Showing posts with label Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Cirebon. Show all posts

Wednesday, May 14, 2025

Cirebon 2025

 


Jika tahun lalu, kami 'baru' mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Cirebon di weekend pertama bulan Juli 2025, tahun ini alhamdulillah kami mendapatkan kesempatan yang lebih 'awal': hari Senin 12 Mei 2025 merupakan hari libur Waisak, apalagi diikuti oleh cuti bersama di hari Selasa 13 Mei 2025.

 

Minggu 11 Mei 2025

 

Kami sekeluarga meninggalkan rumah sekitar pukul 08.30 -- honestly, ini gegara aku bangun jam 05.15, rada berat bangun jam 05.00 setelah semalaman susah tertidur, entah karena apa. Tahun lalu kami berangkat pukul 08.10.

 

Perjalanan lancar, kami sampai di rest area km 260B pukul 11.25. suami Riska, adik ragilku, biasa menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Seperti biasa, selain butuh meluruskan kaki, agar tidak terlalu kaku karena duduk di dalam mobil berjam-jam, di rest area ini kami makan siang, bekal yang aku masak di pagi hari: mie goreng, telur dadar dan ayam goreng. Kami melanjutkan perjalanan pukul 12.45.

 

Sekitar pukul 14.00 kami sampai di rumah mbak Tini, (ex) wife of my older brother. Matahari bersinar dengan sangat terik saat itu. Setelah ngobrol-ngobrol selama satu jam, kami menuju pemakaman Kesinengan, untuk 'menengok' makam kakak, dia meninggal tanggal 21 Mei 2019, setelah dirawat di RS Sumber Kasih selama beberapa minggu.

 

Kami sekeluarga sampai di hotel Amaris tempat kami menginap sekitar pukul 15.30. Tidak lama kami check in, Angie mengeluh kalau perutnya melilit-lilit kelaparan. Kami (aku, Angie, dan dua keponakan) pun keluar berjalan kaki. Tepat di seberang jalan hotel, ada sebuah jalan yang jika di sore hari dipenuhi dengan para 'street food seller'; ada berbagai jenis jajanan ditawarkan, dimulai dari kebab, sempol, siomay, fried chicken, sate taichan, mie ayam, bakso, hingga berbagai jenis minuman.

 

Satu 'stand' menawarkan chicken steak, sate taichan, gohyong, sempol, dll, aku menawari kedua keponakan: mereka mau. Di sini, kami berhenti membeli 2 porsi chicken steak, satu porsi sate taichan. Sementara menunggu pesanan kami siap, kami berempat melanjutkan berjalan. Di satu stand yang berjualan kebab, Angie berhenti, membeli satu porsi. Lalu, kami masuk ke minimarket yang terletak tak jauh dari stand kebab: aku perlu membeli air mineral karena hotel hanya menyediakan dua botol kecil air mineral. (kami belum lihat bahwa di tiap lantai hotel ada dispenser panas dan dingin.)

 

Setelah balik ke hotel, kami berempat makan 'cemilan' yang kami beli di halaman samping hotel: di sana ada beberapa meja dimana di sekitar satu meja disediakan 4 buah kursi. Usai makan, kami baru kembali ke kamar kami yang terletak di lantai 2.

 

Sekitar pukul 18.45 kami sekeluarga ke luar lagi untuk makan malam dengan menu ayam goreng + nasi + sambal + lalapan. Angie sendiri memilih lele goreng. Untuk 2 keponakan, mereka kembali memesan chicken steak! :D

 

Senin 12 Mei 2025

 

Aku membangunkan Angie pukul 05.50, mengajaknya berjalan-jalan ke alun-alun Kejaksan yang terletak kuranb lebih hanya 700 meter. Selain kami berdua, Nunuk dan Rani ngikut kami. Adek yang biasanya suka ngikut pagi itu tidak ikut karena: sendal (baru) yang dia pakai justru melukai jari-jari kakinya karena tergesek-gesek.

 

Sekitar pukul 07.00 kami sudah kembali ke hotel. Kami berempat ga perlu naik ke lantai 2 karena kami langsung sarapan di dining room di lantai 1. pukul 08.15 kami ke lantai 2, mandi dan packing.

 

Pukul 09.45 kami check out, langsung menuju ke arah Kabupaten Kuningan. Iya, aku mengajak keluarga untuk berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati, yang terletak sekitar 27 km dari hotel tempat kami menginap. Otw ini -- selama kurang lebih 1 jam -- aku beberapa kali 'diganggu' hasrat kebelet pipis, mungkin sampai 5 kali! Penyebab awalnya adalah sebelum meninggalkan hotel, di dining room, aku tergoda untuk meinum segelas jus jeruk yang disediakan untuk para tamu hotel. Kemudian, ketika mampir di minimarket yang kedua -- aku pipis yang kedua kali ini berarti -- aku tergoda untuk membeli iced cappuccino di counter kopi yang tersedia di minimarket itu. Kebeletnya ini bener-benar tidak bisa aku tahan!

