Sunday, July 16, 2023

Weekend Getaway at Pijar Park - Kudus

 


Bermula dari facebook story seorang kawan -- yang menunjukkan sejenis glamping -- aku dan Angie pun dolan ke satu kota yang selama ini tidak pernah muncul dalam rencanaku dolan: KUDUS. (kalau ngepit, ya, terutama dulu waktu Cipluk masih tinggal di Kudus, aku dan Ranz sempat lewat Kudus -- bikepacking ke Tuban -- dan saat Cipluk menikah.

 

Sabtu 8 Juli 2023

 

Aku pikir Kudus itu dekat, toh Cuma 60 kilometer jaraknya. So, aku pikir ga bakal butuh waktu lama untuk mencapainya. Aku dan Angie berangkat dari rumah pukul 09.15. namun ternyata kami sampai di KUDUS EXT MALL sekitar pukul 11.30. gile kan? Mosok untuk menempuh jarak yang hanya 60 kilometer, kami butuh waktu lebih dari 2 jam, padahal kami naik motor?

 

 


Pertama. Area Kaligawe -- terutama area pintu masuk jalan tol -- sedang dibangun, hal ini menyebabkan orang-orang yang lewat situ harus muter lumayan jauh masuk ke jalan arteri Yos Sudarso.

 

Kedua, di titik-titik tertentu terjadi kemacetan, sehingga Angie tidak bisa menggeber motornya dengan kencang.

 

Ketiga, permukaan jalan jelek -- jika dibandingkan dengan jalan dari Semarang ke arah Selatan -- sehingga menyebabkan perjalanan tidak menyenangkan. Sama dengan kasus yang kedua: menyebabkan Angie tidak leluasa menggeber motornya dengan cepat.

 

Keempat, di kilometer 26 dari rumah, ban dalam belakang motor Angie bocor.

 

penampakan yamin ayam katsu

 

Aku mengajak Angie mampir di mall satu itu untuk makan siang di satu outlet di mana 5 tahun yang lalu, Riu menraktirku dan Ranz makan siang, saat kami lewat Kudus, dari perjalanan Rembang menuju Semarang. (Itu adalah hari keempat perjalanan kami dari Sidoarjo menuju Semarang.) Sambil makan siang, kami ngecek google map rute menuju Pijar Park dari pusat kota Kudus. Kata pengelola PP, pusat kota Kudus - Pijar Park jaraknya sekitar 18 kilometer. Well, tidak jauh sih ya.

 

Usai maksi, kami naik ke lantai 2 mall, untuk nunut ke toilet. Kami sempat sightseeing sebentar ke satu toko yang jualan pernak-pernik lucu.

 

Setelah keluar dari mall, aku menyalakan google map, dan mulai menuju Pijar Park. Mengingat hawanya sejuk, (kata pengelola ketika aku dan dia berkomunikasi saat aku booking) aku yakin PP terletak di lereng Gunung Muria, yang berarti kami harus melewati trek nanjak.

 

Sekitar jam 14.00 kami sudah sampai di lokasi. Ada dua lokasi parkir di dalam area. Yang pertama -- setelah masuk lewat gerbang masuk -- ini lokasi parkir untuk mereka yang berkunjung tanpa menginap. Yang kedua, setelah masuk gerbang, belok kanan, trek menanjak. Ini untuk pengunjung yang sekaligus menginap di area Pijar Park.

 

Honestly, untuk masalah administrasi, Pijar Park masih kurang rapi. Aku yang sudah booking dan transfer uang untuk menyewa satu rumah pohon, masih dianggap belum bayar oleh petugas yang saat itu ada di Front Office. 'Untung'nya para petugasnya ramah dan sigap membantu. Aku dan Angie diminta menunggu kurang lebih 15 menit karena petugas harus mempersiapkan kamar yang akan kami inapi semalam.

 

penampakan rumah pohon tempat aku dan Angie menginap semalam

penampakan salah satu cottage

Di Pijar Park, ada beberapa jenis penginapan.

