Friday, April 10, 2026

Hey hey Wonogiri!

 

Libur akhir tahun 2025 aku mengajak Angie dolan ke Wonogiri.  dan ... long weekend wafat Isa Al-Masih, aku kembali mengajak Angie ke sana, dengan 1 excuse: Deven -- keponakan Ranz -- belum ikut ke Wonogiri. Bulan Desember 2025 lalu, Deven diajak pergi ayahnya ke Tawangmangu. 

Aku dan Angie berangkat ke Solo hari Kamis 2 April 2026, naik travel pukul 19.00, setelah jam kerja Angie (dan juga aku) selesai. Cuaca syahdu -- gerimis -- mengiringi kami berangkat ke pool travel, dan juga saat travel berangkat ke Solo.

Jumat 3 April 2026

 Kami berempat -- Ranz, Deven, Angie, dan aku -- berangkat ke stasiun Purwosari pukul 08.45. Saat KA Batara Kresna 'mendarat' di jalur 1 stasiun Purwosari pukul 09.00, kami sudah siap untuk 'berjuang' mencari tempat duduk. FYI, tiket KA Batara Kresna hanya empat ribu rupiah per orang. murah banget kan? tidak enaknya adalah: tidak ada nomor 'seat' yang berarti pengunjung harus buru-buru naik ke gerbong untuk mendapatkan tempat duduk.

Back to the previous week,  Jumat 27 Maret 2026 pukul 00.05, Ranz hunting tiket KA BK. Bulan Desember lalu, dia baru hunting tiket sekitar pukul 10.00 -- satu minggu sebelum kami berangkat ke Wonogiri -- dan kami kehabisan tiket yang berangkat dari stasiun Purwosari. 

 "Ma, di bulan Desember lalu, waktu kita naik kereta, semua tempat duduk sudah ditempati orang kan?" tanya Angie.

"Yup. itu karena kita baru masuk stasiun jam 09.40. Makanya kali ini kita berangkat lebih awal, so saat KA BK memasuki peron jam 09.00, kita sudah siap 'berburu' tempat duduk." jawabku.

KA Batara Kresna meninggalkan jalur 1 tepat pukul 10.00. Di gerbong kami, terlihat ada sekitar 10 orang yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Sesampai stasiun Kota (alias Sangkrah) ada beberapa penumpang di gerbong kami yang turun, so jumlah penumpang yang berdiri berkurang.

Menjelang pukul 11.00 kami sudah sampai di stasiun Wonogiri. Kami lihat banyak penumpang KA BK yang tidak ke luar stasiun. Mereka harus turun dari KA karena gerbong akan dibersihkan, itu sebab mereka berdiri-diri di area situ. Guess why? Yes! Mereka hanya ingin 'mencicipi' gerbong mewah KA BK dengan harga yang super ekonomis. Sesampai Wonogiri? Mereka akan langsung kembali ke Solo!

Sebelum kami berangkat ke Wonogiri, aku sudah memesan si Bapak Angkot yang kami pakai jasanya di bulan Desember lalu. So? Si Bapak sudah menunggu kami di luar stasiun, ketika kami ke luar. Di sana, banyak angkutan kota lain yang menunggu penumpang KA yang mungkin akan dolan-dolan di area Wonogiri. Sayangnya, seperti yang aku tulis di atas, tidak banyak penumpang KA saat itu yang berniat dolan-dolan di Wonogiri.

Tujuan pertama kami hari itu adalah RM Pantai Gading Purba. Bulan Desember lalu kami pun ke sini. Namun karena saat sampai sana, hujan turun, dan kami tidak menemukan satu gazebo pun yang bisa kami tempati, kami langsung meninggalkan lokasi. Kali ini, meski cuaca kadang mendung kadang panas, tidak terlihat banyak pengunjung yang 'beredar' di area Pantai Gading Purba ini. Aku baru ngeh, itu karena hari itu adalah hari Jumat: hari 'pendek' buat kaum Muslim. Well, blessings in disguise sih buat kami. 

 

kali ini dengan mudah kami mendapatkan gazebo untuk duduk-duduk, so kami langsung memesan makan siang. Usai makan siang, kami naik speed boat mengelilingi Waduk Gajahmungkur dengan biaya Rp. 150.000,00 untuk empat orang. 

