Monday, February 05, 2007

Raising Angie


“Pada waktu Angie berusia berapakah kamu merasakan paling sulit membesarkannya?”
Ini adalah satu pertanyaan seorang rekan kerja kepadaku hari Sabtu siang tatkala aku sedang mengerjakan monthly report di ruang guru.

Dan aku sedikit bengong mendengarnya karena teman satu ini tahu betul betapa dekat hubunganku dengan Angie—dan kamu tahu, dia memberi nama anaknya Anggun, dan memberinya nickname Angie, sama persis dengan nickname my Lovely Star, yang ternyata pernah dikomplain oleh Angie anak semata wayangku itu. LOL. Satu alasan jelas, dia tidak mau diduakan. “Emang ga ada nickname lain apa kok pilih nick itu? Itu kan milik Angie?” komplainnya padaku. LOL. Aku jawab, “Well, honey, to me it shows that that workmate of mine adores you.” Huehehehehe ... dan Angie pun ternyata tetap saja bersungut-sungut. Lebih lanjut aku bilang, “She wants her daughter as sweet and nice as you, don’t you realize that?” Angie hanya menatapku dengan sorot mata heran. Oh goodness, she doesn’t realize that she is very sweet and nice? And of course it is because HER MOTHER—ME IN THIS CASE LOL—IS ALSO VERY SWEET AND NICE? Hahahaha ...

Mbak Icha Koraag—seorang teman milis—menjulukiku “Si Nana yang nafasnya selalu penuh cinta”. Kan? Karena aku membesarkan Angie dengan penuh cinta—meskipun bukan berarti aku tidak pernah memarahinya, dengan catatan kalau aku marah aku tidak pernah berteriak-teriak ataupun mengomelinya, kayak kelebihan energi aja LOL—tentu Angie pun tumbuh menjadi anak yang penuh cinta kepadaku.

“Well, you know, my communication with Angie is very ok and I think that’s the basic way to have a good relationship. Therefore, I don’t think I have undergone difficulty to raise Angie,” ini jawabanku kepada rekan kerjaku itu.

Belajar dari pengalamanku sebagai anak juga merupakan salah satu kunci aku memiliki hubungan mulus dengan Angie. Aku tidak pernah ngejudge dia buruk hanya karena dia suka lingering at school setelah pulang sekolah, ataupun main ke rumah Nana—sobatnya yang punya nick sama persis denganku, betapa orang di dunia ini memang kurang kreatif yah? LOL. Sewaktu duduk di bangku SMP dan SMA aku dulu juga suka melakukannya—lingering dengan teman di sekolah, maupun mampir ke rumah teman maksudku—dan aku melihat there is nothing wrong with that. Kalau aku dulu melakukannya, mengapa aku harus mengomeli Angie karena melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan dulu? (Ssssttt ... Angie’s grandma expected me to scold Angie for that yang tentu saja tidak kulakukan.)

Aku tidak pernah memarahi Angie—menggunakan istilah rekan kerjaku itu ‘being judgmental’—karena hal-hal yang dia lakukan yang dulu tidak kulakukan. Misalnya dia bercerita ketika dia tidak menyukai satu pelajaran ataupun gurunya, dia kabur ke kantin sekolah dengan teman-temannya. Daripada aku omelin kemudian dia ga mau lagi bercerita hal-hal “kreatif” seperti itu lagi? Aku akan lose track atas apa aja yang dia lakukan. Satu hal yang pasti, meskipun dia tidak suka gurunya maupun pelajaran tertentu, sebagai siswa SMA N 3, dia dikenai beban untuk lulus satu pelajaran jika mendapatkan nilai 75, di bawah itu, dia akan harus terus menerus mengulang. Mau tidur di kelas kek, mau kabur ke kantin kek, dia tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab ini.

Satu hal lain lagi yang dia lakukan—dan tidak pernah kulakukan ketika aku duduk di bangku SMA—adalah mempersiapkan contekan dengan canggih. Oh well, tentu saja, karena dua puluh tahun yang lalu, aku tidak punya media untuk itu. Barangkali aku akan melakukan hal yang sama jika ada media canggih yang akan membantuku mencontek. Hahahahaha ... Anak-anak sekarang—berdasarkan cerita-cerita siswa-siswaku di tempat kerjaku, juga dari Angie tentu saja—sering menggunakan media sms untuk saling mencontek. Kebetulan Angie memiliki MP yang bisa dipakai untuk menyimpan dan membaca tulisan menggunakan txt extension. Satu malam, aku memergokinya mengetik menggunakan notepad dan bukan MsWord. Aku lihat MP nya menempel di kabel perpanjangan USB yang tentu berarti dia pakai untuk menyimpan ketikan notepad itu di MPnya. Aku tanya, “What are you doing honey?”
“Biasa lah Ma, mempesiapkan contekan,” jawabnya ringan. LOL.

Aku tidak kaget karena aku telah memperkirakan that was what she was doing at that time. Oh well, harus menyalahkan siapa kalau di Indonesia negeri tercinta ini pendidikan masih bertumpu pada hafalan dan bukan pemahaman? Satu hal pasti yang selalu kukemukakan pada Angie, aku ingin dia memahami satu topik permasalahan yang dia jumpai dalam pelajaran di sekolah, dan bukan hanya menghafalkan, dan seminggu kemudian lupa.

Akhir-akhir ini aku memang tidak begitu disibukkan oleh jadual kerjaku yang mebuatku punya waktu untuk menjemput Angie pulang sekolah. Di malam hari masih sempat mendengarkan celotehannya tentang teman-teman sekolahnya, guru-guru yang katanya sering sok tahu masalah remaja—perhatikan CUMA SOK TAHU tanpa benar-benar pernah mau memahami apa yang mereka alami dan rasakan—cowo-cowo yang dia taksir, dll.