 

  1. Camping/tenda. Tak jauh dari tempat parkir, ada lapangan yang cukup luas, di mana di pinggir lapangan telah tersedia banyak tenda. Ini adalah jenis penginapan yang justru tidak aku ketahui dari akun IG Pijar Park :)
  2. Rumah pohon. Ini adalah tipe penginapan yang aku pilih karena imajinasi tinggal di rumah pohon saat aku kecil dulu masih sangat melekat di memoriku. This is kinda a dream-come-true to me.
  3. Cottage. Ada yang cottage biasa, ada yang cottage family. Dari namanya, kita bisa menyimpulkan bahwa yang cottage family ukurannya lebih besar, cukup untuk dua orang tua dan dua anak.
  4. Joglo. Untuk ini juga ada dua macam. Joglo 'biasa' yang bisa dipakai untuk dua orang, dan joglo yang besar untuk keluarga. Untuk joglo yang ukuran besar pun ada yang cukup untuk orang lebih dari 5 orang.
  5. Villa Sunset. Ini ukurannya besar, bisa diinapi oleh sekitar 7 - 9 orang.

 

Setelah check-in, meletakkan barang-barang bawaan kami di dalam kamar, aku dan Angie jalan-jalan, untuk foto-foto. Di Pijar Park banyak lokasi untuk berfoto-ria. Di sini juga bertebaran café/resto/kios angkringan yang berjualan berbagai jenis makanan dan minuman. Pihak pengelola juga menyediakan banyak tempat untuk nongkrong sembari makan/minum ini. 


 




balcony, bagian belakang 'cottage'

 


 





Malamnya, sekitar pukul 19.00 kami makan malam di resto 'utama' yang terletak tidak jauh dari tempat parkir untuk kendaraan pengunjung yang menginap.

 

Usai makan malam, aku dan Angie jalan-jalan mengitari area Pijar Park. Tenda-tenda yang terletak di camping ground nampak penuh oleh mereka yang menyewa tenda. Di camping ground ini ada satu panggung untuk pertunjukan live music.

 

makmal: kwetiau goreng (buatku), mie Jawa rebus (buat Angie)

 

Jam 20.30 kami sudah kembali ke 'rumah pohon' tempat kami menginap. Aku tak kuasa menahan kantuk sehingga aku sudah memilih tidur sebelum pukul 21.00. namun, suara bising dari pertunjukan live music dan para pengunjung lain membuatku terjaga sekitar pukul 22.30. live music baru berhenti pukul 23.30. setelah itu, aku masih mendengar suara orang-orang berjalan di 'jembatan' yang menghubungkan rumah pohon yang ada di sekitar kamarku dan Angie. 😑😒

 

Sampai pagi, aku tidak benar-benar bisa tertidur nyenyak. 😓

Minggu 9 Juli 2023

 

Sekitar pukul 05.30 aku sudah mendengar suara orang berbincang-bincang sembari berjalan kaki di jembatan rumah pohon. Aku pun bangun dan melongok lewat jendela. Aku bisa melihat sinar mentari di sela-sela pepohonan. Aku pun memutuskan untuk ke luar kamar, dan melihat-lihat di sekitar jembatan pinus, di mana 3 'rumah pohon' terletak. Tidak jauh-jauh, aku pun kembali ke kamar. Aku melanjutkan membaca novel LAUT BERCERITA. Cerita novel yang menyedihkan ini sebenarnya tidak cocok dengan vibes berweekend di tempat yang asyik seperti Pijar Park ini. Tapi, apa boleh buat? Aku hanya bawa novel itu. 2 buku puisi yang aku bawa sama sekali tidak sempat aku buka. Moodku buruk sekali.

 

Sekitar pukul tujuh pagi, Angie bangun. Dia keluar kamar, kemudian buru-buru masuk kamar untuk mengambil hape: dia melihat seekor tupai bertengger di pohon di depan kamar kami!

 



 







Sekitar pukul 07.40, sarapan kami -- sepiring nasi goreng dengan lauk telor ceplok -- datang. Setelah sarapan, kami mandi. Usai mandi, kami jalan-jalan dan foto-foto. Di hari Minggu ini, Pijar Park dipenuhi lebih banyak pengunjung dibandingkan sehari sebelumya. Di camping ground pun kami melihat tidak hanya satu komunitas yang sedang melakukan outbound, tapi ada beberapa.

