Sunday, January 02, 2011

Teenagers versus parents

Angie in 2007

 
Barusan baca postingan seorang online buddy di networking site sebelah. Dia curhat anak remajanya nampaknya mulai naksir, dan ... begitulah, dia mulai deg deg sir, khawatir yang engga-engga. (entah apa aja itu yang 'engga-engga') tapi lantas dia mengingat pengalamannya sendiri di waktu remaja, yang bertingkah seperti anak remajanya, yang tidak mau terlalu dikhawatiri oleh orang tuanya, karena selalu merasa, "I am okay. I know what I am doing. You, parents, live in a different generation, so please ..." bla bla bla ...

Jadi ingat pertama kali Angie mulai naksir cowo, masih duduk di bangku SD. ha ha ... LOL. Aku tidak merasa khawatir atau bagaimana, hanya curious! Cowo kayak apa ya yang bikin Angie tertarik? :-) Akhirnya aku pun tahu what he looked like ketika anak laki-laki itu ngapel ke rumah. Ya, NGAPEL ke rumah!!! ha ha ... he looked good. heheheh ... Pinter main volley, kata Angie. (wedew, cerpen zaman lapanpuluhan banget yah? wkwkwkwk ...) But ... ada but nya ... tapi, ah ... ga usah kutulis di sini ajalah but-nya. LOL. Bisa didiemin sehari semalam entar. hahahaha ...

Jika engkau ingin tahu bagaimana aku membesarkan Angie, dan aku merasa ga perlu khawatir tatkala dia mulai tertarik kepada lawan jenis ~ apalagi sesama jenis LOL ~ aku membiasakan dia bicara terbuka tentang apa aja kepadaku, dan dia tidak perlu merasa khawatir bahwa aku tidak akan bisa memahaminya. Aku selalu berusaha membuatnya merasa 'secure' berbicara tentang apa saja. Sex? go ahead. Apa sajalah.

Dan aku selalu berusaha menempatkan diri pada tempatnya; ikut heboh kala dia cerita tentang cowo yang dia taksir, LOL, ikut heboh juga tatkala dia cerita tentang teman-temannya yang sedang naksir cowo, tentu juga ikut kesel waktu temannya ikutan naksir cowo yang ditaksir Angie (pengalaman zaman SMA nih), dll dll ...

By the way busway, kayaknya dulu aku sering banget nulis kayak ginian buat Angie? Kalau hanya masalah 'teenagers versus parents' tentu juga telah kutulis. Dulu ... zaman Angie belum ngeblog,

Barusan tadi siang (atau kemarin yak?) aku ngomong ke Angie, "I am wondering if I can raise other kids just the way I raised you, to be someone like you." (read it => have a close relationship with me, so that we are just like sisters or best friends) Resiko punya anak 'cuma' satu, ga bisa ngerasain, "Oh, kalau yang pertama tuh begini begini begini; anak kedua begitu begitu begitu; bla bla bla ..."

Ga usah terlalu panjang ah. :)

PT56 22.50 02.1.11

Thursday, November 11, 2010

Dalam Keheningan


Angie in 2007
"Ada kalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik."
("Lilin Merah" dari kumpulan prosa FILOSOFI KOPI karya Dewi Lestari)

Terlepas dari cintaku kepadamiu, darah dagingku,kau tahu aku pun butuh waktu untuk menyendiri. Kesendirian terkadang membuatku berpikir lebih jernih untuk segala hal yang telah terjadi dalam hidupku, juga dalam hidupmu. Pada saat yang sama juga membuatku menimbang-nimbang langkah apa yang akan kuambil untuk kehidupanku yang akan datang, dimana mau tidak mau engkau pun akan merasakan dampaknya.

Proses pertimbangan ini biasanya kulakukan sembari menulis, entah menulis diary, atau email ke beberapa sobatku yang tentu telah kau kenal. Namun terkadang email-email itu tidak jadi kukirimkan karena dalam proses menulis itu, aku telah menemukan jawabannya. Atau kalau narsisku sedang kumat, aku menulis untuk blog yang bisa saja akan menjadi konsumsi publik.

Relief -- alias kelegaan -- yang kurasakan seusai menulis sering setara dengan kala aku (dulu) melakukan ritual berbincang denganNya. Itu sebab aku menganalogikan menulis dengan berkomunikasi dengan satu kekuatan transenden yang entah mengapa aku yakin ada di dalam tiap diri manusia, yang bisa mereka rasakan hanya kala mereka menghadirkan hening dan menelanjangi pikiran diri, jujur pada kata hati.

Namun tentu engkau pun tahu, darah dagingku, pada saat-saat yang lain aku butuh libatkan engkau dalam berkomunikasi, meski kekuatan transenden tersebut hanya ada dalam diri masing-masing kita. Kepuasan jenis lain yang menghinggapiku ~ kenikmatan berbagi.

---------- ---------- ---------
PT28 18.45 111110

Sunday, June 28, 2009

Penyerahan Kembali ...



Hari Minggu 28 Juni 09 aku menghadiri acara “Pelepasan murid-murid kelas XII SMA Negeri 3 Semarang” di kampus sekolah yang berlokasi di Jalan Pemuda no. 149 Semarang. Waktu berangkat tidak ada rasa haru atau yang sejenisnya itu karena di postingan terakhir tentang Angie di blog http://my-lovely-star.blogspot.com aku menulis tentang perasaan ajaib yang selalu menimpaku tatkala Angie menginjak jenjang yang lebih tinggi.

Namun ternyata aku langsung terjebak perasaan haru tatkala sang MC menyebutkan acaranya sebagai “Penyerahan kembali murid-murid kelas XII SMA 3 kepada orang tua/wali murid”. PENYERAHAN KEMBALI ...
Gosh...

Jadi ingat tiga tahun sebelumnya tatkala Angie baru diterima di SMA 3. Angkatan Angie adalah angkatan pertama program Sekolah Berstandar Internasional, merupakan pilot project sekolah sekaligus pemerintah. Sekolah baru mulai membenahi fasilitas, kesiapan human resources, materi pendidikan, dll. Penerimaan siwa baru “masih” menggunakan sistem ‘rayonisasi’ yang menyebabkan anak-anak yang NEM nya “di bawah standar” asal tinggal di lokasi satu rayon dengan SMA 3 diterima. Tak pelak lagi hal ini menjadi keluhan yang berkepanjangan dari para guru yang merasa terbebani dengan progam SBI tersebut. Para orang tua senantiasa ‘dicekoki’ dengan keluhan ini setiap kali menghadiri rapat pertemuan antara sekolah dan orang tua/wali murid.

Tahun ini, thank God, SMA 3 meluluskan semua murid. Kontan kepala sekolah pun berkoar-koar, “Guru-guru SMA 3 telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa mengajar anak-anak yang memang dari ‘sononya’ sudah pintar. Guru-guru SMA 3 pun telah membuktikan bahwa SMA 3 adalah tempat yang sangat layak untuk mendidik generasi muda bangsa.” Well, untunglah pak kepsek tidak melupakan bahwa para orang tua juga ikut andil. Jadi ingat cerita Angie tatkala dia menghadiri acara ‘prom night’ beberapa saat lalu. Tatkala ada sambutan dari wakil murid-murid kelas XII, dikatakan, “Dengan kelulusan 100% tahun ini, kita telah membuktikan bahwa angkatan kita yang selama ini dianggap ‘underdog’ karena sistem rayonisasi, mampu mempersembahkan hal-hal yang membanggakan bagi almamater kita.”