Destinasi kedua kami adalah Waduk Gajahmungkur, dengan specific area yang ingin kami kunjungi adalah 'Jembatan Kaca'. Tiket masuk waduk Rp. 20.000,00 per orang. Tiket masuk area Jembatan Kaca Rp. 10.000,00 per orang. 

Saat kami masuk area WGM, cuaca panas sekali. Dengan ogah-ogahan Angie mengikuti kami berjalan menuju jembatan kaca. hoho ...  Namun, begitu kami sampai area jembatan kaca, cuaca mendadak berubah ekstrim! Langit menggelap, mendung terlihat di mana-mana. Angie pun senang, karena hawa panas diganti dengan angin sejuk, meski kami rada khawatir karena di kejauhan kami bisa melihat kilat yang menyambar-nyambar!

karena cuaca yang mendadak berubah, kami tidak lama-lama di sini. setelah kami rasa cukup berfoto-foto di area jembatan kaca, kami langsung turun dari jembatan kaca, lalu berjalan menuju pintu ke luar. saat melewati area penjualan oleh-oleh, kami mampir sebentar: aku beli oleh-oleh untuk 2 keponakan, satu celana panjang santai untuk Angie. Ranz sendiri juga membeli satu kaos untuknya sendiri, dan satu lagi untuk Deven.

Dari Waduk Gajahmungkur, kami langsung menuju Golden Resort, tempat kami akan menginap malam itu. Cuaca gerimis tipis. We arrived there around 14.30. Seperti bulan Desember lalu, kami buking family room untuk berempat. Jika bulan Desember lalu kami harus membayar Rp. 850.000,00 kali ini kami cukup membayar Rp. 650.000,00. Kami tetap mendapatkan sarapan. Kali ini, sarapannya lebih bervariasi ketimbang bulan Desember lalu. Akan tetapi, aku tetap memesan nasi goreng Hongkong, Angie tetap memesan waffle. Ranz memesan omelette, sedangkan Deven memsan nasi goreng Nusantara. 

sore itu, aku sempat berenang 50 laps (katanya kolam renang panjangnya 25 meter), Deven juga berenang bersamaku. Angie memilih nyantai di kamar, dia tidak membawa baju renang.

malam itu, kami makan malam di resto Golden. Angie memesan sapo tahu, Deven nasi goreng seafood, Ranz ayam bakar taliwang Wonogiren, aku tidak pesan apa-apa karena perutku masih kenyang. aku hanya pesan jus melon. 

Sabtu 4 April 2026

pagi itu, aku berenang lagi. Ranz menemaniku, dengan duduk-duduk di kursi di pinggir kolam. Deven masih tidur, Angie di kamar, menikmati nonton netflix. Kali ini aku hanya berenang 30 laps. aku dan Ranz meninggalkan kamar jam 06.40, balik lagi ke kamar pukul 07.30. 

Hong Kong fried rice

 Pukul 10.00 kami sudah selesai packing. Sebelum meninggalkan resort, kembali kami ke resto, memesan chicken wings, french fries dan mendoan. Sarapannya kurang? engga juga sih bagi perutku, kami hanya ingin foto-foto di rooftop! hoho ...

 

 

Jam 10.30 si bapak angkot sudah datang menjemput kami. setelah check out, kami langsung diantar ke stasiun. kami sampai stasiun pukul 10.50. calon penumpang KA BK sudah menumpuk! Waaah, alamat kami harus 'berjuang' untuk mendapatkan seat nih. aku yakin, tentu banyak juga penumpang kereta yang dari Solo, langsung balik lagi ke Solo, tanpa merasa perlu dolan di area Wonogiri.

Kali ini si bapak angkot tidak menyebut angka pasti berapa dia minta dibayar. Kami membayar Rp. 200.000,00 untuk 2 hari. (Harga per orang Rp. 30.000,00 untuk diantar ke area Waduk Gajahmungkur pp kembali ke stasiun masih berlaku ya.)

KA Batara Kresna meninggalkan stasiun Wonogiri pukul 12.00. (thank god, kami mendapatkan seat!) Kami sampai stasiun Purwosari pukul 13.00. kami langsung ke rumah Ranz yang kebetulan terletak tidak jauh dari sana.

To be continued.