 

Kami meninggalkan Pijar Park menjelang pukul 12.00. kali ini, kami tidak perlu menyalakan google map. Sesampai Kudus, dan 'menemukan' alun-alun, aku sudah tahu rute menuju Demak. Di tahun 2017 lalu, aku sepedaan sendirian ke Kudus, pp, sampai alun-alun simpang tujuh, naik Cleopatra.

 

Perjalanan lancar sampai di pintu gerbang ke luar jalan tol di daerah Sayung. Terjadi macet parah di sini. Perjalanan benar-benar tersendat. Apa lagi beda tinggi permukaan jalan -- sehingga praktis jalan yang bisa dilewati dari Demak ke Semarang -- hanya setengah badan jalan. Dan … lebih parahnya, saat kami harus melewati area yang banjir! Aku sempat khawatir jika busi motor Angie sampai kemasukan air. Bakal nuntun sepanjang perjalanan hingga menemukan bengkel! Untunglah kami selamat sampai melewati area yang kebanjiran ini.

 

Di Kaligawe, Angie mengajak mampir makan siang di satu rumah makan Padang. Biasanya Angie memilih makan mie ayam, tumben kali ini dia memilih makan nasi. 😋

 

Pukul 14.45 kami sampai rumah, safe and sound. Alhamdulillah. Next time, aku dan Angie dolan lagiiii. Insyaallah.😍

 

PT56 16.46 09.07.2023

Friday, July 07, 2023

Accidentally Solo!

 

Pada hari Sabtu 24 Juni 2023, out of the blue, aku dan Angie dolan ke Solo.

 

Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 9 pagi. Perjalanan lancar, alhamdulillah. Angie sempat mengajak mampir di satu mini market di daerah Tengaran untuk beristirahat. (Aku ingat ada Candi Klero di daerah ini, tapi aku lupa di sebelah mana kita harus belok kiri jika mau mampir. Jadi? Ya ga mampir lah kita. Hihihi …)

 

 


Tujuan pertama kami adalah De Tjolomadoe, satu eks Pabrik Gula yang sudah direnovasi sedemikian rupa sehingga menjadi satu destinasi wisata yang cukup menarik dan edukatif. Kami sampai di sini pukul 12.30. Aku ke sini pertama kali di tahun 2018, saat berdua dengan Ranz bersepeda dari Semarang menuju Solo, untuk bergabung dengan event ultah Seli Solo Raya. Waktu itu gratis masuknya. Beberapa bulan kemudian, aku dengar kabar bahwa pengunjung ditarik tiket seharga Rp. 25.000,00 jika ingin masuk ke dalam gedung. So? Ya sudah, aku tidak kepengen masuk lagi, kan sudah pernah sebelumnya.

 

Mengapa kali ini aku mengajak Angie masuk ke De Tjolomadoe? Ya jelas karena Angie belum pernah ke sini. Dan, waktu Ranz mengajakku mampir ke sini beberapa bulan lalu untuk berfoto-foto di luar gedung, aku berpikir pasti Angie suka juga kuajak mampir untuk berfoto-foto di sini. Dan, ternyata saat Angie aku tawari apakah dia mau masuk ke dalam gedung, dia sangat antusias. So? Kami pun masuk ke dalam gedung. Tiket masuk Rp. 40.000,00 per orang.

 




Setelah masuk, aku baru ngeh, ternyata ada 'museum' dengan segala pernak-perniknya yang sangat menarik di dalamnya, satu hal yang dulu di tahun 2018 belum ada. Dari penjelasan yang ada, aku baru ngeh satu hal penting dari eks Pabrik Gula ini adalah bahwa De Tjolomadoe adalah pabrik gula pertama di Nusantara yang dibangun oleh orang pribumi, yakni Mangkunegara IV di tahun 1861. sebelumnya tentu sudah ada pabrik gula lain, namun pabrik-pabrik lain ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

 

Bagi yang belum pernah masuk ke museum De Tjolomadoe, apalagi jika anda mengaku sebagai salah satu penggemar museum, masuk lah, you're gonna love this museum too!