Membesarkan anak selalu merupakan satu kegiatan dan tanggung jawab yang sangat asik bagiku. Bagiku cinta bukan hanya untuk diucapkan dan dirasakan, namun juga diungkapkan dengan physical touch—aku selalu suka menciumnya dan memeluknya—memahami dunianya yang tentu sudah berbeda dari duniaku ketika aku masih remaja, berkomunikasi yang baik—saling mendengarkan satu sama lain dan saling percaya.

Memberi mereka kesempatan—dan kepercayaan tentu saja—untuk melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan yang mereka yakin itu baik buat mereka, dan kita cukup memantau dari belakang. Dan lain lain deh.

Klise yak?

Hahahahahaha ...

PT56 07.15 040207

Tuesday, December 12, 2006

Angie and her friends



These three pretty girl (from the left to the right) are Nana, Angie, and Mita. Now they study at the same school, the most prestigious state senior high school in Semarang, SMA N 3. And for your information, I graduated from this school too twenty years ago. It has always been the most prestigious school. :) sombong ga papa kalau memang layak sombong. LOL.

Nana—the nickname is the same as mine—has been Angie’s close friend since they were in the fourth of elementary school if I am not mistaken. Luckily they have always been going to the same school since elementary school. When graduating from elementary school, Nana’s parents asked her to continue the study in the junior high school where her big brother was studying at that time. However, Nana refused with the reason that Angie didn’t want to continue her study there. She wanted to be at the same school with Angie. Her parents gave in. So? They were at the same junior high school.
 
After graduating from junior high school, luckily they were accepted at the same school again. Even in the tenth (first) grade this year they are in the same class.
 
As far as I remember from my own experience, I never survived friendship for such a long time. None of my friends at elementary school continued their study at the same school with me until senior high school. I still kept the friendship, of course, although we didn’t go to the same school. Even, after I continued my study at my bachelor’s degree at Gadjah Mada University Yogya, I still once in a while visited some of them. I dont remember though when we lost contact.

Let’s go back to the picture above.  Mita, another close friend of Angie used to study in a different junior high school from Angie and Nana. They met each other for the first time when some years ago they took an English course in one of the most sought after English courses in Semarang, even, in Indonesia.  Luckily, then they continued to the same senior high school. Although they are not at the same class at school, they are at the same class at the English course.

With digital camera technology nowadays, it is much easier to record friendship like this, isn’t it? It is compared to the time when I was at high school. And with internet and its blogging technology, it is also much easier for me—and also for abundant other people—to share this kind of picture all over the world. 

PT56 09.43 121206

Tuesday, October 03, 2006

Kenangan Saat Angie ...

Mei 2008


Artikel ini terilhami oleh buku Family Secrets—Acts of Memory and Imagination tulisan Annette Kuhn, yang diungkapkan oleh Aquarini dalam artikelnya “Jins, Dangdut, dan Dosen: Fashion sebagai Pernyataan Diri” dalam bukunya Kajian Budaya Feminis.

 

Dalam bukunya yang merupakan analisis personal atas masa kecilnya, Annette menulis tentang pakaian-pakaian yang dia kenakan dalam pelbagai kontes, pakaian-pakaian hasil karya ibunya, untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam menciptakan berbagai macam kreasi pakaian, dan kemudian “memaksa” sang anak yang masih berusia tujuh tahun sebagai “manekin hidup”. Annette kecil tidak kuasa untuk menolak keinginan sang ibu tentu saja.

 

Membaca artikel ini mengingatkanku pada masa-masa ketika Angie sedang getol mengikuti kontes modelling, sekitar tahun 1997-1999, kemudian 2001-2002.

 

Angie “berkenalan” dengan dunia modelling ketika dia mengambil kursus Bahasa Inggris di suatu lembaga yang disebut Semarang 2000 yang pada waktu itu berlokasi di daerah perumahan Semarang Indah, Semarang. Selain kursus Bahasa Inggris, Angie juga mengambil kelas “perkembangan anak” (agar anak menjadi pemberani, mudah bergaul dengan anak-anak lain, leadership, dll), menari, menggambar, dan modelling. Angie yang masih duduk di bangku kelas 1 SD, tentu saja memiliki banyak waktu luang di sore hari, sehingga aku membiarkannya mengikuti kegiatan ini itu asalkan dia sendiri menikmatinya. “Tut Wuri Handayani” kata oran Jawa.

 

dijepret 28 October, 2001, event di McD

 

Dari beberapa kegiatan yang dia ikuti, modelling adalah kegiatan yang akhirnya menyita banyak waktu, energi, dan juga uang. LOL. Tentu saja, Angie pernah juga ikut lomba Bahasa Inggris—yang paling memorable adalah ketika dia menjadi juara 1 dalam lomba reading English nursery poem sekotamadya Semarang; menari—pernah menjadi juara 1 sekotamadya Semarang dengan kelompoknya. Namun kegiatannya dalam mengikuti lomba modelling lah yang akan kubahas di sini.

 

Semua bermula dari keinginan Angie sendiri untuk mengikuti berbagai lomba tersebut. Tiga lomba pertama yang dia ikuti—sekitar bulan Agustus-September 1997—dimana Angie kalah, tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengikuti lomba. That’s great, isn’t it? Dan ketika pertama kali Angie memenangi suatu lomba modelling, itu membuat Angie tambah bernafsu untuk memperbanyak jumlah piala yang dia miliki. (Anak kecil mana yang tidak menyukai piala?) Dan aku pun ketularan ikut bernafsu.

