Sunday, July 16, 2023

Weekend Getaway at Pijar Park - Kudus

 


Bermula dari facebook story seorang kawan -- yang menunjukkan sejenis glamping -- aku dan Angie pun dolan ke satu kota yang selama ini tidak pernah muncul dalam rencanaku dolan: KUDUS. (kalau ngepit, ya, terutama dulu waktu Cipluk masih tinggal di Kudus, aku dan Ranz sempat lewat Kudus -- bikepacking ke Tuban -- dan saat Cipluk menikah.

 

Sabtu 8 Juli 2023

 

Aku pikir Kudus itu dekat, toh Cuma 60 kilometer jaraknya. So, aku pikir ga bakal butuh waktu lama untuk mencapainya. Aku dan Angie berangkat dari rumah pukul 09.15. namun ternyata kami sampai di KUDUS EXT MALL sekitar pukul 11.30. gile kan? Mosok untuk menempuh jarak yang hanya 60 kilometer, kami butuh waktu lebih dari 2 jam, padahal kami naik motor?

 

 


Pertama. Area Kaligawe -- terutama area pintu masuk jalan tol -- sedang dibangun, hal ini menyebabkan orang-orang yang lewat situ harus muter lumayan jauh masuk ke jalan arteri Yos Sudarso.

 

Kedua, di titik-titik tertentu terjadi kemacetan, sehingga Angie tidak bisa menggeber motornya dengan kencang.

 

Ketiga, permukaan jalan jelek -- jika dibandingkan dengan jalan dari Semarang ke arah Selatan -- sehingga menyebabkan perjalanan tidak menyenangkan. Sama dengan kasus yang kedua: menyebabkan Angie tidak leluasa menggeber motornya dengan cepat.

 

Keempat, di kilometer 26 dari rumah, ban dalam belakang motor Angie bocor.

 

penampakan yamin ayam katsu

 

Aku mengajak Angie mampir di mall satu itu untuk makan siang di satu outlet di mana 5 tahun yang lalu, Riu menraktirku dan Ranz makan siang, saat kami lewat Kudus, dari perjalanan Rembang menuju Semarang. (Itu adalah hari keempat perjalanan kami dari Sidoarjo menuju Semarang.) Sambil makan siang, kami ngecek google map rute menuju Pijar Park dari pusat kota Kudus. Kata pengelola PP, pusat kota Kudus - Pijar Park jaraknya sekitar 18 kilometer. Well, tidak jauh sih ya.

 

Usai maksi, kami naik ke lantai 2 mall, untuk nunut ke toilet. Kami sempat sightseeing sebentar ke satu toko yang jualan pernak-pernik lucu.

 

Setelah keluar dari mall, aku menyalakan google map, dan mulai menuju Pijar Park. Mengingat hawanya sejuk, (kata pengelola ketika aku dan dia berkomunikasi saat aku booking) aku yakin PP terletak di lereng Gunung Muria, yang berarti kami harus melewati trek nanjak.

 

Sekitar jam 14.00 kami sudah sampai di lokasi. Ada dua lokasi parkir di dalam area. Yang pertama -- setelah masuk lewat gerbang masuk -- ini lokasi parkir untuk mereka yang berkunjung tanpa menginap. Yang kedua, setelah masuk gerbang, belok kanan, trek menanjak. Ini untuk pengunjung yang sekaligus menginap di area Pijar Park.

 

Honestly, untuk masalah administrasi, Pijar Park masih kurang rapi. Aku yang sudah booking dan transfer uang untuk menyewa satu rumah pohon, masih dianggap belum bayar oleh petugas yang saat itu ada di Front Office. 'Untung'nya para petugasnya ramah dan sigap membantu. Aku dan Angie diminta menunggu kurang lebih 15 menit karena petugas harus mempersiapkan kamar yang akan kami inapi semalam.

 

penampakan rumah pohon tempat aku dan Angie menginap semalam

penampakan salah satu cottage

Di Pijar Park, ada beberapa jenis penginapan.

