Tuesday, March 20, 2007

My Sweet Angie



Jumat 16 Maret 2007.
Aku menginjakkan kaki di rumah, sepulang dari Paradise Club fitness center, sekitar pukul 09.15. Setelah mengambil setumpuk pakaian kotor dari keranjang yang khusus kusediakan untuk pakaian kotor di kamar, aku langsung ke kamar mandi. Dan berkutatlah aku di situ selama kurang lebih satu setengah jam; mencuci pakain plus mandi (yang kedua, karena pagi harinya sebelum mengantar Angie ke sekolah dan kemudian ke PC, aku sudah mandi.)
Sekitar pukul 11.00, seusai menjemur pakaian yang baru saja kucuci, aku masuk kamar karena kudengar bunyi “ding ... dong ...” pertanda ada sms masuk ke hape. Aku yang sedang menunggu sms balasan dari Abang semenjak pukul 8 pagi harinya, langsung berlari untuk mengambil hape, untuk mencari tahu mengapa Abang membalas smsku sangat terlambat.
Setelah kubuka hapeku yang berbentuk flip flop itu, kulihat ada satu sms yang menunggu dibuka, dan tujuh missed calls. Heran, siapa yang miscall? Oh ... ternyata my Lovely Star. Dan sms itu pun darinya, yang mengatakan, “Ma ... jemput sekarang aja ya?”
Karena belum siap, aku membalasnya, “Sebentar Sayang, Mama baru selesai menjemur cucian. Tunggu ya?”
Aku langsung buru-buru mempersiapkan diri.
Angie membalas, “Cepetan ya Ma. Ini teman-teman yang menemani Angie nungguin Mama jemput udah hampir mati kebosanan nih.” LOL.
15 menit kemudian aku sudah sampai di traffic light dekat sekolah Angie, SMA N 3 Semarang. Selama itu, Angie tak bosan-bosannya misscall melulu. Heran, apa yang membuatnya usil begitu yah? pikirku. LOL.
Sesampai di pintu keluar, aku lihat Angie sedang duduk sendirian, manyun kebosanan. LOL. Sorot matanya memancarkan rasa gundah. Aku heran, ada apa?
Angie langsung duduk di boncenganku, dan tanpa bicara apa-apa aku langsung ngacir. Dalam perjalanan aku ingat-ingat lagi Angie tidak pernah marah maupun gusar atau sebangsanya itu kalau aku menjemputnya terlambat. Waktu dia masih duduk di bangku SD dulu, aku pernah menjemputnya sangat terlambat, kurang lebih 1 jam, karena aku harus melakukan sesuatu yang lain. Dan berhubung kita berdua belum terhubung dengan handphone (masih terlalu mahal untuk ukuran kantongku waktu itu), praktis kita tidak bisa saling memberitahu. Bahkan pada waktu itu pun, yang kulihat adalah senyum manisnya yang mengembang tulus, matanya berbinar menatapku senang, melihat Mamanya datang menjemput. Sedangkan aku sendiri berurai air mata, karena merasa begitu bersalah datang menjemput sangat terlambat.
So, apa gerangan yang membuat Angie manyun? Aku bertanya dalam hati.
Sebelum pulang, aku ajak Angie mampir ke restauran Mie Bandung. Beberapa hari sebelumnya, dia bilang pengen makan mie ayam bakso. Aku ajak Angie mampir ke situ bukan untuk menebus rasa bersalahku karena datang terlambat menjemputnya, tapi memang sebelumnya sudah kurencanakan. Bahkan kupikir Angie yang pulang terlalu awal. LOL. Setahuku biasanya dia pulang sekolah sekitar pukul 11.30 kalau hari Jumat.
Setelah masuk restaurant, dan Angie menulis pesan makan dan minum, aku menatapnya. Sembari menunggu pesanan datang, Angie langsung nerocos.
“Mama ... ga kebayang deh pasti apa yang terjadi kemarin di pertandingan sepak bola!” Angie terlihat menahan emosi (yang dengan baik dia lakukan.)
Dan ... mulailah acara curhatnya. Ah ... aku lega. Angie belum berubah. Sorot matanya yang gundah, dan bibirnya yang manyun tatkala aku datang menjemput bukan dikarenakan dia ngambek aku datang terlambat. Tapi karena dia sebal, dan (agak) patah hati mendengar apa yang terjadi di pertandingan sepak bola hari Kamis. Angie sendiri tidak nonton pertandingan kelasnya melawan kelas lain itu, sehingga dia tidak langsung tahu kejadian heboh apa yang terjadi.
Curhat Angie kali ini kusensor ajalah. Bukan untuk umum. LOL.
My sweet Angie ... the best blessing I have ever got in this life of mine.
PT56 21.55 180307

Saturday, March 17, 2007

A R I E S


 

Kamu percaya kah kalau orang yang berbintang ARIES punya bakat untuk memberantakkan suatu tempat? 


Ketika aku masih remaja, teman sekamarku adalah adikku Nunuk yang usianya empat tahun lebih muda dariku. Aku seorang LEO sedangkan Nunuk adalah seorang VIRGO. Seingatku di kamar ada dua buah tempat tidur single, satu buatku, dan satu lagi buat Nunuk. Di tengah tempat tidur ada satu meja plus rak tempat kita berdua menaruh buku-buku pelajaran sekolah. Di pojok yang lain ada lemari pakaian. Kita berdua sama-sama bukanlah orang yang rajin merapikan kamar. LOL. Kalah jauh dibandingkan dengan kakakku (cowo) yang berbintang LIBRA. Tempat tidurnya selalu rapi, sehingga kadang kalau aku main ke kamarnya, aku suka tidur-tiduran di situ. Kalau ketahuan kakakku, kadang dia ngomel, apalagi kalau dia baru saja mengganti sprei dengan sprei yang baru. LOL. 


Tempat tidurku? Selalu saja ada barang ini itu; buku yang berserakan di bawah bantal (sok kutu buku soalnya LOL), tas sekolah, radio saku, dll. Tempat tidur Nunuk? Idem ditto. LOL. Kemudian kita menemukan ide yang brillian agar kita tetap bisa tidur dengan nyaman. Kita gelar (well, this is Javanese, I don’t know what it is in bahasa Indonesia LOL) tikar di tengah-tengah tempat tidur kita berdua. So, sebelum kita tidur, kita berdua melempar barang apa aja yang ada di atas tempat tidur ke atas tikar. LOL.


Tentu saja my beloved mom sering ngomel melihat tingkah laku kedua anak (cewe) remajanya. Anak yang cowo rajin merapikan kamar, eh, yang cewe kebalikannya. LOL. (So, lupakan saja masalah stereotyping cowo cewe, bahwa cewe lebih rapi dibandingkan cowo. LOL.)


Ketika lulus SMA, aku melanjutkan kuliah ke Yogya. Pertama aku ngekos di Jalan Kaliurang Km 5 Gang Mijil no. 11. Kamar lumayan sempit, dengan tempat tidur hanya setengah dari tempat tidurku di Semarang. Aku sering was-was jangan-jangan aku bakal jatuh terguling ke bawah kalau sedang tidur. LOL. Ada sebuah meja belajar plus rak untuk buku dan pakaian. Kamarku di Yogya ini lebih rapi dibandingkan kamarku di Semarang yang kuhuni berdua dengan Nunuk. Hal ini bisa membuat Nunuk menjadi scapegoat bahwa dialah penyebab berantakannya kamar kita berdua. LOL. LOL. Ketika kuliah S1 itu, kalau aku pulang ke rumah, kadang aku dapati tempat tidur Nunuk yang super penuh dengan barang ini itu, tikar di antara kedua tempat tidur ga ada, dan Nunuk tidur di tempat tidurku. Nah lo. LOL.


Sekarang my roommate is Angie. She is also my bedmate karena kita share tempat tidur yang berukuran 2 m x 1.5 m. FYI, Angie is an ARIES. Kamar kita berdua selalu berantakan. Aku pikir karena mungkin terlalu banyak barang di kamar kita—terutama buku—dan dua rak buku yang masing-masing berukuran 60cm (lebar) dan tinggi 125 cm tidak cukup memuat semua bukuku (dan buku Angie). Aku yang greedy buku ini kadang ke rumah kita yang satunya (sok banget punya rumah dua LOL) dan mengambili buku yang berada di situ karena aku kepengen membacanya. (Di rumah yang satu itu aku punya rak buku panjang 2 meter, tinggi 180 cm.) Alhasil, rak buku kita semakin berjubellah dengan buku-buku. 


Itu sebab aku kepengen membeli rak baru, yang selain bisa berfungsi sebagai rak buku, juga untuk menyimpan barang-barang lain agar kamarku terlihat lebih rapi. Namun ketika aku mengatakan hal ini kepada Angie, komentarnya, “Mama ... karena penghuni kamar ini ada yang berbintang Aries, maka kayaknya ga mungkinlah kamar ini bakal rapi. Paling baru Mama rapiin di pagi hari, Angie pulang sekolah sudah ga rapi lagi.” LOL. LOL. 