 

Lama-lama aku mulai memaksa Angie untuk latihan jalan di rumah—aku sebagai pengawasnya—selain latihan rutin dengan instruktur modellingnya. Melihatku yang bernafsu seperti itu ternyata membuat Angie bosan. (Yah, maklum, anak kecil!) Dan aku mulai menggunakan “I-am-your-mother-so-you-must-obey-me” policy to her. Sometimes it worked, sometimes it didn’t though. LOL. (Goodness, aku mulai membayangkan apa yang akan Angie tulis kelak setelah dewasa nanti atas pengalamannya di waktu kecil, seandainya dia tumbuh menjadi seperti Annette Kuhn, yang “memprotes” ibunya lewat bukunya Family Secrets—Acts of Memory and Imagination? Sebelum aku dikritik oleh Angie, aku melakukan otokritik dulu deh lewat tulisan ini. LOL.)

 

Berbeda dengan Annette yang tidak menyukai pakaian yang dia kenakan, Angie tidak bermasalah dengan pakaian yang dia kenakan ketika mengikuti lomba-lomba modelling tersebut. Yang dia protes adalah cara kerasku memaksanya untuk latihan jalan sebelum tidur (FYI, aku pulang kerja rata-rata jam 21.00, dan sebelum tidur, aku menyuruh Angie latihan selama kurang lebih 15-20 menit. Untunglah ruang tengah di rumah lumayan luas, lumayan layak untuk tempat latihan. Ups ... jadi ingat beberapa mahasiswaku yang mungkin mengakses blog ini, they will find out bagaimana Ms. Nana bisa tahu bagaimana cara jalan di catwalk, bagaimana berpose, bagaimana melakukan putaran, dll, LOL. Dari hasil pengamatan instruktur modelling Angie mengajari Angie. Untuk mengantisipasi mahasiswa agar tidak datang terlambat ke kelas, aku sering memberikan hukuman untuk menyanyi, membaca puisi, jalan di catwalk, dll, bagi mereka yang datang terlambat ke kelas. 😎😂)

 

Angie cukup pede dengan berbagai pilihan busana yang kupilihkan untuk dia kenakan ketika mengikuti lomba modelling, dari mulai busana pesta, casual, pantai, sampai busana muslim. Dan nampaknya dia merasa nyaman-nyaman saja mengenakannya. (Just wait until she grows up, will she complain? LOL.)

 

Ada satu pasang sepatu yang dia komplain ketika mengenakan, karena ternyata kekecilan waktu dipakai. Sepatu boots warna merah yang dia kenakan dalam lomba “PutraPutri McKids” di McDonald’s Sri Ratu Semarang. Angie sempat ngambek tidak mau memakainya karena tumit dan jari-jari kakinya sakit. Namun karena tidak punya sepatu lain yang cocok untuk pakaian yang dia kenakan, aku paksa dia memakainya. LOL. Sebenarnya ada sepatu lain yang berwarna merah, namun karena modelnya pantofel—tidak funky kalau dipadukan dengan busana casual—Angie tidak memiliki pilihan lain selain sepatu boots merah yang hampir selutut itu. LOL. Untunglah dia menang sebagai juara favorit, sehingga terbayarlah sakit di kakinya. Dan sepatu yang harganya lumayan mahal bagi kocekku ini hanya dipakai sekali untuk mengikuti lomba. LOL.

 

Kembali ke keegoisanku untuk memaksa Angie latihan jalan sebelum tidur, LOL, lama-lama aku mengalah ketika melihatnya benar-benar bosan. Lomba terakhir yang dia ikuti adalah “King and Queen of Millennium” bulan Juli 1999.

 

Setelah vakum selama dua tahun, dan kulihat Angie kangen berlenggak-lenggok lagi di catwalk, aku menawarinya untuk come back. Dia mulai ikut lomba lagi dalam “Kontes Teletubbies” bulan Juni 2001 yang diselenggarakan di lantai dasar Citraland Semarang.. Lomba terakhir yang dia ikuti adalah “Busana Nuansa Pink” dengan penyelenggara McDonald’s Java Mall Semarang bulan Februari 2002. Ketika Angie benar-benar siap mental, dan berkeinginan sendiri—tanpa campur tanganku—sehingga dia pun bertanggung jawab atas pilihannya itu, misal mau latihan jalan sendiri tanpa kuminta, tampil maksimal, dan tentu saja hasilnya pun bagus: Angie selalu memenangi setiap lomba yang dia ikuti dalam rentang waktu Juni 2001—Februari 2002.

 

Setelah itu nyokapnya sibuk sendiri dengan studinya di Yogya. LOL.

 

PT56 22.57 300906

Saturday, September 23, 2006

Angie



This picture was taken on September 6, 2006, at SWAGAYA photo studio Citraland Semarang.

Wednesday, September 20, 2006

SNBI

SNBI = Sekolah Nasional Berstandar Internasional

Sejak ajaran tahun 2006/2007, SMAN 3 Semarang dipercaya untuk menyelenggarakan program SNBI. Tentu pemerintah tidak sembarang tunjuk untuk menyelenggarakan program ini, untuk di Salatiga yang terpilih adalah SMAN 1 Salatiga. Hanya sekolah terbaiklah yang dipilih oleh pemerintah untuk menyukseskan program yang cukup bergengsi ini. Masih ada beberapa sekolah lain lagi di Indonesia ini, but I didn't really pay attention to it.