 



Aku dan Angie makan siang di café Besali di dalam museum. Karena sudah telanjur kelaparan. Padahal semula aku pengen mengajak Angie makan di RM Kusumasa** yang legendaris di kota Solo itu. Usai makan siang, kami masih foto-foto di luar gedung.

 

Sekitar pukul 15.30 kami merasa cukup puas. Aku menawari Angie apakah akan langsung ke Omah Prahu -- Waduk Cengklik, atau kami ke rumah Ranz terlebih dahulu. Aku yang kepengen ke Omah Prahu di sore hari karena ingin mendapatkan moment memotret sunset di Waduk Cengklik. Jika kami langsung ke sana, kami bakal perlu menunggu kurang lebih 2 jam. Cukup lama juga. Akhirnya, kami pun meluncur ke kota Solo terlebih dahulu, untuk 'check in' di rumah Ranz di kawasan Jongke.

 

Sesampai sana, ternyata Ranz sedang ngegym di fitness center tempat dia telah latihan sejak Oktober 2020.  Fitri yang katanya juga akan ke rumah Ranz malah sedang makan di RM Kusumasari.

 

Akhirnya menjelang pukul 17.00 aku dan Angie memutuskan untuk berangkat ke Omah Prahu, berdua saja. Sebenarnya, Fitri sendiri ke Solo hari itu untuk menghadiri satu event yang diselenggarakan di Mangkunegaran. Jadi, pasti dia ga bisa ikut dolan ke Omah Prahu.

 




 



Di Omah Prahu, seperti yang telah kami perkirakan, bakal susah untuk mendapatkan tempat duduk yang strategis untuk bisa membidik sunset. Tapi, eh, belum sampai lokasi, sang matahari sudah bersembunyi di balik mendung. Apa boleh buat? Untunglah tak lama kami berdua bingung how to get a seat, saat adzan maghrib berkumandang, ada beberapa orang yang buru-buru menyelesaikan makan mereka dan meninggalkan tempat duduk mereka. So? Aku dan Angie segera gercep untuk duduk.

 

Karena perut masih lumayan kenyang setelah makan di Besali Café, di Omah Prahu kami hanya makan satu piring nasi dan uborampenya berdua. Tapi, khusus untuk Angie sendiri, dia aku ambilkan pepes ikan nila yang cukup besar ukurannya. Kami ga sempat berfoto-foto karena rasanya ga nyaman foto-foto dengan begitu banyak orang di sana. Fotonya pasti 'bocor'! Wkwkwkwk …

 

Pukul 19.00 kami berdua sudah kembali ke rumah Ranz. Setelah itu, aku menemani Ranz 'nyusu' di kedai susu segar langganannya.

 

Minggu 25 Juni 2023

 

Sekitar pukul 07.00 Ranz sudah siap jalan-jalan ke CFD bersama Deven keponakannya. Karena aku tidak tahu -- Ranz ga bilang dia mau ke CFD -- aku ga ikut. Aku, Angie dan Fitri sarapan ke RM soto Hj. Fatimah sekitar pukul 07.15.

 

Sekitar pukul 08.45 kami berempat -- aku, Angie, Fitri dan Ranz -- sudah siap meluncur ke The Heritage Palace. Aku, Angie dan Ranz naik taksi online, sedangkan Fitri naik motor sendiri. Dia akan langsung pulang dari The Heritage Palace.

 

Apa acara kami di The Heritage Palace? Tentu saja HANYA foto-foto doang. Hoho … kali ini kami hanya beli tiket outdoor Rp. 30.000,00. Angie tidak tertarik untuk masuk ke bagian 'indoor' yang aku bilang isinya museum 3 dimensi. Oh ya, seperti saat aku dan Ranz dolan ke sini bulan Mei lalu, kami berempat makan siang di resto THEE CULTUR.