Mengenai hal ini—bahwa orang Aries pekerjaannya membuat satu tempat berantakan—aku dapatkan dari seseorang yang pernah mampir dalam hatiku. Dia berbintang Aries. Ketika anak pertamanya lahir pada tanggal 18 April 2005, berbintang Aries, istrinya mengatakan, “Oh no ... ada dua Aries di rumah ini? Bakal mereka berdua bahu membahu untuk membuat rumah ini tambah berantakan.” LOL.
“Oh? I have never heard such a thing...” aku bilang ke dia.


“Oh yeah? Well, I have told you so now you know that.” Katanya.
“My daughter is an Aries. Can I say that she was the one who made our house always in a mess?” tanyaku.


“Definitely,” dia bilang. Dia juga mengaku bukan tipe orang yang rapi. LOL.


Ketika aku mengatakan hal ini kepada Angie, dia sangat bersuka cita. LOL. Dia merasa punya innate excuse untuk selalu membuat berantakan kamar kita berdua: BECAUSE SHE WAS BORN AS AN ARIES!!!”


PT56 11.50 150307

Sunday, March 04, 2007

Mother-Daughter Relationship



Below is the paper I wrote for the final project of AMERICAN’S MULTICULTURALISM IN LITERATURE class I attended four years ago, and Professor Hugh Egan from Ithaca College New York was the lecturer. (NOTE: I was not a feminist yet. LOL.)

MOTHER-DAUGHTER RELATIONSHIP

The story Two Kinds written by Amy Tan reminds me of my own experience with my daughter. Like the narrator’s mother, I also want my daughter to be a prodigy. When Angie—my only daughter—was two years old, I taught her to read. I bought a lot of children books full of colorful pictures. She was really interested so that she enjoyed opening the books, looking at the colorful pictures, and trying to memorize alphabets under each picture. I was very pleased when she could read and distinguish many kinds of colors—red, blue, white, yellow, pink, purple, black, green, brown, orange, and grey—at three years old. Her teachers at playgroup were astonished to know that. She said that children of that age usually could not read yet, and they were expected to know only three main colors—red, yellow, and green.
At kindergarten, she excelled over her classmates. She got her first trophy in dancing competition during her two years in kindergarten. Her teacher told me that she has talent in dancing. I did not send her to a special dancing class yet at that time. She got dancing lesson at school. In welfare party of kindergarten, besides leading her classmates recite Holy Alquran—we are Muslim—she performed dances and read a poem. I was very proud of her at that time though I knew that Angie was very tired at the end of the party.
At the first year of elementary school, besides going to school in the morning, she joined some activities in the afternoon—she joined English course, dancing, drawing, and also fashion modeling and a kind of leadership class to boost her self-confidence. This is because I realize that I am not a confident person to perform something in front of audience. I want her to be self-confident. Once in a while, my sister who worked as a radio announcer asked Angie to accompany her as an announcer in a children program in her workplace.
Different from my daughter, I never joined any kind of courses when I was a kid. At that time, joining courses was not a popular pastime. Besides, for my parents, to be a pious person is much more important than to be a prodigy. Therefore, I was sent to an Islamic elementary school. (I sent Angie to a public/state elementary school.) I believe my parents expected me to grow up to be a pious woman who would do the teachings of Islam strictly, just like them. They gave more attention whether I did the teachings of Islam—praying five times a day and fasting in Ramadhan month for 30 days besides reciting the Holy Alquran daily—than whether I studied at home, e.g. to do homework. My parents would be angry if I did not pray or recite Alquran, but they were not angry if I did not study. Besides, my parents taught me to obey whatever they told me to do. In Indonesia, children are taught like that, they are not supposed to oppose their parents in all aspects (except if the parents ask something considered sinful in the religion teachings, e.g. stealing). Parents are considered to know better what is good or bad for their children because of their advancement in age and experience.
During the last decade, I saw the culture changing. I think this is due to the globalization era. Indonesian people get influence from other countries; e.g. from movies, news, etc. when I was a kid, my parents did not give a special attention to my study—to be the best student in class for example. Now parents expect their children to study in the best school and to be the best student in class. Besides, they also want their children to have other activities outside school, such as joining English course, computer, drawing, dancing, playing music instrument, fashion modeling classes, and so on. (To meet the parents’ demand, people open such courses because they see it as lucrative business.) When I was a kid, it was not common for parents to talk about their children’s achievement in and outside school. Now, it becomes very common. A’s parents may ask B’s parents about the child’s achievement, while the children themselves ask each other, “Have you ever won a competition? What kind of competition? How many trophies have you got?” or “What kind of activities do you join outside school?” and so on, just like in the story of Two Kinds. And like in Two Kinds, I also find some parents who really want to see their children on the screen on television. They will do everything they can as long as they can make their dream—and not always their children’s—come true.
This phenomenon also influenced me. Having only one child, maybe I unconsciously gave a heavy burden to Angie. I wanted her to be the best student at school while at the same time I also wanted her to get a lot of achievements from her activities outside school. If I had more than one child, maybe I would share the burden with other children. For example, Angie got achievement at school (e.g. as the best student), another child would be a national swimmer, another one again a famous fashion model. Well, I do not know.
While the narrator in Two Kinds did not like her mother’s idea to make her prodigy, my daughter enjoyed all her activities outside school at that time. Especially she enjoyed most when she joined some competitions and became the winner, e.g. reading poem in English, reciting the Holy Alquran, dancing, and fashion modeling. I did not ignore her school though, she was the second best student in her class.
When she was at the third grade of elementary school (eight years old at that time), I started to teach her to ‘argue’ things when she did not like things I said or did to her. different from the narrator’s mother in Two Kinds, I did not really want her to obey anything I said or asked her to do for my sake. I wanted her to do things because she enjoyed it, and she felt that she needed and wanted to do it, not because she wanted to make me happy. I did not want our relationship like common mother-daughter relationship in Indonesia, and old-fashioned way where the mother commands and the daughter obeys—a kind of relationship I had with my mother when I was a kid. I want our relationship just like between friends. She was free to express her opinion to me about everything.
As I said earlier, my parents taught me to obey what they said. I was not supposed to disagree with their idea. In fact, I did not feel happy for that. However, I was taught that to oppose parents is sinful. Raised in a religious family, I did not dare to commit sin, because I was taught that sinful people would go to hell, the worst place that God has ever created, a very terrible place. On the other hand, if I obeyed what my parents said, I would go to heaven, the best and most comfortable place that God has created.
However, I did not really feel happy to be raised in such an atmosphere. I was not really open to my parents, worrying if my parents could not understand me and I would make them angry when I had a different idea from them. I was more open to my friends, telling them what I felt because they understood me more. It made my relationship with them not so intimate. I do not want such a thing to happen between Angie and me. I am worried if I am strict to my daughter, ask her to obey whatever I say to her, without respecting and listening to what she says, I will make my daughter confide in her friends more than in me. I do not like the idea that she tells her friends more than she tells me. I want her to regard me as someone who will always understand her, so that she will tell me freely what she thinks, feels, and does. I want to be the most trusted friend for her.
Because of my teaching to argue with me, Angie started to refuse to join any kind of activities and competitions. When I asked her why she refused, she just answered, “I just do not want to.” I told her, “It’s okay if you do not want to do something. But when you refuse to do it, or when you choose to do it, you must have a good reason for that. It is not wise to say, “I just do not want to do that!” but she still said the same thing. “I just don’t want to. No other reason.” Frankly speaking, I was disappointed. However, I had to respect what she wanted. Only once in a while she was willing to do the activities she usually did before or joined competition. She did not refuse offers like being a master of ceremony (she was the MC of an opening ceremony of Children’s Day in Central Java last year), a radio announcer, and a fashion model.
Going back to the story Two Kinds, I am very impressed with the narrator’s way to protest her mother. She said frankly, “I’m not going to play anymore. Why should I? I’m not a genius.” … “You want me to be someone that I’m not! I’ll never be the kind of daughter you want me to be!” Being born in America, though her mother was a Chinese immigrant, the narrator really had “courage” to oppose her mother. I believe she adopted American culture about freedom that she saw in her surrounding. When you feel like doing something, do it. When you do not like it, don’t do it. I dream that one day my daughter will speak up to me, to express what she feels about something, to give me clear reasons when she decides to do something or refuses to do it, and not just says, “I simply don’t want to do it, Ma!” or “I just want to do it, Ma!”
My comment about the narrator’s mother is that she is “split” into two. I think she migrated to the United States—like any other immigrants—to achieve success, meaning having much money while at the same time to forget her bitter past life. Besides, she also was inspired with one of American dreams—you can be whatever you want to be. She wanted her daughter—the narrator—to be whatever she wanted her daughter to be. In this case, she wanted to make the narrator an American child (to be like Shirley Temple for example). On the other hand, she still adhered to Chinese tradition. She insisted that the narrator be an obedient daughter. In her opinion, a child must obey what the parents command. A child is the property of parents so that the child is not free to decide his/her own future. It means that the narrator’s mother wanted to make her child an American child without forgetting that she has Chinese blood in the body.
I was sorry when the narrator said, “I wish I wasn’t your daughter. I wish you weren’t my mother.” In my opinion, it is a terrible thing to hear our daughter saying that. I would be very upset and feel miserable in her position. And it was a shame that in order to ‘defeat’ her mother’s obstinacy, the narrator said, “I wish I’d never been born! I wish I were dead!” I believe it struck her so hard that at last she stopped her ambition to make her daughter a prodigy.
Indeed, we must realize that our children do not rally belong to us. God does not really give them to us, He just lends them to us. Like what Anne Bradstreet wrote in one of her poem “Farewell fair flower that for a space was lent, Then, ta’en away unto eternity.” And in Islam, there is a tradition to say “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” which means “in fact everything and everyone on this earth belongs to God, so to Him everything and everyone will go back at the end” when we hear news that someone passes away.
It is true that through us—parents—children were born. However, it does not mean that they are ours so that we can do anything we want to do to them as if they were our properties. They have their own thinking, feeling, interest, which are different from our way of thinking, feeling, and interest.
The story reminds me that maybe it could happen to me too. My ambition to make my daughter a prodigy can ruin our relationship. I have to always remember that she is not me, she has her own world which is different from mine. She has her own way of thinking, feeling, and interest which may be contradictory to mine. And I have to respect that. In fact, I’d love to see her grow up and be a different person from me. in Indonesia—and maybe also in other nations—parents mostly want to see their children be better than they are in all aspects, having better education, job, luck, destiny, and especially for me, I want to see my daughter grow up having better character traits than I do—more intelligent, pious, broadminded, open-minded, confident, successful, and also wise. Too much to ask, yes, I realize that. but I think, other parents may share the same feeling with me.
-------------------------------------
COMMENT FROM PROFESSOR HUGH EGAN
As I read this revealing essay, I think that your daughter is quite lucky to have a mother as introspective and self-examining as you are. This is a nice meditation on how parental ambition can be self-defeating, turning kids into rebels rather than prodigies. I’m fascinated by a number things. First, you hint that your daughter started to rebel after you encouraged her in the art of argument—although her rebellion did not really take the form of argument, right? Second, you conclude (with Bradstreet) that children are only “lent” by God rather than given permanently, and I wonder if that religious thought actually provides the kind of comfort you say it does. There is something heartbreaking in seeing children willfully turn away from parental preferences, but it is also a normal psychological process by which they must define their own identities. It is this sort of explanation (rather than a religious explanation) that I rely upon when I think of my own children. (And we have some experiences in common.) I’m fascinated by your choice to emphasize education over religion (at least more than your parents emphasized it) in your own household, which leads to my question about whether traditional religion provides the kinds of answers you need. Fine work.
Yogya, June, 2003