 PT56 14.05 10 April 2026

Wednesday, April 08, 2026

08 April 2026

Happy 8 April, my sweetest apple pie. Hope all of your dreams will come true.

with so much love, Mum. 💗💖💋




Saturday, March 28, 2026

Goa Kreo dan Waduk Jatibarang

 Hari Minggu 22 Maret 2026 aku mengajak keluarga ke Goa Kreo dan Waduk Jatibarang. yak! Setelah mengajak Deven ke dua lokasi ini, aku 'baru' kepikiran kalau aku belum mengajak dua keponakanku ke sini.  Sekitar 7 tahun lalu aku pernah mengajak mereka ke Waduk Jatibarang dan menikmati naik jet boat (but I don't remember where I keep the photos back then) namun belum ke area Goa Kreo.

As I predicted dua keponakan senang sekali 'bermain' dengan kera-kera yang berkeliaran di area parkir Goa Kreo. Sesampai sana, aku langsung beli kacang kulit yang memang disediakan oleh warung-warung yang ada di sana untuk diberikan kepada kera-kera tersebut, saat para pengunjung ingin 'bermain'.  Berbeda dengan Deven yang takut untuk mendekati kera-kera itu, dua keponakanku kebalikannya; mereka senang sekali menyodorkan tangan yang telah berisi kacang kulit kepada kera-kera yang berkerumun mengelilingi.

Hal lain yang surprising buatku adalah ternyata dua keponakanku itu juga menikmati 'short trekking' di area goa. dari area parkir menuju goa, kami harus menuruni anak tangga yang cukup panjang, terutama bagi mereka yang tidak biasa olahraga. setelah sampai goa, mereka ingin terus menjelajah, so, aku, Angie dan adikku menemani dua keponakan berjalan-jalan sampai ke area atas goa. sudah ada trek yang dibangun, jadi don't worry be happy. 

(padahal waktu keduanya kuajak jalan-jalan ke Benteng Willem I Ambarawa, malamnya mereka mengeluh capek. lah, padahal di Benteng kan, 'trek'nya cuma datar, tidak naik/turun tangga.) 

dari area Goa Kreo, kami ke Dermaga Kopi yang terletak tepat di samping Waduk Jatibarang, untuk jajan dan tentu foto-foto.

Pulangnya, kami mampir di satu warung bakso dan mie ayam untuk makan malam.

sarapanku dan sarapan Angie, setelah shalat Idul Fitri 21 Maret 2026

 





waktu kami jalan-jalan di Fort Willem I

kami sekeluarga shalat Ied di halaman Lawangsewu

 

Thursday, January 08, 2026

Awann Costa 21 Desember 2025

 


hari Minggu 21 Desember 2025, aku mengajak keluarga ke Awann Costa; ini kali kedua aku mengajak dolan ke 'pinggir pantai' yang konon digadang-gadang sebagai PIK-nya Semarang. Yang pertama, di bulan November 2024, kami mampir ke Awann Costa setelah makan siang bareng di satu resto yang terletak di dalam Pantai Marina. Kali ini, aku mengajak semua -- minus bapaknya 2 keponakan karena dia harus bekerja -- karena ada tempat nongkrong 'baru' di AC yang menjual makanan/minuman dengan harga miring: WARMINDO BERLABUH! hohoho ...

yang aku sukai saat nongkrong di pinggir laut sini ini adalah anginnya yang semilir sejuk, tidak terasa sepanas jika nongkrong di pantai Marina.

but guess what? sepulang dari sini, Rani, keponakanku yang besar, diare dong. kemungkinan karena dia masuk angin. yaaaah ... padahal kapan-kapan aku pengen mengajak mereka dolan ke sini lagi, healing murah meriah dekat dari rumah. well ... well ... let's wait and see. 




 

Fort Willem 1 (again!)

 


keluarga Podungge Semarang memulai tahun baru 2026 dengan sesuatu yang baru: mencoba naik Trans Jateng, dari Semarang menuju Bawen! Dari rumah, kami berenam naik taksi online menuju halte TJ yang terletak tak jauh dari RSUD Kariadi, dari sana kami naik TJ. Kebetulan waktu itu, kami ga perlu menunggu lama sampai bus TJ datang; hanya sekitar 10 menit. Sayangnya waktu bus datang, kondisi di dalam bus lumayan penuh, hanya ada 1 seat kosong, yang langsung aku duduki. di deretan bangku belakang, ada seseorang yang memberikan kursinya ke Riz adik ragilku, yang langsung mendudukinya, sambil memangku Adek. (padahal Adek tingginya sudah hampir seibunya 😀!) kemudian ada seseorang lain lagi yang memberikan tempat duduknya ke Noek, adikku yang satu lagi. Tapi oleh Noek, kursi diberikan ke Rani, keponakanku yang duduk di bangku 9, karena kalau harus berdiri, kami yakin Rani ga akan bisa tahan lama. Angie? Terpaksa dia berdiri. 

