Thursday, August 23, 2007

S B I

 

Angie in 2007

Tatkala Angie masuk SMA N 3 Semarang tahun ajaran 2006/2007, aku tidak tahu apakah yang dimaksud dengan SNBI = Sekolah Nasional Berstandar Internasional (yang belakangan lebih dikenal sebagai SBI = Sekolah Bertaraf Internasional?) Angie ingin masuk sekolah negeri terfavorit di Semarang ini karena beberapa teman dekatnya waktu SMP masuk ke SMA N 3. Aku sendiri ingin Angie bersekolah di situ bukan melulu karena prestise (karena aku belum tahu apa-apa tentang SBI), namun lebih ke romantisme pertengahan tahun 1980-an, aku bersekolah di sekolah yang gedungnya merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang terletak di Jalan Pemuda no 149 ini. 


Setelah Angie masuk SMA N 3, kepala sekolah Drs. Sudjono, menjelaskan yang dimaksudkan dari SBI. Para siswa diharapkan akan mampu bersaing dengan lulusan high school dari luar negeri. Bagaimana caranya? Di kelas X, enam mata pelajaran diberikan dalam Bahasa Inggris: matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, dan tentu saja Bahasa Inggris.  Sedangkan untuk prasarana, semua kelas dilengkapi dengan AC—agar siswa nyaman dan tidak merasa kegerahan, maklum Semarang terkenal dengan hawa panasnya—sehingga siswa diharapkan akan mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu, setiap kelas dilengkapi dengan LCD dan komputer yang bisa dipakai oleh guru maupun siswa. Tak heran jika beberapa guru memberikan catatan dalam bentuk file dan siswa mentransfernya ke dalam flash disk. 

Floppy disk menjadi kuno di sini, karena dianggap tak cukup untuk menampung semua data.
Ada dua hal yang bersifat kontradiktif yang kurasakan. Pertama, aku senang dengan prasarana yang disediakan oleh sekolah—AC, LCD, dan komputer. Angie akan merasa nyaman dan tidak buta teknologi. Yang kedua aku ragu. Seandainya kemampuan Bahasa Inggris guru matematika, fisika, kimia, biologi, dan ekonomi tidak memadai, bagaimana cara mereka mencerdaskan para siswa? Diberikan dalam Bahasa Indonesia saja masih memusingkan, apalagi diberikan dalam English yang masih tetap dianggap sebagai bahasa asing di Indonesia ini? (Sebagai bandingan, English dianggap sebagai bahasa kedua di negara tetangga, Malaysia dan Singapore.) Apa yang akan didapatkan Angie, selain bahwa she is exposed to an English-speaking environment?


Keraguan ini semakin membesar tatkala di lembaga kursus Bahasa Inggris tempatku bekerja dipercaya oleh sebuah sekolah kejuruan untuk memberikan pelatihan Bahasa Inggris kepada para gurunya, untuk mempersiapkan sekolah itu menyongsong era SBI. Kemampuan Bahasa Inggris para guru yang lebih dari 50% telah mencapai usia matang itu sangat memprihatinkan. Untuk daily conversation saja sangat memprihatinkan, bagaimana mereka harus menyampaikan pelajaran dalam Bahasa Inggris?


Sebagai seorang guru Bahasa Inggris, tentu aku sangat senang dengan lebih meluasnya pemakaian Bahasa Inggris dimana pun kita berada. Namun untuk ‘menyulap’ sebuah sekolah siap bersaing menjadi SBI, tidaklah semudah mengatakan abrakadabra. SMA N 1 yang tidak mau kalah dengan SMA N 3 pun mulai tahun ini menyiapkan diri menjadi SBI secara swadaya, lain dengan SMA N 3 yang dipilih oleh pemerintah sehingga mendapatkan bantuan dana. Swadaya? Ya, pihak sekolah membebani para orang tua siswa dengan uang sumbangan pembangunan sejumlah 4-5 juta rupiah per siswa baru, jumlah yang bagiku sangat fantastis untuk masuk ke SMA. Dan seperti yang kukemukakan di atas, untuk perlengkapan fisik kelas, seperti penyediaan AC, LCD, komputer dan internet jauh lebih mudah daripada meningkatkan mutu para guru dan karyawan. Sudah saatnya dalam perekrutan guru baru, syarat mampu berbahasa Inggris aktif harus disertakan, seperti beberapa perusahaan bonafide yang mengharuskan pelamarnya memiliki sertifikat TOEFL dengan skor tertentu. 


Mengenai keraguan beberapa pihak bahwa seorang siswa yang bersekolah di SBI akan melupakan jati dirinya sebagai seorang anak Indonesia, aku tidak setuju. Untuk mengantisipasinya, dalam kurikulum bisa ditambahkan muatan lokal, seperti pelajaran menari tradisional, maupun bahasa daerah. Seseorang yang berbicara bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari tidak akan serta merta membuatnya menjelma menjadi seorang American atau European maupun Australian. Jack C. Richards dalam pidatonya sebagai salah satu keynote speaker dalam seminar TEFLIN di Surabaya tahun 2002 lalu mengatakan bahwa Bahasa Inggris telah menjadi bahasa dunia, bukan semata milik orang Inggris, Amerika, maupun Australia. Semua orang bisa berbicara bahasa Inggris menggunakan dialek lokal masing-masing, dan tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai seorang warga negara Indonesia, Jepang, Korea, dll.


Kembali ke masalah SBI. Kita belum melihat lulusan pertama hasil kurikulum SBI dari SMA N 3 yang kebetulan terpilih sebagai ‘kelinci percobaan’ pemerintah di Semarang. Apakah benar para siswa itu akan mampu bersaing dengan para lulusan high school luar negeri? Sebaiknya kita melihat dulu, dan tidak terburu-buru untuk mengubah sekolah lain mengikuti ‘demam SBI’, hanya demi gengsi sekolah, apalagi hanya demi keuntungan keuangan semata, dan mengorbankan pendidikan anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa.


PT56 22.19 220807

Monday, July 30, 2007

Angie dan Kebab

“Bu Nana tahu ‘kebab’? Sudah pernah makan ‘kebab’? Di jalan yang akan masuk ke Pusponjolo ada orang jualan ‘kebab’ yang lumayan enak loh.” Seorang rekan kerja bertanya padaku pada hari yang sama, Sabtu 28 Juli 07.
“Well tahu sih, tapi aku belum pernah mencobanya. How much is it?” tanyaku balik, ingat bahwa Angie menyukainya.
“Ada beberapa macam ukuran. Yang paling kecil harganya Rp. 6000,00. tapi makan satu ‘kebab’ saja sudah sangat mengenyangkan,” jawabnya.
“Well, yang pertama kali promosi ‘kebab’ kepada Angie adalah Nana, sobatnya. Satu hari Nana mampir ke toko roti ‘Duta Sari’ yang terletak dekat rumah, hanya satu gang, bersama nyokapnya. Di toko yang milik seseorang keturunan Arab itu, Nana dan nyokapnya, yang juga memiliki darah Arab dalam tubuhnya, membeli beberapa macam roti, yang salah satunya ‘kebab’. Sebagai teman yang baik, Nana pun membelikan satu buah (buah? Biji? Tangkup? What is the correct measurement for this kind of food? LOL) ‘kebab’ untuk Angie yang kemudian dia antarkan ke rumah. Itulah kali pertama Angie berkenalan dengan makanan seperti burger yang namanya a la Arab ini.” jawabku panjang lebar.
“Oh deket rumah bu Nana ada juga toh? Harganya berapa?” tanya teman kerjaku itu.
“Lima ribu rupiah, seingatku.”
“Wah, murah dong mbak,” komentar temanku yang memiliki anak dia beri nickname sama dengan anak semata wayangku, Angie.
“Satu sore Angie pernah memintaku untuk membelikan ‘kebab’ untuknya. Kebetulan tanggal tua saat itu, kalau tidak salah. Komentarku waktu itu kepada Angie, “Yah ... lima ribu untuk beli satu buah kebab, hanya membuat seorang Angie kenyang sementara Mama masih kelaparan. Sementara kalau uang lima ribu rupiah itu kita belikan satu porsi nasi goreng di warung Cak Kabul dekat pasar Krempyeng itu, bisa membuat kita berdua kenyang. Bagaimana?”
Mendengar ceritaku ini, temanku yang anaknya bernama Anggun namun dia panggil Angie (ben bosen sing moco, tak bolan baleni wakakakaka ...) ini langsung berteriak, “Ya ampun mbak, kamu pelit amat sih sama anak sendiri? Angie ga protes waktu itu?” LOL. LOL.
“Oh dear don’t forget that Angie is very understanding. Ya ga protes lah dia. dia malah bilang, “Iya ya? Yuk beli nasi goreng aja Ma.” LOL.
“Dasar nyokapnya kebangeten,” temanku masih bersungut-sungut. Hahahaha ...
Sementara temanku yang menyebabkan ‘kebab’ pertama kali muncul sebagai bahan diskusi terlihat manyun, sembari bilang, “Ya iya sih, tapi kan kepuasannya beda? Sekali-sekali ga papa kan nyicipin ‘kebab’?” LOL
FYI, percakapanku dengan Angie selanjutnya waktu itu adalah,
“Kapan-kapan nanti Mama beliin Angie ‘kebab’ ya?” rengek Angie.
“Iya Sayang. Nanti setelah Mama gajian ya?”
Dan wajah Angie pun tetap cerah ceria.
Aku yang berlidah Jawa, meskipun berdarah Gorontalo, tetap saja sulit untuk ikut menikmati makanan-makanan ‘impor’ sebangsa burger, pizza, spaghetti, kebab, sandwich, you name it. Aku lebih suka menikmati pecel, petis kangkung, gudangan (atau disebut ‘urap’ di beberapa tempat) rujak, gado-gado, nasi goreng, bakmi Jowo, and other Javanese cuisine. Selain Chinese cuisine yang tentu telah mendapatkan pengaruh Jawa (“Hasil penggunaan teori THE ACT OF READING” komentar Pak Bakdi satu kali waktu aku dan Julie konsultasi tesis), seperti kwetiau dan cap cay.
Weleh, setelah mengalami adaptasi menggunakan teori THE ACT OF READING pun aku tetap kurang menyukai rasa makanan-makanan impor itu, apalagi rasa aslinya ya?
PT56 11.37 290707

Seorang Teman ...