Thursday, February 22, 2007

Saat menjelang rapat

 


Ketika aku parkir sepeda motor di bawah satu pohon rindang di depan SMA N 3 untuk menghadiri rapat, datanglah seorang laki-laki yang kemudian memarkir motornya di sampingku. Dia tersenyum dan menyapaku. Berhubung telingaku sedang khusuk mendengarkan lagu dari MP, aku tidak mendengarnya. LOL. Yang kulihat hanyalah mulut orang tersebut seperti sedang berkata sesuatu, dan matanya tersenyum kepadaku. (Bisa bayangin kan, sorot mata yang tersenyum? Bisa bedain dengan sorot mata yang tajam menusuk menuduh kita melakukan suatu kesalahan, misalnya?)


Untunglah aku langsung sadar bahwa orang tersebut berbicara padaku sehingga aku lepaskan earphone dari telinga, dan bertanya kepadanya, “Kados pundi Pak?”


(I speak very little Kromo Inggil, if you care to know. LOL.)


“Mbak mau menghadiri rapat?”


“Oh, iya. Bapak juga kan?” aku berikan senyum manis kepadanya sekaligus untuk memberikan kesan bahwa aku minta maaf padanya karena tidak mendengar sapaannya sebelumnya. LOL.
“Iya.”

“Anaknya kelas berapa Pak?” tanyaku berbasa basi.

“Kelas X-11.”

“Oh, anak saya kelas X-9.”

Aku tahu setelah saling berbasa basi menyapa kita bisa berjalan bersama menuju ke tempat rapat diselenggarakan. Namun berhubung aku ini tipe orang yang mengidap penyakit asocial yang parah, aku langsung ngacir, setelah berpamitan, 

“Monggo Pak?”

Dia menjawab, “Monggo...”

Namun, ternyata dia tidak memahami bahasa tubuhku yang sebenarnya ingin memberitahunya bahwa aku ingin sendiri. Aku berjalan dengan langkah yang tidak panjang karena kakiku pun tidak panjang. LOL. Otomatis, laki-laki itu dengan mudah mensejajarkan diri dengan langkahku, dan bukannya mengambil arah yang berbeda dariku. Aku langsung berpikir, “Gimana cara beramah tamah lagi dengannya? Apa yang harus kukatakan?”

Akhirnya kutemukan satu pertanyaan yang sangat basi itu. “Anak Bapak lulusan SMP mana?”


Ternyata anaknya dulu satu sekolah dengan Angie, SMP N 1, namun berasal dari kelas yang berbeda. Angie di kelas 3D sedangkan anaknya di kelas 3A.

Out of the blue, si Bapak itu berkata, “Istri saya ga mau saya minta untuk menghadiri rapat-rapat seperti ini. Terpaksa saya datang sendiri.”

“Oh ...” jawabku pendek. (menurut cara berkomunikasi yang baik yang pernah kubaca, jawaban pendek seperti “oohh....” “hmmm...” “iya ....” tanpa mengatakan apa-apa lagi setelah itu termasuk cara killing conversation yang sukses. LOL. )

Betapa aku ini orang yang tidak ramah. 😃

Namun, dalam pikiranku aku langsung berpikir, mengapa orang ini berbicara seperti itu? Untuk urusan anak kan ga perlu ada garis pembatas ini urusan sang ibu maupun sang ayah? Kalau memang sang ibu sibuk bekerja di kantor, dan sang ayah yang punya waktu luang, mengapa tidak? 

Kebetulan saja aku ini single parent, yang tidak bekerja 8-4 di belakang meja dengan melototin monitor komputer ataupun dengan balpoint di tangan kanan dan telepon di tangan kiri menerima keluhan dari klien, misalnya.. So, it is not a big deal bagiku untuk selalu menghadiri acara rapat seperti ini di sekolah anakku. 

Well, hanya sekedar catatan kecil waktu aku menghadiri rapat di sekolah anakku. 


PT56 13. 40 220207

SMA N 3 Semarang


 

Rabu 21 Februari 2007, aku menghadiri rapat orang tua siswa dengan sekolah di sekolah Angie, SMA N 3 Semarang. FYI, mulai tahun ajaran 2006/2007, SMA N 3 Semarang mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Jawa Tengah untuk menjalankan program SNBI (Sekolah Nasional Berstandar Internasional). Kepercayaan ini tentu saja tidak datang tiba-tiba, namun didasarkan atas prestasi SMA N 3 Semarang selama ini yang selalu menjadi sekolah unggulan, yang mencetak bibit-bibit unggul. Salah satu alumni SMA N 3 Semarang yang sangat dibanggakan adalah Sri Mulyani, salah satu dari sedikit menteri perempuan yang sampai saat ini dimiliki oleh Indonesia.


Darimanakah bibit-bibit unggul tersebut berasal? Tentu saja berasal dari calon-calon siswa yang setiap tahun berduyun-duyun datang mendaftar. Dari hasil test maupun saringan hasil NEM tertinggi, SMA N 3 mendapatkan calon bibit unggul tersebut. Siswa-siswa yang bersekolah di SMA N 3 Semarang tidak melulu hanya dari mereka yang berdomisili di Semarang, namun juga berasal dari kota-kota sekitar, misal Purwodadi, Demak, dan Ambarawa, dan beberapa kota lain. Tentu mereka yang diterima di SMA N 3 adalah siswa-siswa yang memang dari sononya memiliki kualitas bagus, namun di kota asal mereka tidak mendapatkan sekolah yang mereka (atau orang tua mereka) pikir cukup berkualitas, sehingga mereka pun hijrah ke Semarang dan melanjutkan sekolah ke SMA N 3.


Cara penyaringan siswa begini memberikan dampak kecemburuan sosial atas sekolah-sekolah lain yang terletak di segala penjuru kota Semarang. Siswa-siswa berkualitas yang berdomisili dekat dengan sekolah-sekolah tersebut tidak melirik sekalipun untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang (sayangnya) memiliki kualitas pas-pasan. Mereka berbondong-bondong belajar di SMA N 3, meskipun lokasi rumah dengan sekolah lumayan jauh.


