orang-orang lalu lalang mengenakan baju baru, satu hal yang dulu tidak pernah kupahami mengapa orang-orang lain nampak sibuk di hari lebaran sementara keluarga kami tidak. :)

6 Juni 2019

Setelah 'nyekar' di makam Ayah Ibu dan kakak pertama (yang tidak pernah kami kenal karena kakak ini meninggal di usia lima bulan karena muntaber), kami sekeluarga bersiap-siap berangkat ke Cirebon. Aku, Angie, Nunuk, (adikku persis) dan Riska (adik bungsu) bersama suami dan kedua anaknya. Kita berangkat ke Cirebon setelah berkunjung ke rumah tetangga di depan rumah, yang biasanya berkunjung ke rumah di hari pertama lebaran tatkala Ibu masih sugeng.

Kita lewat jalan tol buatan Pak Jokowi setelah kita keluar dari Mangkang. Jalan tol yang semula dibuat one way dari arah Jakarta menuju Semarang untuk memberi ruang luas pada para pemudik, kali itu sudah buka untuk dua arah. Perjalanan lancar, kita sempat istirahat di satu rest area yang kemungkinan terletak di daerah Tegal.

Kita sampai di rumah kakak ipar sekitar pukul 15.00.

7 Juni 2019

Pagi-pagi aku sempat mengajak dua keponakan jalan-jalan ke sawah (maklum, orang kota, lol) ditemani Nunuk dan Angie. Setelah pulang ke rumah, mandi, kita baru siap-siap nyekar.


Kita berangkat ke makam Kasinengan sekitar pukul 09.30.

Dari sana, istri kakakku mengajak dolan ke satu destinasi wisata bernama 'Waterland'. Waktu kesini aku baru ngeh bahwa Laksamana Cheng Ho konon juga mampir di Cirebon ketika berlayar ke Nusantara, mungkin sekitar abad 14, tak hanya mampir di Semarang, atau Surabaya.

Melihat sekilas 'Waterland' ini, aku ingat BJBR alias Bee Jay Bakau Resort yang kukunjungi bersama Ranz di Probolinggo Desember 2017. BJBR merupakan area hutan bakau / mangrove di pinggir laut. Selain berwisata menjelajah hutan bakau, pihak pengelola juga membangun cottage-cottage di atas air laut, jembatan panjang di atas laut dimana pengunjung bisa berjalan-jalan di atasnya, sembari berfoto di spot-spot yang dibuat instagrammable. Ada juga kolam yang dibuat sedemikian rupa sehingga ketika bermain air disini seolah-olah main di pantai, dengan air tawar tentu saja.






Waterland tidak ada kawasan bakaunya, namun ada cottage-cottage yang dibangun di atas air laut, selain ada restauran yang berbentuk kapal dan ada nama CHENG HO di satu dinding luar kapal. Ada dua kolam renang yang disediakan untuk mereka yang ingin bermain air . Namun karena kita tidak membawa baju berenang, kita tidak nyemplung. Selain itu, ada beberapa waha permainan sederhana untuk menyenangkan anak-anak. Tiket masuk sebesar Rp. 60.000,00 (mungkin kena 'tuslah' lebaran ya?) terasa cukup mahal jika kita kesini tanpa berenang. :D

Menjelang pukul 13.30 kita sudah kembali.



Sorenya kita sempat ke Pantai Kejawanan untuk menonton sunset. Mengapa aku memilih pantai ini karena beberapa bulan lalu kakakku sempat dibawa kesini untuk dimandikan, konon air yang ada di pantai ini bisa dipakai untuk mengobati penyakit kulit yang diderita kakakku. Nunuk yang waktu itu sedang berada di Cirebon, ikut menemani ke pantai. Katanya setelah dimandikan di pantai ini, penyakit kulit kakakku terlihat kian parah, melepuh. Tapi, setelah itu, luka-lukanya 'lepas', hingga istrinya waktu itu, konon tinggal mengusap seluruh kulit tubuhnya dengan baby oil.

8 Juni 2019

Setelah mandi dan packing, kita meninggalkan rumah kakak iparku sekitar pukul 08.00. Dia mengajak kita sarapan di RM Jamblang Bu Nur. Tapi, sesampai sana, ternyata antrian para pengunjung yang ingin makan disana mengular hingga keluar. :( Duh, padahal kita ingin segera balik ke Semarang, karena ada info yang beredar bahwa jalan tol akan dibuat one way menuju Jakarta untuk memberi ruang yang lebih lapang pada mereka yang ingin kembali ke ibu kota.