Aku punya seorang teman yang begitu ingin anaknya tumbuh seperti Angie, a very understanding child who is not demanding to the parents. Salah satu “upayanya” (or whatever you call it) adalah dengan memberi anak perempuannya nama yang mirip dengan Angie, yakni Anggun, dengan nickname yang sama, Angie. Selain itu tentu saja dengan rajin bertanya-tanya kepadaku caraku membesarkan Angie menjadi an understanding child who is not demanding. Sayangnya aku sudah lupa apakah aku memang memiliki kiat-kiat khusus to “create” such a child, kecuali satu hal: tentu saja membesarkannya dengan penuh kasih sayang yang terbuka dan juga pengertian terhadapnya.


Hari Sabtu kemarin, 28 Juli 07 dia bercerita kepadaku bahwa dia telah melihat tanda-tanda yang bagus di diri Anggun alias Angie. Saat Anggun sakit, temanku memilih menggendong dia dan bukan adiknya yang baru berusia dua setengah bulan. Ternyata, secara mengharukan, Anggun yang baru berusia kurang lebih dua tahun terbata-bata mengatakan, “Adik ... adik ...” sambil menunjuk ke adiknya. Temanku menerjemahkannya sebagai, “Ibu menggendong adik saja.”

perhaps this pic was taken some time in 1993 - 1994


Mendengar cerita itu aku jadi ingat Angie kecil yang sangat posesif kepadaku. Suatu hari Angie kecil kuajak menengok seorang tetangga—sebaya denganku—yang baru saja melahirkan seorang bayi. Sembari ngobrol, aku sempat menggendong si bayi. Dan sebelum pulang, aku mencium si bayi.


Tanpa kusadari ternyata hal ini membuat Angie cemburu. Dalam perjalanan pulang, jalan kaki (jarak rumah kita tidak lebih dari 5 menit jalan kaki), Angie menolak kugandeng tangannya. Raut wajahnya menunjukkan rasa gusar dan marah yang membuatku heran, what’s up? Waktu akan kugendong, dia menolak dengan keras. LOL. Benar-benar membuatku heran.


Sesampai rumah, Angie tetap saja ngambek tatkala aku bercerita kepada adikku tentang Angie yang tanpa ba bi bu ngambek ga karuan apa yang dia inginkan. Waktu bercerita aku berusaha mengingat-ingat kronologis kejadian sore itu, sampai akhirnya aku menemukan jawabannya: Angie cemburu! Hahaha ...


Setelah tahu alasan yang membuat Angie ngambek, aku pangku dia, kupeluk dan kucium (pakai acara kejar-kejaran dulu di rumah, karena Angie masih berusaha menolakku LOL), dan kuajak dia bicara dari hati ke hati, semampuku bagaimana memberi dia pengertian bahwa tatkala Mamanya menggendong dan mencium bayi lain, itu bukan berarti Mamanya telah pindah ke lain hati. LOL. Setelah melihat rona wajah Angie lega, tidak lagi ngambek, aku pun ikut lega. LOL.


Temanku yang mendengarkan ceritaku betapa posesifnya Angie kecil pun heran, “Kok Angie kecil begitu?” jauh dari bayangannya tentang seorang anak yang penuh pengertian dan bukan seorang penuntut? LOL.


PT56 10.35 290707





 

Mandi Pagi

Jam berapakah kamu beranjak mandi pada hari Minggu, atau hari-hari libur yang lain?

Hasil didikan strict kedua orang tuaku dalam menghargai waktu, pada hari Minggu maupun hari-hari libur lain, aku tetap saja mandi di pagi hari, paling lambat pukul 9. (During my younger years, paling lambat jam 8!) Namun, menilik diary yang kutulis di tahun 2005 saat aku berkutat dengan tesis (hasil dari mempersiapkan content blog di http://jogjaklangenanku.blogspot.com) kadang-kadang aku pun mandi di atas jam 10, karena keasikan menulis. Dan aku tahu, untuk itu aku cukup merasa tidak nyaman pada diri sendiri. I felt like I did a very big mistake, yang bakal akan mengguncangkan ketentraman dunia. LOL.

Harus kuakui hasil didikan ortuku “harus bangun pagi”, “harus mandi pagi di pagi hari”, “harus mandi dulu sebelum sarapan” cukup berhasil dalam diriku, karena aku selalu merasa uncomfortable when disobeying it. bahkan sampai usiaku saat ini.

But, aku tidaklah se-strict itu kepada Angie. Aku tahu bahwa tidak bangun pagi, tidak mandi pagi di pagi hari, tidak mandi dulu sebelum sarapan di hari libur tidak akan menyebabkan perang kurusetra terjadi lagi di jagad pewayangan. LOL. Masalahnya adalah, aku tidak menemukan alasan yang masuk akal untuk “memaksa” Angie melakukan ketiga hal tersebut. Dari pengalaman hidup ngekos waktu kuliah S2 dulu membuatku sadar bahwa tidak bakal terjadi apa-apa jika kita tidak melakukan ketiga hal tersebut. Teman-teman kosku semua nampak baik-baik saja meskipun mereka bisa dikategorikan melakukan pelanggaran berat. Well, menurut peraturan ortuku tentu saja. Bahkan aku ingat aku ditertawakan seorang teman tatkala aku bilang, “Eh, kata ortuku kita harus bangun pagi agar kita tidak kehilangan rejeki.” Dia bilang, “Bangun pagi-pagi di kos, siapa yang bakal kasih kita rejeki Na?” LOL.

Nah, berhubung aku tidak strict seperti itu, Angie pun seenak udelnya saat hari libur datang. Lagipula setiap hari dia sudah terbiasa mandi pagi untuk mempersiapkan diri berangkat sekolah. So, tatkala hari Minggu datang, ya gapapalah kalau dia agak nyante, mandi agak siangan, atau siang banget. LOL.

Hal yang nampaknya “sepele” ini ternyata bisa menyulutkan ketegangan between Angie and her strict granny. Semula my mom bilang ke aku, “Angie tuh disuruh mandi di pagi hari meskipun hari libur, toh ga rugi.” Aku hanya berkomentar, “Ok, I will tell her.” 

Setelah dilihat it didn’t work, my mom langsung ngomel ke Angie, dan tidak lewat aku. LOL. Hal inilah yang sering membuat Angie sewot.

Beberapa hari yang lalu, my mom sempet bercerita tentang hal ini kepada seorang temannya, “Angie tuh kalau hari Minggu, dia baru beranjak mandi setelah pukul 11.”

Guess what my mom’s friend said? “Lah, malah Putty tidak mandi kalau hari Minggu.” LOL.
Tadi siang, sewaktu Angie pamitan ke her granny untuk berangkat nonton Harry Potter dengan Tantenya (sekitar pukul 12.10), her granny asked her, “Sudah mandi belum?” LOL. Angie pun dengan sewot mengadu kepadaku. LOL.

How about your experience?

PT56 21.35 290707

at Dannu's homestay Banyuwangi 26 January 2025, we already took a shower :D

 

Tuesday, July 17, 2007

Hari pertama Angie ...


 


Hari pertama Angie di sekolah pada tahun ajaran 2007/2008

 

Angie bangun lebih pagi dari biasanya, pukul 05.20. Dia memang berpesan kepadaku untuk dibangunkan lebih pagi sehingga dia bisa mempersiapkan diri berangkat sekolah lebih awal. Satu hal penting yang ingin dia lakukan adalah agar dia lebih leluasa untuk memilih tempat duduk, yang menurutnya strategis.

 

Jam 06.15 aku mengantarkannya ke sekolah. Jalanan benar-benar jauh lebih padat dibanding selama tiga minggu sebelumnya waktu anak-anak sekolah menikmati libur kenaikan kelas.

 

Siang hari sekitar pukul 13.30 dia kirim sms, “Ma, Angie berangkat les Bahasa Inggris dari rumah mbak Nana. Ma, tolong bawain buku HI3 sama sepatu yang biasa tak pake kursus itu loh Ma. Pake sepatu ini kakinya Angie sakit.” (NOTE: tulisan sudah “kuterjemahkan” sehingga dapat dipahami orang awam, tak hanya para remaja. LOL.) FYI, “mbak Nana” yang disebut Angie adalah sobat kentalnya sejak kelas IV SD.

 

Kita bertemu sore hari di kantor, aku mengajar, Angie kursus.

 

Seusai jam pelajaran, kita pulang bersama. Dalam perjalanan pulang, Angie dengan heboh menceritakan pengalaman tidak enaknya di hari pertama tahun ajaran 2007/2008: dia dituduh mencuri hape. Nah lo. Menyebalkan toh?