Pak Kepsek pun dengan bangga menyebutkan dua murid yang mendapatkan beasiswa penuh dari ITB karena terbukti sebagai anak-anak yang cerdas namun berasal dari keluarga yang kurang mampu. (Konon, ITB memberikan 3 beasiwa penuh kepada calon mahasiswa dari seluruh Indonesia, dan dua dimenangkan oleh alumni SMA 3 Semarang.) Hal ini membuktikan bahwa SMA 3 adalah tempat berkumpulnya anak-anak cerdas dan berkualitas, dan bukan berkumpulnya anak-anak orang kaya (namun berotak kurang tajam).

(Hmm ... jadi ingat tatkala aku lulus SMP N 1 lebih dari dua dekade lalu, aku memilih SMA 3, dan bukannya sekolah yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno dengan alasan, “Sekolah itu tempat berkumpulnya anak-anak orang kaya.”  Sedangkan beberapa teman yang menlanjutkan sekolah di sekolah itu mengatakan, “Ga berani sekolah di SMA 3, murid-muridnya pinter-pinter!” Btw, di pertengahan tahun lapanpuluhan, dua sekolah ini saling bersaing untuk menunjukkan mana yang pantas menyandang sekolah terbaik.)

Satu acara yang membuatku amat terharu adalah penyerahan penghargaan kepada lulusan terbaik. Bukan karena salah satu pemenangnya adalah my ex student at LIA, (sehingga aku merasa punya alasan untuk ikut andil mencerdaskannya, wkwkwkwkwk ...) namun karena 23 tahun lalu, aku pun berdiri di situ, sebagai salah satu lulusan terbaik. I didn’t regret that Angie was not there, bukan karena itu. Tapi 23 tahun lalu aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian. (ehem ... LEBAY MODE ON. Wkwkwkwkwk ...) But suer, I was really touched when watching that moment.

Well ... Angie telah dengan resmi dikembalikan kepadaku oleh pihak sekolah. Angie telah resmi menjadi anggota ALSTE (alumni SMA 3 Semarang). Both of us are proud to be members of this community.  😁
Welcome back home, my darling sweetie hunny bunny apple pie.
 
PT56 17.30 280609

Friday, May 22, 2009

Anugerah terindah

 

Salah satu anugerah terindah dari menjadi orang tua menurutku adalah melihat perkembangan sang anak stage per stage. Setiap kali melewati satu ‘stage’, aku selalu merasa terkagum-kagum dan terheran-heran sendiri. How God loves me by blessing me one very nice and loving daughter.

‘Stage’ pertama (yang kuingat saat ini, karena aku tidak memiliki jurnal khusus untuk mencatat perkembangan Angie sejak bayi) adalah saat dia masuk TK pertama kali. What a wonderful experience mengetahui bahwa my baby grew up dan mulai masuk sekolah. Dengan penuh semangat aku mengantarnya ke sekolah, menatapnya dengan penuh kekaguman, bayi yang keluar dari rahimku telah tumbuh dan mulai masuk sekolah. Mengetahui bahwa dia nampak pede di antara anak-anak sebayanya yang memulai ‘jenjang hidup baru’ dengan tidak keyakinan diri membuatku merasa bangga. Tidaklah mengherankan jika pada hari-hari pertama aku menungguinya di sekolah sampai jam sekolah usai, pukul 07.00-10.00, meski jarak sekolah-rumah tidaklah lebih dari 500m. Meski Angie sendiri tidak perlu kutunggui.



‘Stage’ yang kedua tatkala Angie masuk SD. Wonderful experience yang sama, kekaguman yang sama, terutama karena dia mengenakan seragam SD,menunjukkan bahwa dia telah tumbuh lebih besar lagi. Aku ingat di hari pertama dia ada pelajaran ‘olah raga’, aku sengaja tidak pulang setelah mengantarnya ke sekolah. Aku ingin menonton anak semata wayangku itu ikut olahraga di sekolah. Yah, padahal waktu TK tentu dia juga melakukannya, tapi di jenjang SD, hal seperti itu pun tetap saja menggairahkan bagiku.

(What a pity I didn’t know blogging yet at that time. LOL. I even didn’t keep a diary to take notes what happened, how I felt, etc.)

‘Stage’ ketiga tatkala Angie masuk SMP. My God, anakku telah duduk di bangku SMP! Anakku telah memasuki usia remaja! Meski aku sedang sibuk pursuing my study di UGM waktu itu, tentu aku tidak ketinggalan momen-momen mengantarnya mendaftar ke SMP dimana dulu pun aku belajar, mengetahui dia diterima di sekolah yang pernah menjadi sekolah terfavorit di Semarang tatkala masih berlokasi di Jalan Pemuda (sebelum akhirnya digusur oleh Pem Kot ke Jalan Ronggolawe). Aku juga yang mengantarnya ke sekolah di hari-hari pertama masuk SMP.

Bisa diperkirakan ‘stage’ berikutnya adalah tatkala Angie masuk SMA. Tatkala seragam SMA-nya telah jadi dan kita ambil dari ‘tailor’, goodness, memandangnya mengenakan seragam SMA, setelah selama tiga tahun sebelumnya memandangnya mengenakan seragam SMP juga merupakan suatu keajaiban bagiku. She had really grown up! Apalagi dia pun melanjutkan jejakku, bersekolah di sekolah negeri yang tetap menjadi terfavorit di Semarang pada saat ini, sejak beberapa dekade yang lalu.

Waktu Angie masuk SMA aku sudah ngeblog, so momen-momen tertentu sempat kurekam di blog yang khusus kudedikasikan untuk Angie yang beralamat di http://my-lovely-star.blogspot.com

***


Di postingan ini, terutama aku ingin menulis perasaanku tatkala mengantar Angie ikut tes UM, baik di UNDIP tanggal 15 Maret 2009 maupun UM UGM tanggal 5 April 2009.


UM UNDIP. Lokasi Angie tes kebetulan di sebuah universitas swasta yang terletak di samping masjid UNDIP. :) Memasuki sebuah area baru, dengan perasaan tidak yakin apakah dia akan merasa comfortable membuat sifat kolokan Angie muncul: dia memintaku untuk menemaninya sampai tes mulai. Tes dimulai jam 08.00, namun peserta UM diminta untuk hadir di tempat setengah jam sebelumnya. Dan Angie sendiri minta berangkat dari rumah jam 06.30.

Sampai di kawasan UNDIP (bawah), melihat kerumunan begitu banyak orang calon mahasiswa, getaran dalam hatiku yang selalu muncul tatkala Angie akan memulai ‘stage’ baru dalam hidupnya datang lagi. ANGIE AKAN MENJADI MAHASISWA!!! Ada rasa haru yang harus kutahan agar tidak tumpah, “Mama ni memalukan...” tentu Angie akan komplain seperti itu. LOL.