 

Kami sampai di Gedung Perundingan Linggarjati sekitar pukul 11.15. untuk masuk, kami membeli 5 buat tiket untuk dewasa, harga Rp. 10.000,00 per tiket, dan 2 buah tiket untuk anak-anak harga Rp. 5000,00. kami stay di sini sekitar satu jam. Dengan membeli tiket seharga Rp. 60.000,00, kami langsung didampingi oleh seorang guide yang menjelaskan apa-apa yang perlu dijelaskan.

 

Otw balik ke arah kota Cirebon, kami mampir di satu tempat makan yang mengusung tema "resto mewah' alias mepet sawah. Sebagian dari kami memesan ayam bakar, Rani keponakan memesan ayam goreng srundeng, Angie memesan rice bowl dengan lauk udang dan cumi, mas Ari memesan ikan nila bakar. Meski kami memesan beberapa jenis, kami tidak terlalu menunggu lama. Nampaknya resto ini masih baru, jadi belum banyak pengunjungnya.

 

Mulai pukul 14.00 kami meninggalkan area Linggarjati untuk kembali ke arah Cirebon, lalu masuk ke jalan tol. Otw balik ke Semarang, kami sempat mampir di rest area yang terletak di Batang. Kali ini, aku sama sekali tidak diganggu hasrat kebelet pipis, kecuali saat membeli bensin di satu pom bensin, masih di kawasan Kuningan.

 

Pukul 18.30 kami mampir ke warung mie ayam bakso Jaya**** untuk makan malam. Aku + Angie + Adek memesan bakso 'kosongan' sedangkan yang lain memesan mie ayam.

 

Alhamdulillah pukul 19.20 kami sudah sampai rumah. Next time kami sekeluarga dolan bareng lagi. insyaAllah kami diberi umur panjang, kesehatan yang prima, rezeki yang tak terhingga, kondisi negara yang aman tentram damai sentosa. Aamiin YRA.

 

PT56 13.39 14 Mei 2025

 

Tuesday, July 09, 2024

Cirebon 2024 Day 2

 



Minggu 7 Juli 2024

 

Kali ini aku yang memilih hotel untuk menginap (2 tahun kemarin Noek yang memilih), dan aku memilih hotel yang juga menawarkan sarapan. (3 kamar Rp. 810.000,00) so, pagi ini kami ga perlu buru-buru bangun untuk berjalan kemana begitu untuk mencari sarapan.

 

Pukul 07.15 kami bertujuh turun ke lantai 1 untuk sarapan bersama. Jika sehari sebelumnya, kami ditanya mau sarapan apa (ada 3 pilihan: nasi goreng, nasi soto, aku ga ingat yang satu lagi apa, lol), kami semua memilih nasi goreng kecuali Riz yang memilih nasi soto. Ternyata setelah kami sampai di 'dining room', hanya ada nasi goreng yang ditata a la buffet. Untunglah nasi gorengnya enak! Untuk minum, aku mengambil kopi hitam no sugar, dan kopi tetap terasa enak.

 

Pukul 09.30 kami check-out. Aku mengajak dolan ke Goa Sunyaragi. Dengan ada google map, kami tidak perlu penunjuk jalan seperti mbak Tien sebenarnya. Tahun 2016 lalu waktu aku dan para gadis pelor dolan ke Cirebon, Ranz yang membaca google map. Kali ini, aku yang membacanya.

 

To our surprise, tempat kami parkir mobil dan pintu masuknya nampak berbeda dari saat aku ke sana di tahun 2016. Noek dan Angie yang juga sudah pernah ke sini bilang hal yang sama. Dulu itu, dari tempat aku dkk parkir sepeda, kami harus berjalan lumayan jauh, di mana banyak orang menjajakan minuman dan jajanan. Kali ini tidak ada. Mungkin pandemi telah mengubahnya.

 

Of course, Goa Sunyaragi is very worth visiting! Sayangnya entah apa yang ada di benakku saat ditawari apakah kami butuh ditemani tour guide, aku hanya menjawab, "Terima kasih." harusnya aku terima saja ya? Lha yang di tahun 2016 lalu aku dkk juga tidak pakai tour guide je. Ha ha … Terrible of me!

 




 

Pukul 11.30 kami sudah sampai di RM Nasi Jamblang Bu Nur. Dan seperti biasa, kami kudu ngantri untuk mengambil makan. Jika tahun lalu kami sempat dua kali makan di situ, kali ini cukup sekali saja. Setahun sekali ngantri mau ambil makan di nasi Jamblang gapapa lah.

