Monday, December 10, 2018

Dolan Ungaran: Why Not?



DOLAN UNGARAN

Ada tanggal merah di tengah-tengah ‘weekdays’, yakni tanggal 20 November 2018. Untuk turut merayakan libur ini, lol, aku mengajak Angie ke Candi Ngempon. Dia kudu mengetahui bahwa di kawasan Ungaran juga ada cagar budaya berupa candi. J karena kebetulan Ranz ada di Semarang, kuajak sekalian. Dan, nanggung lah kalau hanya bertiga; aku pun meminta Angie untuk mengajak Fitri untuk memboncengkan Ranz. J In fact, that is the point. LOL.
Dan, berhubung ada Ranz si pembaca peta nan handal, aku ga hanya mengajak Angie ke Candi Ngempon, namun sekaligus menyambangi curug yang kukunjungi bulan Juli kemarin bersama para gadis pelor naik sepeda, Curug Gendhing Asmara. 

Kita berangkat dari kos Ranz sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Aku memilih Curug Gendhing Asmara sebagai tujuan pertama, karena lebih dekat dari Semarang. 
 
CURUG GENDHING ASMARA 
 
Meski sudah pernah kesini, aku ga yakin apakah aku bisa menemukan lokasi ini dengan mudah. :D Belak beloknya keterlaluan seringnya. LOL. Mungkin aku harus mencoba kesini sendirian, baru aku akan mengingatnya dengan baik. LOL. Karena kita berempat kesini naik sepeda motor, tak ada tanjakan yang sulit dilewati. Hahahahah … 
 



Aku lupa tidak memperhatikan jam berapa kita sampai di destinasi wisata yang bisa dikatakan cukup baru ini. Yang pasti bisa dianggap lumayan pagi karena lokasi masih lumayan sepi, tidak sebanyak yang kubayangkan. Waktu berkunjung kesini bulan Juli 2018 lalu kita sempat bertemu dengan seseorang yang mengaku salah satu penggiat pertama agar curug ini dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan menyediakan spot-spot yang instagrammable. Maklum, di zaman social media seperti sekarang, semua wisatawan ingin berkesempatan mengambil gambar dengan latar belakang yang menarik untuk diunggah di akun social media masing-masing. 
 
Meski awalnya Angie sempat terlihat kecewa, “Ma … kok kesannya kayak kuburan?” tanyanya. (Ini gegara dia lihat satu warung di dekat tempat parkir yang ditutupi dengan ‘mmt’ dengan tulisan “Ziarah”. LOL. Akhirnya kulihat dia lumayan menikmati suasana juga, dengan memotret disana sini, mungkin juga menyuting disini sana. Tentu juga selfie lah. Maklum, anak muda. LOL. Foto yang cantik tidak melulu butuh lokasi wisata yang indah dilihat, namun pengambilan sudut foto juga menentukan. J






Kita meninggalkan curug sekitar pukul 12.00. Tujuan berikutnya adalah Candi Ngempon, Karangjati. Untuk menuju kesana, setelah ngecek google map, Ranz memilih lewat Ngobo, dimana kita melewati ALASKA alias Alas (Hutan) Karet. Tidak kita sangka ketika sampai disana, banyak orang yang berhenti dan berfoto-foto, atau bersantai-santai. Ada beberapa orang yang mencoba mencari nafkah dengan berjualan makanan dan minuman. Waaah … Tentu saja kita berempat berhenti untuk berfoto-foto. J









Ketika kita berada di Curug, suasana panas. Namun ketika kita sampai di Candi Ngempon, mendung datang, bahkan kadang telah terasa rerintik gerimis menyapa. Setelah memarkir sepeda motor di tempat parkir, kita berjalan menuju kawasan candi. Jalan setapak menuju kawasan candi masih sama, belum banyak perbaikan, mungkin karena pemerintah daerah tidak berupaya membuat Candi Ngempon sebagai satu destinasi wisata, beda dengan Gedong Songo.