Setelah memasuki pelataran parkir, ternyata Angie bertemu dengan seorang teman lamanya, teman SMP, serta merta dia memintaku pulang, tidak perlu menungguinya sampai saat dia harus memasuki ruang ujian. :) Dia bakal malu ketahuan kolokan. LOL.

Sekitar pukul 14.00 aku menjemputnya. Rasa haru itu muncul lagi: aku menjemput Angie dari mengikuti ujian masuk untuk kuliah! (LEBAY!!! LOL.)

***

Pada UM UGM, lokasi tes Angie di SMA 5. Tatkala melewati sekolah Angie, SMA 3, aku melihat ‘banner’ bertuliskan “SELAMAT DATANG PARA CALON MAHASISWA UNIVERSITAS GADJAH MADA”. Rasa haru itu hampir tumpah lewat air mata. “Goodness, UGM welcomes Angie.” Di pintu gerbang SMA 5 pun, ada ‘banner’ yang sama.

Langsung terbayang di benakku mengantar Angie ke Jogja, mencari kos, membelikan barang-barang ini itu keperluan kos, (almari plastik, bantal guling, sprei, selimut, ember, dll) berkeliaran di Jalan Kaliurang km 4,5 – km 5, bukan untuk keperluanku sendiri, melainkan untuk Angie, ANAKKU. (You bet, my mind worked very fast. LOL.) 

Aku hampir yakin Angie would be accepted at UGM.

Teringat pula rasanya baru kemarin aku mengantar Angie sekolah di SMA 3, terkagum-kagum melihatnya mengenakan seragam putih abu-abu. Di jenjang SMA ini Angie mulai menolakku menciuminya di pintu gerbang sebelum dia melangkah masuk sekolah. “I am not a baby anymore!” mungkin begitu Angie komplain. LOL. “I don’t want myschoolmates to laugh at me.” LOL.

Namun ternyata tiga tahun hampir berlalu.

Tatkala Angie terkena penyakit typhoid lagi beberapa minggu lalu, aku bilang ke Angie, “Maybe this is one reason why God did not let you go to UGM. You will still need me to watch you from close distance. It would be different if I had enough money for both of us to pursue our studies together at UGM at the same time.” Well, paling tidak hal ini membuat Angie (terutama) dan aku menerima lebih legowo bahwa Angie tidak selalu mengikuti jejakku dalam mengejar pendidikan.

Nevertheless, wonderful experience and awesome feeling yang menghampiriku tatkala Angie memasuki ‘stage’ baru dalam kehidupannya tetaplah terasa sama, dimanapun Angie kuliah.

Gosh, my baby has grown up!!
PT56 17.00 210509

 P.S.:

Read this post as the continuation.

Wednesday, May 06, 2009

Tatkala Angie sakit ...

Tatkala Angie sakit ...

1. tiba-tiba aku menjadi penyanyi, karena dia memintaku menyanyi untuknya.
Waktu Angie kecil, aku memang sering meninabobokkannya dengan menyanyi. Aku malah tidak pernah membacakan dongeng untuknya sebagai pengantar tidur.
Hari minggu kemarin tiba-tiba dia memintaku menyanyikan lagu “Yogyakarta” milik KLA. Di tengah aku menyanyikan lagu ini, tiba-tiba Angie nyeletuk, “Sayang Angie tidak diterima di UGM ya Ma? That makes us different. I was studying in the same Junior High as you used to do. Now I am studying at SMA 3, your almamater too.”
I was broken-hearted. I was just speechless.
Tapi kemudian Angie nyeletuk lagi, “Tapi, eh, TK dan SD kita beda kok ya Ma?”
I smiled and commented that even my kindergarten was gone decades ago. LOL. She forgot that she did not really want to follow my step. I majored in ‘Bahasa’ when I was at senior high, karena kecintaanku pada English. Angie did not like this major so she majored in ‘IPA’. Dia juga menolak mentah-mentah untuk mengambil jurusan ‘English Department’ untuk kuliah. Karena my ‘eloquence’ lah akhirnya aku berhasil merayunya untuk memilih ‘English Department’ pada pilihan ketiga di UNDIP. Untungnya dia diterima di pilihan pertama, karena dia bilang, “I would hate to be accepted at this third choice of mine.” LOL.

2. dia melakukan satu hal yang dulu waktu masih kecil selalu dia lakukan sebelum tidur.
Can you guess what? Memegang telingaku dan memainkannya. Saking terbiasanya dengan telingaku yang mungil dan tipis ini, dia menolak ‘bermain’ telinga orang lain, misal bokapnya, atau tante-tantenya, atau bahkan Omanya. Dulu waktu dia masih ‘ngedot’, dia akan sangat anteng kalau sembari ngedot, tangannya yang satu menjewer-jewer kupingku, heavenly habit for her, I guarantee. LOL.

3. gosip Angie dirawat di rumah sakit.
Hari Jumat 1 Mei lalu aku sms seorang teman untuk menggantikan aku mengajar karena Angie sakit typhoid. Tak lama kemudian, seorang teman menelponku, “Bu Nana, Angie dirawat di rumah sakit mana? Teman-teman pengen tahu nih.”
Thank God sang dokter tidak menyarankan Angie dirawat di rumah sakit. Dia cuma pesan agar Angie tidak meninggalkan tempat tidur; makan yang lembut-lembut sebangsa bubur; tidak boleh makan makanan yang pedas dan kecut.
Kenyataannya: Angie malah bosen tiduran di kamar, sehingga dia pun pindah-pindah ke kamar tantenya (dua tante), kamar Omanya, kamar pakdenya (yang kebetulan berada di Semarang, dirawat oleh keluarga sendiri, diterapi latihan menggerak-gerakkan tubuh oleh keluarga sendiri, dll). Selain itu, dia ogah banget makan bubur. Saran dokter yang dipatuhi hanyalah tidak makan makanan pedas dan kecut. Payah. Minum obat saja sering dia muntahkan keluar lagi.
Gosip Angie dirawat di rumah sakit pun beredar di komunitas b2w Semarang. Kebetulan ada event FUN BIKE di Semarang pada tanggal 3 Mei. Berhubung aku tidak bisa ikut, aku pamitan di milis dengan alasan, “Angie sakit typhoid.”
Pada tanggal 3 Mei itu, sekitar pukul 09.30 seorang teman menelpon, bertanya Angie dirawat di rumah sakit mana, teman-teman mau menengok. Wedew. Angie dirawat di rumah saja. Tak lama kemudian, serombongan teman-teman b2w pun datang ke rumah. Triyono, pak Ketua, ditemani Eka, Yoni, Arif Tyo, Riu, Fery, dan Yoni. Ipoet dan Maya menyusul sambil membawakan anggur dan jeruk yang uenak, sayangnya yang bisa menikmati yang sehat nih.

4. pertama kali aku membolos mengajar. Selama ini seingatku hampir tidak pernah—atau belum pernah sama sekali—aku tidak masuk kerja dengan alasan, “Angie sakit.” How very unprofessional, menurutku sendiri. Kali ini aku membolos 5 hari. Sebabnya adalah, di pagi hari (pukul 07.00 sampai 15.00) aku telah meninggalkan Angie di rumah dirawat tantenya dan Omanya.
Dulu waktu aku masih mengajar di sebuah uni swasta, aku tidak perlu ngantor 8 jam sehari. Cukup aku ke kantor sebentar, memberi tugas kepada mahasiswa. Kemudian di sore hari, aku masih bisa berangkat mengajar di English course tempat aku bekerja sejak tahun 1996. Jadi tidak ada cerita Nana membolos bekerja karena Angie sakit.
PT56 19.27 050509

Angie got sick

Angie has got sick since Wednesday night, April 29. When I arrived home from teaching around 9pm, she covered herself with a blanket while that night it was a bit hot and damp in Semarang. She usually couldn’t stand the heat.