 

Sekitar pukul 12.30 kami sudah meninggalkan RM itu dan menuju ke arah Kanci. Sekitar pukul 15.00 kami telah sampai di rest area KM 379 A Batang. Mumpung ada program promo SB, aku mengajak Angie ke café yang sedang dimusuhi banyak orang itu, lol. Kebetulan mas Ari -- suami Riz yang nyetir -- mengantuk, jadi kami istirahat lumayan lama di sini.

 

Alhamdulillah pukul 17.25 kami sudah sampai rumah.

 

Guess what? Aku sudah mulai berburu mau menginap di hotel mana tahun depan di Cirebon? Lol. Kebiasaan, kalau pulang dari dolan somewhere, bawaannya pengen dolan lagi! Lol.

 

PT56 15.37 08/07/2024

 

Cirebon 2024 Day 1

 


Finally, the time for our annual trip to Cirebon has come! Horraayyy.

 

Jika tahun 2023 kami berkesempatan dolan ke Cirebon pada tanggal 1 - 2 Juni 2023, tahun ini kami baru mendapatkan kesempatan itu pada tanggal 6 - 7 Juli 2024. 'Kebetulan' tahun ini aku selalu mendapatkan jadual mengajar di hari Sabtu, dan mencari guru pengganti di hari Sabtu itu tidak mudah, jadi, ya menunggu saat aku mendapatkan term break. 2 keponakan malah senang karena ini juga saat mereka libur naik kelas. Pulang dari Cirebon lelah, keesokan hari tidak perlu memaksa diri berangkat sekolah.

 

Sabtu 6 Juli 2024

 

Aku bangun jam 5 pagi untuk mempersiapkan sarapan dan bekal yang akan kami bawa dalam perjalanan. Menu? Biasa saja: mie goreng + ayam goreng + telur dadar.

 

Kami meninggalkan rumah pukul 08.10. Baru duduk di kursi, aku sudah diserang rasa kantuk karena semalam rada susah tertidur. Malam-malam sebelumnya juga parah kualitas tidurku. Oh ya, as usual, aku dan Angie duduk di kursi paling belakang. Mengetahui bahwa kakiku butuh space yang lebih longgar, sebenarnya Angie menyarankanku duduk di kursi baris tengah, gantinya Rani, keponakanku yang besar, duduk di belakang bareng Angie. Tapi, aku pikir kalau aku pengen ngobrol dengan Angie dalam perjalanan bakal susah. Ternyata? Mataku nyaris ga bisa melek, lol. Meski ini tidak berarti aku bisa tidur nyenyak dalam perjalanan loh ya.

 


 

Kami sampai di rest area km 260B Banjaratma sekitar pukul 11.15. saatnya mampir ke toilet, meluruskan kaki, dan makan bekal. Aku lihat di rest area ini sudah ada gerai fast food yang tahun lalu belum ada, juga sudah ada Starb***s! namun aku sudah membawa bekal cappuccino yang kumasukkan dalam tumbler dari rumah. So, aku tetap merasa tidak perlu mampir ngopi di SB. Dengan adanya kedua gerai itu, rest area nampak kian menarik dilihat.

 

Sepanjang perjalanan, langit berwarna biru cerah sekali. Sementara itu, kata mbak Tien, Cirebon diguyur hujan deras sejak jam 2 dini hari. Kontras banget!

 

Kami melanjutkan perjalanan pukul 12.30.

 

Kami keluar di gerbang tol Kanci. Dari arah sini, kami masuk Cirebon, dan langit nampak cerah. Namun, tak lama setelah kami masuk area kota, langit dengan cepat berubah nampak berawan dan kelabu. Sayangnya aku tidak memperhatikan jam berapa kami sampai area perumahan Adi Dharma, Tangkil, dimana rumah mbak Tien terletak. Kami tidak lama di rumah yang sempat ditinggali kakak selama 7 tahunan sebelum meninggal di bulan Mei 2019. Mbak Tien sendiri yang menawari kami langsung ke makam, khawatir jika hujan turun lagi.

 

Kebetulan di jalan menuju makam Kasinengan ada orang yang sedang punya 'hajat', mbak Tien terpaksa mencari jalan lain untuk menuju ke makam. Untunglah meski jalan di situ cukup sempit (bakal susah jika ada 2 mobil berpapasan.) masih cukup bagi mobil yang kami tumpangi untuk sampai di makam. Di makam pun kami ga lama-lama. Kami membaca surah Yaasiin dengan buru-buru karena gerimis sudah turun lagi.