 


 

Setelah maksi, Fitri pulang ke Semarang. Kami bertiga masih lanjut foto-foto. Sekitar pukul 13.00 kami pulang ke Jongke. Satu jam kemudian, aku dan Angie sudah meluncur menuju Semarang.

 

Well. Nampaknya kapan-kapan aku akan mengajak Angie dolan ke Solo lagi. Hoho …

 

PT56 20.38 07/07/2023

 

Wednesday, June 07, 2023

Ke Cirebon Juni 2023

 

di gerbang masuk Keraton Keprabonan

Ini adalah kunjungan kami sekeluarga yang ketiga setelah kakak / pakdenya Angie meninggal di tanggal 21 Mei 2019.

 

Kami sengaja tidak melakukan ini di saat booming hari Lebaran karena pasti jalan tol penuh kendaraan orang yang sedang mudik, meski mungkin arah kami berangkat ke Cirebon dan pulang ke Semarang berkebalikan dari mereka yang mudik, yang sebagian besar datang dari arah DKI Jakarta dan sekitarnya ke arah Jawa Tengah / Jawa Timur.

 

Kamis 1 Juni 2023

 

Kebetulan tanggal 1 Juni adalah hari libur Nasional -- hari lahir Pancasila -- dan di hari Jumat 2 Juni 2023 dipilih oleh pemerintah sebagai cuti bersama Waisak. Kami sekeluarga memilih 2 tanggal ini untuk ke Cirebon.

 

Kami berangkat dari Semarang lebih dari pukul 09.00 karena Rani -- keponakan terbesar, anak Riska, adik ragil -- bertugas menjadi petugas upacara hari lahir Pancasila di sekolah. Rani duduk di bangku kelas 6 SD, sehingga ini adalah tugas yang bakal memorable karena merupakan tugasnya yang terakhir di SD Bojong Salaman.

 

Kami sampai di rest area 260 B Banjaratma Brebes sekitar pukul 11.30. Seperti tahun lalu, kami mampir untuk ke toilet, jalan-jalan di dalam area eks Pabrik Gula, dan makan siang. Meski ini termasuk long weekend, tidak nampak penumpukan pengunjung di rest area ini.

 

Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Cirebon.  Seperti biasa, kami langsung menuju Tangkil, tempat tinggal mbak Tien. Kali ini kami sampai lebih sore ketimbang tahun lalu, karena kami juga berangkat dari Semarang lebih siang ketimbang tahun lalu. Maka, jika tahun lalu setelah kami sampai Tangkil, ngobrol sebentar, kemudian mbak Tien mengantar kami ke hotel yang telah kami booking, baru sorenya berangkat ke makam Kasinengan, kali ini, dari Tangkil, kami langsung ke makam. Dari makam, baru kami check-in hotel.

 

Setelah sampai di hotel yang terletak di Jl. Kusnan - Kesenden, mbak Tien bilang dia dan almarhum kakak pernah menginap di hotel ini saat rumah kebanjiran untuk beberapa hari, sekian tahun yang lalu. Karena ada yang harus dia lakukan, mbak Tien tidak stay lama, dia buru-buru pulang.

 

Selepas maghrib, kami keluar untuk mencari makan malam. As usual, kami menuju ke RM Nasi Jamblang Ibu Nur. Tidak jauh kami meninggalkan hotel, ternyata kami 'terjebak' di satu daerah dimana di situ banyak sekali orang yang berjualan berbagai jenis makanan. Lah, tahu gitu, ga perlu kami pergi jauh-jauh, cukup keluar jalan kaki, cari makan di daerah situ. Meskipun begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan, dengan catatan, jika RM Ibu Nur tutup, kami balik ke hotel untuk makan di sini.

 


Ternyata RM yang kami tuju masih buka. Untuk mengambil makan pun, kami tetap harus antri. And … to our disappointment -- meski sudah bisa kuprakirakan -- persediaan lauk pauk jelas tidak selengkap jika kami datang di pagi/siang hari. Karena tidak lagi ada ayam goreng, Adek memilih tidak mau makan. Kata ibunya, kalau sedang perjalanan jauh begini, Adek memang lebih memilih ngemil ketimbang makan besar.