 

  1. Camping/tenda. Tak jauh dari tempat parkir, ada lapangan yang cukup luas, di mana di pinggir lapangan telah tersedia banyak tenda. Ini adalah jenis penginapan yang justru tidak aku ketahui dari akun IG Pijar Park :)
  2. Rumah pohon. Ini adalah tipe penginapan yang aku pilih karena imajinasi tinggal di rumah pohon saat aku kecil dulu masih sangat melekat di memoriku. This is kinda a dream-come-true to me.
  3. Cottage. Ada yang cottage biasa, ada yang cottage family. Dari namanya, kita bisa menyimpulkan bahwa yang cottage family ukurannya lebih besar, cukup untuk dua orang tua dan dua anak.
  4. Joglo. Untuk ini juga ada dua macam. Joglo 'biasa' yang bisa dipakai untuk dua orang, dan joglo yang besar untuk keluarga. Untuk joglo yang ukuran besar pun ada yang cukup untuk orang lebih dari 5 orang.
  5. Villa Sunset. Ini ukurannya besar, bisa diinapi oleh sekitar 7 - 9 orang.

 

Setelah check-in, meletakkan barang-barang bawaan kami di dalam kamar, aku dan Angie jalan-jalan, untuk foto-foto. Di Pijar Park banyak lokasi untuk berfoto-ria. Di sini juga bertebaran café/resto/kios angkringan yang berjualan berbagai jenis makanan dan minuman. Pihak pengelola juga menyediakan banyak tempat untuk nongkrong sembari makan/minum ini. 


 




balcony, bagian belakang 'cottage'

 


 





Malamnya, sekitar pukul 19.00 kami makan malam di resto 'utama' yang terletak tidak jauh dari tempat parkir untuk kendaraan pengunjung yang menginap.

 

Usai makan malam, aku dan Angie jalan-jalan mengitari area Pijar Park. Tenda-tenda yang terletak di camping ground nampak penuh oleh mereka yang menyewa tenda. Di camping ground ini ada satu panggung untuk pertunjukan live music.

 

makmal: kwetiau goreng (buatku), mie Jawa rebus (buat Angie)

 

Jam 20.30 kami sudah kembali ke 'rumah pohon' tempat kami menginap. Aku tak kuasa menahan kantuk sehingga aku sudah memilih tidur sebelum pukul 21.00. namun, suara bising dari pertunjukan live music dan para pengunjung lain membuatku terjaga sekitar pukul 22.30. live music baru berhenti pukul 23.30. setelah itu, aku masih mendengar suara orang-orang berjalan di 'jembatan' yang menghubungkan rumah pohon yang ada di sekitar kamarku dan Angie. 😑😒

 

Sampai pagi, aku tidak benar-benar bisa tertidur nyenyak. 😓

Minggu 9 Juli 2023

 

Sekitar pukul 05.30 aku sudah mendengar suara orang berbincang-bincang sembari berjalan kaki di jembatan rumah pohon. Aku pun bangun dan melongok lewat jendela. Aku bisa melihat sinar mentari di sela-sela pepohonan. Aku pun memutuskan untuk ke luar kamar, dan melihat-lihat di sekitar jembatan pinus, di mana 3 'rumah pohon' terletak. Tidak jauh-jauh, aku pun kembali ke kamar. Aku melanjutkan membaca novel LAUT BERCERITA. Cerita novel yang menyedihkan ini sebenarnya tidak cocok dengan vibes berweekend di tempat yang asyik seperti Pijar Park ini. Tapi, apa boleh buat? Aku hanya bawa novel itu. 2 buku puisi yang aku bawa sama sekali tidak sempat aku buka. Moodku buruk sekali.

 

Sekitar pukul tujuh pagi, Angie bangun. Dia keluar kamar, kemudian buru-buru masuk kamar untuk mengambil hape: dia melihat seekor tupai bertengger di pohon di depan kamar kami!

 



 







Sekitar pukul 07.40, sarapan kami -- sepiring nasi goreng dengan lauk telor ceplok -- datang. Setelah sarapan, kami mandi. Usai mandi, kami jalan-jalan dan foto-foto. Di hari Minggu ini, Pijar Park dipenuhi lebih banyak pengunjung dibandingkan sehari sebelumya. Di camping ground pun kami melihat tidak hanya satu komunitas yang sedang melakukan outbound, tapi ada beberapa.