 



 

Dari makam, mbak Tien kembali berada di depan untuk mengantar kami ke hotel yang sudah kami buking. P** hotel terletak di Jl. Dr. Wahidin. Saat menuju hotel ini, kami baru ngeh kalau mall Grage terletak tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Ini mall yang cukup nostalgik bagi aku, adik-adik, dan juga Angie karena zaman dulu itu, setiap kami dolan ke Cirebon, kakak mengajak kami jalan-jalan ke situ. Bahkan di tahun 2008 sebelum kakak kena stroke di bulan April-Mei 2009, aku dan Angie beberapa kali berenang di kolam renang di belakang mall.

 

Sesampai hotel, kami check-in, lalu mbak Tien pamit pulang.

 

Malamnya kami keluar sekitar pukul 18.40 untuk mencari makan malam. Adek memilih untuk makan malam di Grage mall. Ya sudah kami ke sana. Aku yang tidak biasa makan malam, malam ini membiarkan Angie memilih mau makan apa, dan akan kami makan bersama. Angie memilih bakmi Jawa rebus.

 

Kami sudah kembali ke hotel sebelum pukul 21.00.

 


To be continued.

Wednesday, June 07, 2023

Ke Cirebon Juni 2023

 

di gerbang masuk Keraton Keprabonan

Ini adalah kunjungan kami sekeluarga yang ketiga setelah kakak / pakdenya Angie meninggal di tanggal 21 Mei 2019.

 

Kami sengaja tidak melakukan ini di saat booming hari Lebaran karena pasti jalan tol penuh kendaraan orang yang sedang mudik, meski mungkin arah kami berangkat ke Cirebon dan pulang ke Semarang berkebalikan dari mereka yang mudik, yang sebagian besar datang dari arah DKI Jakarta dan sekitarnya ke arah Jawa Tengah / Jawa Timur.

 

Kamis 1 Juni 2023

 

Kebetulan tanggal 1 Juni adalah hari libur Nasional -- hari lahir Pancasila -- dan di hari Jumat 2 Juni 2023 dipilih oleh pemerintah sebagai cuti bersama Waisak. Kami sekeluarga memilih 2 tanggal ini untuk ke Cirebon.

 

Kami berangkat dari Semarang lebih dari pukul 09.00 karena Rani -- keponakan terbesar, anak Riska, adik ragil -- bertugas menjadi petugas upacara hari lahir Pancasila di sekolah. Rani duduk di bangku kelas 6 SD, sehingga ini adalah tugas yang bakal memorable karena merupakan tugasnya yang terakhir di SD Bojong Salaman.

 

Kami sampai di rest area 260 B Banjaratma Brebes sekitar pukul 11.30. Seperti tahun lalu, kami mampir untuk ke toilet, jalan-jalan di dalam area eks Pabrik Gula, dan makan siang. Meski ini termasuk long weekend, tidak nampak penumpukan pengunjung di rest area ini.

 

Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Cirebon.  Seperti biasa, kami langsung menuju Tangkil, tempat tinggal mbak Tien. Kali ini kami sampai lebih sore ketimbang tahun lalu, karena kami juga berangkat dari Semarang lebih siang ketimbang tahun lalu. Maka, jika tahun lalu setelah kami sampai Tangkil, ngobrol sebentar, kemudian mbak Tien mengantar kami ke hotel yang telah kami booking, baru sorenya berangkat ke makam Kasinengan, kali ini, dari Tangkil, kami langsung ke makam. Dari makam, baru kami check-in hotel.

 

Setelah sampai di hotel yang terletak di Jl. Kusnan - Kesenden, mbak Tien bilang dia dan almarhum kakak pernah menginap di hotel ini saat rumah kebanjiran untuk beberapa hari, sekian tahun yang lalu. Karena ada yang harus dia lakukan, mbak Tien tidak stay lama, dia buru-buru pulang.

 

Selepas maghrib, kami keluar untuk mencari makan malam. As usual, kami menuju ke RM Nasi Jamblang Ibu Nur. Tidak jauh kami meninggalkan hotel, ternyata kami 'terjebak' di satu daerah dimana di situ banyak sekali orang yang berjualan berbagai jenis makanan. Lah, tahu gitu, ga perlu kami pergi jauh-jauh, cukup keluar jalan kaki, cari makan di daerah situ. Meskipun begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan, dengan catatan, jika RM Ibu Nur tutup, kami balik ke hotel untuk makan di sini.

 


Ternyata RM yang kami tuju masih buka. Untuk mengambil makan pun, kami tetap harus antri. And … to our disappointment -- meski sudah bisa kuprakirakan -- persediaan lauk pauk jelas tidak selengkap jika kami datang di pagi/siang hari. Karena tidak lagi ada ayam goreng, Adek memilih tidak mau makan. Kata ibunya, kalau sedang perjalanan jauh begini, Adek memang lebih memilih ngemil ketimbang makan besar.