Inilah sebabnya pada penerimaan siswa baru sekolah negeri tahun ajaran 2006/2007 diberlakukan sistem rayonisasi, sehingga siswa-siswa hanya bisa melanjutkan ke sekolah-sekolah yang letaknya satu rayon dengan tempat tinggal mereka. Seandainya mereka ingin menyeberang rayon, mereka harus memiliki NEM yang tinggi. Prosentase penerimaan siswa dalam dan luar rayon adalah 60%:40%. Sekolah-sekolah harus memprioritaskan calon-calon siswa yang berdomisili di dalam rayon, hingga mencapai 60% dari keseluruhan jumlah calon siswa yang akan diterima, baru menerima calon-calon siswa yang berdomisili di luar rayon.


Namun, ternyata sistem rayonisasi seperti ini berdampak buruk bagi SMA N 3 meskipun menguntungkan bagi sekolah-sekolah negeri yang lain, karena akhirnya mereka mendapatkan calon-calon bibit unggul yang kebetulan tidak dapat diterima di sekolah-sekolah favorit, salah satunya SMA N 3. Untuk memenuhi prosentase 60% tersebut, SMA N 3 terpaksa menerima calon-calon siswa yang memiliki NEM rendah. (Catatan: SMA N 3 terletak di satu lokasi dimana memang jarang ada tempat tinggal, kebanyakan adalah bangunan kantor, maupun pusat-pusat keramaian lain. Dengan pemekaran kota Semarang, tentu saja lebih banyak tempat tinggal yang terletak di pinggiran kota.)


Hal ini membuat pihak sekolah keberatan karena dengan input yang kurang bagus, mereka harus menerapkan sistem SNBI. Untuk memenuhi sistem SNBI, selain SMA N 3 harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai (misal: ruang kelas harus ber-AC, setiap kelas dilengkapi dengan komputer dan LCD yang terhubung ke internet, plus kenyamanan-kenyamanan lain yang mungkin setara dengan sekolah di luar negeri), kurikulum pilihan, ada beberapa pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Inggris, yang berarti harus menyiapkan human resources yang memadai.


Setiap kali aku menghadiri rapat orang tua siswa-sekolah, kepala sekolah tidak pernah bosan-bosannya mengeluhkan masalah ini  input yang kurang memadai, namun harus mengikuti sistem SNBI. 


Rapat hari Rabu kemarin membahas tentang persiapan penjurusan setelah naik ke kelas 2. Jika dalam waktu beberapa tahun terakhir ini SMA N 3 tidak membuka jurusan Bahasa, tahun ini SMA N 3 membuka jurusan yang sudah lama dianaktirikan ini, dengan alasan mengingat input yang sangat bervariasi. Sekolah tidak lagi bisa memaksakan siswa untuk hanya masuk ke dua jurusan IPA dan IPS. 

Rapat dimaksudkan untuk memberitahukan kepada orang tua siswa untuk mempersiapkan anak-anaknya sebaik mungkin, sembari mengingat minat, bakat, dan kemampuan masing-masing. Mengapa? Karena sering terjadi seorang anak memilih jurusan yang dianggap bergengsi—IPA—bukan karena minat dan bakat si siswa, namun karena gengsi orang tua. Dengan mengingatkan bahwa input tahun ini tidak atau kurang bagus dibanding tahun-tahun lalu, pihak sekolah ingin bahwa para orang tua juga memaklumi hal ini. tidak lah serita merta seorang anak yang biasa-biasa saja kemampuannya tiba-tiba menjadi luar biasa setelah bersekolah di SMA N 3. 


Sementara itu, berdasarkan hasil rapot semester I, memang terlihat dengan jelas gap nilai yang didapatkan oleh siswa-siswa yang NEM nya cukup tinggi (SMA N 3 menggunakan tolok ukur yang mereka pakai pada penerimaan siswa baru tahun ajaran 2005/2006 yakni minimal NEM 26) dengan mereka yang NEM nya di bawah itu. 


Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh SMA N 3 selama semester 1 kemarin untuk meningkatkan prestasi akademik siswa adalah dengan memberlakukan matrikulasi mata-mata pelajaran tertentu yang dirasa kurang dikuasai oleh siswa. Matrikulasi dilakukan pada jam ke-0 alias pukul 06.45-07.00. Selain itu juga dengan mengadakan her alias mengulang tes seandainya nilai tes yang didapatkan se belumnya berada di bawah standar kelulusan yakni nilai 75.


Semester 2 ini baru berjalan selama satu bulan. Akankah pemberian matrikulasi (atau pelajaran tambahan) dan pemberlakuan her akan meningkatkan prestasi akademik para siswa yang tatkala masuk SMA N 3 memiliki NEM yang pas-pasan? Pihak sekolah memberitahukan bahwa seorang siswa akan tinggal kelas jika dia mendapatkan nilai kurang dari 75 untuk lebih dari 3 mata pelajaran. 


PT56 23.55 210207

Saturday, February 10, 2007

SMA N 3 Semarang



Seberapa beratkah menjadi murid SMA 3 Semarang, terutama mulai angkatan Angie yang dibebani dengan mutu SNBI? 


Jadi ingat ketika aku masih duduk di bangku SMA 3 lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Kalau ada guru praktek—mahasiswa IKIP—aku dan teman-teman suka ngeliat guru-guru praktek yang grogi menghadapi siswa-siswa SMA 3 yang terkenal (biasanya) lebih cerdas dibanding sekolah-sekolah lain. LOL. Sering mereka berkeringat dingin ketika berada di depan kelas. Khawatir siswanya lebih cerdas dibanding mereka sendiri. LOL. (NOTE  jaman itu, ada juga stereotyping: mahasiswa UNDIP lebih cerdas dibanding mahasiswa IKIP, yang notabene guru-guru praktek itu kurang cerdas. Oh well, bagaimana mereka akan mencerdaskan generasi mendatang kalau mereka sendiri tidak (atau kurang) cerdas?


Sekarang aku berprofesi sebagai guru. Apakah aku grogi tatkala menghadapi siswa-siswa cerdas? Khawatir keliatan gobloknya? Hahahahaha ... Ternyata enggak tuh? I even love smart students more than those who are less smart. Gampang banget to explain about something. Ga perlu pakai acara ngotot kalau sedang menjelaskan. LOL. So, sekarang kupikir, betapa enaknya guru-guru SMA 3 Semarang itu yang menghadapi (kebanyakan) siswa-siswa yang cerdas. They don’t need to work hard, do they?
Talking about facing smart students, jadi ingat omongan Abang, “How if your student outsmarts you?” ketika aku memujinya sebagai, “My smart student” terutama kalau kuajak adu reading between the lines. See? Dia juga a snob kan? Hahahaha ... kata Phillip, teman blogku dari Inggris, “an intellectual snob.” LOL. 


Oh well, Angie dan teman-temannya yang keberatan dengan tugas ini itu dengan standar nilai 75 itu. Guru-gurunya (mungkin) yang tidak keberatan atau kesulitan ketika explaining things before the class. Or do they?


PT56 23.15 050207

Angie and her school



“Hah, memang berat menjadi murid SMA 3 Semarang,” komplain Angie sekitar satu setengah jam yang lalu tatkala dia sedang berkutat dengan peer-peernya yang bejibun. Aku hanya tersenyum mendengarnya, sembari tetap menyuapinya makan malam. (Bayangkan: aku menyuapinya makan malam sementara dia sibuk mengerjakan peer dan kadang-kadang bersms ria dengan teman-temannya untuk bertanya ini itu. Do you think I spoil her? Yah, anak cuma satu, siapa lagi yang akan ku-spoil?)


Ketika Angie lulus SMP bulan Juni 2006, aku sendiri memang memiliki keinginan kuat agar Angie sekolah di sekolah negeri terfavorit di Semarang ini dengan alasan romantisme—dulu aku pun sekolah di situ. Namun, mengetahui bahwa SMA N 3 Semarang terpilih sebagai pilot project SNBI (Sekolah Nasional Berstandar Internasional) di Semarang, aku agak ragu apakah Angie mau ‘bekerja keras’ untuk menjadi siswa di situ. Kenyataan bahwa her dream boy masuk ke sekolah itu, mempermudah keinginanku menjadi kenyataan. LOL. 