 

Cerita singkatnya begini. Seperti sekolah-sekolah lain, SMA N 3 pun mengadakan masa orientasi perkenalan sekolah selama tiga hari. Yang berbeda adalah anak-anak SMA N 3 tidak perlu memakai ‘atribut’ yang aneh-aneh, misal, untuk anak perempuan rambut harus dikucir berapa biji, diberi pita berwarna-warni, atau memakai topi karton, dll. Masa perkenalan ini benar-benar ditujukan agar para siswa baru mengenal sekolah mereka yang baru. Salah satunya adalah, para senior masuk ke kelas-kelas X untuk memperkenalkan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti.

 

Tatkala Angie mendapatkan tugas untuk memperkenalkan CEMETI, majalah sekolah, dia harus meninggalkan kelas dan masuk ke kelas-kelas X. Pada waktu itu ditengarai ada 26 hape milik anak kelas X yang hilang. Entah bagaimana ceritanya panitia masa orientasi sekolah masuk ke kelas-kelas dan menggeledah dengan paksa tas-tas yang ada. Kebetulan Angie meninggalkan satu hapenya di tas, hanya mengantongi satu hapenya yang lain dalam rangka touring promoting CEMETI.

 

Ketika salah satu panitia menggeledah tas Angie, dia menemukan hape yang Angie simpan di dalamnya. Dengan serta merta, anak itu menuduh Angie telah melakukan pencurian hape. “Kenapa anak ini ga bawa hapenya di kantong ya? Ini pasti hape curian.” Tuduhan yang sama sekali tidak berdasar. Bahkan guru yang berada di kelasnya pun mengiyakan tuduhan itu. 

 

Untungnya, ketika anak yang tak tahu diri itu melontarkan ide, “Hape ini kita sita saja ya?” beberapa teman-teman sekelas Angie (yang tentu belum mengenal Angie dengan baik) mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang bijaksana. Untungnya lagi, (dasar wong Jowo, sudah dapat tuduhan menyakitkan gini ya tetap saja bilang “untungnya ...” LOL), Mita teman kursus Bahasa Inggris Angie sejak tahun 2004 yang sekarang satu kelas dengan Angie di kelas XI IA 1 melihat kejadian ini, dan dia langsung mengatakan, “Saya kenal Angie sejak dia kelas III SMP. Dan memang dia punya dua buah hape kok. Ini memang hape dia.”

 

Ketika Angie kembali ke kelasnya, dia dipanggil oleh guru yang berada di dalam kelas dan ditanya, “Apa benar kamu punya hape dua? Apa benar hape yang di dalam tasmu ini milikmu?”

 

Waduh ... aku kesel banget waktu mendengar cerita ini. Sayangnya Angie yang tidak tahan ingin segera bercerita (misal menunggu setelah kita tiba di rumah sehingga dia bisa bercerita secara leluasa), dia bercerita di atas motor. Aku harus membagi konsentrasi antara mendengarkan ceritanya dengan mengendarai motor. Angie yang duduk di belakangku pun tentu tak bisa kupandang mimik wajahnya tatkala bercerita. Apakah dia pun sama kesalnya denganku?

 

Tak lama kemudian, sesampai di rumah, Angie pun bercerita hal lain lagi yang dia sukai. Ketika touring classes untuk promosi mengikuti ekstra kurikuler CEMETI, dia dapati wajah-wajah imut yang biasa dia lihat di kursus Bahasa Inggris. “Waduh Ma ... akhirnya mereka pun ngikutin jejak Angie, bersekolah di SMA N 3. Asik asik ... ada tontonan apik ...” hahahahaha …

 

Dasar remaja. ... LOL.

 

PT56 11.20 170707

foto Angie dijepret tahun 2015

Monday, July 16, 2007

From Angie to Jogja


Angie masuk kelas XI IA (baca => Ilmu Alam) 1 mulai Senin 16 Juli 2007. Ini berarti libur kenaikan sekolah telah usai. Tiga minggu telah berlalu.


Hal ini mengingatkanku akan rencana-rencana yang kutulis beberapa minggu lalu, apa-apa yang kurencanakan akan kulakukan bersama Angie s


elama liburan.


1. Ngenet lebih dari biasa, for fun buat Angie, sedangkan untukku sendiri tentu saja blogging.
2. Sewa VCD untuk hiburan, well untuk pengisi waktu saja, lebih murah dibanding aku ajakin nonton di bioskop toh?
3. Membiarkan Angie menggunakan desktop seharian sedangkan aku mengalah menggunakan the cutie.
4. Wisata kuliner
5. Berbelanja di supermarket dekat rumah
6. Ke Toko Buku
7. (Bermimpi) mengunjungi Jogja, kota klangenanku di kala jauh begini.


Dari keenam rencana itu, yang manakah yang akhirnya benar-benar kita lakukan bersama?
1. Ngenet lebih dari biasa
Hal pertama ini benar-benar terjadi. Aku ingat hari Sabtu pertama Angie libur (aku juga pas libur), kita ngejogrok di depan komputer di warnet selama tujuh jam. Ck ck ck ... aku blogging, mulai dari posting, berkunjung ke blog teman-teman plus ninggalin komentar di beberapa posts, plus ngedit template blog (aku sedang hot-hotnya posting di http://jogjaklangenanku.blogspot.com tentu saja), sekaligus membaca messages dari milis. Angie? Downloading lagu-lagu, theme (buat hape SonEr K 510i), video clip, friendster, dll.


2. Sewa VCD
Tidak jadi kulakukan. Entah kenapa kok rasanya aku sibuk banget sampai ga sempet ke VCD rental (yo opo seh sibuknya? LOL). Tapi Angie cukup beruntung karena selama Tantenya libur kerja, dia sewa beberapa VCD dan Angie ikutan nonton. Dua film yang dia ‘bajak’ ke harddisk adalah SHE’S THE MAN dan JOHN TUCKER. Aku sudah sempat diprovokasinya untuk nonton SHE’S THE MAN. Karena kesibukan nyiapin posting buat http://jogjaklangenanku.blogspot.com lah yang membuatku sampai sekarang belum sempat menulis review buat film yang lumayan feministic ini menurutku. 


3. Menggunakan desktop
Kenyataannya selama aku libur kerja (yang berbarengan dengan minggu pertama Angie libur kenaikan), aku tetaplah lebih sering menggunakan desktop dibandingkan Angie, karena aku sedang keranjingan nyiapin posting buat blog klangenanku itu. Untuk sementara ini, demi mengantisipasi kemungkinan terkena virus, the cutie aku “karantina”, flash disk tidak kucolokin ke situ. So, demi mudahnya aku ngetik menggunakan desktop, sehingga tatkala akan kupost di blog, tinggal kutransfer ke flash disk.
Setelah aku masuk kerja lagi, ya Angie pun menggunakan desktop sebosennya selama aku di kantor.


4. Wisata kuliner
Belum jadi kulakukan.  Namun, di akhir libur, hari Minggu 15 Juli 07 akhirnya aku sempat juga menraktir Angie di bakso PAK GEGER yang berlokasi di Jalan Mintojiwo (kalo ga salah ingat LOL), setelah berkunjung ke Gedung Batu Sam Po Kong.


Btw, semenjak posting artikel yang berjudul SEMARANG PESONA ASIA, dan ada sambutan hangat tentang LAWANGSEWU di milis RumahKitaBersama, aku sudah ngebet banget untuk berkunjung ke Lawangsewu plus Sam Po Kong. Angie males melulu kalo kuajak kesana. Untunglah akhirnya aku kesampaian juga “memaksa” Angie untuk menemaniku ke dua tempat tersebut. LOL.


Oh yah, beberapa hari yang lalu, aku sempat juga ngajakin Angie minum es teler dan makan tahu gimbal di Jalan Menteri Supeno, dekat SMA N 1 Semarang. 


5. Berbelanja ke ADA Supermarket
Sebenarnya ini merupakan kegiatan bulanan. Namun selain belanja bulanan, seminggu yang lalu aku ajakin Angie ke ADA Supermarket lagi untuk membelikannya sepatu baru plus buku tulis untuk persiapan masuk sekolah lagi. “She is really in good hands,” aku ingat komentar Rick di tahun 2000 lalu tatkala aku membelikan kacamata berenang, buku bacaan, plus baju baru buat Angie. LOL.
6. Ke toko buku
Seperti di postingan yang kutulis tanggal 4 Juli, aku dan Angie ke toko buku TOGA MAS Semarang. Aku belikan Angie satu teenlit novel, dan untukku sendiri JURNAL PEREMPUAN no 50 dengan topik utama “Pengarusutamaan Gender”.
7. Mimpi ke Jogja

 
Hanya mimpi. :( Kenyataannya aku ga punya dana yang cukup untuk mengajak Angie berkunjung ke kota klangenanku. 


(Kata Angie: “Angie ga pernah kangen Semarang tuh Ma? Rasanya juga Angie ga cinta kota kelahiran Angie ini. Biasa-biasa aja.”


Jawabku: “Honey, you will feel it when you are away from this city. Seperti sekarang, Mama kangen Jogja melulu karena Jogja jauh, dan Mama berada di Semarang. Waktu Mama di Jogja, ya kangen Semarang lah.”)