Realizing my presence, she then whispered, “Will you prepare some hot water for me to take a shower tomorrow morning, Mama?”

I directly understood she did not feel well.

In the middle of that night when her hand touched me, I knew she got sick, so I said, “You don’t need to go to school tomorrow honey. Just stay home.”  

***

Thursday morning I asked my sister to take Angie to a clinic called, “Klinik 24 Jam” located only around 200m from our home. I couldn’t take Angie there by myself because at 7am I have to already arrive at the office. My sister luckily had to leave for her office at 10am on that day. That’s what siblings are for? 

(This reminded me of one dearest friend who in 2004 convinced me to have another baby to accompany Angie because he was sure one day Angie would need a sibling.)No report was sent to me until I went back from the office around 15.00, except Angie asked me to buy her some apples.

Arriving home around 16.00, touching Angie’s forehead, I was shocked because her temperature even got higher than in the morning. The medicine didn’t work on her. Sister said that the young doctor suspected Angie got stressed out and suffered from sore throat only. I myself directly suspected Angie suffered from typhoid.

The first time Angie suffered from this disease three years ago, when she was about to face her final exam at Junior High. Since then, once a year she suffered from it. In fact after the first time she got this kind of disease, I already warned her to take care of her health well, not to make her body very lethargic, not to play under the rain (sometimes she intentionally did that when going home from school it was raining), to pay attention to any food she consumed outside the house, etc.

Around 18.30 that evening I took Angie to a doctor who has a laboratory at his house, so that Angie’s blood was checked too, to make sure what disease she was suffering from.

She got typhoid.

The fourth time.

***

Monday May 4 she forced me to let her go to school to join the final school test (UAS). I failed to persuade her to take a makeup test after she got recovered. Yesterday afternoon her temperature was quite high again. I hurriedly left the office after getting text message from sister about it around 14.15.
Again, I was trying to persuade her to take a makeup test; I believed her temperature increased because she was exhausted to go to school and force herself to think harder to do the test. She was still determined to do her test on schedule.

Today is Tuesday May 5, 2009. This morning when leaving her to the office, I touched her forehead still hot. The whole day I was worriedly waiting for any message from sister.

I arrived home around 15.45. Hurriedly I touched her forehead to check her temperature. Thank God Angie’s temperature has decreased.

She has consumed all medicine from the doctor. I was thinking to take her to the doctor again if her temperature was still high.

Thank God I don’t need to do that.

PT56 18.46 050509

Saturday, April 25, 2009

Angie's education


Angie got accepted at Psychology Faculty of Diponegoro University via UM 1.
And I am in between ...
Relief since she has got a place for her (near) future study ...
Disappointed because a part of my heart, I want her to be accepted at UGM: for my own nostalgic feeling especially when (later) visiting her in Jogja.
FYI, last March 15, she took the entrance test of UM UNDIP, with three choices:

1. Psychology
2. Planologi
3. English Department (with my eloquence, eventually I could persuade her to choose this major, the sama major I used to study)

Then, on April 5, she took the entrance test of UM UGM, with three choices:

1. International Relationship
2. Psychology
3. Planologi

According to the schedule, the announcement of both UNDIP and UGM will be issued on April 25. However, around 11.45 today (April 23) I got message from Angie telling me that the announcement of UNDIP has been issued. So, I checked it.
And the result is just like what I wrote above.

The good side is: both of us will still be roommates!!!

SPB 14.42 230409

Tuesday, March 31, 2009

Angie and her education

Angie 2011, at Robuchon, Paragon Mall

 

Since I left Jogja one day after my graduation day on January 25, 2006, I have always wanted to go back there, to pursue my study. Perhaps I also want to get rid of my routines here. Talking about pursuing my study reminded me of one chat with one dearest friend of mine. I told him that I loved being a student since I was very lazy to force myself to study; such as to read a book then to write a review about it, or to write a paper. I needed lecturers to set deadlines so that I was ‘forced’ to work hard. 


Do I miss Jogja, my ‘second hometown’ physically? Maybe.


This year I in fact have a great dream to pursue—to go to Jogja together with Angie: Angie to continue her study at UGM and myself to pursue my Doctor’s degree. Well, the title itself is not really important for me actually, but my craving contradicted to my laziness in studying. However, financial constraints hampered me to make this dream come true. L The only thing I can do is just to send Angie there, if she is accepted at UGM. 


Imagining to visit Angie in Jogja is absolutely exciting for me. Two-week break by the end of each term is a big help for me to stay there for around two weeks. I can do what I used to do: visiting some bookstores that always give discounts, going swimming at UNY swimming pool, having brunch at RM Pak To, taking a walk along UGM boulevard, visiting some libraries, etc.


Still there is one big thing missing: the intellectual activities I used to do with my ‘gang of seven’ friends, including the classes I used to attend, the discussion I had in those classes.
While in fact it is not just the physical Jogja I have been missing.


*****


A few days ago I tidied up the bedroom I have occupied with Angie. There was still one quite big box containing some plates, spoons, forks, chopsticks, glasses, napkins, etc. I brought that stuff home from Jogja in 2006. It was not clear why I still kept them in that box, why I didn’t just unpack it three years ago.


The box made me imagine some things I have to do/buy if later Angie is accepted at UGM. I will not just have to buy her some kitchen stuff (we will be lazy to bring some from Semarang to Jogja of course) but I have to buy some other things too: bed sheets, bookshelves, wardrobe, etc. 


And I realized that I was somewhat reluctant to do these things. :(


This is not because I do not let Angie go out of town to pursue her study.


NOTE: Angie registered the entrance tests of UNDIP as well as UGM. She did the test at UNDIP last March 15. She will do the test of UGM next April 5. The result of the tests will be announced on April 25.


Just wish Angie the best luck, will ya? 


PT56 20.10 280309

Friday, December 26, 2008

Eating out




Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menikmati liburan bersama yang tersayang. Windowshopping dan eating out misalnya.
Sudah bertahun-tahun kita berdua--Angie dan aku--tak menginjakkan kaki di food court CL Simpanglima Semarang. Kalaupun sempat ke CL, kita makan di tempat lain, e.g fastfood restaurant yang menunjukkan kita berdua masih terjajah secara kultural oleh negara pengimpor restauran tersebut.
Nah, sebelum masuk food court yang terletak di lantai 2, aku berbisik ke Angie, "Will that woman offering ice cream be here?"
Angie mengangguk-angguk geli.
Baru saja kita berdua duduk di kursi yang kita pilih, datanglah perempuan yang kita maksud.
"Mau pesan esnya mbak?" sambil menyodorkan menu.
Berhubung kita berdua sedang menjaga kesehatan tenggorokan, aku langsung menolaknya.
"Maaf mbak. Kita sedang tidak minum dingin, maunya minum yang hangat."
Surprisingly, orang itu langsung pergi dengan takzim, tanpa ngeyel.
Dulu, beberapa tahun yang lalu, dia selalu ngeyel dan merengek-rengek kalau kita tidak pesan.
"Aha, in fact she is still here! But she looks slimmer and tidier now. Not to mention more well-behaved." kataku pada Angie.
To make our stomach full, we ordered rice and its friends, shrimp fried rice 4 Angie, hainan chicken rice 4 me.
During our meal, Angie told me the place she is going to do her social care, a drop in center special 4 people who suffer from mental disorder.
"interesting topic 4 my blog, honey! Can I join u?" I asked.
I know the answer is NO. :-(
From eating late brunch, we browsed stores, floors, etc.
Before going home, 2 hours later, I was already hungry again! LOL.