 

Maka pulangnya, kami tidak langsung ke hotel, kami berhenti di satu minimarket yang terletak di kawasan ramai yang jualan berbagai jenis makanan yang kami lewati dari hotel tadi, untuk mencari ayam goreng untuk makan Adek, lol. Dan, ternyata, setelah makan sambal di Ibu Nur, lambungnya Angie bermasalah. Angie pun mengajak cari cemilan untuk 'menyelamatkan' lambung.

 

Malam itu kami berdua berjalan lumayan jauh. Setelah Angie beli kebab, kami berjalan ke arah alun-alun Kejaksan, aku melihat ada ATM BC* di sana. I needed some cash. Setelah itu, mampir ke satu mini market, aku kebelet pipis, lol, dan Angie butuh beli minum untuk dia minum setelah ngemil kebab.

 

Lebih dari pukul 21.00 kami baru balik ke hotel.

 

Jumat 2 Juni 2023

 

Sekitar jam 6 aku dan Angie masih leyeh-leyeh di dalam kamar, adik-adikku dan kedua keponakan sudah pamit mau jalan-jalan untuk mencari sarapan. Waktu aku tanya apa Angie ga kepengen jalan-jalan ke Alun-alun Kejaksan di pagi hari, sambil berburu sarapan, dia ga mau. Mager betul dia, lol.

 

Jam tujuh, aku mengambil inisiatif untuk mandi dan mulai packing, agar Angie ga kian lama mager, lol. Kami sekeluarga memutuskan untuk dolan ke keraton, sebelum meninggalkan Cirebon.

 

lontong sayur Rp. 12.000,00

bakwannya enaaak, apalagi masih hangat, satu seribu rupiah

bubur ayamnya juga enak, Rp. 12.000,00

Jam delapan aku dan Angie ke luar untuk cari sarapan. Tak jauh dari hotel, aku lihat ada rumah makan yang menawarkan bubur ayam, di lapak yang sama, ada penjual lain yang menawarkan lontong sayur. Ternyata Angie pengen lontong sayur. Jadi, kami sarapan satu porsi bubur ayam dan satu porsi lontong sayur. Untuk minum, Angie memilih teh panas manis, aku memilih es jeruk peras.

 

Jam setengah 9 kami sudah balik ke hotel, dan packing. Jam sembilan kami sudah check out.

 

Tahun 2016 dulu aku dan para gadis pelor dolan ke Keraton Kasepuhan. Aku tahu ada satu keraton lagi, yakni Keraton Kanoman. Namun, ternyata ketika googling, di Cirebon itu ada 4 keraton! Selain nama dua keraton yang sudah kusebut, masih ada 2 keraton lagi, yakni keraton Keprabonan dan keraton Kacirebonan. Secara iseng, aku memilih untuk berkunjung ke Keraton Keprabonan terlebih dahulu.

 

gang sempit menuju bangunan Keraton Keprabonan

 

To our shock, ternyata rada susah menemukan lokasi Keraton Keprabonan. Bangunan keraton satu ini terletak 'agak tersembunyi'; untung waktu lewat area pasar Kanoman, aku sempat menoleh ke arah kiri, dan melihat ada gang sempit menuju satu lokasi dan aku melihat tulisan "KERATON KEPRABONAN." nah lo. Maka, kami segera mencari lokasi untuk memarkirkan mobil, dan berjalan kaki menuju Keraton Keprabonan.

 

Yang kaget ga hanya kami yang 'dewasa' karena Adek pun heran; bayangannya keraton sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya, pastinya satu bangunan yang besar, megah, dan (mungkin) mewah. Bangunan Keraton Keprabonan jauh dari tiga hal yang ada di benak Adek.

 

Saat kami datang, seorang abdi dalem (so I thought) menyambut kami dengan sangat ramah; seolah-olah saking jarangnya orang berpikir untuk berkunjung ke Keraton Keprabonan, maka kedatangan kami adalah satu bukti bahwa Keraton Keprabonan tetap dianggap satu lokasi penting untuk dikunjungi.

 

Dari Keraton Keprabonan, aku putuskan kami langsung saja ke Keraton Kasepuhan, tidak perlu ke Keraton Kanoman maupun Kacirebonan. Maybe next time. Jika masuk Keraton Keprabonan gratis, untuk masuk Keraton Kasepuhan ada 3 jenis harga tiket masuk. Jika hanya ingin ke keraton, harga tiket Rp. 15.000,00. jika ingin sekaligus ke museum, harga tiket Rp. 20.000,00. yang satu lagi, aku lupa, lol. Adek memilih untuk ke museum juga selain ke keraton.

 

Jika aku mood, next time mungkin aku akan menulis penjelasan yang diberikan oleh guide yang menemani kami tour di dalam museum dan keraton Kasepuhan.

 

Kami keluar dari keraton jam 12.00. dan, kami memarkir mobil tak jauh dari masjid. Ini membuat mobil kami 'terjebak' tidak bisa keluar, sehingga kami terpaksa menunggu shalat Jumat selesai dilaksanakan.