 

Maka pulangnya, kami tidak langsung ke hotel, kami berhenti di satu minimarket yang terletak di kawasan ramai yang jualan berbagai jenis makanan yang kami lewati dari hotel tadi, untuk mencari ayam goreng untuk makan Adek, lol. Dan, ternyata, setelah makan sambal di Ibu Nur, lambungnya Angie bermasalah. Angie pun mengajak cari cemilan untuk 'menyelamatkan' lambung.

 

Malam itu kami berdua berjalan lumayan jauh. Setelah Angie beli kebab, kami berjalan ke arah alun-alun Kejaksan, aku melihat ada ATM BC* di sana. I needed some cash. Setelah itu, mampir ke satu mini market, aku kebelet pipis, lol, dan Angie butuh beli minum untuk dia minum setelah ngemil kebab.

 

Lebih dari pukul 21.00 kami baru balik ke hotel.

 

Jumat 2 Juni 2023

 

Sekitar jam 6 aku dan Angie masih leyeh-leyeh di dalam kamar, adik-adikku dan kedua keponakan sudah pamit mau jalan-jalan untuk mencari sarapan. Waktu aku tanya apa Angie ga kepengen jalan-jalan ke Alun-alun Kejaksan di pagi hari, sambil berburu sarapan, dia ga mau. Mager betul dia, lol.

 

Jam tujuh, aku mengambil inisiatif untuk mandi dan mulai packing, agar Angie ga kian lama mager, lol. Kami sekeluarga memutuskan untuk dolan ke keraton, sebelum meninggalkan Cirebon.

 

lontong sayur Rp. 12.000,00

bakwannya enaaak, apalagi masih hangat, satu seribu rupiah

bubur ayamnya juga enak, Rp. 12.000,00

Jam delapan aku dan Angie ke luar untuk cari sarapan. Tak jauh dari hotel, aku lihat ada rumah makan yang menawarkan bubur ayam, di lapak yang sama, ada penjual lain yang menawarkan lontong sayur. Ternyata Angie pengen lontong sayur. Jadi, kami sarapan satu porsi bubur ayam dan satu porsi lontong sayur. Untuk minum, Angie memilih teh panas manis, aku memilih es jeruk peras.

 

Jam setengah 9 kami sudah balik ke hotel, dan packing. Jam sembilan kami sudah check out.

 

Tahun 2016 dulu aku dan para gadis pelor dolan ke Keraton Kasepuhan. Aku tahu ada satu keraton lagi, yakni Keraton Kanoman. Namun, ternyata ketika googling, di Cirebon itu ada 4 keraton! Selain nama dua keraton yang sudah kusebut, masih ada 2 keraton lagi, yakni keraton Keprabonan dan keraton Kacirebonan. Secara iseng, aku memilih untuk berkunjung ke Keraton Keprabonan terlebih dahulu.

 

gang sempit menuju bangunan Keraton Keprabonan

 

To our shock, ternyata rada susah menemukan lokasi Keraton Keprabonan. Bangunan keraton satu ini terletak 'agak tersembunyi'; untung waktu lewat area pasar Kanoman, aku sempat menoleh ke arah kiri, dan melihat ada gang sempit menuju satu lokasi dan aku melihat tulisan "KERATON KEPRABONAN." nah lo. Maka, kami segera mencari lokasi untuk memarkirkan mobil, dan berjalan kaki menuju Keraton Keprabonan.

 

Yang kaget ga hanya kami yang 'dewasa' karena Adek pun heran; bayangannya keraton sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya, pastinya satu bangunan yang besar, megah, dan (mungkin) mewah. Bangunan Keraton Keprabonan jauh dari tiga hal yang ada di benak Adek.

 

Saat kami datang, seorang abdi dalem (so I thought) menyambut kami dengan sangat ramah; seolah-olah saking jarangnya orang berpikir untuk berkunjung ke Keraton Keprabonan, maka kedatangan kami adalah satu bukti bahwa Keraton Keprabonan tetap dianggap satu lokasi penting untuk dikunjungi.