PT 56 15.35 261208

Windowshopping

Dari satu toko ke toko yang lain
Dari satu section ke section yang lain
Dari satu lantai ke lantai yang lain
Dari satu department store ke department store yang lain
...
"bentar lagi kaki Angie gempor nih Ma!"

Lah, yang ngajakin siape Neng?
LOL

CL 15.05 261208

Monday, December 15, 2008

The continuation

Setelah keluar dari ruang Wakasek, aku bercerita kepada Angie apa yang terjadi. Dengan tenang, Angie bilang, “Memang orangnya reseh gitu kok Ma.”

“Mama sebenarnya pengen ‘menjewernya’ dengan mengatakan, “Saya sebagai orang tua Dzikrina saja ga pernah membaca sms-sms di hapenya tanpa sepengetahuan dia. Apalagi sms baru masuk, itu jelas hak privasi dia untuk membaca terlebih dahulu, dan kemudian memutuskan apakah saya boleh membacanya atau tidak.” Kataku pada Angie.
Angie langsung meringis lebar.

“You should have done that, Mama!” katanya.

Well, aku punya alasan tertentu mengapa aku tidak melakukannya.
Pertama, agar dia merasa ‘senang’ karena aku membuatnya merasa berhak untuk ‘menjajah’ hak-hak privasi orang lain—dalam hal ini siswanya.
Kedua, agar dia merasa ‘senang’ karena aku menganggapnya ‘tahu permasalahan’ pribadiku lebih jauh, dan aku menganggapnya ‘berhak’ untuk itu.
Ketiga, agar dia merasa ‘senang’ karena aku menganggapnya sebagai seseorang yang ‘mature’ dan ‘wise’ saat aku membiarkannya memberiku petuah ini itu, tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya.
Keempat, ini yang paling penting, agar dia melupakan kasus Angie, agar dia tidak selalu mengingatku sebagai ortu yang ‘ngeyelan’ diberitahu seorang Wakasek. LOL. I don’t mind anyway. 
Nana memang seorang ngeyelan (ask my Abang for this LOL), wise-guy juga (LOL, ngaku!!!) plus annoying intellectual snob, yang sebenarnya ga intellectual-intellectual amat. LOL.
PT56 23.17 141208

Two sides ...

Segala sesuatu memiliki dua mata pisau: positif dan negatif, tergantung dari perspektif mana kita memandangnya. Demikian juga teknologi. Teknologi telpon selular misalnya. Di satu sisi sangat membantu seseorang yang dalam kegiatannya sehari-hari sangat ‘mobile’ sementara dia harus tetap mudah dijangkau dan menjangkau. Ini dari sisi positif. Dari segi negatif, misalnya saja, kemungkinan terkena radiasi yang cukup tinggi dari telpon seluar, seseorang memiliki kecenderungan untuk terkena penyakit ini itu, misalnya saja tumor otak, kurang suburnya sperma, dll.
Bagi para pelajar, terutama di musim ujian, teknologi komunikasi via telpon selular, baik melalui sms, maupun feature yang lain (misal, MXIT), sangat ‘membantu’ mereka untuk saling meminta dan memberi contekan. ‘Membantu’ jika dilihat dari perspektif mereka, karena meringankan beban harus belajar keras; ‘merusak’ mungkin dari perspektif guru yang mengharapkan para siswanya belajar dengan baik, dan tidak menggunakan ‘metode’ contek mencontek.
Hal ini pun dilakukan oleh seorang Angie. :-D Apakah sebagai nyokapnya aku tahu? Aku tahu banget! Seperti aku juga tahu bahwa meskipun dia tidak meninggalkan ‘budaya’ saling membantu dan meminta bantuan dalam ujian, dia tetap saja belajar dengan giat di musim-musim ujian, seperti minggu lalu. Mengapa aku diam saja? Bukan karena aku berpikir ‘Angie membantuku’ tatkala mencontek temannya atau memberikan contekan (agar memperoleh nilai bagus, sehingga ini berarti Angie membantuku kan?), namun lebih cenderung karena aku sudah cukup menghargai usaha dia untuk belajar dengan giat. Kalau ternyata yang dia pelajari tidak keluar pada soal-soal ujian, ya boleh sajalah dia mencontek temannya.
Aku ada alasan lain untuk hal ini. Sebagai seorang guru, aku lebih suka tatkala siswa-siswiku memahami suatu permasalahan dengan benar, suatu teori dengan benar, menganalisis suatu peristiwa dengan benar, dll, daripada hanya sekedar menghafalkan untuk ujian, setelah itu lupa. ‘Kultur’ pendidikan di Indonesia, hafalan jauh lebih terkenal daripada memahami suatu permasalahan, mengerti teori, maupun memahami mengapa suatu peristiwa terjadi pada satu waktu tertentu. Nampak kemungkinan para pendidik tidak mementingkan apakah anak didiknya memahami topik yang didiskusikan, yang penting mereka hafal. Ataukah mereka tidak mengerti beda hafalan dan pemahaman?
Apa resiko tatkala seorang siswa/mahasiswa lulus hanya karena hafalan saja? Ketika dia memasuki dunia kerja, dia tidak akan memahami kasus/topik atau apapun itu yang dia hadapi, karena dia hanya hafal, namun tidak paham. Ketika diberi permasalahan yang sama, namun dengan kasus lain, dia akan mudah grogi dan tidak mampu memecahkannya dengan baik.
Aku selalu menekankan pada Angie, juga para siswa/siswiku, bahwa pemahaman jauh lebih penting daripada hanya sekedar menghafalkan. Pemahaman membutuhkan waktu dan proses yang lebih panjang. Ini sebab banyak siswa/mahasiswa lebih memilih jalan pintas—menghafalkan. Hal ini juga yang nampaknya lebih dituntut dari para guru/dosen. Atau mereka berpikir bahwa jika seorang siswa/mahasiswa hafal, hal ini siswa/mahasiswa tersebut paham?
***
Beberapa hari lalu Angie sms, “Ma ... hapenya Angie disita!”
Aku langsung menelponnya—via nomor telpon temannya. “How did it happen honey?”
Bahwasanya dia tidak hati-hati tatkala menggunakan hape ketika ujian, (ketika mencontek atau pun memberi contekan tentu saja), LOL, adalah alasan utamanya.
Dua hari kemudian, aku ke sekolah Angie—yang juga almamaterku—untuk bertemu Wakasek, untuk mengambil hapenya. Tidak banyak basa basi, hanya Angie harus menandatangani sebuah surat pernyataan bahwa dia tidak akan melakukannya lagi. Aku harus ikut menandatangani surat pernyataan itu.
Setelah selesai, Angie diminta keluar ruangan, karena pak Wakasek akan berbicara khusus denganku.
Aku pikir ada sesuatu yang penting yang akan diperbincangkan denganku selaku ortu Angie; atau mungkin sekedar ‘judgmental’ character of a teacher, bahwa sebagai ortu, aku ga merhatiin anak yang contek-contekan. Dan dia akan memintaku untuk lebih memperhatikan Angie. (Biasa, ini hasil dari cara berpikirku yang terlalu cepat, LOL, atau aku ternyata memiliki sifat defensif yah? LOL.)
Ternyata ... oh ternyata ...
The vice principal talked something else.
He said he accidentally (though I don’t believe that he did it accidentally) read a new message from Angie’s dad, and fussily and nosily asked me, “Have you been separated from him?”
G-U-B-R-A-K!!!
Well ... teknologi pun telah ‘membantu’ orang asing tahu hal-hal yang dia tak perlu tahu!!!
PT56 141208