Hasil rapor semester I kemarin menurutku tidak begitu mengecewakan—kecuali bahwa nilai Bahasa Inggrisnya cuma 80. Aku tidak pernah mendapatkan nilai di bawah 90 untuk Bahasa Inggris ketika aku duduk di bangku SMP dan SMA. Hasil jerih payahku sendiri. Lah Angie? She has me—her mother, an English teacher—sebagai tempat dia bertanya ini itu. Tiga mata pelajaran yang nilainya masih di bawah 75—sebagai standar kelulusan—adalah Matematika, Kimia, dan Ekonomi. Meskipun ketika kuliah S2 kemarin aku begitu mengejar nilai A, bagiku sebenarnya tidak begitu penting berapa nilai yang Angie dapatkan di rapornya, yang penting adalah dia harus paham betul materinya. Buat apa nilai bagus tapi dia cuma hafalan belaka?


Beberapa hari yang lalu, dia komplain omongan guru Matematikanya, “Bagi mereka yang nilai Math di rapornya di bawah 75, dan di rapor semester dua nanti juga sama, tidak ada perkembangan, jangan berharap mimpi masuk jurusan IPA.” Kata guru itu. 


Aku berkomentar, “Kalau Angie beneran mau kuliah di jurusan Psikologi nanti, Angie harus masuk jurusan IPA.” 

Angie diam saja mendengarnya.

Well, aku bukan tipe orang tua yang merasa perlu menyuruhnya—atau memaksanya—untuk belajar, atau yang setiap beberapa menit sekali atau beberapa jam sekali mengingatkannya, “Sudah belajar belum? Sudah bikin pe-er belum? Dll...” Aku anggap Angie sudah cukup dewasa untuk menentukan kapan dia belajar, kapan bikin pe-er, kapan baca novel teenlit kesukaanya, kapan nonton teve, dll. Aku akan mengatakan sesuatu yang penting TEPAT PADA WAKTUNYA. Yah, misalnya waktu mengingatkannya harus belajar Math lebih giat lagi kalau dia memang benar-benar pengen kuliah di jurusan Psikologi yang berarti dia harus masuk jurusan IPA.

Hah, aku sendiri sebenarnya sebel juga dengan dikotomi ini—IPA/IPS/Bahasa. Apalagi banyak di masyarakat anggapan bahwa jurusan IPA milik anak-anak yang pintar, dan jurusan IPS/Bahasa milik anak-anak yang kurang pintar. Padahal ini kan semata urusan interest masing-masing individu?
Any idea why a student must major IPA to continue to Psychology faculty?

Oh well, memang Angie harus selalu bekerja keras. Dan kupikir aku telah memberinya contoh yang lumayan bagus. Aku selalu membaca buku—yang tidak hanya novel, namun kebanyakan buku yang kubaca adalah buku scientific—padahal aku bukan mahasiswa lagi. 

PT56 23.00 050207

Monday, February 05, 2007

Raising Angie


“Pada waktu Angie berusia berapakah kamu merasakan paling sulit membesarkannya?”
Ini adalah satu pertanyaan seorang rekan kerja kepadaku hari Sabtu siang tatkala aku sedang mengerjakan monthly report di ruang guru.

Dan aku sedikit bengong mendengarnya karena teman satu ini tahu betul betapa dekat hubunganku dengan Angie—dan kamu tahu, dia memberi nama anaknya Anggun, dan memberinya nickname Angie, sama persis dengan nickname my Lovely Star, yang ternyata pernah dikomplain oleh Angie anak semata wayangku itu. LOL. Satu alasan jelas, dia tidak mau diduakan. “Emang ga ada nickname lain apa kok pilih nick itu? Itu kan milik Angie?” komplainnya padaku. LOL. Aku jawab, “Well, honey, to me it shows that that workmate of mine adores you.” Huehehehehe ... dan Angie pun ternyata tetap saja bersungut-sungut. Lebih lanjut aku bilang, “She wants her daughter as sweet and nice as you, don’t you realize that?” Angie hanya menatapku dengan sorot mata heran. Oh goodness, she doesn’t realize that she is very sweet and nice? And of course it is because HER MOTHER—ME IN THIS CASE LOL—IS ALSO VERY SWEET AND NICE? Hahahaha ...

Mbak Icha Koraag—seorang teman milis—menjulukiku “Si Nana yang nafasnya selalu penuh cinta”. Kan? Karena aku membesarkan Angie dengan penuh cinta—meskipun bukan berarti aku tidak pernah memarahinya, dengan catatan kalau aku marah aku tidak pernah berteriak-teriak ataupun mengomelinya, kayak kelebihan energi aja LOL—tentu Angie pun tumbuh menjadi anak yang penuh cinta kepadaku.

“Well, you know, my communication with Angie is very ok and I think that’s the basic way to have a good relationship. Therefore, I don’t think I have undergone difficulty to raise Angie,” ini jawabanku kepada rekan kerjaku itu.

Belajar dari pengalamanku sebagai anak juga merupakan salah satu kunci aku memiliki hubungan mulus dengan Angie. Aku tidak pernah ngejudge dia buruk hanya karena dia suka lingering at school setelah pulang sekolah, ataupun main ke rumah Nana—sobatnya yang punya nick sama persis denganku, betapa orang di dunia ini memang kurang kreatif yah? LOL. Sewaktu duduk di bangku SMP dan SMA aku dulu juga suka melakukannya—lingering dengan teman di sekolah, maupun mampir ke rumah teman maksudku—dan aku melihat there is nothing wrong with that. Kalau aku dulu melakukannya, mengapa aku harus mengomeli Angie karena melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan dulu? (Ssssttt ... Angie’s grandma expected me to scold Angie for that yang tentu saja tidak kulakukan.)

Aku tidak pernah memarahi Angie—menggunakan istilah rekan kerjaku itu ‘being judgmental’—karena hal-hal yang dia lakukan yang dulu tidak kulakukan. Misalnya dia bercerita ketika dia tidak menyukai satu pelajaran ataupun gurunya, dia kabur ke kantin sekolah dengan teman-temannya. Daripada aku omelin kemudian dia ga mau lagi bercerita hal-hal “kreatif” seperti itu lagi? Aku akan lose track atas apa aja yang dia lakukan. Satu hal yang pasti, meskipun dia tidak suka gurunya maupun pelajaran tertentu, sebagai siswa SMA N 3, dia dikenai beban untuk lulus satu pelajaran jika mendapatkan nilai 75, di bawah itu, dia akan harus terus menerus mengulang. Mau tidur di kelas kek, mau kabur ke kantin kek, dia tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab ini.

Satu hal lain lagi yang dia lakukan—dan tidak pernah kulakukan ketika aku duduk di bangku SMA—adalah mempersiapkan contekan dengan canggih. Oh well, tentu saja, karena dua puluh tahun yang lalu, aku tidak punya media untuk itu. Barangkali aku akan melakukan hal yang sama jika ada media canggih yang akan membantuku mencontek. Hahahahaha ... Anak-anak sekarang—berdasarkan cerita-cerita siswa-siswaku di tempat kerjaku, juga dari Angie tentu saja—sering menggunakan media sms untuk saling mencontek. Kebetulan Angie memiliki MP yang bisa dipakai untuk menyimpan dan membaca tulisan menggunakan txt extension. Satu malam, aku memergokinya mengetik menggunakan notepad dan bukan MsWord. Aku lihat MP nya menempel di kabel perpanjangan USB yang tentu berarti dia pakai untuk menyimpan ketikan notepad itu di MPnya. Aku tanya, “What are you doing honey?”
“Biasa lah Ma, mempesiapkan contekan,” jawabnya ringan. LOL.

Aku tidak kaget karena aku telah memperkirakan that was what she was doing at that time. Oh well, harus menyalahkan siapa kalau di Indonesia negeri tercinta ini pendidikan masih bertumpu pada hafalan dan bukan pemahaman? Satu hal pasti yang selalu kukemukakan pada Angie, aku ingin dia memahami satu topik permasalahan yang dia jumpai dalam pelajaran di sekolah, dan bukan hanya menghafalkan, dan seminggu kemudian lupa.

Akhir-akhir ini aku memang tidak begitu disibukkan oleh jadual kerjaku yang mebuatku punya waktu untuk menjemput Angie pulang sekolah. Di malam hari masih sempat mendengarkan celotehannya tentang teman-teman sekolahnya, guru-guru yang katanya sering sok tahu masalah remaja—perhatikan CUMA SOK TAHU tanpa benar-benar pernah mau memahami apa yang mereka alami dan rasakan—cowo-cowo yang dia taksir, dll.

Membesarkan anak selalu merupakan satu kegiatan dan tanggung jawab yang sangat asik bagiku. Bagiku cinta bukan hanya untuk diucapkan dan dirasakan, namun juga diungkapkan dengan physical touch—aku selalu suka menciumnya dan memeluknya—memahami dunianya yang tentu sudah berbeda dari duniaku ketika aku masih remaja, berkomunikasi yang baik—saling mendengarkan satu sama lain dan saling percaya.

Memberi mereka kesempatan—dan kepercayaan tentu saja—untuk melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan yang mereka yakin itu baik buat mereka, dan kita cukup memantau dari belakang. Dan lain lain deh.

Klise yak?

Hahahahahaha ...