benar-benar di luar prakiraanku bahwa bus Trans Jateng ini bakal sebegitu penuh hingga bus sampai terminal Bawen. Angie sama sekali tidak sempat duduk! oh ya, sekarang, harga tiket untuk satu orang Rp. 5.000,00, sudah naik seribu rupiah sejak terakhir kali aku naik TJ, which is sebelum pandemi. haha ... 

dari terminal Bawen, kami naik taksi online lagi menuju Benteng Willem 1.  Bisa kuperkirakan situasi benteng tentu ramai sekali! 1 Januari selalu masuk HIGH SEASON. meskipun begitu, kami ga perlu ngantri lama saat beli tiket maupun saat melewati pintu masuk.

kali ini, tidak ada diskon sebanyak dua ribu rupiah, meski pengunjung ingin membeli tiket terusan. (you may check this link.), "High season, Mama!" kata Angie. 😃

setelah merasa puas berjalan-jalan dan berfoto-foto di dalam benteng, kami kembali menggunakan jasa taksi online untuk menuju terminal Bawen. FYI, rada susah mencari taksi online di sekitar area benteng, but, still, it is not impossible. dari terminal Bawen, kami naik bus TJ lagi. kali ini, guess what, Angie tetap tidak mendapatkan tempat duduk! dia merasa tidak nyaman berebut dengan penumpang lain yang lebih senior, maka dia mengalah: berdiri saja.

kami turun di halte dekat RSUD Kariadi, lanjut naik taksi online sampai rumah.

PT56 11.01 08 January 2025 

 



Tuesday, December 09, 2025

Hae Fort Willem I!

 

Saat aku mengajak Angie mengunjungi Fort Van den Bosch, Ngawi bulan April 2025, Angie nampak cukup menikmati kemegahan benteng peninggalan Belanda ini. Tidak kusangka setelah aku mengunggah beberapa foto dolan ke Fort Van den Bosch di media sosial, seorang kawan menulis komentar, "Fort Willem I juga akan direnovasi dalam waktu dekat loh mbak." Wahhh boleh juga nih. Pastinya Angie juga bakal suka kuajak dolan ke benteng ini (lagi!)

 

Ternyata tidak perlu menunggu lama. Di pertengahan bulan November 2025, reels tentang benteng ini bertebaran di media sosial; sudah selesai direnovasi dan terbuka untuk umum mulai tanggal 15 November 2025. (Bandingkan dengan benteng Van den Bosch yang butuh bertahun-tahun untuk direnovasi, lalu dibuka untuk umum.) Saat aku bertanya pada Angie kapan dia mau kuajak main ke Ambarawa, dia bilang bahwa Fitri sudah menawarinya untuk dolan bareng, dan Angie menjawab, "Besok Desember ya? Hari Minggu pertama, setelah gajian." 😉

 


 

 

Minggu 07 Desember 2025

 

Aku, Angie, dan Fitri menuju dolan ke Fort Willem I. Kami janjian untuk bertemu di pom bensin yang terletak di ujung tanjakan Gajahmungkur sekitar pukul 07.20. Dari sana, dua sepeda motor langsung melaju menuju Ambarawa. Cuaca pagi itu cerah -- meski malamnya turun hujan lebat -- sehingga kami sangat bersemangat dalam perjalananan. Aku yang biasanya mudah mengantuk jika duduk di belakang Angie yang sibuk 'bekerja' mengendalikan setang sepeda motor, lol, tumben pagi itu, aku blas tidak merasa mengantuk, meski aku tidak minum kopi sebelumnya.

 

Ternyata setelah direnovasi, lokasi Fort Willem I dengan mudah kami 'temukan', lol. Setelah di pertigaan Bawen kami belok kanan, di traffic light berikutnya, kami belok kiri, ke arah jalan lingkar Ambarawa. Terus susuri jalan tersebut, sampai petunjuk lokasi terlihat. YOU WILL NOT MISS IT as long as you are not sleepy on the way. Haha

 

Btw, menuju pertigaan Bawen, aku sudah melihat banyak pesepeda di sisi kiri jalan. Ada yang naik road bike, mountain bike, hingga folding bike. Sesampai di tempat parkir Fort Willem I yang luas sekali itu, aku baru ngeh kalau para pesepeda itu menuju lokasi benteng peninggalan Belanda ini!