 




 

Sekitar pukul 13.00 kami baru bisa meninggalkan lokasi. Aku kembali mengajak ke RM Ibu Nur karena belum puas makan di sana semalam, lol, meski untuk itu kami harus ngantri. Kali ini kami kudu ngantri dari sejak dari luar gedung! Hoho … Baru terasa long weekend ini: RM Nasi Jamblang dikunjungi banyak orang dari luar kota Cirebon. :)

 

Kami usai makan sekitar pukul 14.15. dan karena kami anggap sudah terlalu sore, sangat terpaksa kami tidak bisa mampir ke Tangkil lagi. Kami langsung menuju luar kota, area Kanci untuk masuk jalan tol.

 

Kami mampir di satu rest area untuk pipis. Setelah itu langsung menuju Semarang.

 

Semoga kami semua ada umur panjang, sehingga tahun depan kami semua bisa dolan ke Cirebon lagi. Amin.

 

PT56 14.15 07.06.2023

 

Tuesday, May 24, 2022

Ke Cirebon Mei 2022

 

di depan rumah Tangkil

Setelah 3 tahun berlalu, aku dan keluarga tidak bisa dolan ke Cirebon -- disebabkan pandemi covid 19 tentu saja -- akhirnya bulan Mei 2022 ini kami sekeluarga bisa meluangkan waktu untuk kesana; tentu saja agenda utama kami menengok makam kakak tercinta, Yusdi Podungge.

 

Sabtu 14 Mei 2022

 

Pagi-pagi aku menyiapkan bekal untuk kita santap di jalan; menu yang mudah saja dan semua suka: mie goreng, telur dadar dan ayam goreng.

 

Sekitar pukul 08.10 kami sekeluarga meninggalkan rumah. Satu hal yang lupa kami lakukan: membiarkan satu lampu di dalam rumah -- misal di ruang tengah -- untuk tetap menyala agar tidak ketahuan bahwa rumah kosong. Tapi, 'untungnya' Sabtu malam itu ada acara syawalan yang diselenggarakan di depan rumah persis. Jadi lumayan 'aman' lah untuk malam itu. Dan, beda dengan saat kami ke Cirebon tahun 2019, kami menginap 2 malam disana, kali ini kami hanya menginap disana semalam.

 

Alhamdulillah perjalanan kami lancar. Kami sengaja mampir di satu rest area, yang dikenal sebagai Rest Area 260B Heritage-Banjaratma. Selain butuh meluruskan kaki, ke toilet, yang paling utama -- bagiku dan Angie -- adalah foto-foto. Yeay. Lol. Sayangnya dua keponakan sedang kurang enak badan, jadi mereka tidak ikut jalan-jalan di bagunan eks pabrik gula itu. Kami juga memakan bekal yang kami bawa disini.

 



  

Setelah merasa cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Cirebon. Karena tak satu pun dari kami yang mengenal jalan di Cirebon, lol, setelah keluar dari jalan tol, dengan menggunakan bantuan gmap, pelan-pelan kami mencari arah menuju tempat tinggal (eks) istri kakak di daerah Tangkil.

 

You know how I felt? Meski aku termasuk jarang menengok kakak di Cirebon -- jika dibandingkan dengan dua adikku -- entah mengapa aku merasa seperti going back home. Apalagi setelah sampai rumah yang ditinggali kakak dan istrinya -- setelah rumahnya sendiri dikontrakkan dan kemudian dijual -- aku benar-benar merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Tapi, kedua adikku memutuskan tidak ingin merepotkan mbak Tien -- nama (eks) kakak -- maka kami malam itu tidak menginap disana, kami telah booking 3 kamar hotel yang terletak di daerah Jl. Siliwangi.

 

Setelah beramah-tamah sebentar, mbak Tien mengantar kami ke hotel tempat kami menginap agar kami bisa beristirahat dan mandi.

 

Sekitar pukul 16.00 mbak Tien menjemput kami dan menemani kami ke makam Kasinengan. Dari sana, kami ke RM nasi jamblang Ibu Nur. Masih bernuansa lebaran, jadi ya maklum jika situasinya ramai. Tapi tak seramai saat kami kesini di tahun 2019, yang antri ambil makan sampai mengular keluar gedung, hingga kami pindah ke nasi jamblang di Pelabuhan.

 



 

 

Usai makan sore, kami ke alun-alun Kejaksan, karena dua keponakan pingin bermain-main. Nah, kesempatan aku dan Angie berfoto-foto. Hihihi … Tapi kami tidak lama disini. Sekitar pukul 18.00 mbak Tien sudah mengantar kami balik ke hotel.