Waktu aku ke bengkel 10 hari yang lalu, dan harus mengeluarkan dana Rp. 350.000,00 rasanya aku ga rela. Dengan jumlah itu, aku bisa ngajakin Angie ke Jogja, nginep barang semalam di hotel yang murah, dan melakukan ‘napak tilas’, seperti jalan dari kos ke Hasilnet, makan di RM Pak To, trus jalan ke Fakultas Ilmu Budaya lewat Fakultas Kehutanan, belok kanan sedikit, aku akan sampai di balairung, jalan ke selatan, aku akan melewati FISIPOl, Gedung MM lama, Fakultas Ekonomi, dan ... sampailah aku di Fakultas Ilmu Budaya. Dengan hape Angie yang memiliki fasilitas digital camera, aku bisa jepret bangunan-bangunan tertentu sebagai kenang-kenangan (waktu aku masih kuliah S2 kemarin, aku belum mampu membelikannya hape berdigital camera), juga untuk mengisi blog klangenanku. Namun apa daya??? Semua itu hanya ada dalam anganku.


Jadi inget beberapa hari lalu aku mimpi tersesat di daerah UGM, tidak tahu arah. Aku melihat gedung MM yang baru nan megah itu (yang terletak di Jakal, seberang ARTHA Photo), namun lokasi MM ini ada di selatan Gedung Sabha Pramana. Nah lo. Bingung kan? Serasa aku terjebak di sebuah kota metropolis yang megah dengan gedung-gedung tinggi menjulang gagah, dan aku resah tak tahu kemana arah kakiku melangkah. Halah ... Hahahahaha ... Dasar mimpi. Kenyataannya tatkala menuliskan mimpi itu di sini, ah, tentu saja aku ga bakal tersesat kalau hanya belusukan di UGM sih. LOL.


Eh, jadi inget (lagi) waktu bulan Januari 2002 aku dan Julie berangkat ke Jogja untuk membeli formulir pendaftaran S2 (waktu itu aku belum tahu apakah bisa mendaftar lewat internet, so kita berdua melakukan “out of date activity” alias conventional ini. Meskipun telah bertahun-tahun meninggalkan kota Jogja, aku yakin aku masih bisa menemukan jalan menuju UGM, dibandingkan Julie yang sama sekali buta Jogja pada waktu itu.


But ternyata, kita berdua sempat tersesat sampai ke terminal Umbul Harjo. Nah lo. Masalahnya adalah, aku ga tahu kalau bus AKAP sesampai di Jombor belok kanan, trus langsung menuju terminal Umbul Harjo. Waktu aku S1 dulu bus AKAP masuk kota, dan aku turun di Borobudur Plaza, terus ganti bus yang langsung menuju UGM. Terminal Jombor tentu saja belum exist waktu itu. 


Tentu saja kita berdua sampai di UGM akhirnya, but it took longer time. LOL.


Kita berdua langsung jatuh cinta sewaktu melihat Gedung Lengkung, dan membayangkan kuliah di dalamnya. KEREN BO. Kenyataannya? Kita berdua kuliah di situ hanya satu mata kuliah, SEJARAH AMERIKA (AMERICAN HISTORY) yang disampaikan oleh Prof. Ibrahim Alfian, di semester 1. Selebihnya? Di ruang kelas Fakultas Ilmu Budaya atau gedung Pasca Sarjana lama yang terletak di belakang Fakultas Ekonomi, atau di seberang Fakultas Psikologi, ga jauh-jauh amat sih dari Fakultas Ilmu Budaya yang terletak di samping Fakultas Psikologi. 


Nah lo. Semula aku menulis buat blog Angie yang di http://my-lovely-star.blogspot.com Lha kok berakhir di Jogja? Huehehehe ... Ini artinya, tulisan ini bisa kuposting di blog Angie itu, maupun di blog klangenanku, plus blog friendster, dan mungkin pula blog multiply. Dasar narcist. Wakakakaka ... suka pamer diri di beberapa blog sekaligus. LOL. LOL.


PT56 23.30 150707

Saturday, July 07, 2007

Selasa 4 Juli 2007

Hari Selasa 4 Juli 2007 adalah hari terakhir aku libur term break dari tempat kerjaku. Itu sebabnya aku gunakan untuk ngeluyur dengan Angie (yang lebih sering dituduh sebagai adikku daripada anakku LOL).

 

Kita keluar rumah sekitar pukul 12.45. Tujuan pertama jelas warnet langganan kita. Semenjak aku keranjingan blogging LOL dan penasaran bagaimana membuat tampilan blog ku menjadi lebih indah dengan berbagai aksesori, sedangkan Angie kesenangan download berbagai macam theme untuk aksesori hapenya plus lagu macam-macam, kita berdua semakin sering ngenet. Sayangnya siang itu akses lelet poll!!!

 

What does lelet mean?

 

It means aku tidak bisa dengan mudah ngecek template yang bisa kudownload dari www.finalsense.com (thanks to Pak Ridwan Sanjaya yang telah menulis artikel ini di SM hari Minggu lalu). Aku yang penasaran melihat tampilan profile friendster milik Angie dan ingin mencobanya (cuma penasaran mencoba aja, dan bukan kepengen bikin tampilan profile friendster ku segitu heboh, kayak ABG aja LOL) pun harus menelan ludah doang berhubung akses serasa mati mendadak. Ngecek milis jalannya kayak siput. Mau balesin satu message di milis jelas tidak bisa.

 

Angie juga langsung komplain berat karena dia gagal melulu tatkala akan download sesuatu.Akhirn ya kita pun off dengan sangat terpaksa.

 

Dari warnet kita berdua ke warung tenda tahu gimbal plus es teler yang terletak di Jl. Menteri Supeno dekat SMA N 1. Bagi kita berdua yang memiliki perut dengan kapasitas kecil LOL semangkok es teler dan sepiring tahu gimbal untuk kita berdua cukuplah mengenyangkan.😃

 

Dari situ kita ke toko buku TOGA MAS. Terus terang aku tidak begitu suka browsing buku di TB TOGA MAS Semarang berhubung tempatnya yang kecil dan sumpek karena terlalu banyak buku ditumpuk-tumpuk. Plus tidak ada AC. You can imagine how hot it is at TB TOGA MAS. Semarang ini hawanya sudah cukup panas, Berada di satu bangunan kecil yang sumpek dengan buku yang bertumpuk-tumpuk, jelas membuat segalanya semakin gerah. Namun, toh aku tetap juga ke sana karena toko buku ini menawarkan diskon sepanjang masa.😄

 

Aku ingat TB TOGA MAS Yogya jauh lebih luas (berkali-kali lipat luasnya dibanding yang di Semarang) dan di Yogya ada AC-nya lagi. Persediaan buku juga jauh lebih lengkap dibanding di Semarang. Plus, biasanya diskon yang diberikan lebih banyak. Contoh, jika membeli novel LELAKI TERINDAH di TB TOGA MAS Semarang, diskon yang ditawarkan hanyalah 15% (harga dari pabrik Rp. 49.000,00, coba aja hitung sendiri jatuhnya berapa waktu aku membelinya), di Yogya, diskon yang diberikan adalah 20%. Memang HANYA 5% untuk sebuah buku. Namun jika dalam satu tahun aku membeli sampai 10-20 buah buku? Jumlahnya cukup lumayan bukan?

 

Aku tidak bermaksud membeli buku tatkala ke sana. Aku hanya ingin membelikan Angie buku. (Buku-bukuku di rak masih banyak yang belum aku selesaikan membacanya LOL karena aku sudah diterjang rasa jenuh lebih dahulu LOL)

 

Ketika aku naik ke lantai 2, aku melihat sebuah majalah komputer yang aku lupa namanya sekarang tapi topik utamanya adalah BLOGGING. Kata BLOGGING dicetak dengan huruf besar-besar dengan sangat mencolok di halaman depan. Wah, langsung membuatku ngiler. LOL. Sayangnya aku tidak membawa cukup uang untuk membelinya.

 

Kemudian aku berjalan mengitari satu lorong ke lorong yang lain (yang tentu jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari kita di satu tangan). And I saw a SURPRISE. Ada JURNAL PEREMPUAN DI SATU RAK BUKU!!! Sudah lama aku kehilangan jejak dimana aku bisa membeli JP semenjak JP menghilang dari TB Gramedia. Terakhir kali aku membeli JP bulan November lalu tatkala aku ke Yogya untuk mengambil honor dari UGM atas pemuatan artikel ilmiahku di Jurnal HUMANIKA. Dari UGM aku sempat mampir ke SA sejenak dan memborong membeli beberapa nomor JP. (Aku meninggalkan Yogya bulan Januari 2006, 10 bulan sebelumnya.)

 

Namun berhubung aku membawa uang dalam jumlah yang ala kadarnya LOL, aku hanya membeli satu edisi, yakni nomor 50 dengan topik utama PENGARUSUTAMAAN GENDER. Aku membelikan Angie sebuah teenlit novel. Namun aku cukup senang karena aku sudah tahu harus kemana tatkala aku ingin membeli JP.

 

Kenapa aku ga langganan aja langsung ke Yayasan Jurnal Perempuan? So ga repot? Sebabnya adalah jika aku membeli di TB TOGA MAS aku mendapatkan diskon 15%. Kalau langganan langsung ke Jakarta, aku harus membayar harga penuh yakni Rp. 19.000 per nomor plus biaya kirim. Lebih boros. Maklum, jiwa seorang mahasiswa yang keuangannya tergantung beasiswa BPPS masih sangat kuat di benakku. LOL. LOL.