Kita tidak jadi makan di Bu Nur; kita pindah ke RM Jamblang Pelabuhan. Ternyata, sesampai sini, kita juga kudu ngantri untuk mengambil makan. :D well, maklum, lebaran yaaa. baru kali ini kita berlebaran di kota lain, bukan di Semarang. :)

Sebelum pukul 10.00 kita sudah berada di jalan menuju Semarang.

N.B.:

Waktu kakak (menjelang) meninggal, adikku sempat bertanya apakah kita akan memakamkan jenazahnya di Cirebon atau di Semarang. Adikku sempat kepikiran untuk memakamkan di Semarang. Aku pikir istrinya justru yang memiliki hak penuh untuk menentukan dimakamkan di Semarang atau Cirebon. Ketika istrinya tahu kita tidak keberatan, maka proses pemakamannya pun cepat. Aku bilang ke adik-adikku kita akan punya alasan untuk menjaga silaturrahmi dengan kakak ipar ketika kita akan menengok makam.

N.B. (2):

Jika aku mendapatkan mood yang bagus, mungkin aku akan menulis sedikit khusus tentang kakakku, Yusdi Podungge.

13.31 13-Juni-2019

Thursday, April 30, 2015

My Lovely Star, Sang Anugerah Terindah

Enam tahun telah berlalu ...

(check this post, will you?)

 

Enam tahun lalu aku menulis beberapa 'stages' penting perjalanan hidup Angie, oh no, perjalanan hidup kita berdua. :) Dan ... tibalah 'stage' penting berikutnya: Angie wisuda! Yay!

 

Di awal Angie kuliah -- kebetulan dia memilih fakultas yang menurutku juga sangat menarik -- aku sempat berkata pada diri sendiri bahwa aku akan menemaninya belajar.

 

(hah! padahal waktu duduk di bangku SD - SMP - SMA aku ga pernah melakukannya. LOL. I have been very blessed to have her as my one and only daughter karena ga pernah aku harus mengawasinya belajar waktu duduk di bangku sekolah. Maklum, pekerjaanku sebagai guru les Bahasa Inggris yang tiap malam justru sibuk berbagi ilmu dengan anak-anak lain, sehingga di rumah Angie harus belajar sendiri. Aku cukup mengingatkannya, "Belajar itu buat Angie sendiri, buat masa depan Angie. Bukan buat Mama." Dan Angie menyadarinya bahwa yang kukatakan itu benar adanya. Maka jika kadang beberapa teman bercerita mereka harus mengawasi anak-anak mereka belajar, atau sekedar mengerjakan pe-er, aku tidak pernah harus melakukan itu. 😄 )

 

Konon di fakultas Psikologi seseorang akan belajar tentang karakter seseorang, sekaligus mungkin mengkaji mengapa seseorang bisa berkarakter seperti itu. Hmmm ... jika dilihat dari sudut ini, nampaknya ga jauh beda fakultas Psikologi dengan fakultas Sastra, terutama ketika kita mengkaji karya-karya sastra dan mempelajari satu tokoh yang menarik, mengapa karakternya begitu, dll. Itu sebab aku ingin menemani Angie belajar, mendiskusikan satu kasus atau teori, atau apa lah itu.

 

Kenyataannya ternyata tidak seperti itu. Aku tetap sibuk bekerja, dan juga ... sepedaan. LOL. Waktu yang kuluangkan untuknya pun kian sempit, meski jika kita kebetulan punya waktu bersama, kadang kita gunakan untuk membahas sesuatu, yang kita hubungkan dengan beberapa teori yang dia pelajari di kampus.

 

Aku sudah lupa kapan Angie mulai konsentrasi ke skripsinya. I sucked when realizing bahkan topik utama skripsinya apa aku ga begitu ngeh, boro-boro ikut membantunya membahas sesuatu. Kesulitannya dengan dosen pembimbing yang kurang helpful padanya (konon dosen-dosen fakultas Psikologi 'terkenal' killing sehingga jika di fakultas-fakultas lain mahasiswa sangat mungkin lulus kurang dari delapan semester, di fakultas Psikologi boro-boro daaah) bahkan tak pernah Angie keluhkan padaku. Untunglah dia dikitari teman-teman kuliah yang sangat sayang, perhatian, dan peduli padanya. (Where was I? I was busy with myself. 😞 )

 

Bahwa Angie akhirnya menyelesaikan skripsinya pun aku tidak tahu. Out of the blue dia bilang ke aku, "Mama ... besok Angie ujian skripsi," pada tanggal 26 Februari. I almost didn't believe to hear that. Dan ... pada tanggal 27 Februari itulah dia mempertanggungjawabkan skripsi yang dia tulis di depan dewan penguji, saat yang dulu pernah aku harapkan aku akan bisa menungguinya but due to my work, I could not do it.😕

 

Setelah melakukan revisi di bulan Maret, awal April pun Angie mendaftar wisuda. And her graduation day was on April 28 (syukuran wisuda fakultas yang diselenggarakan di Ballroom Rama Shinta Hotel Patrajasa) and on April 29, at Professor Sudarto building, Tembalang.