Meski jalan setapak tidak menunjukkan perbaikan, yang mengherankan, kita melihat ada beberapa pengunjung lain di area candi. Wah … Tahun 2012 lalu waktu aku dan Ranz kesini, yang terlihat dolan kesini hanya beberapa anak mengenakan seragam sekolah, yang nampaknya kabur dari sekolah untuk pacaran. LOL. Tahun lalu waktu aku kesini sendiri naik sepeda, aku sama sekali tidak melihat pengunjung lain. :D

Mendung kian pekat setelah kita memutuskan untuk meninggalkan area candi. Aku mengajak Angie mampir ke Petirtaan Derekan yang terletak di seberang sungai. Petirtaan ini juga merupakan cagar budaya. Konon dibangun bersamaan dengan candi Ngempon. Pengunjung petirtaan ini lebih banyak lho ketimbang candi. J Bahkan satu keluarga yang datang bersamaan dengan kita (waktu menuruni jalan setapak dari tempat parkir) juga kesini untuk berendam di air hangat Petirtaan Derekan, bukan untuk mengunjungi candi. J

Saat kita menikmati makan siang di satu kantin di petirtaan (aku pesan sepiring pecel sayur tanpa nasi, Angie, Fitri dan Ranz kompak memesan mie instan), hujan turun dengan lebat. Wahhh .. dejavu deh. Tahun 2012 dulu waktu kita makan di sini, hujan juga turun dengan lebat. Dan karena malas menuntun sepeda melewati jalan setapak yang licin dan berumput, aku dan Ranz meninggalkan lokasi itu lewat jalan masuk menuju Petirtaan Derekan, ke arah Selatan, bukan balik ke jalan kita masuk candi. Walhasil lebih jauh dan … nanjak! LOL.

Satu jam kemudian hujan berhenti. Syukurlah. Saat kita kembali berjalan kaki menuju tempat parkir. Karena jalan keluar dari tempat parkir ke pintu gerbang sempit dan kadang curam (tanjakan/turunan) aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju pintu gerbang, biar Fitri dan Angie naik sepeda motor sendiri, tanpa terbebani yang duduk di boncengan.

Perjalanan pulang menuju Semarang lancar dan kita tidak digoda hujan. Hanya aku mengantuk. LOL.

Lumayaaan, ada tambahan stok foto untuk diunggah di akun instagram maupun facebook. I do love red-letter days. LOL.

Gizi 14.50 23/11/2018

Dolan Tawangmangu 2018




DOLAN TAWANGMANGU 2018

Setiap aku menginjakkan kaki ke satu destinasi wisata, aku selalu ingin kembali lagi dengan mengajak Angie. Satu lokasi yang tak perlu menunggu waktu lama bagiku untuk kembali lagi dengan mengajak Angie adalah Pantai Klayar. Aku dan Ranz bersepeda ke Klayar – Pacitan bulan Agustus 2013, aku kembali lagi bersama Angie dan Ranz awal bulan Oktober 2013. Aku mengajak Angie ke Lasem bulan Mei 2015; sebelum itu aku kesana dengan Ranz sekitar bulan September 2014. Not that long. J

Aku mengunjungi Tawangmangu di akhir tahun 2011. Namun butuh waktu tujuh tahun kemudian bagiku untuk balik lagi dengan mengajak Angie serta. :D Better late than never lah yaaa. :D (Taman Nasional Baluran dan Tana Toraja, entah kapan bisa kukunjungi lagi dengan mengajak Angie. J)

Jumat 5 September 2018 ~ hari pertama

Satu ‘blessing in disguise’ ketika Fitri – sobat Angie sejak masih duduk di bangku SMP kelas dua – memutuskan untuk kembali ke Semarang setelah (mencoba) bekerja di Banyuwangi beberapa bulan. Mengapa? Akan mudah mengajak Angie dolan keluar negeri, eh, luar kota jika ada Fitri. Hihihi … Selama ini kita dolan berempat: Angie memboncengkan aku, sedangkan Fitri memboncengkan Ranz, sang penunjuk jalan/pembaca peta nan handal. :D

Jumat itu kita meninggalkan rumah sekitar pukul 13.30, menuju Solo. Ranz menunggu kedatangan kita disana. Jadi kita meninggalkan Semarang hanya bertiga: aku membonceng Angie, Fitri sendirian. Perjalanan cukup lancar sampai Angie merasa tangannya kesemutan hingga butuh istirahat. Ini kita sampai di kota Salatiga. Aku mengajak Angie dan Fitri mampir ke satu minimarket tempat aku, Ranz, Tami, dan Pakde Dije juga mampir ketika kita bersepeda menuju Solo di tahun 2015 untuk menghadiri jamboree sepeda lipat nasional kelima. Waktu aku bersepeda lewat sini hanya berdua dengan Ranz, bulan Mei 2018, malah tidak mampir kesini. J

Setengah jam kemudian, kita bertiga melanjutkan perjalanan. Aku ingat, dari sini, kita hanya butuh melewati satu tanjakan lagi. Setelah itu trek tinggal menurun landai. (hahaha … bahkan ketika naik sepeda motor pun, yang ada di benakku adalah tanjakan! LOL.)