 

Aku, Angie, dan Fitri telah sampai di lokasi sekitar pukul 08.20. Lokasi parkir sudah lumayan terisi berbagai jenis kendaraan. Kekhawatiran bahwa mungkin benteng belum dibuka untuk umum 'sepagi' itu langsung sirna! Ternyata di hari Sabtu dan Minggu, benteng sudah siap dikunjungi pukul 06.00! Aku tidak tahu apakah para pesepeda yang menuju ke benteng juga masuk ke lokasi atau hanya nongkrong-nongkrong di luar, sambil foto-foto.

 

Sekitar pukul 08.35 kami bertiga sudah masuk. Harga tiket di akhir pekan dibanderol Rp. 15.000,00 untuk mereka yang hanya ingin berjalan-jalan di kawasan benteng, sedangkan yang juga ingin masuk ke area di mana ada mobil-mobil jadul dipamerkan, bisa membeli tiket 'terusan' seharga Rp. 23.000,00. Jika berkunjung di hari-hari kerja (Senin - Jumat) harga tiket lebih murah limaribu rupiah.

 


 

Area Fort Willem I jauh lebih luas ketimbang area Fort Van den Bosch. Jika di Fort Van den Bosch, sebelum beli tiket masuk, di area parkir, kita bisa langsung menemukan beberapa warung yang berjualan jajanan. Di Fort Willem I, pengunjung harus masuk lokasi dulu. But don't worry, di dalam bangunan benteng, dengan mudah kita bisa menemukan banyak resto maupun kedai yang berjualan jajanan (snacks maupun makanan 'berat') dan minuman.

 

Kami bertiga meninggalkan lokasi sekitar pukul 12.15. Otw kembali ke Semarang, kami 'mampir' ke satu resto yang bernama Angon Jiwo. Setelah melewati pertigaan Bawen, belok ke arah Semarang. Dari sini, kami langsung mengambil posisi kanan, karena di belokan pertama, kami belok ke arah situ. Aku perhatikan nama jalannya Jl. Menteri Supeno. Resto AJ masih lumayan jauh dari jalan raya, tapi aku tidak sempat menghitung kira-kira berapa, dengan trek naik turun 'menantang' (a.k.a tajam, apalagi bagi yang naik sepeda!) Permukaan jalan yang basah memberi 'kabar' bahwa sebelum kami sampai sana, lokasi ini sudah 'dihujani'. Well, memang langit terlihat gelap, saat memandang ke arah 'bawah' (Ungaran), kami melihat penampakan kabut di kejauhan.

 

Begitu kami sampai di Angon Jiwo, gerimis turun, hingga menderas. Lokasi resto ini cukup terpencil dan 'mblusuk' bagiku, pemandangannya lumayan bagus, dan karena masih terletak di area Bawen, hawanya cukup sejuk, apalagi saat hujan turun. Meski terpencil, tidak berarti resto ini sepi pengunjung lo ya. Saat kami sampai, sudah banyak mobil yang terparkir di tempat parkir, juga banyak sepeda motor. Satu keistimewaan resto yang mengusung konsep ala-ala Bali ini -- menurut Angie -- diners tidak perlu menunggu lama: tak lama setelah kami pesan, pesanan kami telah siap diantarkan. Aku pesan satu porsi nasi ayam taliwang dan wedang lemongrass hangat; Angie pesan satu porsi mie goreng dan wedang lychee tea hangat; sedangkan Fitri pesan satu porsi nasi campur Bali dan wedang uwuh hangat. Harganya? Untuk ketiga macam pesanan ini, kami merogoh kocek Rp. 317.000,00 harga yang cukup sesuai dengan rasa masakannya yang istimewa.

 

Hujan sempat reda sebentar saat kami usai makan siang, seolah memberi kesempatan pada kami bertiga -- juga para diners lain -- untuk foto-foto di halaman luar.

 

Dalam perjalanan pulang, hujan kembali turun mengiringi, sampai masuk kota Ungaran. Setelah meninggalkan gapura Selamat Jalan/Selamat Datang kota Ungaran untuk masuk kota Semarang, kami tidak melihat adanya tanda-tanda hujan telah turun di kawasan ini. Yes! Hujan hanya turun di kawasan Bawen sampai 'downtown' kota Ungaran saja.