 

Aku dan Angie pun pulang dengan hati riang. :)

 

PT56 23.40 060707

Angie dan teman SMA-nya, Rampink (nickname)

Thursday, July 05, 2007

Sport anyone?

foto Angie tahun 2011

Hari Selasa 2 Juli 2007 Angie harus mengembalikan raport ke sekolah. Namun, berhubung aku tidak mencatatnya di organizer hape, aku lupa deh. jam 06.45 aku sudah cabut ke PC, tanpa memberi Angie uang saku. Waktu itu aku ya sempet heran kok Angie sudah bangun sekitar jam itu. Padahal biasanya kalau libur, Angie super molor. Apalagi saat aku masih di Yogya, dan dia main ke kos, wah, bakal bisa seharian dia molor. J

 

Sesampai aku di PC, aku baru sadar kalau Angie harus ke sekolah. Biasanya kan aku yang mengantarnya ke sekolah? Lah, aku sendiri sudah cabut? Gimana Angie mau berangkat? Tapi aku males banget kalau harus balik. Harapanku cuma satu: Angie tidak merasa terpatok harus ke sekolah jam berapa, so dia akan sabar menungguku balik dari PC untuk mengantarnya ke sekolah.

 

Tatkala aku sedang ngobrol dengan seseorang (nah lo, heran kan? Tumben si Nana ngobrol dengan seseorang di PC? Bukannya dia hobbynya nongkrong seorang diri, di sebuah bangku, memanjakan matanya untuk membaca atau ngetik di the cutie? LOL), tiba-tiba sms datang: dari Angie.

 

“Lho Ma, Angie td blm dikasi sangu 😞”

Nana: “Aduh Sayang Mama lupa 😞 mau brangkat jam berapa? Buru2 kah?

 

berikut adalah ‘chat’ sejenak antara aku dan Angie lewat sms.

 

Nana: “Di tas Mama ada buku agenda kecil, di bagian sampul plastik ada uang 15000, tadi barusan Mama masukkan. Angie ambil aja, Mama males pulang awal. Ama sedang marah2 😟”

Angie: ”J 8 krg sprmpt,,”

Nana: “Eh Sayang, lagipula Mama blm tandatangan di raport kan?

Angie: “Iya,, blm.”

Angie: “Ma,, tmn Angie da dtg jmp..Ama d g mrh kok.”

Nana: “Kalo butuh ttd Mama, ntar Mama mampir ke sklh aja, stlh fitness, ntar jam 8.30 kali, mau ketemu dimana?”

Angie: “Ck .. Ah Mama.. Yawda Angie takesana aj m tmnv Angie..”

Angie: “Ma, Angie d mw mpe ni. Kluar mbokan. Tp Ma2 bw bolpen y. Angie g bw bolpen soalv..”

 

(Note: Perhatikan cara-cara Angie menulis sms. Did you understand that? Itu masih mending, teman-teman Angie suka pakai huruf besar kecil digabung-gabung, plus bahasa yang aneh, jauh lebih aneh dibanding Angie, dan aku sering ga ngarti. LOL.)

 

Waktu Angie mengirim dua sms terakhir, aku sedang cycling, dan hape kutaruh di tas, so aku ga ngerti kalau dia bakal ke PC. Untungnya, pas selesai cycling, iseng nengok hape, aku membaca sms Angie, sadar bahwa Angie bakal ke PC, pas Angie miscall memberitahuku kalau dia sudah sampai di depan PC. Aku langsung keluar. Aku masih berkeringat, nafas masih agak ngos-ngosan (satu hal yang ga pernah kualami kalau sedang berenang. Satu bukti bahwa aku lebih kuat berenang dibanding naik sepeda. 😃)

 

Di luar, aku melihat Angie turun dari boncengan temannya yang kemudian kuketahui bernama Melati, tinggal tak jauh dari tempat tinggal kita juga.

 

Bapak parkir sempat terheran-heran melihat Angie yang telah tumbuh remaja. Semenjak aku meninggalkan PC di tahun 2002 untuk kuliah di Yogya, aku memang belum pernah mengajak Angie (atau memaksa Angie LOL) untuk ikut berenang di PC. Yah, sudah lima tahun Pak, ya jelas Angie telah tumbuh menjadi gadis remaja dong, masak disuruh kecil terus? LOL.

 

Setelah memperkenalkan Angie dengan mbak si penjaga pintu kolam renang (karena dia sering banget nanyain kok tiap kali berenang aku ga pernah ngajakin anak ato siapa gitu LOL), I let Angie go.

 

****

 

Siang, Angie pulang dari sekolah sekitar pukul 10.30. Konsentrasi menulisku langsung buyar, karena Angie langsung nerocos ini itu tentang kejadian di sekolah. Angie juga menyampaikan kepadaku tentang keheranan Melati. “Ibumu senam emangnya buat apa Ngie?” waktu Angie merayunya untuk mengantarnya ke PC. Dan Melati menanyakan hal yang sama waktu dia melihatku keluar PC berkeringat, dan berkalung handuk kecil. (Kayak tukang becak? Huehehehehe ...)

 

“Ga tahu tuh,” jawab Angie.

Sampai di situ, tawaku langsung meledak.

 

“Yah emang orang olah raga buat apa Sayang? Ya biar sehat dong. Biar awet muda. Biar langsing juga kali.”

 

“Ya Angie tahu sih kenapa Mama senam.”

“Lah kok Angie bilang ke Melati ‘ga tahu tuh’?”

“Soalnya Angie justru bingung kok Melati nanya gitu? Emangnya dia ga tahu orang olah raga agar sehat? Kirain ada alasan lain deh. Nah, untuk alasan lain itu Angie ga tahu.”

 

LOL. LOL. LOL.

 

Jawaban yang cukup diplomatis bukan? LOL.

 

Aku jadi ingat obrolanku dengan seorang teman yang pernah komplain padaku karena tubuh istrinya menjadi melar setelah melahirkan ketika aku bilang ke dia kalau salah satu hobbyku adalah berenang.

 

(Read between the lines è di matanya tubuhku tidak melar karena aku berenang. LOL.)

“Mengapa perempuan menjaga diri hanya waktu belum married? Setelah married mereka merasa nyaman, sudah punya suami, sehingga tidak perlu menjaga kelangsingan tubuhnya lagi? Aku mau bilang ke istri supaya dia rajin olah raga agar tubuhnya langsing lagi, tapi aku takut dia tersinggung. Tak diemin, kok semakin ke sini tubuhnya semakin melar?”

 

Jikalau pertanyaan ini kuhubungkan dengan pertanyaan Melati, teman Angie, bisa jadi di benak Melati pun dia mempertanyakan hal yang sama, “Kenapa nyokapnya Angie berolah raga? Toh dia udah ‘laku’?” wakakakaka ...

 

Hal ini berarti Indonesia masih gagal dengan programnya, “mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olah raga”.

 

PT56 22.15 040707

foto ditambahkan di tahun 2023 (postingan ditulis tahun 2007, foto dijepret tahun 2019) ha ha

 

 

Wednesday, June 27, 2007

ANGIE LIBUR


 

Angie libur sekolah. Kali ini berbeda dengan libur yang dia dapatkan bulan Mei kemarin lantaran kakak kelasnya ujian. Dia libur setelah menerima raport kenaikan kelas. Apa yang membuatnya berbeda?
Pertama, kali ini tentu saja liburnya lebih panjang ketimbang bulan Mei kemarin. 

Kedua, mengingat Angie baru saja naik kelas dan masuk jurusan yang dia harapkan, entah mengapa aku menjadi merasa ingin melakukan sesuatu untuk membuatnya senang. Yah, misalnya berlibur kemana kek. Atau kalau tidak mengajaknya berlibur, mengajaknya melakukan sesuatu yang akan membuatnya senang. Well, seperti kebanyakan orang tua lain, aku pun selalu ingin membuat anak semata wayangku itu senang. Apalagi aku pun minggu ini libur dari tempat kerjaku. 

So, tunggu apa lagi? Pergi aja berlibur toh? Misal, ke Yogya, kota kedua yang kucintai di Indonesia ini. Apalagi menurut kabar yang kubaca di koran, Yogya telah memiliki tempat wisata baru, entah apa namanya aku lupa. Pengunjung bisa merasakan bagaimana rasanya berada di suatu tempat yang bersalju. Nah, salju di Yogya? Jelas tidak mungkin bukan?

Bagi orang yang punya duit berlebih masalah berlibur ke luar kota tentulah tidak akan membuat orang itu repot mikir, sampai perlu pusing tujuh keliling. Lah aku???

Aku harus menelan ludahku sendiri. LOL. 

Dan memang rencana ini hanya berhenti di pikiranku. Belum pernah aku lontarkan ke Angie. Yah, karena aku ga yakin apakah aku bisa mengajaknya berlibur ke Yogya di musim liburan kali ini. Padahal timingnya tepat banget. Dibandingin tahun lalu, misalnya. Setelah bersenang-senang Angie lulus SMP dengan nilai yang tidak mengecewakan, aku dan Angie harus berburu SMA. Kita berdua bersibuk ria melihat pengumuman di beberapa sekolah, kapan membeli formulir, syarat apa saja yang harus disertakan, mengembalikan formulir, mengecek jurnal tiap hari, etc. Sebelum yakin diterima di satu sekolah, tentu aku dan Angie belum bisa berlega hati.

Selain itu aku juga harus memikirkan jumlah uang sumbangan pembangunan yang harus dibayar. Seragam sekolah yang harus dijahitkan. Membeli buku. Dll.

Timing tepat tinggal timing tepat. Aku tetap harus menelan ludah. LOL.

