Saturday, January 20, 2024

New Year 2024 Holiday

 

ini foto lama, waktu aku dan Ranz bersepeda berdua ke Wonogiri, kemarin lupa motret. haha

01 Januari 2024

 

Hari ini Ranz menawariku apakah mau 'having brunch' di Waduk Gajahmungkur. Mengingat Angie suka ikan goreng, aku pun langsung mengiyakan. Tapi, ternyata waktu aku bilang ke Angie, dia mengeluh, "Angie maunya ke mall saja Ma, yang sejuk, ga perlu kepanasan." wkwkwkwkwk …

 

Akhirnya kami tetap menuju Wonogiri, dan Angie pun anteng saja duduk di dalam mobil. Hahahahah … oh ya, kali ini kami hanya berlima: aku, Angie, Ranz, Deven dan mas Martin. Sesampai warung makan Bu Trie langganan kami, kami memesan 1 kg ikan bakar (untukku, Ranz dan Deven) dan 1 kg ikan goreng (untuk mas Martin dan Angie.)

 

Usai makan, kami pun segera kembali ke Solo. Sesampai Solo Baru, kami mampir ke satu gerai yang jualan minuman.

 

Sesampai rumah Ranz, Angie yang mengeluh kepanasan, merajuk ingin ke mall, lol. Karena aku enggan jalan-jalan di mall, aku pun menawarinya ngopi ke Starbucks. Angie setuju.

 

Sorenya, kami meninggalkan kota Solo naik travel yang sama dengan yang kami naiki waktu berangkat pukul 18.00. alhamdulillah perjalanan cukup lancar. Namun karena turun hujan deras, perjalanan tidak secepat saat kami berangkat. Waktu memesan taksi online pun lumayan butuh waktu. Yang penting kami telah sampai rumah sebelum pukul 21.00.

 

Kapan-kapan kami mau dolan bareng lagi tentu saja. InsyaAllah.

 

Semarang 11.23 10.01.2024

 

foto lama juga

Wednesday, January 17, 2024

End of Year 2023 Holiday Day 2

 

Mahavihara Majapahit, Trowulan

31 Desember 2023

 

Mengingat semalam kami masih melek sampai lebih dari jam 12 malam, masuk akal jika pukul 7 pagi kami masih mlungker di kamar masing-masing. Apalagi jenis jendela yang sangat tertutup dari cahaya dari luar membuat kamar terus teras gelap (aku dan Angie biasa tidur dalam gelap), jadi rasanya masih malam, lol. Setelah ngeh sudah lebih pukul 7 pagi, aku iseng masuk kamar Ranz. As usual, dia sudah mandi. Kemudian dia mengajakku ke luar hotel. Di seberang hotel ada pom bensin. Semalam saat kami datang, Ranz melihat ada yang jualan angkringan di ujung pom bensin. Namun saat kami berdua keluar pagi ini, tak nampak ada yang jualan. Kami pun kemudian berjalan kaki ke satu minimarket yang terletak tak jauh dari hotel. Kami beli cemilan untuk di jalan.

 

Setelah balik dari minimarket, aku nongkrong di kamarnya Ranz, kami browsing selain kawasan Trowulan, kemana lagi kita bisa dolan? Ternyata kebanyakan destinasi wisata terletak di daerah Trawas. Akhirnya, kami putuskan untuk dolan ke sana. Aku pun buru-buru balik ke kamar, membangunkan Angie, kemudian mandi. Setelah aku mandi, Angie mandi, kami pun packing.