 

Minggu 15 Mei 2022

 

Sekitar pukul 06.30 mbak Tien menjemput kami dan mengantar kami ke stadion BIMA, dimana biasanya orang-orang Cirebon berolahraga -- jogging di track yang mengitari stadion -- atau sekalian belanja karena disana banyak juga orang-orang berjualan berbagai macam barang plus sarapan.

 

Pagi itu mbak Tien mengajak sarapan di satu warung lesehan yang berjualan nasi pecel, lontong opor dan nasi gudeg. Aku memilih menu nasi pecel, Riska pesan nasi gudeg, yang lain lontong opor, termasuk Angie.

 

Usai sarapan dan jalan-jalan di track jogging secukupnya, sekitar pukul 08.00 kami pulang ke hotel, untuk istirahat, mandi, dan packing.

 

 

Pukul 12.00 kami sudah meluncur ke arah Tangkil, pamitan dengan mbak Tien. Pukul 14.00 kami sudah otw ke Semarang, setelah makan siang di satu rumah makan sebelum masuk jalan tol.

 

Otw, kami mampir di rest area Gringsing Kendal untuk 'buang hajat' di toilet. :)

 

Menjelang maghrib kami telah sampai rumah, safe and sound. Alhamdulillah.

 

PT56 11.51 24/05/2022

 

Thursday, August 22, 2019

Sebagian foto-foto waktu ke Cirebon, Juni 2019

 Ketimbang ilang tidak berbekas, lol, aku unggah foto-foto di bawah ini, di sini 😎

























Thursday, June 13, 2019

Idul Fitri Syawal 1440 H / Juni 2019

Untuk pertama kali dalam hidupku -- sependek ingatan yang kusimpan -- tahun ini keluarga Podungge Semarang memiliki acara keluarga: pergi ke Cirebon. Bukan untuk menengok kakakku yang sakit seperti yang kulakukan di postingan ini, namun untuk "nyekar" kata orang Jawa, alias menengok makam. Ya, kakak yang kutengok pada tanggal 17 - 19 Mei 2019 akhirnya meninggal pada hari Selasa 21 Mei 2019 pukul 13.44 WIB. :(

Latar belakang:

Kedua orangtuaku adalah sepupu -- mereka berdua menyandang nama 'fam' yang sama, yakni Podungge. Ayah konon telah merantau ke Semarang semenjak beliau lulus SD, mengikuti kakakknya yang waktu itu tinggal di Semarang. Mungkin setelah tinggal dan bekerja di Semarang selama kurang lebih 10 tahun, Ayah kembali ke Gorontalo untuk menikah. (kedua orangtuaku tidak saling kenal sebelum menikah itu.) setelah menikah, Ibu diboyong ke Semarang. Semua anak-anaknya lahir di Semarang. Semenjak mereka berdua menikah dan tinggal di Semarang, mereka tidak membiasakan 'mudik' ke Gorontalo di hari lebaran.

Waktu aku masih kecil dulu, aku ingat kadang kedua orangtua mengajak menghadiri satu acara yang diselenggarakan oleh dan untuk orang-orang Gorontalo yang tinggal di Semarang. Entah, mulai kapan acara gathering itu berhenti jadi tak ada lagi acara silaturrahmi antar orang-orang berdarah Gorontalo di Semarang. Tapi, saya masih ingat di tahun 1986 aku dan kakak adik diajak orangtua untuk berkunjung ke rumah sebuah keluarga keluarga Gorontalo waktu lebaran. Tak lama kemudian aku melanjutkan studi di Jogja. Tak ada lagi acara kunjung mengunjungi seperti ini lagi.

Lebaran bagi kami sekeluarga ya shalat Ied di lapangan, kemudian pulang ke rumah, saling salam-salaman (tidak ada ritual sungkeman di budaya Gorontalo), kemudian makan ketupat opor plus sambal goreng ati masakan Ibu. Setelah itu, paling nongkrong di teras menonton orang-orang lalu lalang mengenakan baju baru, satu hal yang dulu tidak pernah kupahami mengapa orang-orang lain nampak sibuk di hari lebaran sementara keluarga kami tidak. :)

6 Juni 2019

Setelah 'nyekar' di makam Ayah Ibu dan kakak pertama (yang tidak pernah kami kenal karena kakak ini meninggal di usia lima bulan karena muntaber), kami sekeluarga bersiap-siap berangkat ke Cirebon. Aku, Angie, Nunuk, (adikku persis) dan Riska (adik bungsu) bersama suami dan kedua anaknya. Kita berangkat ke Cirebon setelah berkunjung ke rumah tetangga di depan rumah, yang biasanya berkunjung ke rumah di hari pertama lebaran tatkala Ibu masih sugeng.