Resiko dari SNBI pertama yang kurasakan adalah monthly school fee yang relatif mahal untuk ukuran sekolah negeri di Semarang. Angie harus bayar Rp. 150.000,00 perbulan. Karena Angie sering harus spend time sampe sore di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekskul ini itu, resikonya adalah aku harus memberinya uang saku tambahan untuk makan siang di sekolah (bandingin waktu aku masih SMA dulu, jarang banget aku makan siang di sekolah. Pulang sekolah harus langsung pulang ke rumah, gak boleh lingering di manapun. Sesampe rumah, makan siang, kalo ada acara lagi di sekolah, baru berangkat lagi.)

Fasilitas yang diterima Angie. Ruang kelas ber-AC. Setiap kelas dilengkapi oleh LCD.

"Resiko" yang harus dihadapi Angie. Lima pelajaran disampaikan dalam Bahasa Inggris--Mathematics, Physics, Chemistry, Economics, and Biology. Satu mapel--TIK--juga disampaikan dalam Bahasa Inggris karena guru pengampu barusan lulus kuliah S2 dari Australia. LOL. (Angie and her friends complained about this to me. LOL.) Nilai minimal dianggap lulus adalah 75. Kurang dari itu? Harus ambil REMEDY. Dan, menurut hasil UHT (Ulangan Harian Terstruktur???) kemarin, dari 16 mapel, Angie harus mengambil remedy 9 mapel. LOL. LOL.

Banyak teman sekolah Angie yang diomeli orang tuanya karena hasil UHT yang jeblok. Dan seperti biasa, aku adem ayem saja, buat apa juga ngomel? Angie sendiri tentu lelah dan kecewa dengan hasil itu. Kenapa pula harus kutambahi dengan omelan? Satu hal yang pasti, ketika mengejar untuk diterima di SMAN 3 Semarang, dan tahu bahwa mulai tahun ini diberlakukan SNBI, Angie harus sudah tahu resikonya bahwa dia tidak bisa take things as easy as when she was at junior high school. She has to work hard.

Perenunganku adalah apa tujuan pemerintah ketika launching program SNBI ini? Untuk mencetak generasi mendatang yang lebih cakap untuk menjawab tantangan globalisasi di masa depan? Hanya dengan menyampaikan kelima mapel itu dalam Bahasa Inggris, yang pada prakteknya justru menimbulkan confusion? Sang guru yang belum tentu capable dalam Bahasa Inggris dan dipaksa untuk mengajar dalam Bahasa Inggris? Para murid yang tambah bingung untuk memahami apa yang disampaikan oleh sang guru yang belum capable to speak English? LCD yang belum aku ketahui apakah benar-benar difungsikan secara maksimal untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ataupun kegiatan ekskul? Kecuali ruang ber-AC yang membuat siswa nyaman berada di kelas (Semarang is too damned hot!!!), sehingga diharapkan bisa lebih berkonsentrasi ke guru yang sedang mengajar di kelas, asal tidak menjadi mengantuk saja. LOL.

Masih terlalu dini untuk mengukur seberapa keberhasilan/kegagalan program SNBI ini. Tapi seperti biasa ketika ada satu program pendidikan baru, siswa yang sering menjadi korban, orang tua siswa juga.

jdc 18.48 200906

Tuesday, September 19, 2006

Saturday, September 16, 2006

PENSAGA

PENSAGA = pentas seni SMA 3 Semarang.
Yup, hari ini 16 September 2006, SMA 3 Semarang menyelenggarakan pentas seni. Aku ga begitu yakin tapi buat apa diselenggarakan pentas seni semacam ini selain untuk membuat siswa-siswinya memiliki kegiatan dan membuat mereka bahagia. Sekaligus juga untuk promosi ke seluruh masyarakat Semarang khususnya bahwa salah satu kegiatan yang dimiliki oleh SMA 3 adalah menyelenggarakan pentas seni. :)
Jadi ingat ketika aku masih di SMA dulu--aku juga bersekolah di sini--pentas seni selalu dilaksanakan tanggal 1 November, untuk merayakan ulang tahun sekolah. Sebelum itu, diselenggarakan beberapa lomba antar kelas dengan pentas seni sebagai puncak acara. Diselenggarakan selalu tanggal 1 November karena biasanya kemudian para alumni yang ingin bernostalgia akan datang ke sekolah pada tanggal tersebut. Tidak perlu ada undangan, tidak perlu ada pengumuman di koran misalnya. Dan setelah Angie bersekolah di sini, baru tahu aku bahwa pentas seni tidak lagi diselenggarakan tanggal 1 November.
Aku bilang ke Angie kalo aku ingin datang nonton pentas seni ini. Tidak hanya sebagai nyokapnya Angie, tapi juga sebagai alumni, kepengen bereuni, paling tidak dengan gedung sekolah yang telah mengalami perombakan di sana sini dan guru-guru yang hadir. Sayangnya ternyata Angie tidak setuju dengan ideku untuk ikut hadir. :( Waduh ... kali pertama aku ditolak "ikut-ikutan" acara Angie. :((
Semula dia ngotot agar aku tidak datang. Setelah beberapa kali aku merayunya, akhirnya di bilang, "Oke, Mama boleh datang, tapi Mama ngajak teman sendiri deh, jangan kayak lalat ngikutin Angie kemana aja." wakakaka ... Sayangnya aku yang sering tidak sociable ini, tidak punya ide siapa yang akan kuajak. :( Kedua adikku sibuk dengan acara mereka sendiri. Kalo aku pergi menghadiri acara seperti ini, aku harus datang dengan seseorang yang membuatku merasa nyaman bersamanya, bisa nyambung kalo ngobrol, dan bukannya malah debat kusir. LOL. It is very okay for me to come alone, dengan duduk manis di pojok, ato dimana sajalah, menikmati kesendirianku, sambil menikmati pentas seni. Tapi Angie tidak mengijinkanku, karena dia khawatir aku bakal jadi "lalat" itu. LOL. Huaaaaaaaaa ... Teganya si Angie ini. LOL. Padahal banyak siswa SMA 3 yang mengambil English course di LIA, tentu aku agak ngetop juga di situ. LOL. Bakal banyak lah yang menyapaku nanti (sok jadi selebritis... LOL). Tapi, ya itulah, akhirnya aku memutuskan untuk tidak datang. I will spend my Saturday evening dengan nulis di blog, baca messages di mailing list, dan chat dengan Abangku seorang yang sayangnya berada ribuan km dariku. Kalo dia berada di Semarang tentu akan kuseret dia menemaniku. LOL.
Setelah itu, aku akan menjemput Angie sekitar jam 9pm. Itu aja Angie protes, bilang, "Mama, acara belum selesai kalo jam 9! Jemputnya jam 10-an." Aku bilang, "Well, honey, Mama entar nunggu di pelataran parkir deh, ato dimana begitu. Oke? I will not disturb you until the program is over. Ok?"
Oh well, anak belasan tahun ... LOL. Aku sudah lupa whether I behaved like Angie when I was around her age. LOL.
JDC 16.50 160906