Saturday, November 29, 2008

Warna-warni

 


Ingin kau rajutkan
indah warna-warni benang
dibalut dongeng-dongeng rupawan
sebagai penawar warna hitam dan pucat
yang senantiasa kulukiskan
dalam hidup kita berdua

Maafkan aku kekasih
bila kau bosan


SPB 13.15 271108

Selfishly loving ...

 


dalam lelapmu
kupandangi engkau dengan haru nan membiru
betapa senantiasa ingin ku memelukmu
bersenandung sejuta rindu
mendendangkan sejuta puisi cinta
agar tak lagi kau impikan
kehidupan dengan manusia yang lain


SPB 13.33 271108

Bersamamu


 

Bersamamu
Hari-hariku lebih berwarna
Kau buat langit tak hanya berhiaskan
Warna biru cerah
Namun penuh bianglala
Dari ufuk lazuardi yang satu
Ke kaki langit yang lain

Bersamamu
Kuresapi makna sebagai seorang perempuan
Bermain dalam buih kehidupan
menikmati cinta yang tercurah
Menghayati lelah yang menyapa
Kala malam tiba
Sembari menikmati wajahmu nan damai

Bersamamu
Terkadang aku tergores tanya nan pedih
Terluka kah engkau atas kekeraskepalaanku
Karena keangkuhanku
Bahwa aku tak seperti perempuan lain?

(dan kutawarkan warna hitam dan kelabu
dalam hidupmu yang masih belia)

SPB 14.15 191108

Modern Cinderella Complex

 


"I am a princess ..
just like Mia Thermopolis..
right, Mama?"
asked my baby one day
after she read "Princess Diaries" 1

I sighed ...

"And a Michael will come to me
an ordinary boy who then turns to be a prince
who has loved me since I was a little
and will always love me forever.."
she continued pleading
her face beamed with light

I sighed ...

"Just undergo your life, darling
with all its sweetness as well as bitterness
enjoy all of it with laughter, smile
even with tears if you have to
coz I will always be there for you"
I told her lovingly

She sighed ...

SPB 13.35 2111108

Saturday, September 27, 2008

Mencuci

Aku adalah tipe orang yang percaya bahwa seseorang akan mampu melakukan apa pun tatkala terpaksa.  Misal: zaman kecil dulu, orang tuaku lumayan ‘berada’ sehingga kita anak-anaknya tidak terlalu perlu repot-repot melakukan pekerjaan rumah tangga karena di rumah ada seorang PRT (yang dulu merupakan singkatan Pembantu Rumah Tangga, namun sekarang diubah menjadi PEKERJA Rumah Tangga). Kalau pun sejak kecil aku mendapatkan tugas menyapu rumah, ortu hanya bermaksud untuk membiasakan anak-anaknya bekerja di rumah.
 
Setelah lulus SMA dan hijrah ke Jogja (keinginanku yang kuat untuk memisahkan diri dari ortu membuatku melakukan suatu a kind of ‘trick’ sehingga ortu tidak memiliki celah untuk mengatakan “Jangan” kepadaku. Tricky of me. LOL) jelas aku harus melakukan segalanya sendiri, mulai dari bersih-bersih kamar, mencuci pakaian, menyeterika, sekaligus memasak. Dan? Tanpa perlu susah payah—dan aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk dipelajari—aku pun mampu melakukan ‘pekerjaan rumah tangga’ tersebut. (Well, aku membandingkan dengan seorang teman kos yang rada ‘manja’, sehingga mencuci menjadi suatu ‘beban’ yang maha dahsyat. Lupakan laundry, di pertengahan tahun delapan puluhan itu, bisnis laundry belum ditemukan di tengah-tengah kos. Satu kali dia melakukan satu hal yang lumayan ‘fatal’ bagi rekan-rekan satu kos gara-gara dia malas mencuci baju, meskipun dia telah merendamnya berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, hingga akhirnya menyebabkan bau yang tidak sedap. Alhasil, dia tidak jadi mencuci baju yang telah dia rendam tersebut, tapi membuangnya ke tempat sampah. Dan dengan entengnya dia ngeles, “Aku ga pernah mencuci pakaian sih di rumah! Jadi terasa berat banget tugas mencuci baju ini!” Lah, aku juga ga pernah sewaktu tinggal di Semarang, karena ada PRT yang selalu mencuci pakaian kita sekeluarga! Namun toh tatkala aku harus mencuci, aku pun melakukannya.

Aku pun berpikir bahwa Angie pun akan ‘menuruni’ cara berpikirku yang seperti ini.
 
Berhubung aku TIDAK PERNAH harus mencuci pakaian sendiri sampai aku lulus SMA (barangkali kalau aku tidak hijrah ke Jogja, aku juga belum akan mencuci pakaian sendiri sampai sekitar pertengahan tahun 1989 tatkala PRT di rumah ‘dipensiunkan’ karena bokap pun pensiun dari pekerjaannya), aku pun tidak pernah memberi tugas Angie mencuci pakaiannya sendiri.
 
Sampai tahun 2002 yang lalu …

Waktu itu aku balik ngekos lagi di Jogja untuk melanjutkan studi. Satu kali Angie berkunjung ke Jogja dan menginap beberapa hari di kos. Satu pagi karena buru-buru ke kampus, aku tidak selesai mencuci pakaian. Berpikir untuk ‘mengajari’ Angie melakukan satu pekerjaan rumah tangga, aku memintanya untuk menjemur pakaian yang kucuci pagi itu. Shockingly, Angie menolak!!! Dengan alasan, “Angie ga bisa Ma!!!”
Aku shocked.
 
Masak menjemur pakaian aja ga bisa? Paling-paling Cuma manja aja dia!
Namun karena aku akan terlambat untuk ke kampus kalau aku harus menjemur pakaian yang baru saja kucuci, aku pun menggunakan ‘authority’ sebagai nyokap untuk MEMAKSA Angie untuk melakukannya. Begitu mendengar aku berkata dengan nada ‘I-am-your-mother-so-you-have-to-listen-to-me’, akhirnya Angie pun tak berkutik. LOL.