Setelah melewati Kartasura, memasuki jalan Slamet Riyadi – Solo, jalanan padat merayap. Hwaduh … tumben nih Solo macet. Apa karena itu sudah lebih dari jam empat sore ya, jam orang-orang pulang kantor? Untung kita masih bisa mlipir. (untungnya naik sepeda motor, bukan mobil.) Pukul 16.35 kita sampai rumah Ranz di kawasan Jongke – Laweyan dengan selamat. Alhamdulillah … Saatnya istirahat.

Menjelang pukul tujuh malam, kita keluar. Aku mengajak ke Galabo, pusat kuliner mereka yang bertamu ke Solo. Eh, padahal kalo aku sendirian ke Solo, Ranz ga pernah mengajakku kesini. LOL. Tapi karena aku mengajak Angie, dan kebetulan ada moda transportasi yang bisa mengantar kita kemana-mana, ya kesempatan kita dolan ke Galabo dong yaaa.

Di Galabo, aku pesan kwetiau goreng. Dan pilihanku ternyata benar, kwetiaunya enak banget! Ranz memesan rica-rica bebek yang dia makan tanpa nasi. J Angie memilih nasi goreng, sedangkan Fitri ingin mencoba sate buntel. Sate buntel ini adalah sate kambing. Lantas bedanya dengan sate kambing biasa apa dong? Googling saja yaaa. J

Usai makan, kita sempat jalan-jalan sebentar di kawasan situ. Kemudian kita berputar ke arah keraton, naik motor. Sempat berfoto-foto juga sebentar disini. Ranz sempat mengajakku mampir ke satu toko helm untuk mengganti kaca helm yang kupakai. Setelah lebih dari pukul Sembilan malam, kita menuju jalan Slamet Riyadi untuk berfoto-foto dengan background graffiti yang cukup ngehits.

Pukul sepuluh malam kita telah sampai di Wedangan Pak Basuki. Saatnya bagiku untuk menikmati teh nasgitel Pak Basuki yang telah kondang ke seluruh negeri, eh, seluruh Jawa Tengah, eh, seluruh Karesidenan Surakarta. J Presiden Jokowi pernah mampir kesini lho. J Pukul sebelas malam kita telah kembali ke rumah Ranz. Saatnya kita beristirahat.

Sabtu 6 Oktober 2018 ~ hari kedua

Aku sedikit khawatir, terus terang, jika Angie membawa kebiasaannya kesini: tidak bisa bangun pagi. LOL. Pukul enam pagi aku mandi dan mempersiapkan diri. Ternyata pukul tujuh, Angie dan Fitri sudah siap melanjutkan perjalanan. Bagus laaah. :D

Aku berniat mengajak mampir ke satu warung waralaba soto Mbok Giyem di kawasan Karanganyar, tempat aku dan Ranz pernah mampir beberapa kali saat bersepeda ke arah sini. Namun ternyata jam 7 itu Ibunda Ranz sudah selesai masak untuk sarapan. Ranz mengajak kita sarapan di rumah saja. Ya terima kasih banget dong, kita bisa lumayan ngirit. LOL. Meski ini berarti aku tak bisa menikmati lezatnya soto Mbok Giyem.

Belum ada pukul delapan pagi kita sudah dalam perjalanan menuju arah Karanganyar. Perjalanan lancar hingga di pusat Kabupaten Karanganyar, Fitri mengajak berhenti untuk membeli BBM. Kebetulan tak jauh dari situ ada minimarket, aku pun mampir untuk membeli permen. Sebenarnya aku bukan penikmat permen; namun dalam perjalanan begini, mengulum permen dalam mulut cukup membuatku lebih alert ketimbang mulut dalam keadaan kosong.

Melewati pertigaan Karangpandan dengan naik sepeda motor rasanya amazing, lol, aku (dan Ranz) lewat pertigaan ini tiga kali dengan naik sepeda soalnya. Desember 2011 ke Tawangmangu; pulangnya mampir ke Candi Cetho dan Candi Sukuh. Dari terminal Karangpandan kita naik bus karena rem Snow White rusak waktu itu. Januari 2013 kita bersepeda ke Candi Cetho; sedangkan ke Candi Sukuh bulan Oktober 2013.