Thursday, September 14, 2006

Angie's protest

me 😝

 Waktu menunjukkan pukul 6.45pm tatkala aku dan Angie memasuki kedai “Kahuripan”. Suasana kedai tidak terlalu ramai, hanya kulihat dua pasang laki-laki dan perempuan di meja di tengah ruangan, dan satu pasang lain di pojok sebelah Barat. Penerangan ruangan yang temaram membuatku langsung merasa tersegap keromantisan. Angie memilih duduk di pojok sebelah Timur, meja yang memang khusus hanya untuk dua orang.


Ketika waitress datang, Angie memilih steak ayam dan cappuccino milkshake, sedangkan aku memilih kwetiau goreng spesial dan orange juice.


Sembari menunggu makanan siap dihidangkan, kemudian kita makan bersama, Angie tak henti-hentinya bercerita tentang teman-teman sekolahnya, juga ketika dia menghadapi oral examination di LIA yang baru saja dia selesaikan sebelum kita bersama menuju kedai Kahuripan. Saat-saat yang sangat kunikmati ketika kita eating out berdua, Angie selalu terlihat bright-eyed tatkala bercerita kepadaku tentang segala hal yang dia alami.


Setelah selesai makan, Angie langsung mengajak pulang. Sebelum keluar, aku membayar dulu di kasir. Kasir bertanya ramah padaku, “Itu putrinya mbak?”
“Iya, dia dulu bersekolah di SMP N 1 di seberang jalan itu, makanya dia tahu kedai ini.”

*****


Kita sampai di rumah sekitar jam 7.30. Begitu masuk kamar, Angie dengan kesal bertanya, “Mama tadi ngeliatin ga dua perempuan berjilbab yang duduk di tengah ruangan waktu kita masuk?”


“Iya Mama liat tadi, tapi ga merhatiin banget sih. Ada apa?”


“Matanya waktu ngeliatin Angie kayak mata polisi yang menginterogasi pesakitan aja. Pasti karena dia liat Angie masih pake seragam sekolah. Mana ada anak sekolah masih keluyuran malam-malam pake seragam sekolah? Kalo ada, tuh anak pasti bukan anak yang beres, yang suka keluyuran kemana-mana sepulang sekolah, dan tidak langsung pulang ke rumah!”


Serentak aku ingat kasir yang bertanya padaku, “Itu putrinya mbak?” apakah dia pun berpikiran yang sama seperti yang dituduhkan Angie kepada dua perempuan berjilbab itu?


Well, ini adalah pengalaman kedua kita berdua, Angie masih berseragam sekolah, dan kuajak makan malam di salah satu rumah makan. Yang pertama dulu Angie juga komplain ketika beberapa orang di rumah makan itu memelototinya dan memandang ke badge sekolahnya.


Untuk menenangkannya, aku bilang, “Honey, I am your mother. Angie pergi jam segini sama Mama. Dan kita langsung mampir ke rumah makan dari LIA karena praktis saja, dibandingkan kita harus pulang ke rumah dulu, ganti baju, terus keluar lagi untuk makan. And I know exactly what you have been doing since morning. And you know what you are doing. Don’t care what other people think about us. Bisa mati berdiri kita kalau selalu mikirin omongan orang, what the hell they are thinking about us.”
“But Mom, don’t blame me if that judgmental look from those nosy guys bothers me.”


“Fine. But don’t think of it too much, okay? Remember, we are what we think, we are what we do, and not what other people think, not what other people accuse.”


Telepon yang berdering di ruang tengah menghentikan pembicaraan kita. Angie langsung menghambur keluar, dan asik ngobrol dengan temannya lewat telepon.


This sucking society, with those sucking judgmental people... And they are my fellow citizens in Indonesia.😜


PT56 07.49 140906

Thursday, September 07, 2006

Angie libur 2 hari



Hari ini Angie libur sekolah, besok juga. Sekolahnya dipakai untuk Olimpiade Sains. Selain SMA N 3 Semarang, juga SMA N 1 Semarang.

 

Mumpung Angie libur, kuajak saja dia jalan-jalan. Acara(ku) hari ini:

 

Pagi jam 7 ke kantor sebentar, to punch the attendance card. (well ... well ... kayak pegawai pabrik aja ... hahahaha ...) Mampir ke kantorku yang terletak di lantai 10, untuk ngecek email dan blogs. But, ups ... the internet was not accessible. :(

 

Dari kantor ke Paradise Club, ikut erobik sekitar 50 menit. (I came late.)

Dari PC, pulang ke rumah, mandi, sarapan, dan siap-siap jalan sama Angie.