PT56 07.15 040207

Tuesday, December 12, 2006

Angie and her friends



These three pretty girl (from the left to the right) are Nana, Angie, and Mita. Now they study at the same school, the most prestigious state senior high school in Semarang, SMA N 3. And for your information, I graduated from this school too twenty years ago. It has always been the most prestigious school. :) sombong ga papa kalau memang layak sombong. LOL.

Nana—the nickname is the same as mine—has been Angie’s close friend since they were in the fourth of elementary school if I am not mistaken. Luckily they have always been going to the same school since elementary school. When graduating from elementary school, Nana’s parents asked her to continue the study in the junior high school where her big brother was studying at that time. However, Nana refused with the reason that Angie didn’t want to continue her study there. She wanted to be at the same school with Angie. Her parents gave in. So? They were at the same junior high school.
 
After graduating from junior high school, luckily they were accepted at the same school again. Even in the tenth (first) grade this year they are in the same class.
 
As far as I remember from my own experience, I never survived friendship for such a long time. None of my friends at elementary school continued their study at the same school with me until senior high school. I still kept the friendship, of course, although we didn’t go to the same school. Even, after I continued my study at my bachelor’s degree at Gadjah Mada University Yogya, I still once in a while visited some of them. I dont remember though when we lost contact.

Let’s go back to the picture above.  Mita, another close friend of Angie used to study in a different junior high school from Angie and Nana. They met each other for the first time when some years ago they took an English course in one of the most sought after English courses in Semarang, even, in Indonesia.  Luckily, then they continued to the same senior high school. Although they are not at the same class at school, they are at the same class at the English course.

With digital camera technology nowadays, it is much easier to record friendship like this, isn’t it? It is compared to the time when I was at high school. And with internet and its blogging technology, it is also much easier for me—and also for abundant other people—to share this kind of picture all over the world. 

PT56 09.43 121206

Tuesday, October 03, 2006

Kenangan Saat Angie ...

Mei 2008


Artikel ini terilhami oleh buku Family Secrets—Acts of Memory and Imagination tulisan Annette Kuhn, yang diungkapkan oleh Aquarini dalam artikelnya “Jins, Dangdut, dan Dosen: Fashion sebagai Pernyataan Diri” dalam bukunya Kajian Budaya Feminis.

 

Dalam bukunya yang merupakan analisis personal atas masa kecilnya, Annette menulis tentang pakaian-pakaian yang dia kenakan dalam pelbagai kontes, pakaian-pakaian hasil karya ibunya, untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam menciptakan berbagai macam kreasi pakaian, dan kemudian “memaksa” sang anak yang masih berusia tujuh tahun sebagai “manekin hidup”. Annette kecil tidak kuasa untuk menolak keinginan sang ibu tentu saja.

 

Membaca artikel ini mengingatkanku pada masa-masa ketika Angie sedang getol mengikuti kontes modelling, sekitar tahun 1997-1999, kemudian 2001-2002.

 

Angie “berkenalan” dengan dunia modelling ketika dia mengambil kursus Bahasa Inggris di suatu lembaga yang disebut Semarang 2000 yang pada waktu itu berlokasi di daerah perumahan Semarang Indah, Semarang. Selain kursus Bahasa Inggris, Angie juga mengambil kelas “perkembangan anak” (agar anak menjadi pemberani, mudah bergaul dengan anak-anak lain, leadership, dll), menari, menggambar, dan modelling. Angie yang masih duduk di bangku kelas 1 SD, tentu saja memiliki banyak waktu luang di sore hari, sehingga aku membiarkannya mengikuti kegiatan ini itu asalkan dia sendiri menikmatinya. “Tut Wuri Handayani” kata oran Jawa.

 

dijepret 28 October, 2001, event di McD

 

Dari beberapa kegiatan yang dia ikuti, modelling adalah kegiatan yang akhirnya menyita banyak waktu, energi, dan juga uang. LOL. Tentu saja, Angie pernah juga ikut lomba Bahasa Inggris—yang paling memorable adalah ketika dia menjadi juara 1 dalam lomba reading English nursery poem sekotamadya Semarang; menari—pernah menjadi juara 1 sekotamadya Semarang dengan kelompoknya. Namun kegiatannya dalam mengikuti lomba modelling lah yang akan kubahas di sini.

 

Semua bermula dari keinginan Angie sendiri untuk mengikuti berbagai lomba tersebut. Tiga lomba pertama yang dia ikuti—sekitar bulan Agustus-September 1997—dimana Angie kalah, tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengikuti lomba. That’s great, isn’t it? Dan ketika pertama kali Angie memenangi suatu lomba modelling, itu membuat Angie tambah bernafsu untuk memperbanyak jumlah piala yang dia miliki. (Anak kecil mana yang tidak menyukai piala?) Dan aku pun ketularan ikut bernafsu.

 

Lama-lama aku mulai memaksa Angie untuk latihan jalan di rumah—aku sebagai pengawasnya—selain latihan rutin dengan instruktur modellingnya. Melihatku yang bernafsu seperti itu ternyata membuat Angie bosan. (Yah, maklum, anak kecil!) Dan aku mulai menggunakan “I-am-your-mother-so-you-must-obey-me” policy to her. Sometimes it worked, sometimes it didn’t though. LOL. (Goodness, aku mulai membayangkan apa yang akan Angie tulis kelak setelah dewasa nanti atas pengalamannya di waktu kecil, seandainya dia tumbuh menjadi seperti Annette Kuhn, yang “memprotes” ibunya lewat bukunya Family Secrets—Acts of Memory and Imagination? Sebelum aku dikritik oleh Angie, aku melakukan otokritik dulu deh lewat tulisan ini. LOL.)

 

Berbeda dengan Annette yang tidak menyukai pakaian yang dia kenakan, Angie tidak bermasalah dengan pakaian yang dia kenakan ketika mengikuti lomba-lomba modelling tersebut. Yang dia protes adalah cara kerasku memaksanya untuk latihan jalan sebelum tidur (FYI, aku pulang kerja rata-rata jam 21.00, dan sebelum tidur, aku menyuruh Angie latihan selama kurang lebih 15-20 menit. Untunglah ruang tengah di rumah lumayan luas, lumayan layak untuk tempat latihan. Ups ... jadi ingat beberapa mahasiswaku yang mungkin mengakses blog ini, they will find out bagaimana Ms. Nana bisa tahu bagaimana cara jalan di catwalk, bagaimana berpose, bagaimana melakukan putaran, dll, LOL. Dari hasil pengamatan instruktur modelling Angie mengajari Angie. Untuk mengantisipasi mahasiswa agar tidak datang terlambat ke kelas, aku sering memberikan hukuman untuk menyanyi, membaca puisi, jalan di catwalk, dll, bagi mereka yang datang terlambat ke kelas. 😎😂)

 

Angie cukup pede dengan berbagai pilihan busana yang kupilihkan untuk dia kenakan ketika mengikuti lomba modelling, dari mulai busana pesta, casual, pantai, sampai busana muslim. Dan nampaknya dia merasa nyaman-nyaman saja mengenakannya. (Just wait until she grows up, will she complain? LOL.)

 

Ada satu pasang sepatu yang dia komplain ketika mengenakan, karena ternyata kekecilan waktu dipakai. Sepatu boots warna merah yang dia kenakan dalam lomba “PutraPutri McKids” di McDonald’s Sri Ratu Semarang. Angie sempat ngambek tidak mau memakainya karena tumit dan jari-jari kakinya sakit. Namun karena tidak punya sepatu lain yang cocok untuk pakaian yang dia kenakan, aku paksa dia memakainya. LOL. Sebenarnya ada sepatu lain yang berwarna merah, namun karena modelnya pantofel—tidak funky kalau dipadukan dengan busana casual—Angie tidak memiliki pilihan lain selain sepatu boots merah yang hampir selutut itu. LOL. Untunglah dia menang sebagai juara favorit, sehingga terbayarlah sakit di kakinya. Dan sepatu yang harganya lumayan mahal bagi kocekku ini hanya dipakai sekali untuk mengikuti lomba. LOL.

 

Kembali ke keegoisanku untuk memaksa Angie latihan jalan sebelum tidur, LOL, lama-lama aku mengalah ketika melihatnya benar-benar bosan. Lomba terakhir yang dia ikuti adalah “King and Queen of Millennium” bulan Juli 1999.

 

Setelah vakum selama dua tahun, dan kulihat Angie kangen berlenggak-lenggok lagi di catwalk, aku menawarinya untuk come back. Dia mulai ikut lomba lagi dalam “Kontes Teletubbies” bulan Juni 2001 yang diselenggarakan di lantai dasar Citraland Semarang.. Lomba terakhir yang dia ikuti adalah “Busana Nuansa Pink” dengan penyelenggara McDonald’s Java Mall Semarang bulan Februari 2002. Ketika Angie benar-benar siap mental, dan berkeinginan sendiri—tanpa campur tanganku—sehingga dia pun bertanggung jawab atas pilihannya itu, misal mau latihan jalan sendiri tanpa kuminta, tampil maksimal, dan tentu saja hasilnya pun bagus: Angie selalu memenangi setiap lomba yang dia ikuti dalam rentang waktu Juni 2001—Februari 2002.