Kita melewati terminal Tawangmangu (dalam kondisi segar bugar, tidak seperti 7 tahun lalu, aku teler berat, lol) sekitar pukul setengah sepuluh. Aku mulai alert untuk memilih mau menginap dimana. Aku tidak ingin menginap di penginapan yang sama yang kita inapi 7 tahun lalu. :D Ga butuh waktu lama, waktu melihat WISMA YANTI, aku langsung jatuh cinta. Aku pun meminta Angie belok ke arah wisma itu. Penginapan ini terdiri dari satu lantai dengan bentuk rumah-rumah yang pernah ngetren di decade 1970-an di daerah Semarang. Dindingnya berwarna putih, ada pintu masuk di sebelah kanan dan depan, juga jendela yang terletak di samping pintu. Ketika kita datang, semua kamar masih terpakai. Namun oleh si penjaga, kita dijanjikan bahwa kamar akan sudah siap saat jam check in, sekitar pukul 13.00. kebetulan semua kamar disewa satu perusahaan dan Sabtu siang itu mereka semua akan check out.

Setelah memilih kamar yang mana yang akan kita inapi, dan memberi uang muka, kita melanjutkan perjalanan. Aku mengajak ke Cemoro Kandang, karena penasaran tanjakan kesini seperti apa. Kawan-kawan pesepeda yang telah mencapai daerah situ merasa sangat bangga, soalnya. :D

Dari Wisma Yanti, kita terus melanjutkan perjalanan ke atas, sekitar 10 kilometer, sampai ada tulisan CEMORO KANDANG di sisi kiri arah kita datang. Oke, tanjakannya cukup menantang, apalagi jika kita membawa tas pannier. Hihihi … Namun karena kali ini kita naik sepeda motor, ya gampang lah ya. Apalagi untuk aku dan Ranz yang tinggal duduk manis di boncengan. LOL. Setelah foto-foto, aku mengajak mampir ke satu warung makan; kita sudah butuh minum dan ngemil sesuatu. Aku pesan teh panas dan seporsi sate ayam dan lontong. Angie dan Fitri sama-sama pesan satu porsi mie instan rebus, dan kopi putih. Ranz memesan pisang coklat.


Karena Cemoro Kandang ini terletak di ketinggian, kita pun merasa kedinginan, apalagi ketika angin berhembus. Aku telah mengenakan jaket yang menurutku cukup tebal, namun tetap lah aku kedinginan. Hihihi … Untung sebelum kesini aku sempat berpikir untuk meninggalkan jaket di Wisma Yanti, namun ga jadi.

Dari Cemoro Kandang, kita menuju Bukit Sekipan. Clue yang diberikan oleh Ranz, Bukit Sekipan adalah Bumi Perkemahan. Untuk menuju kesini, trek yang kita lewati turunan yang cukup curam. Duh, langsung terbayang kalau kesini naik sepeda, baliknya menuju penginapan, kita harus nelangsa gowes nanjak. LOL. Tanjakan tidak berhenti sesampai di Tawangmangu, karena  jika kita akan menuju ke satu destinasi wisata, kita masih kudu menapaki tanjakan. LOL.

Ternyata tanggal yang kupilih untuk dolan juga dipilih oleh banyak orang untuk melakukan hal yang sama. :D Di Bukit Sekipan banyak rombongan yang sedang mengadakan reuni atau pun acara-acara lain. Bisa dibayangkan di tempat parkir terlihat banyak bus/mobil. Banyak orang terlihat mengenakan kaos ‘seragam’. Di satu lokasi yang dipakai untuk kemah, terlihat beberapa tenda telah terpasang.

Kita berempat hanya jalan-jalan menikmati hehijauan dan foto-foto tentunya. Areanya tidak terlalu luas, sehingga kita tidak perlu berjalan jauh.

Sekitar dua jam berikutnya kita telah menuju destinasi selanjutnya: Grojogan Sewu. Atas saran si bapak penjaga Wisma Yanti, kita masuk Grojogan Sewu lewat pintu masuk kedua. Untuk menuju kesana, kita harus melewati turunan yang lumayan curam, untung permukaan aspalnya lumayan bagus. Dari pintu masuk kedua ini, kita bisa menemukan satu jalan alternative menuju Telaga Madirda, yang jika dilanjutkan kita akan sampai di Candi Sukuh. J

Jika masuk ke Grojogan Sewu lewat pintu masuk kedua, kita tidak perlu melewati tangga yang jumlahnya sampai ratusan anak tangga. :D Dan tidak banyak turis yang lewat sini sehingga tidak begitu penuh. Waktu menunjukkan pukul setengah empat lebih ketika kita membeli tiket masuk. Oleh si penjaga kita diberitahu bahwa kita harus sudah meninggalkan lokasi paling lambat jam lima sore.