So, kira-kira apa yang akan kulakukan selama musim liburan ini untuk menyenangkan hati my Lovely Star?

Aku sebaiknya merelakannya menggunakan desktop seharian dan aku menggunakan notebook tatkala ingin mengetik sesuatu. Satu sisi positif jika aku menggunakan the cutie. Berhubung tidak ada game di situ, aku tidak akan tergoda untuk main game. Aku terpaksa harus langsung fokus akan mengetik apa. Sifat procrastinatorku yang buruk (yang konon merupakan salah satu negative point atau mungkin justru menjadi excuse yang paling tepat bagi seorang perfeksionis sepertiku) selalu mendapatkan bala bantuan dari beberapa game yang ada di desktop. LOL.

Sewa VCD film yang ingin Angie tonton. Untuk sementara ini aku belum tahu film apa aja yang ingin dia tonton.

Mengajaknya ngenet. Well, just like her mom, Angie suka ngenet juga, terutama ber-friendster ria, browsing lirik lagu atau lagu, membuka www.youtobe.com entah apa yang dia cari, dll. 

Aku berencana untuk mengajaknya berwisata kuliner di Semarang saja. Well, beberapa rumah makan yang dulu sering kukunjungi dengan ex siswa privatku mungkin akan kukunjungi lagi, kali ini bersama Angie. Kalau dulu aku ditraktir, kali ini aku yang nraktir Angie. LOL. 

Berbelanja ke supermarket yang terletak paling dekat dari rumah. Ah, ini sih tiap bulan juga kita lakukan berdua. LOL.

Ke toko buku. Aku merasa harus membelikan Angie barang satu dua buku yang dia inginkan sebagai hadiah dia naik kelas. (CATAT: aku tidak menjanjikan dia apa-apa sebelum ini. Misal, “Kalau Angie naik kelas trus masuk IPA, akan Mama belikan sesuatu.” Itu dulu, waktu Angie duduk di bangku SD, kadang-kadang aku melakukannya, untuk mendorongnya melakukan sesuatu. Sekarang, aku tidak lagi melakukannya. Angie sudah cukup besar. Aku ingin dia melakukan sesuatu karena dia tahu bahwa dia harus melakukannya demi kebaikannya sendiri, dan bukan karena iming-iming hadiah yang kuberikan.)
Look??? Semua butuh duit untuk melakukannya. Jadi ingat pepatah yang kutemui di game ‘tumblebugs’. “Money cannot buy you happiness. But money can make you unhappy in some fine places.” NAH LO!!!


PT56 19.10 260607

Sunday, June 24, 2007

Angie and Popcorn


 

Beberapa hari yang lalu Angie komplain padaku, “Gara-gara Mama nih! Angie jadi suka ngecengin brondong kan?”

“Loh, apa-apaan nih?” tanyaku, ga ngerti.

“Tuh, mas Imoet yang kakak kelas pun ternyata hari ini baru berulang tahun yang ke 16. Berarti dia lebih muda dua bulan dibanding Angie!”

“Oh well, so what gitu loh Sayang kalo naksir cowo yang ternyata lebih muda?” komentarku.

“Malu lah Ma. Masak setiap kali Angie naksir cowo, selalu cowonya lebih muda dibanding Angie?” komplainnya lagi.

“Weleh, kan ga yang ada ngelarang lagi? Emang ada peraturan cewe harus naksir cowo yang lebih tuaan?” protesku.

“Emang ga ada sih. Tapi, Angie kan pengennya naksir cowo yang lebih tuaan?” jawabnya manja.

“Lah, salah sendiri napa pakai peraturan seperti itu pada diri sendiri?”

“Ini pasti gara-gara Mama dulu waktu SMP naksir adik kelas. Sekarang menurun ke Angie kan? Naksir cowo yang lebih muda? Padahal mas Imoet itu kan kakak kelas? Kok ya tetep aja Angie terperangkap dalam masalah naksir cowo yang lebih muda. Ga jadi pantes kuberi nick MAS IMOET dong orang dia lebih muda dua bulan?”

“Lho kok Mama jadi scapegoat sih? Itu kan bukan penyakit keturunan? And about his nick, oh well honey, you can change it now. Not MAS IMOET anymore, but DIK IMOET.” Godaku. Hahahaha ...

“Enak aja, emangnya Angie udah tua banget apa, manggil dia DIK?” komplain Angie.

“Loh kata Angie dia ga pantes dipanggil MAS karena ternyata dia lebih muda, gimana sih?” tanyaku, tetap dengan nada menggodanya.

Dan Angie cuma bisa merengut. Hahahaha ...

####

Entah berasal dari mana, tapi akhir-akhir ini ada satu kata gaul yang sering dipakai orang-orang untuk menyebut laki-laki yang berhubungan dengan perempuan yang lebih tua: BRONDONG. Apa hubungan laki-laki yang lebih muda ini dengan brondong alias pop corn? Karena sama-sama renyah? Wakakakaka ...

Dan Angie pun ikut-ikutan menggunakan istilah tersebut. Entah kecewa atau entah kenapa tatkala mengetahui bahwa cowo kakak kelas gebetannya ternyata lebih muda, Angie sempat woro-woro ke beberapa teman dekatnya. Dan komentar mereka nyaris sama, “Kamu tuh Nggie, seleramu memang brondong-brondong gitu deh.”

Wakakakakaka ...

“Padahal Angie tuh ya udah bela-belain naksir kakak kelas. Eh, tetap aja dia lebih muda dibanding Angie,” komplain Angie kepadaku.

Huehehehehe ...

####


Dalam mendidik Angie, aku selalu berusaha untuk melepaskan dirinya dari kotak-kotak bahwa dalam suatu hubungan sang laki-laki harus LEBIH dibanding si perempuan, misal: lebih tua, lebih tinggi baik fisik maupun pendidikannya, lebih kaya, dll. Aku berharap agar Angie tumbuh bebas lepas, tanpa terbelenggu nilai-nilai yang sering tidak masuk akal dan tidak memiliki esensi. Aku juga berharap dengan cara berpikir yang demikian akan membuat Angie tidak ikut terlibat gosip menggosip yang tidak sehat. (Aku ingat tatkala seorang rekan kerja, perempuan, menikah dengan laki-laki yang secara fisik lebih pendek dari dia, maupun rekan kerja, juga perempuan, menikah dengan laki-laki yang jauh lebih muda, banyak orang-orang yang berbisik-bisik di belakangku di pesta pernikahan mereka, mengatai tidak pantas, dll. Sucking people!!!)

Namun toh Angie tetap saja gusar tatkala dia merasa ‘berbeda’ dengan teman-temannya yang lain.

Aku sempat pernah me’ngompori’nya untuk ‘menembak’ cowo terlebih dahulu. LOL. Sebelum melakukannya, dia bertanya dulu kepadaku, “Mama, is it okay for a girl to express her feeling to a boy first? And not on the way around?”

“Why not, honey? Girls have right to do it too of course. Just express yourself openly. I encouraged her.

“But kalo ternyata dia menolak, tengsin berat dong Ma?”

“Yah, itu resiko dong Sayang. Apa dikira Angie tuh cowo-cowo ga tengsin kalo ‘tembakan’nya ditolak cewe yang dia taksir?”

“Tapi kan kalo cowo ditolak cewe itu udah lazim Ma? Masak mereka tengsin juga?” tanya Angie ga percaya.

“Semua orang merasakan hal yang sama dong menurut Mama,” jawabku.

“Tapi cowo kan bermuka lebih tebal dibanding cewe Ma,” protes Angie.

“Ah ya belum tentu dong Sayang!” jawabku lagi.

And in fact, Angie really did that. LOL. Aku sendiri ga yakin apakah akan mampu melakukannya. Hahahahaha ... Rasanya ga bakal mampu menahan malu berat seandainya ditolak. Wakakakakaka ... Good for Angie because it worked well on her. LOL.

Aku yang selalu merasa menjadi salah satu korban kultur patriarki ini menginginkan kultur yang jauh lebih ramah terhadap perempuan untuk Angie. Namun toh Angie tetap saja terkungkung dengan konsensus-konsensus yang entah kapan mulai diberlakukan. As her beloved Mom, tentu saja aku tidak akan berhenti untuk berusaha menghadirkan dunia yang lebih nyaman buatnya, untuk menerima keperempuanannya dengan terbuka, dan tetap merasa equal dengan laki-laki, tanpa perlu merasa terbatasi hal-hal yang tidak masuk akal. Well, at least tidak masuk akal buatku, sang Feminis.

PC 07.35 050607

Saturday, June 23, 2007

Angie and Her Ex

Beberapa minggu lalu Angie pulang sekolah dengan wajah agak murung. Aku tidak bertanya mengapa karena seperti nyokapnya, Angie bukan tipe anak yang mau bercerita kalau dia tidak sedang mood bercerita. Namun kalau sedang mood, dia akan bercerita banyak, tanpa perlu ditanya. Dan biasanya dia memang bercerita banyak hal kepadaku.


Malam itu, ketika pulang dari mengajar, aku bercerita-cerita tentang suasana kelasku kepada Angie. Di dalam kelas, ada seorang sekolah Angie sejak SMP, inisialnya R, perempuan. R sangat talkative dan kupikir dia memanfaatkan keberadaanku sebagai nyokapnya Angie sehingga dia merasa nyaman-nyamansaja talkative di kelas, meskipun waktu itu siswa-siswa yang lain sedang berdiskusi sesuatu atau mempersiapkan debat antar kelompok, dll.