 

Dari Keraton Keprabonan, aku putuskan kami langsung saja ke Keraton Kasepuhan, tidak perlu ke Keraton Kanoman maupun Kacirebonan. Maybe next time. Jika masuk Keraton Keprabonan gratis, untuk masuk Keraton Kasepuhan ada 3 jenis harga tiket masuk. Jika hanya ingin ke keraton, harga tiket Rp. 15.000,00. jika ingin sekaligus ke museum, harga tiket Rp. 20.000,00. yang satu lagi, aku lupa, lol. Adek memilih untuk ke museum juga selain ke keraton.

 

Jika aku mood, next time mungkin aku akan menulis penjelasan yang diberikan oleh guide yang menemani kami tour di dalam museum dan keraton Kasepuhan.

 

Kami keluar dari keraton jam 12.00. dan, kami memarkir mobil tak jauh dari masjid. Ini membuat mobil kami 'terjebak' tidak bisa keluar, sehingga kami terpaksa menunggu shalat Jumat selesai dilaksanakan.

 




 

Sekitar pukul 13.00 kami baru bisa meninggalkan lokasi. Aku kembali mengajak ke RM Ibu Nur karena belum puas makan di sana semalam, lol, meski untuk itu kami harus ngantri. Kali ini kami kudu ngantri dari sejak dari luar gedung! Hoho … Baru terasa long weekend ini: RM Nasi Jamblang dikunjungi banyak orang dari luar kota Cirebon. :)

 

Kami usai makan sekitar pukul 14.15. dan karena kami anggap sudah terlalu sore, sangat terpaksa kami tidak bisa mampir ke Tangkil lagi. Kami langsung menuju luar kota, area Kanci untuk masuk jalan tol.

 

Kami mampir di satu rest area untuk pipis. Setelah itu langsung menuju Semarang.

 

Semoga kami semua ada umur panjang, sehingga tahun depan kami semua bisa dolan ke Cirebon lagi. Amin.

 

PT56 14.15 07.06.2023

 

Sunday, May 07, 2023

Lebaran Holiday 2023

 


ini di halaman belakang Sameja

Libur lebaran tahun ini terasa rada mubazir! (aku ga bisa pergi bikepacking dengan Ranz soalnya, hihi.) Jika dilihat di kalender, pemerintah jauh-jauh hari telah menentukan 1 Syawal 1444 H jatuh pada hari Sabtu 23 April 2023. cuti bersama dimulai pada hari Kamis 20 April dan masuk lagi pada hari Rabu 26 April. Namun, di awal bulan Ramadan 1444 H, Muhammadiyah sudah mengumumkan 1 Syawal 1444 H akan jatuh pada hari Jumat 21 April 2023. oleh karena itu, libur cuti lebaran diajukan pada hari Rabu 19 April, masuk tetap di tanggal yang sama, 26 April 2023.

 

So? Libur cuti lebaran yang mulai jatuh pada hari Rabu 19 April, padahal lebaran jatuh pada hari Sabtu 22 April itu rasanya mubazir banget, buat orang yang tidak perlu mudik kemana-mana sepertiku, lol. Sementara setelah lebaran, cuti lebaran hanya tinggal 2 hari. Jelas ga bisa kemana-mana lah ini.

 

Aku dan Ranz tidak pergi kemana-mana selama libur lebaran. Sebagai ganti, di hari Sabtu 22 April (lebaran hari pertama) sore hari aku mengajak Angie windowshopping ke DP Mall. Well, di luar libur lebaran, mall is not my cup of tea to spend spare time, but, ini libur lebaran. So? Let's do things we don't usually do on other days, lol. Mendadak aku ingat sekian (puluh) tahun yang lalu aku pernah nraktir Angie es krim AW yang lumayan enak rasanya. Dan … ternyata, Angie sempat beli baju baru. (Dia baru menerima THR di tanggal 19 April, kantornya masih masuk hari itu.) dan … di gerai yang sama, aku naksir satu bucket hat yang harganya 3 kali lipat dari harga bucket hat yang biasa aku beli. Hiksss … mau beli kok eman-eman duitnya yak. Hoho …

 

Oh ya, jika duluuuuu, 'mall' yang buka di tanggal 1 Syawal hanya Sri Ratu Department Store, ternyata kali ini DP Mall juga buka, dan banyak toko di dalam mall yang tetap buka. Dan … tentu saja rame pengunjung! Sudah nyaris tidak ada sisa-sisa penampakan pandemi covid 19, kecuali di antara pengunjung masih ada yang mengenakan masker, termasuk aku dan Angie.