Musim kemarau tahun 2018 ini memang sangat panjang, sehingga bisa dibayangkan air yang mengalir di grojogan itu tidak terlalu banyak. Dan karena kita tidak membawa baju ganti, kita tidak nyemplung ke air yang terletak di bawah grojogan. Kita hanya foto-foto secukupnya di lokasi ini. Sebelum pukul lima sore ternyata kita telah kembali ke tempat parkir.

Dari Grojogan Sewu kita kembali ke penginapan, saatnya istirahat. Meski naik motor, ternyata capeknya juga ga terlalu jauh berbeda dengan naik sepeda. Eh, tentunya kalau naik sepeda, aku sampai klenger. Kekekekeke …

Sekitar pukul tujuh malam kita keluar untuk makan malam. Usai makan, Angie dan Fitri kembali ke hotel naik sepeda motor, sedangkan aku dan Ranz memilih berjalan kaki. Ranz ingin beli sate kambing yang di tahun 2011 dulu kita nikmati. Sayangnya setelah kita sampai di tempat yang jualan sate kambing, ternyata sate kambingnya sudah habis. Karena Ranz belum makan, kupaksa dia membeli sate kambing di lokasi yang lain, meski katanya rasanya tidak senikmat yang dia inginkan.

Minggu 7 Oktober 2018 ~ hari ketiga

Pagi ini kita mendapatkan sarapan berupa nasi goreng dari penginapan. Lumayan. Oh ya, untuk menyewa dua kamar, kita membayar Rp. 450.000,00. Hari ini kita hanya mengunjungi satu destinasi: Taman Balekambang. Ada apakah disana?

Pertanyaan pertama bagiku sebenarnya adalah mengapa namanya sama dengan ruang terbuka yang terletak tak jauh dari stadion Manahan – Solo ya? Aku suka Taman Balekambang yang itu, tempat nongkrong gratis dan nyaman. Sampai sekarang aku masih berharap di Semarang ada taman tempat nongkrong yang luas seperti itu. J

Taman Balekambang yang terletak di Tawangmangu ini ternyata berupa taman bermain anak-anak. Ada beberapa permainan anak buat mereka yang bersedia mengeluarkan dana lagi. Sedangkan untuk orang dewasa yang berkunjung kesini, pihak pengelola membangun miniature ikon-ikon mancanegara, seperti patung Miss Liberty, Coloseum, Lapangan Tiananmen, Piramida dan Sphinx, dll. Cocok buat yang suka selfi atau pun foto-foto rame-rame. :D

Kita kembali ke penginapan sekitar pukul setengah sebelas untuk packing, kemudian check out. Sebenarnya aku pingin mampir ke Telaga Madirda, tapi aku khawatir jika sesampai rumah Angie kelelahan. Ya sudah, usai check out, kita langsung kembali menuju Solo.

Sesampai kota Solo, untuk makan siang, aku meminta Ranz mengantar kita ke Warung Selat Mbak Lies yang kondang itu. Angie sudah pernah kuajak kesini, sekian tahun lalu, namun bagi Fitri, ini adalah kunjungan pertamanya. Dan … sudah cukup lama aku dan Ranz tidak ke Mbak Lies. J Setelah makan siang, kita kembali ke rumah Ranz.

Kita meninggalkan rumah Ranz sekitar pukul satu siang, kembali ke Semarang. Alhamdulillah perjalanan lancar. Kita sekali mampir di satu minimarket di Salatiga untuk membeli minum dan beristirahat. Aku membeli permen untuk diemut sepanjang perjalanan sebagai penahan kantuk. :D

Aku dan Angie sampai rumah sekitar pukul setengah lima sore.

Next time, kemana lagi yaaa? :D

Gizi 14.41 22Nov2018


Thursday, May 04, 2017

Stunning Gedong Sanga

STUNNING GEDONG SANGA!

Prolog

Gedong Sanga (atau Gedong Songo) bukanlah destinasi wisata baru buatku. Mungkin aku pertama kali kesini waktu duduk di bangku SMP bersama kawan-kawan ‘karang taruna’ satu RT. (SSShhttt ... zaman remaja dulu aku aktif ikut kegiatan dengan para tetangga lho. LOL.) Sewaktu Angie kecil, dia juga sudah kuajak kesini. Jika tidak salah ingat, minimal dua kali aku mengajak Angie kesini ketika dia masih duduk di bangku SD. Yang sekali dengan kawan-kawan kerja (ex) Stiba – Aki. Yang kedua bersama siswa-siswiku di LIA, di akhir dekade sembilanpuluhan, mungkin.