 

I am always proud of you, my daughter, as I always love you.

 

CN 07.39 30/04/2015












Saturday, August 09, 2014

Ke Waduk Jatibarang + Goa Kreo

Goa Kreo bukanlah satu tempat yang asing bagi Angie. Waktu kecil kita (aku dan her dad) pernah mengajaknya kesana. Well, Goa Kreo tidaklah semenakjubkan Goa Gong yang ada di Pacitan maupun Goa Akbar yang ada di Tuban, tapi lumayanlah untuk berakhir pekan. Bukan goanya itu sendiri yang merupakan daya tarik utama (bagiku), melainkan alam yang masih hijau, udara segar yang kita hirup, dan ... lokasinya ternyata tidak terlalu jauh dari pusat kota. (Duluuuu sebelum Semarang mengalami perkembangan, Goa Kreo rasanya jauh. Setelah beberapa kali gowes kesana, ya ampuuun ternyata Goa Kreo ga jauh lho, lha wong cuma 11 km. Aku b2w ke kantorku yang berlokasi di Gombel Golf aja jaraknya 10 km. Cuma beda satu kilometer doang. hohohoho ...)

Hari Jumat 1 Agustus aku mengajak Angie ke Goa Kreo lagi. Kali ini ada daya tarik baru: Waduk Jatibarang! Goa Kreo yang terletak di satu 'bukit' sekarang dikelilingi sebuah waduk yang diberi nama Waduk Jatibarang oleh pemerintah kota Semarang. Pemandangannya pun lumayan menakjubkan. Apalagi jembatan yang menghubungkan antara jalan masuk ke lokasi wisata yang terletak di Desa Wisata Kandri dengan bukit dimana Goa Kreo berada dibangun dengan arsitektur cantik, dengan hiasan patung-patung monyet. (Monyet memang binatang yang diistimewakan di daerah ini, mengingat hubungan khusus antara monyet-monyet yang ada di kawasan ini sekian ratus tahun yang lalu dengan Sunan Kalijaga.)

Oh ya, kita tidak hanya berdua. Adikku -- bukan nyokapnya Diana -- ikut serta. :)

Berikut beberapa jepretan foto, menggunakan kamera adikku.














trek menantang menuju kawasan atas goa, baru kali ini aku mencoba mendaki trek ini

trek menantang menuju kawasan atas goa, baru kali ini aku mencoba mendaki trek ini

Libur Lebaran 2014 bersama Diana

Ada yang tidak biasa di libur Lebaran tahun 2014 ini. Jika di tiga tahun berturut-turut (2011, 2012, 2013) aku menghabiskan separuh libur Lebaran dengan berbikepacking bersama Ranz, tahun ini Ranz menyibukkan diri dengan keluarga besarnya, aku dengan keluarga kecilku. :)

Keponakanku yang kedua lahir hari Jumat 25 Juli 2014 (welcome another Leonese!) Dan ini tentu membuat adikku semakin sibuk dengan kedua anaknya. Maka, sebagai kakak yang baik dan sayang keponakan (halah!) di libur Lebaran ini aku menyempatkan dua kali mengajak anaknya yang pertama (berusia 3 tahun) jalan-jalan. Yang pertama ke Sri Ratu Jalan Pemuda, satu 'mall' yang telah lama ada di Semarang, untuk bermain bom-bom car! (Tentu Angie kuajak serta) Yang kedua, kuajak keduanya ke Maerakaca, satu taman mini Jawa Tengah yang telah banyak dilupakan orang bahwa Semarang memilikinya. :)

Berikut ini beberapa foto yang ada, menggunakan kamera saku pinjam adikku. :)

di anjungan kota Sragen, patung gajah ini mewakili Museum Sangiran :)

Angie and Diana are in action together :)

dengan background ala gerbang Candi Cetho 






background: miniatur Menara Kudus

di anjungan Rembang, bersama patung Ibu Kartini



akhirnya keinginan main ayunan keturutan :)




dengan miniatur Candi Dieng 
Angie dengan topi barunya :)