 

Dari rumah aku dan Angie ke salon dekat rumah, creambath. Udah kurang lebih sebulan, i didn't have my hair creambathed.

 

Dari salon, aku dan Angie ke Citraland Mall. Pertama, kita ke lantai dua, ke SWAGAYA photo studio. Narcist-nya lagi kumat. LOL. Pertama aku pilih yang foto untuk berdua (horizontal) 4 kali, Rp. 30.000,00. Aku dan Angie foto bareng dua kali. Trus, aku foto sendiri, dan Angie foto sendiri. Posisi, duduk, ga bisa berdiri. But, then aku inget, Abangku pengen liat fotoku yang kelihatan perutnya. wakakaka ... Jangan ngeres yah pikirannya. wakakaka ... Dia heran waktu aku cerita hari Sabtu yang lalu, I had lunch at 12.30. Trus, di kantor ada klepon di atas meja pukul 13.30, tak embat. LOL. Jam 16.00 ada sebiji kroket di atas meja, aku embat juga. LOL. (FYI, di kantorku, kalo ada makanan terletak di atas meja, itu berarti makanan tak bertuan, alias milik bersama. LOL.) Denger ceritaku dia tanya, "Kok kamu ga gemuk Na?"

 

"Kan aku olah raga Bang." jawabku. (I do aerobics, fitness, and also swim almost everyday if I have spare time every morning.)

 

"Aku mau lihat fotomu yang keliatan perutnya dong Na, ga cuma wajah doang." LOL.

"Ah gampang sih Bang, ngecilin perut waktu difoto," aku bilang. LOL.

 

Nah, itulah awal dari cerita aku ngajakin Angie ke SWAGAYA, meskipun sebenarnya udah lama juga Angie pengen foto. Lagi kumat tuh hobby difotonya.

 

Balik lagi ke waktu di SWAGAYA photo studio. Setelah foto 4 kali yang horizontal, aku bilang ke Angie pengen yang vertical. Aku datang ke pegawainya lagi, dan minta foto yang vertikal.

 

Si empunya (kayaknya sih) studio itu, tahu2 nanya, "Adiknya ya mbak?" sambil nunjuk Angie. Dan terkaget-kagetlah dia waktu tahu bahwa Angie adalah anakku. LOL. Dia bilang, "Well ...kalo mbak punya anak, pantasnya anaknya yang baru berumur 5 tahun deh." wakakakaka ... thanks for the compliment. :D

 

Trus, jadilah aku dan Angie ambil yang vertikal 3 kali. So, kita bisa berdiri waktu difoto. Biar Abangku bisa liat perutku. wakakakaka …

 

Dari SWAGAYA, aku dan Angie makan siang di McDonald's, Angie udah pengen makan spicy burger sejak hari Minggu yang lalu.

 

Dari McD, aku masih punya waktu luang sekitar 2 jam, aku ajak Angie onlen di warnet langgananku. Sebentar lagi, i will go offline. Harus masuk kantor. Angie akan menungguiku. She will have her own class at 5-7pm later.

 

After that, we will go home. :)

 

Besok kemana lagi yah aku dan Angie? si kembar yang nyokap anak yang jaraknya 23 tahun? huehehehe ...

 


 

Tuesday, September 05, 2006

Satu saat dulu



Dari kantor aku langsung mampir ke warnet ini. Biasa, to check my mailboxes and blogs. Sebelum meninggalkan kantor, seorang rekan kerja bercerita tentang seorang anak dari English for Elementary class (untuk anak-anak SD) yang belum dijemput juga oleh orang tuanya. Kelasnya usai jam 5 sore, sedangkan waktu itu jam 7. Aduh ...
Aku langsung ingat suatu hari dulu ketika Angie masih SD. Aku lupa tepatnya jam berapa. Waktu itu, aku selalu menjemputnya dari sekolah sekitar jam 13.00. Siang itu ada yang sedang kukerjakan yang membuatku tidak bisa menjemput Angie tepat waktu. Aku terlambat menjemputnya hampir satu jam! Dalam perjalanan, aku menangis, merasa begitu bersalah karena telah membiarkannya menungguku dalam waktu yang sangat lama. (NOTE: belum kenal dunia handphone waktu itu, masih terlalu mahal untuk kantongku. :))
Airmataku terus mengalir sampai aku berada di depan sekolah Angie. Sesampai di sana, kudapati Angie sedang duduk di tembok di dekat pintu gerbang sendirian, tersenyum sangat manis padaku, dan menyapa, "Hello Mama ..." Tidak ada kata-kata marah atau apa, atau pun sekedar bertanya, "Kenapa sih Mama jemputnya terlambat?" Dan aku semakin menangis, karena merasa semakin bersalah.
Sampai sekarang, Angie sudah duduk di bangku kelas 1 SMA, dan dia tetaplah semanis yang dulu, yang tidak pernah marah kepadaku. Mungkin juga karena aku pun tidak pernah marah sekalipun padanya.
Children learn from their parents how to behave, right?
JDC 19.50 050906

Saturday, August 26, 2006

Angie at Kindergarten



Angie waktu mengikuti kegiatan hari Kartini ketika TK, tahun 1996, probably, I am not sure. Aku sendiri yang ndandanin, so maklum kalo dandanannya gak karuan. LOL. Tapi, toh, Angie tetap IMUT kan? hahahaha ...

Angie and Vonny



Ini adalah foto Angie ketika dia ikut lomba tahun 2001. Aku sendiri sudah lupa tajuk lombanya, hehehe ... Sebagai juara umum, piala dan hadiah diserahkan oleh Vonny, salah satu personil dari grup musik Bening. Sekarang aku sendiri tidak tahu apakah Vonny masih ikut dalam grup musik Bening ataukah tidak; apakah kegiatan dia akhir-akhir ini. Tapi, waktu itu, Angie bangga sekali berfoto bersama Vonny sebagai juara umum lomba itu. LOL.