Yang tidak kuingat adalah apakah aku dulu juga menikmati pemandangan yang menakjubkan dan sangat “menghijaukan mata”. LOL. Semenjak ‘pernah menjalin hubungan’ dengan X (:D) yang katanya suka mendaki gunung, mendadak aku pun menjadi satu penikmat pemandangan yang serba hijau di pegunungan, padahal sebelumnya aku sangat menyukai pantai, memandang hamparan laut yang nampak tak berbatas itu ‘soothing’. Tapi, eh, aku masih suka pantai lho.

1 Mei 2017 adalah hari libur. Thanks to Kangmas Jokowi to make this ‘labor day’ holiday. J Aku memberi Angie dua opsi tempat: Gedong Sanga (karena aku ingin trekking sambil melihat hehijauan) atau Jepara untuk menikmati pantai. Angie belum pernah ke Pulau Panjang. J Hari Sabtu 29 April, Angie memilih Jepara. Dan dia memilih pergi di hari Minggu 30 April, agar di hari Seninnya kita bisa full istirahat di rumah. Namun ternyata kedua adikku juga telah berencana pergi somewhere. Oh well, kita berdua mengalah dengan mengundurkan kepergian di hari Senin 1 Mei 2017 saja. My Mom (Angie’s granny) sebaiknya tidak ditinggal seorang diri di rumah seharian.


Terakhir aku ke Gedong Songo sekitar akhir tahun 2014 bersama Ranz. Waktu itu, kita naik BRT sampai Ungaran. Setelah sarapan, kita lanjut ke arah Gedong Sanga dengan naik bus jurusan Sumowono. Tidak sulit untuk mendapatkan bus waktu berangkat. Namun waktu pulang, ternyata kita menunggu sampai cukup lama tak nampak bus yang sama. Maka, kita berjalan kaki hingga pasar Bandungan. Sampai sana, kita naik angkot hingga seberang pom bensin Lemah Abang. Dari sana kita naik bus AKDP dari Solo menuju Semarang.

Tak ingin mengulang kisah waktu kita ke Kaliurang – terpaksa menginap semalam di kawasan Tlogo Putri karena tidak ada angkutan pulang ke arah Jogja di sore hari – Angie benar-benar menginginkan kepastian dariku bahwa ada bus yang menuju Sumowono. LOL. Akhirnya aku mengemukakan ide : dari rumah naik motor sampai Pasar Bandungan. Kita parkir motor di tempat parkir disana, kemudian lanjut naik angkutan umum/ojek.

NOTE: jalan menuju Gedong Sanga sangat curam. Angie masih trauma waktu memboncengkan aku ke Magelang bulan Desember lalu, karena aku jatuh dua kali dari boncengannya. LOL. Bukan karena jalanan curam, tapi karena sedang tidak beruntung saja. LOL. Menurutku, naik motor dari satu kota ke kota lain, Angie lebih meyakinkan ketimbang aku, karena aku mudah terserang kantuk. LOL. (itu sebab aku lebih memilih bersepeda, ketimbang naik motor. LOL.)

Perjalanan

Kita meninggalkan rumah sekitar pukul 08.00. Perjalanan pagi itu cukup lancar. Kita mampir di pom bensin di ujung tanjakan Gajahmungkur untuk membeli BBM. Selanjutnya lancar. Aku mengantuk di boncengan Angie. LOL. Angie terkesan baik-baik saja. LOL. Kita sampai di Pasar Bandungan pukul 09.10. Setelah memarkir motor di tempat parkir, mampir toilet sebentar, kita dengan mudah menemukan angkutan setelah menyeberang dari tempat parkir.

Kondisi angkutan sudah cukup penuh, namun masih ada ‘seat’ untukku dan Angie. Kulihat kebanyakan penumpang adalah perempuan paruh baya, atau lebih tua dari itu. (Jadi ingat waktu naik angkutan umum menuju Kaliurang. Hampir semua penumpang lain rambutnya telah memutih. Namun jika dilihat dari fisiknya, semua masih nampak sehat wal afiat.)

Jarak yang kita tempuh mungkin hanya sekitar 2 – 3 kilometer, dari pasar Bandungan sampai pertigaan menuju Gedong Songo. Kita cukup membayar Rp. 5000,00 berdua. Sang sopir yang ramah memberitahu kita bisa melanjutkan perjalanan dengan naik ojek. Kebetulan di pangkalan ojek, hanya ada satu tukang ojek. Dengan kepercayaan diri yang penuh, dia menawarkan memboncengkan kita berdua bersama di satu motor. Gosh! Padahal trek sangat curam saat mendekati Gedong Sanga. Angie tak henti-hentinya berdecak kagum sembari tertawa geli. Si Bapak daebak! LOL.