 

Hari Minggu 23 April 2023 aku mengajak Angie 'ngungsi' somewhere karena cuaca Semarang yang panasnya super duper menyengat. Angie memilih gerai Dunk** donu** untuk nongkrong. Ternyata dulu saat masih duduk di bangku SMA, dia kadang nongkrong di sini bersama kawan-kawan sekolahnya. Ternyata memang nyaman loh. Cukup beli satu paket -- satu biji donat dan satu jenis minuman -- seharga di bawah tigapuluh ribu rupiah, kita bisa duduk di kursi nan empuk, dan menikmati suhu ruangan yang dingin berjam-jam. Aku sengaja membawa buku RASINA, novel karya Iksaka Banu yang terbaru yang aku punya. Well, banyak orang datang untuk membeli donat, kebanyakan mereka membeli donat dan langsung pergi. Meski tentu aku dan Angie bukan dua-duanya pembeli yang nongkrong. Masih ada beberapa kelompok orang lain lagi yang melakukan hal yang sama dengan kami berdua.

 

Hari Senin 24 April 2023

 

Seharian kami berdua di rumah saja. Hanya berkunjung ke rumah tetangga depan rumah. Sejak aku, kakak adik dan kedua orangtua pindah ke rumah yang kami tinggali, tetangga depan rumah itu yang paling sering membantu kami jika ada acara. Dulu sebelum Mom wafat, mereka yang datang ke rumah untuk silaturrahmi saat lebaran. Setelah Mom wafat di tahun 2018, gantian aku dan adik-adik yang datang ke sana.

 




 

Di sore hari, aku mengajak Angie jalan-jalan ke Koetatoea, satu toko oleh-oleh yang juga menyediakan banyak spot instagrammable plus tenant yang jualan makanan dan minuman. Letaknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami, sekitar 10 kilometer.

 

(Ingat: Koetatoea ini jelas beda dengan Kota Lama ya. Kota Lama adalah satu daerah yang pertama kali dijadikan kota tempat tinggal para petinggi Belanda sekian ratus tahun yang lalu. Koetatoea adalah toko oleh-oleh yang terletak di Semarang Timur, tak jauh dari pertigaan jalan keluar Jl. Sukarno - Hatta.)

 

Hari Selasa 25 April 2023 


Hari ini Angie mengajakku ke satu tempat makan yang terletak di Tuntang. aku bilang, "Mama pengen dolan ke satu lokasi yang hawanya cukup sejuk dan kita bisa makan dengan memandang pemandangan nan hehijauan. Angie 'menemukan' satu kafe bernama SAMEJA. Tempat ini menawarkan dua jenis masakan: Indonesia dan Korea. Itulah sebabnya aku bilang ke Angie, "tempat makan ini cocok buat sepasang orangtua dan anak yang seleranya berbeda: Indonesia versus Korea." lol. 


ini di halaman belakang Senyawaa




saat foto-foto di lokasi itu, aku melihat sebelah Sameja juga ada kafe lain. karena tertarik, aku dan Angie kemudian mencari info di google map. Ternyata di sebelah Sameja ada dua kafe lain, yang sebelah persis Bento, yang satunya lagi Senyawaa. Maka, karena aku tertarik, dan mumpung masih di daerah situ, kami berdua mampir ke Senyawaa. 


pulangnya? traffic padat merayap mulai dari Saloka sampai hampir masuk kabupaten Ungaran! memang sudah masa arus balik sih itu.


next time, kami berdua dolan-dolan lagiiii.


PT56 07.05.2023

 



kwetiau, my choice at Sameja

Ramen, Angie's choice