Saturday, 26 Agustus 2006

Telah beberapa minggu aku tidak nulis di sini. Beberapa alasan untuk itu.


1. Aku sendiri ga punya ide untuk nulis apa tentang Angie. LOL. Mungkin karena aku terlalu sibuk sehingga aku tak sempat memperhatikan apa-apa yang dia lakukan, ataupun ceritakan. Well, tentu saja kita tetap sering cerita-cerita, Angie tetap sering curhat ke aku. Tapi berhubung aku sendiri sibuk, maka tak ada waktulah bagiku untuk coret-coret sesuatu tentang Angie.

2. Blogger.com sulit kuakses akhir-akhir ini ketika aku ke warnet. :(

3. Blogger.com juga sulit kuakses dari komputer di kantor. :(

Hari ini aku pengen nulis sesuatu di sini, but apa ya yang akan kutulis tentang Angie? Kayaknya nggak ada deh. LOL. Kegiatan sekolahnya biasa-biasa aja. Tiap pagi aku ngantar dia ke sekolah. Pulang sekolah dia biasa naik angkot dengan teman-temannya. Kecuali hari Senin dan Rabu ketika dia langsung kursus Bahasa Inggris di LIA, tempatku kerja (so, dia gratis!!! LOL.), kita pulang besama. :)

Satu hal. Hari ini dia mulai ulangan harian sekolah, or whatever it is called. LOL. Dia sempat komplain tadi malam, "Ulangan kok tetap ada pelajaran biasa. Payah deh." LOL. 

Selama dia sekolah, ulangan, ataupun ujian, aku tidak pernah memantau belajarnya. Aku anggap dia telah cukup dewasa untuk menentukan pada dirinya sendiri apakah dia perlu belajar ekstra atau cukup mengerjakan pe-er dari sekolah. Berapa nilai yang ingin dia dapatkan dari ulangannya. Kalau ingin bagus, it means she has to study hard. Kalo cukup dengan nilai yang biasa-biasa aja, ya go ahead. Aku berikan kebebasan penuh padanya. I know one thing, though, she is smart, but not really a hard worker. LOL. Niru sapa yah? hahahahaha ... Cuma ngeliat dari ketidakseriusannya belajar, dia jelas tidak ngikut aku dulu. hahahahaha ... Aku dulu (sewaktu SMA) lebih rajin dibanding dia. Hahahaha ...

Well, kita lihat aja nanti hasil ulangan hariannya. LOL.

ALSTE INDONESIA - New Energy
our alma mater

 

Saturday, August 12, 2006

My lovely Angie

Today is my birthday. 

Early in the morning, before going to school, while she was preparing herself to go to school, and I was preparing to take her to school, suddenly she came to me, shook my hand, and said, "Happy birthday, Mama... Hope you will have a long life, more blessings from God, and others, up to you." LOL. Then she kissed both of my cheeks.

FYI, today she went to school early, at 6am. There was one additional class she had to attend. And you know what? English class. LOL. Unbelievable, is it? LOL. She had to take an additional English class because she got a bad score in the test the last time. LOL. 

I haven't decided yet what to do tonight, to celebrate my birthday with my lovely star.


 

Friday, August 11, 2006

After Angie going camping

Last Sunday, August 6, 2006, I was restless waiting for Angie to contact me to pick her up. She told me that she would come back in the morning. I was all ready to pick her up, anytime. I didn't go swimming though I love it a lot, and I usually do this hobby every Sunday coz I was waiting for her coming.
At last around 11.35, she sent me a message asking me to pick her up at school.

When she arrived, she looked so tired, dirty, messy, and I greeted her, "Goodness, my daughter looks ugly, huh?" LOL.

Arriving home, she asked me to prepare her lunch and a glass of iced tea. She was spoilt, eh? LOL.
At first, she didn't talk a lot about her experience during camping. it seems to me that her experience at Bantir was not really exciting for her.

Anyway, I love to see her coming back safe and sound. LOL. 

Then, I found out that she was a bit jealous coz out of the blue, many girls have a crush on RM, the boy she likes very much. LOL. 

She complained to me, "When we were at junior high school, he was just an ordinary boy, not famous at all, not the favorite of many girls. I was the only who had 'sharp eyes' to see him cute besides smart. And now suddenly, many girls like him!!!" LOL.

Angie seemed broken-hearted at that time. 

Oh ... teenagers ... 

She will have a very long life, she will find many boys in her life later. Perhaps she will fall in love with many other boys in the future (not just one or two. LOL.) It is okay to me. LOL.

Tuesday, August 08, 2006

Acceleration Program

Some days ago Angie told me about her friend’s problem. Her parents forced her to take acceleration program but she herself was not willing to do that. 


If I am not mistaken since four years ago, Indonesia has applied acceleration programs at school. Elementary school level that usually covers six years of study will only need four years for those who take acceleration program. Junior high school level will only need two years that normally takes three years. Senior high school level also applies the same thing.



Not all schools offer acceleration programs for the students. It is understandable if only good schools get the permission from the government to have this program. 


A child normally needs 12 years to cover elementary, junior, and senior high school. If he/she starts going to elementary school when he/she 6 years old (recently there is a requirement that a child is at least 6 years old to start going to elementary school), he/she will be 18 years old when graduating from senior high school and then continue to a higher education—college/university. 