Dari peristiwa ini aku belajar satu hal, “Aku harus membiasakan Angie belajar melakukan pekerjaan rumah tangga agar dia tidak tumbuh menjadi pribadi yang manja.”

Sejak pertengahan Agustus 2008 lalu, I got a new job dan aku harus ngantor sejak pukul 07.00 sampai 15.00. Setelah itu aku masih ngajar lagi pukul 17.00-19.00. Sama sekali aku tidak punya waktu luang untuk mencuci pakaian, kecuali hari Minggu. Kebiasaan Angie untuk selalu memakai seragam yang bersih tiap hari ‘terancam’. LOL. (NOTE: dia hanya punya dua stel seragam sekolah, sehingga untuk memakai seragam bersih tiap hari, aku harus mencuci seragamnya tiap hari pula, satu dipakai ke sekolah, yang satu lagi dicuci.) So? Dengan senang hati (hehehehe…) aku pun memberinya tugas, “Cuci seragam sekolah sendiri ya Sayang setiap kali pulang sekolah? Nanti Mama yang nyetrika. Deal?”
Dan Angie pun tak punya daya untuk menolaknya. LOL.

PT56 20.00 260908

Wednesday, September 10, 2008

Memilih Jurusan

Memilih fakultas maupun jurusan apa yang akan diambil setelah lulus SMA tentu bukan masalah yang mudah. Itu sebabnya semenjak Angie duduk di bangku SMP, aku memintanya untuk menimbang-nimbang jurusan apa yang akan dia ambil selepas SMA nanti, berdasarkan kesukaannya. PSIKOLOGI adalah jurusan pilihan Angie sendiri, mengingat kebiasaannya untuk meminjamkan telinganya untuk menjadi ‘tempat sampah’ alias curhatan teman-teman dekatnya. Kadang-kadang Angie akan berbagi denganku, untuk kemudian mencari solusi bersama, yang nantinya akan dia sampaikan ke teman-temannya.
Itu sebab waktu duduk di bangku SMA kelas 1, aku menyemangatinya untuk bisa masuk ke jurusan IPA di kelas 2 nantinya, karena untuk masuk fakultas PSIKOLOGI di UNDIP, seseorang katanya harus lulus dari IPA. Konon UGM membolehkan seorang lulusan IPS untuk mengambil jurusan PSIKOLOGI. Namun berhubung aku tidak yakin apakah aku akan mampu membiayai kuliahnya di luar kota (harus menyediakan uang ekstra untuk kos, belanja keperluan sehari-hari plus makan, belum lagi transportasi), aku meminta pengertian Angie untuk mengubur mimpinya mengikuti jejak langkahku untuk kuliah di UGM.
Mulai masuk kelas 3 pertengahan bulan Juli lalu, aku mulai membuka wacana baru buat Angie, mempersiapkannya memilih jurusan lain, selain PSIKOLOGI. Rencana, dia akan kuminta (dan Angie pun setuju, karena begitu juga saran guru wali kelasnya) mengambil IPC. Berarti Angie perlu memilih dua jurusan alternatif.
“Give me some suggestions, Mama.” Katanya.
Kedokteran is out of question karena terlalu mahal bagiku, plus dia jijik melihat darah, dan takut melihat cadaver, apalagi harus terlibat dengan makhluk tanpa nyawa itu terus setiap hari. Kalaupun masuk fakultas Teknik, aku sarankan dia untuk masuk Teknik Industri. Sedangkan untuk jurusan IPS, aku beri dia alternatif fakultas Hukum, Komunikasi atau Sastra Inggris. Untuk fakultas Ekonomi, dia tidak menikmati Akuntansi.
Surprisingly, dia memilih jurusan yang dulu aku tolak mentah-mentah tatkala my late Dad menyarankanku è HUKUM. Dia pengen jadi notaris katanya.
She really wants to be different from me. English Department is really not in her ‘dictionary’.
Beberapa minggu kemudian, dia bercerita tentang salah seorang sobatnya yang masih bingung memilih jurusan apa nantinya.
“Kirain dia mau masuk Kedokteran Gigi. Biar jadi Dokter Gigi, kayak Mamanya.” Kataku.
“Dia bilang itu pilihan Mamanya. Namun ternyata itu bukan pilihan hatinya. Dan Mamanya tidak memberinya gambaran jurusan-jurusan lain.” Kata Angie.
Dan masalah ini pun tidak hanya menimpa sobat Angie tersebut. Banyak teman dekat Angie lain yang belum tahu kemana akan melangkah.
“Kamu pertimbangkan dulu, kira-kira kamu punya bakat dimana,” saran Angie kepada teman-temannya; saran yang sama yang dulu kukatakan kepadanya waktu akhirnya dia memutuskan untuk memilih PSIKOLOGI.
“Perasaan aku ga punya bakat apa-apa tuh?” komplain mereka.
“Lah, pelajaran apa yang kamu sukai?” tanya Angie.
“Ga ada juga.” Jawab mereka. LOL.
Repot deh.
Pengalamanku waktu bekerja di sebuah Bimbingan Belajar satu dekade yang lalu, para tentor memang membantu anak didik untuk memilih jurusan apa yang akan dipilih sewaktu test masuk perguruan tinggi negeri, berdasarkan kesukaan, plus hasil nilai tes yang diadakan secara periodik di lembaga tersebut. Namun, demi gengsi lembaga—bahwa lembaga tersebut mampu ‘menembuskan’ anak didiknya untuk diterima di perguruan tinggi negeri dalam jumlah yang mendekati 100%--biasanya para tentor memberikan saran yang agak bias, mereka pilihkan PTN yang terletak di kota kecil, atau bahkan di luar Jawa, atau fakultas yang memiliki ranking rendah, yang penting si anak didik diterima di PTN, terlepas dari apakah pilihan itu memenuhi minat, bakat, plus kesukaan si anak. Hasilnya? Bisa jadi seseorang tidak akan bisa menikmati kuliahnya, dan menyebabkan proses studi tersendat.
PT56 12.30 070908