 


 

Sekitar pukul 08.30 kami meninggalkan hotel menuju Trawas. Dari hotel, kami belok ke arah kiri untuk menuju Trawas. Jika kami ingin ke Trowulan, kami kudu belok ke arah kanan. Tujuan kami: Rainbow Garden Poetoek Soeko yang terletak di area Trawas. Dari sekian banyak destinasi wisata di kawasan Trawas, mengapa kami memilih Rainbow Garden ini? Jawabannya adalah: karena ada tumbuhan bunga matahari di sana. Haha … entah mengapa Ranz pengen banget berfoto dengan background bunga matahari. Ya wis aku manut saja, apa lagi aku ingat, Angie juga suka. Satu kali dulu, kami berdua jalan-jalan (olahraga di kawasan tempat tinggal kami). Waktu bertemu dengan tumbuhan bunga matahari, dan bunganya sedang mekar, Angie pun berfoto di situ.

 


 

Kami sekaligus having 'brunch' di sini. Aku memesan nasi pecel, Angie pesan mie ayam, Ranz pesan apa ya, aku lupa, lol. Setelah pesan di satu kantin (di area parkir, ada sederetan warung makan, pengunjung bisa tinggal memilih mau pesan/beli makan di kantin yang mana), kami berempat masuk ke taman. Sementara kami berempat (aku, Angie, Ranz dan Deven) jalan-jalan di dalam taman, mbak Niken, Rama dan mas Martin bersantai di satu gazebo yang terletak di area parkir.

 

Taman ini lumayan banyak spot foto, baik dengan background gunung Welirang di kejauhan, terasering sawah, atau kebun bunga yang disediakan. Rainbow Garden ini terletak di satu area yang lumayan tinggi, namun karena siang itu matahari bersinar dengan menyengat, kami tetap merasa kepanasan, tidak sejuk sama sekali. Ada banyak tanaman bunga, namun tidak ada pepohonan yang bisa membuat pengunjung berteduh.

 

Sekitar pukul 13.00 kami meninggalkan Rainbow Garden menuju Trowulan. Tujuan pertama kami adalah Gapura Wringin Lawang, karena memang gapura ini yang pertama kami lewati saat masuk area Trowulan dari arah Mojokerto. (Saat bersepeda ke Trowulan di tahun 2012, aku dan Ranz masuk Trowulan dari Jombang, jadi gapura Wringin Lawang adalah spot terakhir yang kami kunjungi.) saat sampai di sini, sinar matahari bersinar cerah sekali, yang lain ogah ikutan foto-foto. So? Ya hanya aku dan Ranz yang berfoto-foto. Eh, mas Martin sempat ikutan minta difoto ding.

 

Tujuan selanjutnya Gapura Bajangratu. I love this place! Aku masih ingat areanya cukup luas meski gapura (candi)nya tidak besar. Dan area ini bersih, tak nampak sampah bertumpuk. Kali ini semua ikut masuk area candi. Tapi, seperti saat kami di Wringin Lawang, kami tidak lama-lama. Masih ada beberapa spot lain, kami khawatir nanti keburu lokasinya tutup. Lha padahal Trowulan itu sebenarnya tujuan utamaku dan Ranz berkunjung ke Mojokerto je. Lol.

 

Saat kami meninggalkan Bajangratu, sang mentari telah tertutup mendung. Saat kami sampai Candi Tikus, gerimis mulai turun. Untung ada payung di dalam mobil. Kami turun bertiga: aku, Ranz dan Deven. Karena sudah turun gerimis, jelas kami ga lama-lama di dalam. Dari Bajangratu, kami ke Museum Trowulan. Ini pukul 15.15. aku mulai gelisah, khawatir jika saat kami sampai Mahavihara Majapahit, jangan-jangan vihara sudah tutup. :( Maka, kami tidak terlalu konsentrasi di dalam museum. Ga sampai 15 menit kami sudah ke luar.

 

Dari Museum, kami ke arah Candi Brahu. Seingatku dulu Mahavihara Majapahit terletak tidak jauh dari Candi Brahu. Kebetulan otw ke Candi Brahu, gerimis telah berhenti. Saat kami sampai, pintu gerbang masih buka, kami masih bisa masuk. Oh ya, hanya Ranz dan aku yang masuk ke sini. Yang lain menunggu di mobil.