 

Perhaps Angie and I will be back to visit this grand Fort Willem I in the near future. Hopefully.

 

PT56 12.51 09 December 2025

N.B.:

Saat berada di dalam benteng, aku mendengar seorang laki-laki paruh baya bercerita tentang beda benteng peninggalan Belanda dan benteng peninggalan Portugis. Sebagai contoh benteng peninggalan Portugis, laki-laki itu menyebut benteng 'pendem' yang ada di Cilacap. Begitu saja aku jadi ingat benteng Van der Wijck yang terletak di Gombong. Kebetulan aku sempat mengunjungi benteng ini bersama Ranz di tahun 2013, saat kami bikepacking dari Solo menuju Purwokerto. Semoga kapan-kapan, aku ada kesempatan mengajak Angie dolan ke Gombong.  

Tuesday, August 05, 2025

Urban Hiking Semarang

 


Accidentally I joined this event, and of course I asked Angie to accompany me.

First, I got this flyer from one WAG I joined -- Kagama Mlampah Semarang. Honestly, I was a bit curious the route, but I did not plan to take part in it. 

A few days later, randomly, I updated the flyer in my WA story. In fact, it attracted a workmate's attention. She asked me whether I will join it. Then, my sister asked me about this too. I answered, "Well, I haven't asked Angie about it yet.

In fact, Angie didn't mind joining it. 😅

On the D day, three of us participated it together. My workmate cancelled it because none of her hubby or her sons could accompany her.

We left from home around 05.20, arrived at the meeting spot 15 minutes later. We directly reregistered ourselves by paying Rp. 5000,00 each of us. The 'hiking' started at 06.00.

On the way, I bumped into 2 (ex) students of mine. They said they already joined UHS events several times, and this was their first event with flat route without climbing hills. You know, Semarang area is divided into two, flat and hilly areas 😁 I assume this particular event on 27 July attracted more than 200 people because the route was friendly enough 😅

Next time, will I join it again? Well, I am not sure 🙃 as I wrote above, I accidentally joined it 😂

Tbis is the map of our walking, from strava






The pictures were taken by Angie.

PT56 14.56 05 August 2025

Monday, July 21, 2025

Sunday Date 20 July 2025

 

FYI, in some cases, I cannot easily move on. Misal, waktu awal tahun ini aku tahu bakal ada film Superman baru yang akan tayang di bioskop, aku sempat excited. Tapi, lalu aku ragu apakah aku akan bisa menikmatinya sebagai tontonan? Aku belum bisa move on dari Superman-nya Christopher Reeve (so I thought) maupun Lois and Clark dengan bintang Dean Cain dan Teri Hatcher. 

So, ketika Superman besutan James Gunn mulai tayang di bioskop Kota Semarang, aku adem ayem saja. Hingga tiba-tiba Angie bertanya, "Ma, don't you wanna watch SUPERMAN?" whaikiiii 😆😆😆

"I am not sure honey. I am in between. I wanna watch it but I am afraid I will not enjoy it if the movie is too 'modern'." Kataku. (maksudku, special effect yang modern akan membuat filmnya nampak tidak real, terlalu utopia! No matter what, imajinasi masa kecilku masih ada: kemungkinan ada Superman di antara kita yang datang dari planet lain itu masih masuk akal." 😆😆😆) 

"Hello Mamaaa. This is 2025! Of course it is MODERN!" Respons Angie 🤪🤪🤪

Well, akhirnya, setelah mempertimbangkan berhari-hari (uhuk!) hari Sabtu 19 Juli aku bilang ke Angie: "Let's watch Superman tomorrow if it is still playing in Semarang." This time, she chose to watch in the cinema located at Queen City Mall. 

Well, I don't expect anything but I just wanna enjoy watching it as entertainment. That's all. And, yes, I had a good time. (Shhhttt, aku terakhir nonton film di bioskop itu tahun 2018! Nknton Bohemian Rhapsody. Hohoho)

After watching the movie, we had late lunch together, then Angie took me to one store located near Simpanglima to buy a new pair of goggles. 

When will I be willing to spend some money again 'only' to watch a movie? lol. Let's wait and see 😄










MS48 18.49 21 July 2025