Ketika menyebut R inilah, tiba-tiba Angie bercerita tentang sesuatu hal yang telah membuat hatinya agak kesal. Pagi itu R bererita kepada Angie tentang apa yang dikatakan oleh seorang anak laki-laki, inisialnya RZ, yang pernah “menembak” Angie, untuk menjadi pacarnya. Sebelum “menembak” Angie, Angie tahu bahwa RZ berpacaran dengan R, namun dia mengaku telah putus dengan R ketika “menembak” Angie. 


R bercerita, “Kamu tahu Ngie, waktu RZ kutanya mengapa dia menembakmu waktu kelas 3 SMP itu, meskipun aku dan dia belum resmi putus. Dia bilang, ‘Aku cuma pengen ngerasain gimana sih rasanya pacaran tapi tidak sayang.’ Coba bayangkan, ngeselin ga tuh orang?”


Wajah Angie terlihat sedikit terluka tatkala becerita hal itu kepadaku. Dia bilang, “Enak aja RZ bilang begit ke R. Emangnya dikira Angie sayang sama dia???”


Aku mencoba menetralisir perasaan marah Angie dengan mengingatkannya atas apa yang dia katakan dulu padaku.


“Angie coba ingat-ingat lagi peristiwa sekitar satu setengah tahun yang lalu itu. Mama sendiri kaget waktu Angie bercerita bahwa Angie menerima ‘tembakan’ RZ, kirain Angie masih suka pada RM. Tapi lantas Angie bilang Angie menerima RZ karena kesel sama RM. Angie seperti ingin berkata kepada RM, ‘Nih, aku laku kan? Putus sama kamu, aku juga dapet yang lain, yang ga kalah cakep, pintar, dan tajir dari kamu!’


Namun entah mengapa atkala gosip beredar di sekolah bahwa Angie pacaran dengan RZ, Angie tiba-tiba merasa tidak nyaman kepada RM, dan Angie ngomong ke geng-nya Angie, ‘Well, aku menerima RZ hanya untuk pelarian aja kok.’ Menurut pendapat Mama waktu itu, di satu sisi, Angie ingin pamer pada RM punya cowo baru. Tapi di sisi lain, Angie juga ingin nunjukin ke dia kalau Angie ga bener-bener suka ke RZ karena Angie masih suka pada RM.”


Sampai di situ kata-kataku, Angie tersenyum-senyum geli. Kemudian aku melanjutkan, “Jangan dikira geng Angie tidak akan menyebarkan omongan Angie itu ke teman-teman lain. Angie tahu sendiri betapa gampang gosip menyebar di sekolah Angie saat itu. Nah, apa dikira kalau RZ dengar pernyataan itu, dia ga bakal sakit hati pada Angie?”


Senyum Angie tambah melebar, dan dia mulai merajuk, “Masak sih Ma dia denger? Kalaupun denger, masak sih Ma dia sakit hati?”


“Try putting yourself in his shoes honey. What do you think? Would you get hurt or not?”


Angie tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum-senyum geli. Ekspresi wajahnya yang semula masam dan agak terluka hilang. Dia menatapku dengan sorot mata yang kuterjemahkan, “Kok Mama inget sih Angie ngomong gitu?” LOL.


“Kalau menurut Mama kira-kira RZ masih sayang R ga sih waktu dia nembak Angie dan pacaran dengan Angie?” tanyanya merajuk.


“Well, I cannot figure it out.”


“Menurut Mama, RZ tuh pernah sayang Angie atau engga? Atau memang cuma main-main doang?”
“Well, kalau inget sms-sms manis yang dia kirim ke Angie sebelum ‘menembak’ Angie, kayaknya sih dia memang sayang sama Angie. Well, at least pernah. Itu sebab setelah dia tahu Angie putus dengan RM, dia langsung mengambil kesempatan itu untuk ‘menembak’ Angie meskipun dia belum putus dengan R. Harusnya Angie sadar kayaknya Angie duluan deh yang nyakitin dia dengan ngomong ke geng-nya Angie tentang masalah pelarian itu. Tapi kalau bandingin keberanian dia mengirim sms-sms manis dan mesra seperti itu ke Angie dengan RM yang pemalu, well, kata Mama dia punya bakat untuk menjadi buaya juga. LOL. ” kataku mencoba menganalisa.


“Anyway honey, that is not important anymore now. Yang ingin Mama tekankan di sini adalah Angie tidak perlu terluka dengan apa yang dikatakan oleh R yang katanya didengarnya dari RZ. Sekarang skor Angie dengan RZ satu sama. Dulu Angie melukai RZ dengan mengatakan dia hanyalah pelarian Angie saja. Dan mungkin seantero kelas 3 SMP N 1 angkatan 2005/2006 mendengarnya. Sekarang RZ membalasnya dengan mengatakan hal tersebut kepada R, dan belum tentu seantero kelas X SMA N3 mendengarnya. Ok? Keep your chin up. And let bygone be bygone.” 


Wajah Angie terlihat ceria kembali. Dan aku senang melihatnya. This is one role of a mother and a best friend that I always enjoy from my relationship with Angie, my Lovely Star.


LL 16.18 190607

IPA - IPS - BAHASA

Aku tidak tahu apa yang menggayuti pikiran Guru Wali Kelas Angie tatkala dia berbicara basa basi sejenak kepada orang tua murid yang akan mengambil raport, hasil belajar anak-anaknya selama satu semester. Kalimat pertama yang dia ucapkan adalah, “Maafkan saya Bapak-Bapak...” (mana dia ga nyebut Ibu-Ibu lagi. Grogi kali dia ya? LOL.)
Ada apakah gerangan sehingga belum apa-apa Guru Wali Kelas itu harus meminta maaf kepada orang tua murid?
Ternyata dia memberi alasan karena tidak semua siswa kelas X-9 itu naik kelas dan masuk jurusan IPA. Seperti pertemuan pihak sekolah dan orang tua siswa tanggal 21 Februari 2007 lalu, Guru Wali Kelas mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Kepala Sekolah bahwasanya karena input yang kurang bagus tahun ini, dengan jumlah NEM yang sangat bervariasi, SMAN 3 Semarang terpaksa membuka jurusan BAHASA yang telah sekian lama tidak dibuka. Hal ini secara tidak langsung memberitahu kita bahwa jurusan BAHASA dianggap jurusan sampah.
Sebagai seorang alumni jurusan BAHASA SMA N 3 Semarang aku merasa tersinggung. Well, tidak melulu kepada cara berbicara Guru Wali Kelas itu, maupun apa yang dikemukakan oleh Kepala Sekolah bulan Februari lalu. Namun terutama kepada masyarakat kita yang tetap saja mengkotak-kotakkan pendidikan.
IPA è pintar
IPS è kurang pintar
BAHASA è bodoh
Padahal semua itu berhubungan dengan sistem motorik otak kanan dan otak kiri. Otak sebelah manakah yang bekerja dengan lebih giat yang akan menentukan apakah seseorang lebih berbakat untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan IPA, IPS, maupun BAHASA.
Aku datang untuk mengambil raport Angie dan merasa siap dengan segala hasil yang akan aku terima. Aku memang termasuk orang tua yang sangat demokratis, menyerahkan segala pilihan kepada anak. Angie sendiri yang ingin masuk ke IPA dengan alasan yang dia sendiri yang tahu pasti. Jikalau hasil test Angie (yang kebanyakan hafalan doang, maklum sistem pendidikan di Indonesia kan memang begitu?) dianggap tidak memadai masuk IPA, karena mungkin sistem motorik otak kanannya lebih aktif, aku yang akan menghiburnya untuk menerimanya dengan lapang dada. So, tidak perlu seorang Guru Wali Kelas meminta maaf kepada orang tua murid.
Tapi aku paham bahwa tidak semua orang tua murid memiliki jalan berpikir sehat sepertiku. LOL. So, aku anggap saja permintaan maaf Guru Wali Kelas itu ditujukan kepada orang tua murid yang belum sadar bahwa anaknya bukan miliknya seutuhnya, sehingga dia tidak terlalu berhak untuk mencampuri segala macam urusan sang anak. LOL. LOL.
Dan, memang, selama menunggu giliranku menghadap Guru Wali Kelas, aku mendapati (overheard, maklum tempat dudukku cukup dekat dari meja guru) beberapa orang tua murid yang masih saja ingin mencoba merayu agar anaknya bisa pindah ke jurusan IPA.
Menyedihkan.
PT56 11.30 220607