Tuesday, August 26, 2008

PENSAGA

Malam ini, Sabtu 23 Agust. 08 ada acara yang lumayan penting di sekolah Angie, PENTAS SENI SMA N 3 SEMARANG, atau yang lebih dikenal dengan PENSAGA. Untuk tahun ini ada dua band yang cukup terkenal yang diundang, yakni SHEILA ON SEVEN, dan THE CHANGCUTERS (tulisannya bener ga? ) Kupikir acara ini sebegitu pentingnya seperti acara pesta prom yang pertama kali kukenal (dan juga dikenal Angie) lewat buku PRINCESS DIARIES sehingga merupakan kewajiban bagi semua siswa untuk datang. Berhubung sekolah-sekolah lain pun menyelenggarakan acara yang sama—di lain waktu tentu saja—maka keberhasilan—dibuktikan dengan lakunya tiket—acara ini pun menjadi kebanggaan sekolah masing-masing.
Khusus untuk tahun ini, cerita Angie, SMA N 3 Semarang disaingi oleh “musuh bebuyutannya” SMA N 1 Semarang yang dengan sengaja menyelenggarakan PENSMANSA—or whatever you call it, I don’t really pay attention to it—pada hari yang sama. Semula SMANSA berencana untuk mengundang ANDRA & THE BACKBONE yang sedang naik daun untuk menarik perhatian anak-anak remaja sekota Semarang, agar mereka lebih memilih untuk hadir ke SMANSA daripada ke SMAGA. Rencana ini gagal karena konon ANDRA & THE BACKBONE sedang berada di Australia sehingga menolak undangan ke Semarang. Sebagai gantinya, SMANSA mengundang KOTAK yang merupakan band INDI, yang diharapkan akan mampu menarik minat para remaja yang suka ber-band ria, dan memimpikan memiliki rekaman suatu saat nanti dengan cara ber-INDI ria.
Bisa ditebak siapakah pemenang di atas kerta persaingan antara dua Sekolah Menengah yang semenjak dua dekade lalu (atau mungkin lebih lama dari ini) berusaha menunjukkan mana yang lebih baik. Semua tiket masuk PENSAGA tahun ini telah laku terjual H-A-B-I-S.
Aku tidak tahu sejak kapankah “tradisi” mengadakan PENTAS SENI dengan mengundang band-band papan atas—yang bagiku lebih cenderung menghambur-hamburkan uang daripada untuk menimba suatu pengalaman berharga—dimulai di Semarang. (Aku tidak akan pernah tahu jika aku tak memiliki anak remaja tentu!)
Dua dekade yang lalu tradisi yang ada adalah menyelenggarakan pesta sederhana yang biasanya dilaksanakan untuk merayakan HUT SMA N 3 Semarang yang jatuh pada tanggal 1 November. (SMAN 3 Semarang diresmikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 1 November 1877). Pesta ini hanya menampilkan kesenian masing-masing kelas, mulai dari seni tari, membaca puisi, paduan suara, band sederhana, dll. Dan biasanya pesta ini menarik perhatian para alumni yang tanpa ada undangan resmi langsung datang untuk reuni dengan guru-guru.
Dan aku sangat sedih mengetahui tak ada lagi “pesta” khusus untuk merayakan HUT SMA N 3 Semarang, dimana para alumni berdatangan untuk bereuni. Aku tidak yakin apakah para alumni lain akan tertarik untuk menghadiri PENSAGA seperti yang telah dikenal Angie semenjak dua tahun lalu. PENSAGA ini terlalu hingar bingar, banyak anak remaja dari sekolah-sekolah lain berdatangan untuk sekedar hanging out.
Aku lebih sedih lagi tatkala Angie tidak mengizinkanku datang bersamanya.  “You are old enough to hang out with my friends and me, Mom! Don’t make me feel like you are babysitting me!” katanya dua tahun lalu.
Here I am, at home, scribbling something, accompanied by some beautiful melodies I got from one loved one of mine, plus a cup of coffee. And Angie is there, at her school.
PT56 21.05 230808

Tuesday, August 05, 2008

Podungge Girls

Angie and me, 2019

 

Have you ever heard television serials entitled GILMORE GIRLS? 

Around a year ago a workmate of mine promoted this serials to me. “You’ve got to watch it, Ma’am, and I guarantee you will love it a lot!!!” 

I am not a television freak. I even ignore television a lot in my daily life so please understand me if I had never heard this serials before that workmate of mine told me about it. 

“How do you know that I will love it?” I inquired. 

“Because the story is about a single mother and her daughter. This is so you and Angie, isn’t it?” she explained. Wah … 

***** 

I bet my workmate was not a good campaigner so I didn’t really feel curious. LOL. Or, I belong to the type of person who is not easily ‘tempted’ by something. LOL. Therefore, I didn’t directly look for this serials in the VCD rental. Even when I saw it on sale at one big bookstore in Semarang, I had no idea to buy it. 

Until one day, several months ago, I found out a workmate—who belongs to a newbie in my workplace—had the complete collection of the first session. Nevertheless, I didn’t directly ask her to lend me. I am really a slow person in this kind of thing. LOL. 

Several days ago, another workmate borrowed the collection. When another workmate asked, “What is it about?” the workmate who promoted this serials to me for the first time answered, “This is about Ms. Nana and Angie.” 

W-O-W. 

***** 

Gilmore Girls

 

Today, July 31, 2008, I have watched episodes 1, 2, and 3 from season 1. Well … one thing in common between the two Lorelai Gilmore girls with Angie and me is of course absolutely the intimate relationship, we don’t look like a mother and a daughter. We are more to a girl friend with another girl friend. The rest? 

Absolutely those Gilmore girls are different from Podungge girls. (FYI, according to CEDAW, women are free to choose any family name. Therefore, even though Angie’s dad doesn’t have PODUNGGE behind his name, Angie is free to adopt this family name behind her name. Well, I assume Angie doesn’t mind it. If in fact she minds it, well, it is never late for me to release it from her name. LOL.)

What are the differences between Gilmore Girls (GG) and Podungge Girls (PG)? 

First, Lorelai got pregnant when she was 16 years old. I got pregnant when I was twenty-three years old and delivered Angie to this world when I was twenty-four years. This made our age gap bigger. Even though many people get surprised to know that I already have a teenage daughter for the first time, I assume I look old quickly after I reached the middle-aged period. LOL. (FYI, a big fan of mine said I looked 10 years younger when I was not wearing makeup and I was wearing a bright color T-shirt plus jeans; not my black work suit. LOL.) 

Second, Rory tried hard to have a good relationship with her grandparents while Angie didn’t seem successful in it. When watching episode 3 where Rory seemed to enjoy playing golf with her grandpa, I was wondering if Angie would be that nice to bother herself for having a good relationship with her grandpa, if only my dad were still alive. I am like Lorelai who didn’t want her parents to interfere her way to raise Rory. 

However, Lorelai didn’t find it difficult to have a poignant debate with her mother, especially. On the other hand, I cannot do that to my mother, at least until now. 

Oftentimes when my mother tells Angie to do this and that—especially when I am not at home—Angie often doesn’t give it a damn. She pretends not to hear what her granny says. LOL. When she tells me what her granny says that unfortunately is against to what she likes, I usually say, “That’s your granny, honey. She doesn’t change a bit. She used to say such things too to me when I was a teenager. Just be patient.” Only the difference was, I kept listening to what my Mom said, standing close to where she was blubbering, Angie left her granny, entered the bedroom, then banged the door. LOL. 

Third, Lorelai and Rory lived in a separate dwelling place from Rory’s grandparents. Angie and I live together with my Mom. Well, one most important reason was Angie refused to live in our ex small dwelling place, only both of us, because she didn’t want to be at home all alone when I was at the office. My working hours—mostly from 3pm till 7pm or sometimes 9pm—are very much different from the usual working hours for everybody else—from 8am till 4pm. Even though Angie doesn’t really have a good communication with her granny, she still chooses to live in our dwelling place now, together with her granny, rather than she is home alone while I am still at the office. Fourth, I love drinking coffee. But I don’t think I am as addicted to it as Lorelai did. I never drink coffee more than three cups a day. Three cups are the maximum number; and I hardly reach that number. Mostly I can control myself by only having one cup a day. 

Anything else? 

Well, perhaps I can make the list longer after I watch more episodes of GG. 

:) 

PT 23.45 310708