Kita lewat jalan tol buatan Pak Jokowi setelah kita keluar dari Mangkang. Jalan tol yang semula dibuat one way dari arah Jakarta menuju Semarang untuk memberi ruang luas pada para pemudik, kali itu sudah buka untuk dua arah. Perjalanan lancar, kita sempat istirahat di satu rest area yang kemungkinan terletak di daerah Tegal.

Kita sampai di rumah kakak ipar sekitar pukul 15.00.

7 Juni 2019

Pagi-pagi aku sempat mengajak dua keponakan jalan-jalan ke sawah (maklum, orang kota, lol) ditemani Nunuk dan Angie. Setelah pulang ke rumah, mandi, kita baru siap-siap nyekar.


Kita berangkat ke makam Kasinengan sekitar pukul 09.30.

Dari sana, istri kakakku mengajak dolan ke satu destinasi wisata bernama 'Waterland'. Waktu kesini aku baru ngeh bahwa Laksamana Cheng Ho konon juga mampir di Cirebon ketika berlayar ke Nusantara, mungkin sekitar abad 14, tak hanya mampir di Semarang, atau Surabaya.

Melihat sekilas 'Waterland' ini, aku ingat BJBR alias Bee Jay Bakau Resort yang kukunjungi bersama Ranz di Probolinggo Desember 2017. BJBR merupakan area hutan bakau / mangrove di pinggir laut. Selain berwisata menjelajah hutan bakau, pihak pengelola juga membangun cottage-cottage di atas air laut, jembatan panjang di atas laut dimana pengunjung bisa berjalan-jalan di atasnya, sembari berfoto di spot-spot yang dibuat instagrammable. Ada juga kolam yang dibuat sedemikian rupa sehingga ketika bermain air disini seolah-olah main di pantai, dengan air tawar tentu saja.






Waterland tidak ada kawasan bakaunya, namun ada cottage-cottage yang dibangun di atas air laut, selain ada restauran yang berbentuk kapal dan ada nama CHENG HO di satu dinding luar kapal. Ada dua kolam renang yang disediakan untuk mereka yang ingin bermain air . Namun karena kita tidak membawa baju berenang, kita tidak nyemplung. Selain itu, ada beberapa waha permainan sederhana untuk menyenangkan anak-anak. Tiket masuk sebesar Rp. 60.000,00 (mungkin kena 'tuslah' lebaran ya?) terasa cukup mahal jika kita kesini tanpa berenang. :D

Menjelang pukul 13.30 kita sudah kembali.



Sorenya kita sempat ke Pantai Kejawanan untuk menonton sunset. Mengapa aku memilih pantai ini karena beberapa bulan lalu kakakku sempat dibawa kesini untuk dimandikan, konon air yang ada di pantai ini bisa dipakai untuk mengobati penyakit kulit yang diderita kakakku. Nunuk yang waktu itu sedang berada di Cirebon, ikut menemani ke pantai. Katanya setelah dimandikan di pantai ini, penyakit kulit kakakku terlihat kian parah, melepuh. Tapi, setelah itu, luka-lukanya 'lepas', hingga istrinya waktu itu, konon tinggal mengusap seluruh kulit tubuhnya dengan baby oil.

8 Juni 2019

Setelah mandi dan packing, kita meninggalkan rumah kakak iparku sekitar pukul 08.00. Dia mengajak kita sarapan di RM Jamblang Bu Nur. Tapi, sesampai sana, ternyata antrian para pengunjung yang ingin makan disana mengular hingga keluar. :( Duh, padahal kita ingin segera balik ke Semarang, karena ada info yang beredar bahwa jalan tol akan dibuat one way menuju Jakarta untuk memberi ruang yang lebih lapang pada mereka yang ingin kembali ke ibu kota.

Kita tidak jadi makan di Bu Nur; kita pindah ke RM Jamblang Pelabuhan. Ternyata, sesampai sini, kita juga kudu ngantri untuk mengambil makan. :D well, maklum, lebaran yaaa. baru kali ini kita berlebaran di kota lain, bukan di Semarang. :)

Sebelum pukul 10.00 kita sudah berada di jalan menuju Semarang.

N.B.:

Waktu kakak (menjelang) meninggal, adikku sempat bertanya apakah kita akan memakamkan jenazahnya di Cirebon atau di Semarang. Adikku sempat kepikiran untuk memakamkan di Semarang. Aku pikir istrinya justru yang memiliki hak penuh untuk menentukan dimakamkan di Semarang atau Cirebon. Ketika istrinya tahu kita tidak keberatan, maka proses pemakamannya pun cepat. Aku bilang ke adik-adikku kita akan punya alasan untuk menjaga silaturrahmi dengan kakak ipar ketika kita akan menengok makam.

N.B. (2):

Jika aku mendapatkan mood yang bagus, mungkin aku akan menulis sedikit khusus tentang kakakku, Yusdi Podungge.

13.31 13-Juni-2019