I don’t really know the significance of the government to have acceleration program. To cut the time needed to study only? A child will only need 8 years to finish from elementary school until senior high school. He/she will be around 14 years old to continue to college. If he/she needs four years to finish the bachelor’s degree, he/she will be 18 years old. What is the next step? Normally, he/she will look for a job. To continue to a higher degree, such as master’s degree until doctorate’s degree is not widely spread yet in Indonesia. Many people feel it enough already to have a bachelor’s degree. Compared to around three decades ago, graduating from senior high school only was enough to look for a job.
To join acceleration program, there are a series of tests that must be followed by a student: besides tests on some major subjects (Physics, Biology, Mathematics, English, etc), a student must reach a certain IQ, take an aptitude test, psycho test, and some other things. The school fee is also much more expensive compared to the students who take the usual program. 


And as usual, when a parent forces his/her child to join such a program, I am of opinion that it is only for the parent’s prestige (that he/she has a very smart, also that he/she can afford to pay the high school fee). It is different if the child himself/herself wants to take it. As a parent, of course, we must support that. 


Coming back to Angie’s friend’s problem—her parents forced her to join the acceleration program, I told Angie this whole history (what is the significance of joining such a program? What benefits for the student to get?) Okay when she finishes senior high school at a younger age compared to the others, the parents feel proud of that. but then what? From my experience so far, people will not pay attention to someone’s age when graduating from a college then looking for a job. Many other people look for a job only after graduating from senior high school. And from my observation so far, it is not a guarantee that someone graduating from college will always get a better job/position compared to those who just graduate from senior high school. 


PT56 10.53 080806

Saturday, August 05, 2006

Angie going camping 3

I slept well last night. It means that I was not really worried about Angie who is still going camping. I know tents are not really comfortable places to lie down. But her being with her school friends will make Angie not really complain about it. 


However, before sleeping, I miscalled her. When she picked it up, I hang it up. :) Then, I messaged her whether she was still awake and what she was doing with her friends, whether she really ate the rice and its friends for the dinner. LOL. She didn't reply the message though. I assumed that she was already sleeping then. 


This morning, around 06.00 I messaged her asking how her sleep was, how cold the weather was there coz Bantir is popular for its cool weather. She just told me that she had to sleep in one tent together with some friends so that she didn't get really enough space. One positive thing though, she didn't feel cold then. :) She also told me some programs she would do with her friends.


Around 11.00 I messaged her again. Instead of getting her nice response, she said, "Mama, I am okay here, and have some fun with my friends. Don't worry about me. I will tell you the whole experience after I go home. Don't waste our credit now."


LOL. What an economical daughter. LOL.


JDC 17.14 050806

Friday, August 04, 2006

Angie going camping 2

Friday, August 4, 2006


I took Angie to her school around 13.30 this afternoon. Before leaving, she asked me, "Mom ... will you stay until all of us leave?"


Honestly, I was surprised to hear that. I thought that she would just ask me to drop her by, then I would go to my workplace.


Then, she went on, "The last time when I went on vacation with my junior high school friends, and you were in Yogya, dad just dropped me be at school, and directly left me. So, when we were leaving, the other students beckoned to anybody there, their parents, family members, or whoever. Me? I had nobody to beckon."


Ups ... I felt so touched, so I said yes to her want.


Angie and I arrived in her school around 13.30. It was very crowded. The school yard was full of the buses that would take the students to Bantir, the campsite. There were also very many parents, family members, friends of the students who were about to go camping. Not long after that, Angie disappeared in the middle of the crowd.


When time showed 13.45, I didn't feel comfortable coz I had a class at 14.00. So, I was looking for her in the crowd. I found her. Then I told her sadly that I had to leave, no time to say goodbye and beckon to her while they depart. Guess what Angie said? "Go ... Mom ... go!!! I am fine here."


Ups ... LOL.


Before leaving her, I kissed her both cheeks and forehead and said, "Take good care of yourself, honey!" 


Then I left for my workplace.


Arriving at the office, I told a workmate there. He laughed very loudly hearing me say so. LOL.


Oh kids ... LOL.

Angie going camping

Thursday August 3, 2006

 
I finished teaching at 7pm today. I promised Angie to buy her some things she needs for camping. On August 4-6 2006 she is going camping to Bantir, a camping location oftentimes visited by high school students. It is located not quite far from Semarang. It takes about one hour by bus.


When I was in junior and senior high school, my parents never let me go camping.  I was very unhappy of course but I couldn’t do anything. I know their forbidding me to go camping coz they loved me and were worried if something wrong happened to me. But still I was very unhappy, disappointed, and upset. So??? Until now I never have any experience to go camping.


This bitter experience makes me think differently from my parents. I always let Angie go camping with her school friends. I know I can trust Angie to take care of herself well. Besides having fun to do that with her friends, Angie can also learn to be independent.


Yesterday, Angie just got period; one thing that really upset her. Going camping when getting period is really unfavorable. A workmate of mine said to me, “Don’t you think you had better not let her go? I heard some bad things happen to those going camping in that place; mostly some people get in a trance by spirits entering their bodies.” And I got confused whether to let Angie go camping this time or not. When I talked about this possibility—Angie not going camping—to her, she looked very disappointed. My reason to her was that it would be very uncomfortable for her to go camping when she gets period. Teenagers like her oftentimes get stomachache, besides, of course Angie cannot easily wash her panties when she has to change them, etc.


But then, I came to the conclusion that she can go camping. She is bigger than some years ago when I let her go camping. Nothing to worry about, is it? And when Angie goes home, and talks about her exciting experience during the camping, I will be very happy to listen to her. Besides, I can enjoy my being alone, being an individual Nana, not a mother, for some days. LOL. People always need some time to be alone, don’t they?

PT56 21.37 030806