 

Setelah itu nyokapnya sibuk sendiri dengan studinya di Yogya. LOL.

 

PT56 22.57 300906

Saturday, September 23, 2006

Angie



This picture was taken on September 6, 2006, at SWAGAYA photo studio Citraland Semarang.

Wednesday, September 20, 2006

SNBI

SNBI = Sekolah Nasional Berstandar Internasional

Sejak ajaran tahun 2006/2007, SMAN 3 Semarang dipercaya untuk menyelenggarakan program SNBI. Tentu pemerintah tidak sembarang tunjuk untuk menyelenggarakan program ini, untuk di Salatiga yang terpilih adalah SMAN 1 Salatiga. Hanya sekolah terbaiklah yang dipilih oleh pemerintah untuk menyukseskan program yang cukup bergengsi ini. Masih ada beberapa sekolah lain lagi di Indonesia ini, but I didn't really pay attention to it.

Resiko dari SNBI pertama yang kurasakan adalah monthly school fee yang relatif mahal untuk ukuran sekolah negeri di Semarang. Angie harus bayar Rp. 150.000,00 perbulan. Karena Angie sering harus spend time sampe sore di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekskul ini itu, resikonya adalah aku harus memberinya uang saku tambahan untuk makan siang di sekolah (bandingin waktu aku masih SMA dulu, jarang banget aku makan siang di sekolah. Pulang sekolah harus langsung pulang ke rumah, gak boleh lingering di manapun. Sesampe rumah, makan siang, kalo ada acara lagi di sekolah, baru berangkat lagi.)

Fasilitas yang diterima Angie. Ruang kelas ber-AC. Setiap kelas dilengkapi oleh LCD.

"Resiko" yang harus dihadapi Angie. Lima pelajaran disampaikan dalam Bahasa Inggris--Mathematics, Physics, Chemistry, Economics, and Biology. Satu mapel--TIK--juga disampaikan dalam Bahasa Inggris karena guru pengampu barusan lulus kuliah S2 dari Australia. LOL. (Angie and her friends complained about this to me. LOL.) Nilai minimal dianggap lulus adalah 75. Kurang dari itu? Harus ambil REMEDY. Dan, menurut hasil UHT (Ulangan Harian Terstruktur???) kemarin, dari 16 mapel, Angie harus mengambil remedy 9 mapel. LOL. LOL.

Banyak teman sekolah Angie yang diomeli orang tuanya karena hasil UHT yang jeblok. Dan seperti biasa, aku adem ayem saja, buat apa juga ngomel? Angie sendiri tentu lelah dan kecewa dengan hasil itu. Kenapa pula harus kutambahi dengan omelan? Satu hal yang pasti, ketika mengejar untuk diterima di SMAN 3 Semarang, dan tahu bahwa mulai tahun ini diberlakukan SNBI, Angie harus sudah tahu resikonya bahwa dia tidak bisa take things as easy as when she was at junior high school. She has to work hard.

Perenunganku adalah apa tujuan pemerintah ketika launching program SNBI ini? Untuk mencetak generasi mendatang yang lebih cakap untuk menjawab tantangan globalisasi di masa depan? Hanya dengan menyampaikan kelima mapel itu dalam Bahasa Inggris, yang pada prakteknya justru menimbulkan confusion? Sang guru yang belum tentu capable dalam Bahasa Inggris dan dipaksa untuk mengajar dalam Bahasa Inggris? Para murid yang tambah bingung untuk memahami apa yang disampaikan oleh sang guru yang belum capable to speak English? LCD yang belum aku ketahui apakah benar-benar difungsikan secara maksimal untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ataupun kegiatan ekskul? Kecuali ruang ber-AC yang membuat siswa nyaman berada di kelas (Semarang is too damned hot!!!), sehingga diharapkan bisa lebih berkonsentrasi ke guru yang sedang mengajar di kelas, asal tidak menjadi mengantuk saja. LOL.

Masih terlalu dini untuk mengukur seberapa keberhasilan/kegagalan program SNBI ini. Tapi seperti biasa ketika ada satu program pendidikan baru, siswa yang sering menjadi korban, orang tua siswa juga.

jdc 18.48 200906

Tuesday, September 19, 2006

Saturday, September 16, 2006

PENSAGA

PENSAGA = pentas seni SMA 3 Semarang.
Yup, hari ini 16 September 2006, SMA 3 Semarang menyelenggarakan pentas seni. Aku ga begitu yakin tapi buat apa diselenggarakan pentas seni semacam ini selain untuk membuat siswa-siswinya memiliki kegiatan dan membuat mereka bahagia. Sekaligus juga untuk promosi ke seluruh masyarakat Semarang khususnya bahwa salah satu kegiatan yang dimiliki oleh SMA 3 adalah menyelenggarakan pentas seni. :)
Jadi ingat ketika aku masih di SMA dulu--aku juga bersekolah di sini--pentas seni selalu dilaksanakan tanggal 1 November, untuk merayakan ulang tahun sekolah. Sebelum itu, diselenggarakan beberapa lomba antar kelas dengan pentas seni sebagai puncak acara. Diselenggarakan selalu tanggal 1 November karena biasanya kemudian para alumni yang ingin bernostalgia akan datang ke sekolah pada tanggal tersebut. Tidak perlu ada undangan, tidak perlu ada pengumuman di koran misalnya. Dan setelah Angie bersekolah di sini, baru tahu aku bahwa pentas seni tidak lagi diselenggarakan tanggal 1 November.
Aku bilang ke Angie kalo aku ingin datang nonton pentas seni ini. Tidak hanya sebagai nyokapnya Angie, tapi juga sebagai alumni, kepengen bereuni, paling tidak dengan gedung sekolah yang telah mengalami perombakan di sana sini dan guru-guru yang hadir. Sayangnya ternyata Angie tidak setuju dengan ideku untuk ikut hadir. :( Waduh ... kali pertama aku ditolak "ikut-ikutan" acara Angie. :((
Semula dia ngotot agar aku tidak datang. Setelah beberapa kali aku merayunya, akhirnya di bilang, "Oke, Mama boleh datang, tapi Mama ngajak teman sendiri deh, jangan kayak lalat ngikutin Angie kemana aja." wakakaka ... Sayangnya aku yang sering tidak sociable ini, tidak punya ide siapa yang akan kuajak. :( Kedua adikku sibuk dengan acara mereka sendiri. Kalo aku pergi menghadiri acara seperti ini, aku harus datang dengan seseorang yang membuatku merasa nyaman bersamanya, bisa nyambung kalo ngobrol, dan bukannya malah debat kusir. LOL. It is very okay for me to come alone, dengan duduk manis di pojok, ato dimana sajalah, menikmati kesendirianku, sambil menikmati pentas seni. Tapi Angie tidak mengijinkanku, karena dia khawatir aku bakal jadi "lalat" itu. LOL. Huaaaaaaaaa ... Teganya si Angie ini. LOL. Padahal banyak siswa SMA 3 yang mengambil English course di LIA, tentu aku agak ngetop juga di situ. LOL. Bakal banyak lah yang menyapaku nanti (sok jadi selebritis... LOL). Tapi, ya itulah, akhirnya aku memutuskan untuk tidak datang. I will spend my Saturday evening dengan nulis di blog, baca messages di mailing list, dan chat dengan Abangku seorang yang sayangnya berada ribuan km dariku. Kalo dia berada di Semarang tentu akan kuseret dia menemaniku. LOL.
Setelah itu, aku akan menjemput Angie sekitar jam 9pm. Itu aja Angie protes, bilang, "Mama, acara belum selesai kalo jam 9! Jemputnya jam 10-an." Aku bilang, "Well, honey, Mama entar nunggu di pelataran parkir deh, ato dimana begitu. Oke? I will not disturb you until the program is over. Ok?"
Oh well, anak belasan tahun ... LOL. Aku sudah lupa whether I behaved like Angie when I was around her age. LOL.
JDC 16.50 160906

Thursday, September 14, 2006

Angie's protest

me 😝

 Waktu menunjukkan pukul 6.45pm tatkala aku dan Angie memasuki kedai “Kahuripan”. Suasana kedai tidak terlalu ramai, hanya kulihat dua pasang laki-laki dan perempuan di meja di tengah ruangan, dan satu pasang lain di pojok sebelah Barat. Penerangan ruangan yang temaram membuatku langsung merasa tersegap keromantisan. Angie memilih duduk di pojok sebelah Timur, meja yang memang khusus hanya untuk dua orang.