 

Kami meninggalkan Pijar Park menjelang pukul 12.00. kali ini, kami tidak perlu menyalakan google map. Sesampai Kudus, dan 'menemukan' alun-alun, aku sudah tahu rute menuju Demak. Di tahun 2017 lalu, aku sepedaan sendirian ke Kudus, pp, sampai alun-alun simpang tujuh, naik Cleopatra.

 

Perjalanan lancar sampai di pintu gerbang ke luar jalan tol di daerah Sayung. Terjadi macet parah di sini. Perjalanan benar-benar tersendat. Apa lagi beda tinggi permukaan jalan -- sehingga praktis jalan yang bisa dilewati dari Demak ke Semarang -- hanya setengah badan jalan. Dan … lebih parahnya, saat kami harus melewati area yang banjir! Aku sempat khawatir jika busi motor Angie sampai kemasukan air. Bakal nuntun sepanjang perjalanan hingga menemukan bengkel! Untunglah kami selamat sampai melewati area yang kebanjiran ini.

 

Di Kaligawe, Angie mengajak mampir makan siang di satu rumah makan Padang. Biasanya Angie memilih makan mie ayam, tumben kali ini dia memilih makan nasi. 😋

 

Pukul 14.45 kami sampai rumah, safe and sound. Alhamdulillah. Next time, aku dan Angie dolan lagiiii. Insyaallah.😍

 

PT56 16.46 09.07.2023

Friday, July 07, 2023

Accidentally Solo!

 


Pada hari Sabtu 24 Juni 2023, out of the blue, aku dan Angie dolan ke Solo.

 

Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 9 pagi. Perjalanan lancar, alhamdulillah. Angie sempat mengajak mampir di satu mini market di daerah Tengaran untuk beristirahat. (Aku ingat ada Candi Klero di daerah ini, tapi aku lupa di sebelah mana kita harus belok kiri jika mau mampir. Jadi? Ya ga mampir lah kita. Hihihi …)

 

 


Tujuan pertama kami adalah De Tjolomadoe, satu eks Pabrik Gula yang sudah direnovasi sedemikian rupa sehingga menjadi satu destinasi wisata yang cukup menarik dan edukatif. Kami sampai di sini pukul 12.30. Aku ke sini pertama kali di tahun 2018, saat berdua dengan Ranz bersepeda dari Semarang menuju Solo, untuk bergabung dengan event ultah Seli Solo Raya. Waktu itu gratis masuknya. Beberapa bulan kemudian, aku dengar kabar bahwa pengunjung ditarik tiket seharga Rp. 25.000,00 jika ingin masuk ke dalam gedung. So? Ya sudah, aku tidak kepengen masuk lagi, kan sudah pernah sebelumnya.

 

Mengapa kali ini aku mengajak Angie masuk ke De Tjolomadoe? Ya jelas karena Angie belum pernah ke sini. Dan, waktu Ranz mengajakku mampir ke sini beberapa bulan lalu untuk berfoto-foto di luar gedung, aku berpikir pasti Angie suka juga kuajak mampir untuk berfoto-foto di sini. Dan, ternyata saat Angie aku tawari apakah dia mau masuk ke dalam gedung, dia sangat antusias. So? Kami pun masuk ke dalam gedung. Tiket masuk Rp. 40.000,00 per orang.

 




Setelah masuk, aku baru ngeh, ternyata ada 'museum' dengan segala pernak-perniknya yang sangat menarik di dalamnya, satu hal yang dulu di tahun 2018 belum ada. Dari penjelasan yang ada, aku baru ngeh satu hal penting dari eks Pabrik Gula ini adalah bahwa De Tjolomadoe adalah pabrik gula pertama di Nusantara yang dibangun oleh orang pribumi, yakni Mangkunegara IV di tahun 1861. sebelumnya tentu sudah ada pabrik gula lain, namun pabrik-pabrik lain ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

 

Bagi yang belum pernah masuk ke museum De Tjolomadoe, apalagi jika anda mengaku sebagai salah satu penggemar museum, masuk lah, you're gonna love this museum too!