HARI TERIMA RAPORT

Aku tak menyangka bahwa Angie begitu nervous-nya menunggu hari ini, 22 Jun. 07. Pertama: dia begitu khawatir bahwa dia tidak akan naik kelas karena standard nilai yang cukup tinggi untuk masing-masing bidang studi di sekolahnya, SMA N 3 Semarang, yakni 75. Waktu penerimaan raport semester ganjil kemarin, guru wali kelasnya telah mengumumkan bahwa untuk naik kelas, nilai yang masih bisa ditolerir yaitu jika ada maksimal 3 mata pelajaran yang nilainya masih di bawah 75. Lebih dari itu, seorang siswa akan tinggal kelas.
Kedua: jika dia naik kelas, Angie sendiri kurang yakin akan kemampuannya apakah dia akan masuk ke jurusan IPA. Seperti yang telah kutulis di blog beberapa minggu lalu, Angie ingin masuk jurusan IPA karena dia ingin melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Psikologi setelah lulus SMA nanti. Dan syarat utama untuk melanjutkan ke Fakultas Psikologi seorang calon mahasiswa harus lulus dari jurusan IPA.
Aku sendiri tentu tidak nervous, tidur tetap nyenyak, makan pun tetap terasa enak. LOL.
Namun semalam tatkala Angie bilang, “Ma ... Angie deg-degan nih besok terima raport. Angie sudah mimpi beberapa kali Angie tinggal kelas.” Aku jadi begitu kasihan melihatnya. Aku ingin ikut merasakan keresahan yang telah melandanya sejak usai Ujian Blog Akhir Semester beberapa minggu lalu. Namun toh aku tetap saja tidak merasa resah dan gelisah. J
Pagi tadi aku masih sempat kabur ke Paradise Club untuk berfitness sejenak, kurang lebih satu jam. Setelah itu aku baru mempersiapkan diri berangkat ke sekolah Angie. Angie sendiri masih molor tatkala aku pulang dari PC. (memang jagoan molor kok dia. LOL.)
Aku sampai di kelas Angie, X-9 yang terletak di lantai dua gedung sayap kanan dari gedung utama SMA N 3 kurang lebih pukul 09.10. Sudah ada lebih dari 20 orang tua murid yang duduk di dalam ruangan. Setelah basa-basi sejenak dari Guru Wali Kelas, mulailah satu per satu orang tua murid menghadap untuk menerima raport.
Aku yang merasa tidak datang paling awal, meskipun duduk di kursi paling depan, aku tidak serta merta langsung ikutan berebut untuk menghadap untuk segera menerima raport. Sekitar pukul 09.40 ada miscall di hape. Waktu kulihat, ternyata Angie. Oh well, mungkin dia sudah semakin nervous. Saat itu ternyata aku ikutan nervous. Apalagi dua orang yang duduk di belakangku saling berbisik, “Kok jadi ikut merasa tegang yah? Padahal anakku masuk jurusan apa aja ga masalah bagiku. Mengapa juga harus memaksakan diri masuk IPA kalau si anak tidak mampu?”
Berdasarkan perasaanku yang ikut tegang, aku jadi mulai ambil ancang-ancang untuk ikut segera berebut maju ke depan. LOL.
Tak lama kemudian, aku mendapatkan kesempatan itu.
Setelah berbasa-basi sejenak, Guru Wali Kelas menyerahkan raport Angie, aku menjabat tangannya, dan segera keluar ruangan.
Mengetahui bahwa Angie sudah begitu ingin tahu hasil belajarnya selama satu semester ini, aku langsung sms ke dia.
“You got what you wanted honey, PROMOTED TO THE ELEVENTH GRADE è IPA!!!
Congrat! Luv you.”
PT56 10.55 220607

Wednesday, June 06, 2007

Angie's Dream

Angie is having her promotion test for about a week, June 5-June 13, 2007. That’s why she asked me to take her to go online on Sunday, to have fun for a while before she has to focus her attention to her test. Unfortunately, the cyber café we regularly visit was close. We had to go to another café. Well, there was another one not really far from the first café, but I could not stand with the smoke because there was only one area: smoking section. 

After waiting for about 10 minutes coz when we arrived all computers were booked, Angie got one computer. Intentionally I didn’t book one for myself because I could not stand inside. While waiting for Angie, I was sitting on an ugly bench in the narrow terrace of the café, scribbling on the cutie, to continue my article: the review of CURSE OF THE GOLDEN FLOWER. However, I could not really concentrate on my writing. There were four reasons: firstly, there were two boys sitting next to me, who now and again secretly took a look at the monitor of the cutie, curious what I was scribbling (or amazed to see the cute notebook, as cute as the owner? Wakakakaka … ); secondly, the sound of the vehicles passing by in the street in front of the café easily distracted my attention; thirdly, the battery in the cutie was not full so I was worried if out of the blue the cutie was off automatically. (galak poll dia tuh!!! Segalak yang menghadiahkannya kepadaku. Wakakakaka …) and lastly, the complete data was in the desktop, at home. 

After scribbling for some time, and I realized I couldn’t really concentrate on it, I used the rest of the battery in the cutie to scribble in the diary. I had one book inside my cute backpack, but I was not in a good mood to read, with some people chatting around me and the loud horn of vehicles passing by. Therefore, eventually I decided to enter the café, breathed the air with smoke inside, and sat next to Angie. I didn’t mean to be fussy to find out what she was doing. She is supposed to know that I never forbid her to do anything she wants to do as long as she is responsible with it, and she knows that I will always be by her side, to support her, and be there when she needs me. 

In fact, Angie was busy opening her friendster profile, reading some comments she got, leaving some comments on her friends’ profiles, while at the same time she was looking for some cute pictures of SHREK 3, and watching the video of A WALK TO REMEMBER at www.youtobe.com (FYI, some days ago I borrowed the VCD, but due to the damage in the second CD, we could not watch the complete scenes.) 

In her friendster profile, Angie wrote in the “shout out”, to wish her luck to be promoted to the second (or eleventh) grade, and get accepted at IPA major. She also left similar comments in her friends’ profiles. 

Well, it reminded me of Angie’s telling me about her dream some time ago. She dreamt of being accepted at BAHASA (Language) major. When she told me that dream, I didn’t comment anything. To me, whatever major she will take later is up to her choice and ability. Well, some months ago when she asked my suggestion what major to take, I reminded her of her want—to continue her study in Psychology Department. It means that she had to take IPA major because most universities oblige candidate students to graduate from IPA major to major in Psychology. I myself majored in BAHASA when I was at senior high school because I already set my heart on continuing my study at English Department. 

Inside my heart I wanted Angie to major in IPA, but I didn’t want to force her. It would be very unwise of me. And I couldn’t read what Angie was feeling or thinking when she told me about her dream: she wanted to ask me to let her major in BAHASA, or she told me about her worry. 

 And when I was sitting next to her, accompanying her going online, and finding out her typing that ‘shout out’ and comments at her friendster profile, I could draw a conclusion: she was worried if her dream came true—to get accepted at BAHASA. She has set her heart on majoring in IPA, no matter what her reason is: whether to be able to continue to Psychology Department, or any other thing. She must know her responsibility: to prepare herself as best as she can to do the promotion test. 

I remember my dream—also Angie’s dream—a year ago. I wanted Angie to follow my path: after studying at the same junior high school as me—SMP N 1 Semarang, I wanted her to continue her study at the same senior high school—SMA N 3 Semarang. I was not really sure because Angie suffered from typhus when doing her examination. It means she couldn’t prepare herself maximally. Besides, she was just a mediocre student, not among the brightest ones due to her laziness. Her IQ which is 122 is not really bad, is it? And in fact, OUR DREAM CAME TRUE. Angie is studying at SMA N 3 Semarang now. 

My next dream is Angie continues her study at Gadjahmada University two years again. At the moment, this dream seems somewhat just a dream because I am not really sure if I can support her study there financially. But of course I still have a big hope for this. I remember seven years ago, I visited my ex workmate who was studying at GMU with Angie. When this workmate took me to Gedung Lengkung, the Head Office of Graduate Program, I talked to Angie, “I have been dreaming to come here as a student.” But I was not sure to be able to do that due to the financial constraint. And in fact, two years later, in 2002, I did come to Gedung Lengkung to be one of the Graduate students there. 

Sometimes, miracles do come to us, don’t they? To me, my Abang’s arrival in my life is also one example of miracle. I do hope that Angie will get what she wants. Amen. 

PT56 23.00 040607

Sunday, May 20, 2007

Being Attached

us, in 2011

 Around an hour ago, Angie asked for my permission to go with her friend, Fitri. Fitri wanted to buy a pair of shoes in the (maybe LOL) oldest traditional market in Semarang, Johar market. I let her go while warning her to be careful because Johar market is familiarly known as full of thieves.

This is Sunday May 20, 2007. These past a few months, Sunday afternoon has become our time to go to the cyber cafe. Angie asked me to tell her whether I would really go to one cyber cafe and she would ask Fitri to take her there after she finishes doing what she wants to do in Johar market.

Of course I am accustomed to being alone at home. I am accustomed to going to the cyber cafe by myself too, without Angie joining me. However, I recognize that I start to feel not really uncomfortable when I want to go somewhere (that I don’t usually visit) without Angie with me. For example, when I want to go sightseeing in malls (that I very rarely do), I always ask her to accompany me. Recently, this plan often failed to be done because Angie said, “Instead of going sightseeing in Citraland Mall, how about if we go online?” So, we went to the cyber cafe instead.

Going back to Angie’s going with Fitri, it made me think of what people usually say (stereotyping huh? Probably!) about teenagers’ life when they are in their senior high school period. They will love to be with their buddies more than with their family members. During my time at senior high school, yes, I usually went somewhere with my schoolmates. My younger sisters were still very young at that time. I was not very close to my big brother. Besides, he belongs to homebody type while during my younger years I belonged to happy-go-lucky type.

I am wondering if it is high time for Angie to think that way too. She would love to go anywhere with her schoolmates rather than with me. She would choose to accompany her friends rather than to accompany me. I will be very unhappy. I realize that Angie is the only FRIEND I have at the moment. And this afternoon I started to realize how closely I am attached to her.

“It is not good to be attached to someone very much, Nana,” my Abang told me. Not even to him. Not even to my very own daughter either, perhaps.

I was born in this world alone, although my birth was very much expected by my two dearest parents. This means I will always have to be ready to be all alone.

PT56 13.28 200507