Tahun 2014 lalu waktu berdua dengan Ranz, si Bapak ojek meminta kita membayar Rp. 15.000,00. Kali ini aku memberi si Bapak ojek Rp. 20.000,00. Dan aku sangat bahagia waktu melihat rona wajahnya bersinar saat melihatku mengulurkan uang sepuluh ribuan dua lembar.


Saat sampai di pelataran parkir (pukul 09.40), aku langsung bisa melihat bahwa pihak pengelola telah melakukan usaha untuk mempercantik kawasan wisata tersebut. Ada tulisan GEDONG SONGO yang dikitari bunga-bunga. Loket penjualan tiket juga nampak cukup memadai. Untuk turis dalam negeri, harga tiket Rp. 10.000,00. Untuk turis manca negara, mereka perlu merogoh kocek lebih dalam, Rp. 75.000,00.

Suasana cukup ramai. Pelataran parkir terlihat penuh dengan kendaraan bermotor para pengunjung. Aku dan Angie baru saja melewati pintu gerbang, kita sudah ditawari naik kuda. “Sayang lho bu, sudah jauh-jauh kesini kok tidak mengitari kawasan Gedong Sanga sampai candi kelima.” Kujawab, “Tentu kita akan sampai candi kelima. Dengan jalan kaki. Bukan naik kuda.” J

Oh ya, waktu masih di rumah, Angie sudah sempat bilang ke aku kalau dia tidak mau jalan sampai candi kesembilan. LOL. Langsung saja dia kuolok-olok, orang waktu masih kecil dia bisa jalan memutari kawasan itu, ga pake minta gendong, mosok sekarang sudah besar Cuma mau berhenti, entah di candi satu atau dua? LOL. Sambil kudorong semangatnya, tentu, orang Cuma 4 kilometer ini. Trekking ke Curug Lawe + Curug Benowo malah lebih jauh dan lebih ‘sulit’ treknya. Waktu trekking ke kedua curug ini, adikku menyalakan endomondo, dan jarak yang kita tempuh malah sampai hampir 9 kilometer. Trek untuk berjalan di Gedong Sanga sudah dibuatkan jalan setapak sehingga jauh lebih mudah dilewati.


(By the way, candi di kawasan Gedong Sanga ini hanya tinggal 5 candi, bukan sembilan jumlahnya.)

Letak candi pertama tidak terlalu jauh dari pintu gapura masuk. Candi pertama ini berdiri sendiri, tidak terlihat candi perwara (maupun puing-puingnya). Jika diamati dari batu-batunya, kondisi candi masih asli, belum nampak ada batu ‘baru’ seperti jika candinya merupakan hasil renovasi setelah candi yang asli runtuh.

Trek yang lumayan jauh dan melelahkan harus kita tempuh dari candi pertama menuju candi kedua. Namun pemandangan yang hijau dan hawa yang dingin sejuk sangat ‘worth’ semua energi yang harus kita keluarkan saat trekking.

Saat sampai candi ketiga, aku sempat melongok ke dalam candi (tidak ada penampakan yoni maupun lingga), aku mendapati sesajian yang nampak masih baru. Angie heran apakah sesajian baru selalu diletakkan di dalam candi setiap hari. Kupikir kebetulan saja waktu kita sampai disana, ada orang yang baru meletakkan sesajian di dalam. Ternyata benar. Tak jauh dari candi, kita melihat empat orang yang mengenakan busana ala orang Hindu Bali saat mereka sedang melakukan ritual. Berarti benar. Memang barusan ada orang yang melakukan sembahyangan dan meletakkan sesajian di dalam candi.


Kita beristirahat saat sampai di candi keempat. Tak jauh dari candi keempat ini ada pelataran yang cukup luas, di pinggirnya ada beberapa ‘gubug’ dimana beberapa orang berjualan jajan dan minuman. Aku membeli kopi hitam, Angie beli cappuccino. Kita juga membeli satu biji jagung bakar. Baru beberapa menit kita beristirahat, mendadak cuaca berubah. Jika sebelumnya panas, mendung mendadak datang. Tak lama, kabut pun datang menyelimuti. Mulai terdengar suara gemuruh di langit. Sebuah ‘peringatan’ bahwa tak lama lagi, hujan bakal datang. (Waktu dalam angkutan, para penumpang sudah mengingatkan bahwa hujan biasa turun di kawasan Gedong Sanga mulai pukul satu siang, meski sebelumnya cuaca panas.)