 



 



Aku dan Angie makan siang di café Besali di dalam museum. Karena sudah telanjur kelaparan. Padahal semula aku pengen mengajak Angie makan di RM Kusumasa** yang legendaris di kota Solo itu. Usai makan siang, kami masih foto-foto di luar gedung.

 

Sekitar pukul 15.30 kami merasa cukup puas. Aku menawari Angie apakah akan langsung ke Omah Prahu -- Waduk Cengklik, atau kami ke rumah Ranz terlebih dahulu. Aku yang kepengen ke Omah Prahu di sore hari karena ingin mendapatkan moment memotret sunset di Waduk Cengklik. Jika kami langsung ke sana, kami bakal perlu menunggu kurang lebih 2 jam. Cukup lama juga. Akhirnya, kami pun meluncur ke kota Solo terlebih dahulu, untuk 'check in' di rumah Ranz di kawasan Jongke.

 

Sesampai sana, ternyata Ranz sedang ngegym di fitness center tempat dia telah latihan sejak Oktober 2020.  Fitri yang katanya juga akan ke rumah Ranz malah sedang makan di RM Kusumasari.

 

Akhirnya menjelang pukul 17.00 aku dan Angie memutuskan untuk berangkat ke Omah Prahu, berdua saja. Sebenarnya, Fitri sendiri ke Solo hari itu untuk menghadiri satu event yang diselenggarakan di Mangkunegaran. Jadi, pasti dia ga bisa ikut dolan ke Omah Prahu.

 



 



Di Omah Prahu, seperti yang telah kami perkirakan, bakal susah untuk mendapatkan tempat duduk yang strategis untuk bisa membidik sunset. Tapi, eh, belum sampai lokasi, sang matahari sudah bersembunyi di balik mendung. Apa boleh buat? Untunglah tak lama kami berdua bingung how to get a seat, saat adzan maghrib berkumandang, ada beberapa orang yang buru-buru menyelesaikan makan mereka dan meninggalkan tempat duduk mereka. So? Aku dan Angie segera gercep untuk duduk.

 

Karena perut masih lumayan kenyang setelah makan di Besali Café, di Omah Prahu kami hanya makan satu piring nasi dan uborampenya berdua. Tapi, khusus untuk Angie sendiri, dia aku ambilkan pepes ikan nila yang cukup besar ukurannya. Kami ga sempat berfoto-foto karena rasanya ga nyaman foto-foto dengan begitu banyak orang di sana. Fotonya pasti 'bocor'! Wkwkwkwk …

 

Pukul 19.00 kami berdua sudah kembali ke rumah Ranz. Setelah itu, aku menemani Ranz 'nyusu' di kedai susu segar langganannya.

 

Minggu 25 Juni 2023

 

Sekitar pukul 07.00 Ranz sudah siap jalan-jalan ke CFD bersama Deven keponakannya. Karena aku tidak tahu -- Ranz ga bilang dia mau ke CFD -- aku ga ikut. Aku, Angie dan Fitri sarapan ke RM soto Hj. Fatimah sekitar pukul 07.15.

 

Sekitar pukul 08.45 kami berempat -- aku, Angie, Fitri dan Ranz -- sudah siap meluncur ke The Heritage Palace. Aku, Angie dan Ranz naik taksi online, sedangkan Fitri naik motor sendiri. Dia akan langsung pulang dari The Heritage Palace.

 

Apa acara kami di The Heritage Palace? Tentu saja HANYA foto-foto doang. Hoho … kali ini kami hanya beli tiket outdoor Rp. 30.000,00. Angie tidak tertarik untuk masuk ke bagian 'indoor' yang aku bilang isinya museum 3 dimensi. Oh ya, seperti saat aku dan Ranz dolan ke sini bulan Mei lalu, kami berempat makan siang di resto THEE CULTUR.

 


 

Setelah maksi, Fitri pulang ke Semarang. Kami bertiga masih lanjut foto-foto. Sekitar pukul 13.00 kami pulang ke Jongke. Satu jam kemudian, aku dan Angie sudah meluncur menuju Semarang.

 

Well. Nampaknya kapan-kapan aku akan mengajak Angie dolan ke Solo lagi. Hoho …

 

PT56 20.38 07/07/2023