Ketika waitress datang, Angie memilih steak ayam dan cappuccino milkshake, sedangkan aku memilih kwetiau goreng spesial dan orange juice.


Sembari menunggu makanan siap dihidangkan, kemudian kita makan bersama, Angie tak henti-hentinya bercerita tentang teman-teman sekolahnya, juga ketika dia menghadapi oral examination di LIA yang baru saja dia selesaikan sebelum kita bersama menuju kedai Kahuripan. Saat-saat yang sangat kunikmati ketika kita eating out berdua, Angie selalu terlihat bright-eyed tatkala bercerita kepadaku tentang segala hal yang dia alami.


Setelah selesai makan, Angie langsung mengajak pulang. Sebelum keluar, aku membayar dulu di kasir. Kasir bertanya ramah padaku, “Itu putrinya mbak?”
“Iya, dia dulu bersekolah di SMP N 1 di seberang jalan itu, makanya dia tahu kedai ini.”

*****


Kita sampai di rumah sekitar jam 7.30. Begitu masuk kamar, Angie dengan kesal bertanya, “Mama tadi ngeliatin ga dua perempuan berjilbab yang duduk di tengah ruangan waktu kita masuk?”


“Iya Mama liat tadi, tapi ga merhatiin banget sih. Ada apa?”


“Matanya waktu ngeliatin Angie kayak mata polisi yang menginterogasi pesakitan aja. Pasti karena dia liat Angie masih pake seragam sekolah. Mana ada anak sekolah masih keluyuran malam-malam pake seragam sekolah? Kalo ada, tuh anak pasti bukan anak yang beres, yang suka keluyuran kemana-mana sepulang sekolah, dan tidak langsung pulang ke rumah!”


Serentak aku ingat kasir yang bertanya padaku, “Itu putrinya mbak?” apakah dia pun berpikiran yang sama seperti yang dituduhkan Angie kepada dua perempuan berjilbab itu?


Well, ini adalah pengalaman kedua kita berdua, Angie masih berseragam sekolah, dan kuajak makan malam di salah satu rumah makan. Yang pertama dulu Angie juga komplain ketika beberapa orang di rumah makan itu memelototinya dan memandang ke badge sekolahnya.


Untuk menenangkannya, aku bilang, “Honey, I am your mother. Angie pergi jam segini sama Mama. Dan kita langsung mampir ke rumah makan dari LIA karena praktis saja, dibandingkan kita harus pulang ke rumah dulu, ganti baju, terus keluar lagi untuk makan. And I know exactly what you have been doing since morning. And you know what you are doing. Don’t care what other people think about us. Bisa mati berdiri kita kalau selalu mikirin omongan orang, what the hell they are thinking about us.”
“But Mom, don’t blame me if that judgmental look from those nosy guys bothers me.”


“Fine. But don’t think of it too much, okay? Remember, we are what we think, we are what we do, and not what other people think, not what other people accuse.”


Telepon yang berdering di ruang tengah menghentikan pembicaraan kita. Angie langsung menghambur keluar, dan asik ngobrol dengan temannya lewat telepon.


This sucking society, with those sucking judgmental people... And they are my fellow citizens in Indonesia.😜


PT56 07.49 140906

Thursday, September 07, 2006

Angie libur 2 hari



Hari ini Angie libur sekolah, besok juga. Sekolahnya dipakai untuk Olimpiade Sains. Selain SMA N 3 Semarang, juga SMA N 1 Semarang.

 

Mumpung Angie libur, kuajak saja dia jalan-jalan. Acara(ku) hari ini:

 

Pagi jam 7 ke kantor sebentar, to punch the attendance card. (well ... well ... kayak pegawai pabrik aja ... hahahaha ...) Mampir ke kantorku yang terletak di lantai 10, untuk ngecek email dan blogs. But, ups ... the internet was not accessible. :(

 

Dari kantor ke Paradise Club, ikut erobik sekitar 50 menit. (I came late.)

Dari PC, pulang ke rumah, mandi, sarapan, dan siap-siap jalan sama Angie.

 

Dari rumah aku dan Angie ke salon dekat rumah, creambath. Udah kurang lebih sebulan, i didn't have my hair creambathed.

 

Dari salon, aku dan Angie ke Citraland Mall. Pertama, kita ke lantai dua, ke SWAGAYA photo studio. Narcist-nya lagi kumat. LOL. Pertama aku pilih yang foto untuk berdua (horizontal) 4 kali, Rp. 30.000,00. Aku dan Angie foto bareng dua kali. Trus, aku foto sendiri, dan Angie foto sendiri. Posisi, duduk, ga bisa berdiri. But, then aku inget, Abangku pengen liat fotoku yang kelihatan perutnya. wakakaka ... Jangan ngeres yah pikirannya. wakakaka ... Dia heran waktu aku cerita hari Sabtu yang lalu, I had lunch at 12.30. Trus, di kantor ada klepon di atas meja pukul 13.30, tak embat. LOL. Jam 16.00 ada sebiji kroket di atas meja, aku embat juga. LOL. (FYI, di kantorku, kalo ada makanan terletak di atas meja, itu berarti makanan tak bertuan, alias milik bersama. LOL.) Denger ceritaku dia tanya, "Kok kamu ga gemuk Na?"

 

"Kan aku olah raga Bang." jawabku. (I do aerobics, fitness, and also swim almost everyday if I have spare time every morning.)

 

"Aku mau lihat fotomu yang keliatan perutnya dong Na, ga cuma wajah doang." LOL.

"Ah gampang sih Bang, ngecilin perut waktu difoto," aku bilang. LOL.

 

Nah, itulah awal dari cerita aku ngajakin Angie ke SWAGAYA, meskipun sebenarnya udah lama juga Angie pengen foto. Lagi kumat tuh hobby difotonya.

 

Balik lagi ke waktu di SWAGAYA photo studio. Setelah foto 4 kali yang horizontal, aku bilang ke Angie pengen yang vertical. Aku datang ke pegawainya lagi, dan minta foto yang vertikal.

 

Si empunya (kayaknya sih) studio itu, tahu2 nanya, "Adiknya ya mbak?" sambil nunjuk Angie. Dan terkaget-kagetlah dia waktu tahu bahwa Angie adalah anakku. LOL. Dia bilang, "Well ...kalo mbak punya anak, pantasnya anaknya yang baru berumur 5 tahun deh." wakakakaka ... thanks for the compliment. :D

 

Trus, jadilah aku dan Angie ambil yang vertikal 3 kali. So, kita bisa berdiri waktu difoto. Biar Abangku bisa liat perutku. wakakakaka …

 

Dari SWAGAYA, aku dan Angie makan siang di McDonald's, Angie udah pengen makan spicy burger sejak hari Minggu yang lalu.

 

Dari McD, aku masih punya waktu luang sekitar 2 jam, aku ajak Angie onlen di warnet langgananku. Sebentar lagi, i will go offline. Harus masuk kantor. Angie akan menungguiku. She will have her own class at 5-7pm later.

 

After that, we will go home. :)

 

Besok kemana lagi yah aku dan Angie? si kembar yang nyokap anak yang jaraknya 23 tahun? huehehehe ...

 


 

Tuesday, September 05, 2006

Satu saat dulu



Dari kantor aku langsung mampir ke warnet ini. Biasa, to check my mailboxes and blogs. Sebelum meninggalkan kantor, seorang rekan kerja bercerita tentang seorang anak dari English for Elementary class (untuk anak-anak SD) yang belum dijemput juga oleh orang tuanya. Kelasnya usai jam 5 sore, sedangkan waktu itu jam 7. Aduh ...
Aku langsung ingat suatu hari dulu ketika Angie masih SD. Aku lupa tepatnya jam berapa. Waktu itu, aku selalu menjemputnya dari sekolah sekitar jam 13.00. Siang itu ada yang sedang kukerjakan yang membuatku tidak bisa menjemput Angie tepat waktu. Aku terlambat menjemputnya hampir satu jam! Dalam perjalanan, aku menangis, merasa begitu bersalah karena telah membiarkannya menungguku dalam waktu yang sangat lama. (NOTE: belum kenal dunia handphone waktu itu, masih terlalu mahal untuk kantongku. :))
Airmataku terus mengalir sampai aku berada di depan sekolah Angie. Sesampai di sana, kudapati Angie sedang duduk di tembok di dekat pintu gerbang sendirian, tersenyum sangat manis padaku, dan menyapa, "Hello Mama ..." Tidak ada kata-kata marah atau apa, atau pun sekedar bertanya, "Kenapa sih Mama jemputnya terlambat?" Dan aku semakin menangis, karena merasa semakin bersalah.
Sampai sekarang, Angie sudah duduk di bangku kelas 1 SMA, dan dia tetaplah semanis yang dulu, yang tidak pernah marah kepadaku. Mungkin juga karena aku pun tidak pernah marah sekalipun padanya.
Children learn from their parents how to behave, right?
JDC 19.50 050906