Meski sudah ada tanda-tanda bahwa hujan akan datang, aku dan Angie tetap menikmati perjalanan kita dengan berjalan pelan-pelan. Tetap memotret suasana dengan kamera hape kita. Hingga akhirnya titik-titik gerimis mulai turun, kita berjalan dengan agak cepat menuju pintu keluar. LOL. Thanks to the path yang sudah dibangun oleh pihak pengelola sehingga mudah bagi kita untuk berjalan, tak perlu (lagi) terpeleset karena licin. LOL.

Setelah keluar, sesampai pangkalan ojek, kita langsung disambut tukang ojek. Kali ini dua tukang ojek siap membawa kita. Karena khawatir hujan kian deras, aku langsung naik di boncengan motor seorang tukang ojek, dan aku meminta Angie naik di satu motor lain. Aku meminta tukang ojek langsung mengantar kita ke pasar Bandungan, karena khawatir bakal lama kita menunggu angkutan umum lewat selepas pertigaan menuju Gedong Sanga. Untuk dua tukang ojek ini, kita membayar Rp. 50.000,00. Untunglah kita naik ojek, karena jalanan cukup macet.

Sebelum mengambil motor di tempat parkir, kita mampir toilet dulu. Hujan turun cukup deras saat kita meninggalkan Pasar Bandungan. Sesampai Semarang, kita mampir WS untuk makan siang kesorean. LOL. Kemudian mampir ke satu gerai supermarket untuk membeli sesuatu. Sebelum adzan maghrib berkumandang, kita telah sampai rumah.

Sampai jumpa di kisah jalan-jalan Angie dan nyokapnya selanjutnya. J


LG 13.13 04 Mei 2017 

Wednesday, April 12, 2017

KE JOGJA NOSTALGIA MASA KULIAH Day 3

Selasa 28 Maret 2017 Day 3

Seperti sehari sebelumnya, aku memulai kegiatan pukul 06.00 pagi, mandi, kemudian packing. Setelah itu, membangunkan Angie.

Pukul setengah delapan kita meninggalkan penginapan. Hawanya dingin dan segar. Kita bertemu dengan serombongan wisatawan yang tentunya semalam sebelumnya juga menginap di lokasi itu.

20 menit kemudian, kita melihat penampakan angkutan umum datang. Hwaaaa ... we are safe! We would be back to Jogja! :D

Sebelum berangkat ke Jogja, aku nawarin Angie untuk mampir ke Museum Ullen Sentalu. Waktu itu aku berpikir akan mudah mendapatkan ojek di kawasan Tlogo Putri. Namun karena ternyata selama di Tlogo Putri, kita sama sekali tidak melihat penampakan seorang tukang ojek sekalipun, terpaksa kita batalkan dolan ke museum Ullen Sentalu ini. Sebagai ganti, aku menawari Angie untuk berkunjung ke beberapa candi, atau ke Tebing Breksi. How to go there? Radit telah memberitahu bahwa kita bisa menyewa sepeda motor. Beberapa persewaan sepeda motor bisa kita dapatkan di Jalan Pasar Kembang, tak jauh dari stasiun Tugu. Namun, ternyata Angie enggan kuajak jauh-jauh.

Dari Kaliurang, kita butuh waktu kurang lebih satu seperempat jam – dengan naik angkutan umum – untuk sampai di kawasan UGM. Kita berhenti di satu halte Trans Jogja di seberang fakultas Pertanian (atau perpustakaan yak?) Dari sana, kita naik Trans Jogja koridor 2 B untuk sampai di Malioboro.

Yak, sekali lagi kita jalan-jalan di Malioboro! Sekaligus beli oleh-oleh untuk orang rumah. J Kurang lebih pukul 13.00 kita telah sampai di halte Trans Jogja seberang Rumah Pintar. Setelah menunggu kurang lebih selama 40 menit, bus yang ditungguin para (calon) penumpang yang memenuhi halte saat itu tiba juga. J

Kita sampai di terminal Jombor sekitar pukul 14.30. kembali ke Semarang, kita naik bus Ramayana lagi. Jika waktu berangkat, bus lumayan sepi, kali ini, bus penuh!

Perjalanan cukup lancar, tanpa kendala satu pun. Kita sampai di Sukun saat adzan maghrib terdengar dari beberapa masjid di sekitar Sukun.

Sampai jumpa di kisah dolan Angie dan emaknya yang akan datang yak! :D


LG 12.12 05/04/2017