 

Tujuan berikutnya: Mahavihara Majapahit, yang ternyata lumayan susah kami temukan, lol. Nampaknya memang lebih mudah kami temukan jika naik sepeda ketimbang naik mobil, lol. Waktu kami sampai, pukul 16.00, ada tulisan bahwa vihara buka sampai pukul 17.00! Alhamdulillah! Legalah aku saat bisa berfoto dengan patung Buddha berbaring! Satu lokasi yang sangat ingin kukunjungi bersama Angie. Di destinasi terakhir ini, Angie dan Deven turut masuk.

 




 

Sekitar pukul 17.00 kami telah meninggalkan kawasan Trowulan. Well, andai kami tidak ke Trawas, mungkin aku akan mengunjungi semua spot yang disebut di satu petunjuk di dalam Museum. Oh ya, saat kami mellewati Kolam Segaran, kolam terlihat kering tak ada air sama sekali. Di dasarnya terlihat rerumputan. Maklum, musim kemarau tahun 2023 sangat panjang! Bulan Desember saja, yang konon singkatan dari 'gede-gedene sumber' tetap jarang hujan turun.

 

Waktu melewati kota Jombang, Angie sempat bingung. Dia bertanya, "Ma, emang kota tempat kita menginap semalam itu Jombang?" lol. Waktu kujawab, "Mojokerto." dia bilang, "Lah, ini kok kita sudah sampai Jombang?" ha ha … memang Mojokerto - Jombang kan dekat sekali jaraknya.

 

Menjelang pukul enam sore, mobil yang disetiri mas Martin sudah masuk jalan tol. Kami memutuskan untuk makan malam di rest area pertama yang kami lewati. Setelah itu, perjalanan lancar hingga kami sampai Solo.

 

Alhamdulillah sekitar pukul 22.00 kami sudah sampai rumah Ranz. Saat kami lewat Jl. Slamet Riyadi, kepadatan jalan sangat terasa sekali! Dan ternyata Pak Jokowi menghabiskan malam tahun baru 2024 di Paragon Mall, Solo! Pantas saja.

 

To be continued.

 

End of Year 2023 Holiday Day 1

 

30 Desember 2023

 

Setelah berlibur ke Solo dan Gunung Kidul plus Kemuning Ngargoyoso di musim libur Natal, menjelang tahun baru, aku dan Angie kembali berangkat ke Solo di hari Sabtu 30 Desember 2023. Aku memesan tiket travel Ara*** pukul 13.00 karena paginya Angie masih ada agenda: menemani Novi menengok makam Ochi. Alhamdulillah kali ini perjalanan lancar, tidak ada hambatan jalan yang padat merayap. Pukul 14.40 kami sudah sampai pool travel di Jl. Slamet Riyadi Solo. Karena saat kami sampai Solo, Ranz mengabari dia ingin ngegym dulu, aku pun mengajak Angie mampir ke satu café yang terletak tak jauh dari pool.

 

 


Angie sudah pernah ke Lana Café ini, saat dia dolan ke Solo sekian bulan lalu, dalam rangkat menemani salah satu rekan kerjanya yang butuh kabur dari Semarang karena sesuatu. Melihat foto Angie di café yang sekaligus perpustakaan ini (di sini disediakan lumayan banyak buku untuk dibaca-baca para pengunjung) membuatku ingin mampir. Beberapa kali ke Solo setelah Angie ke Lana Café, baru kali ini kami berdua memiliki kesempatan untuk menyelinap di situ sebentar.

 


 

Sekitar pukul 17.15 aku dan Angie meninggalkan Lana Café menuju rumah Ranz. Saat ini sudah turun rerintik gerimis. Tak lama kemudian, gerimis menderas menjadi hujan.

 

Kami bertujuh -- aku, Angie, Ranz, Deven, mas Martin, mbak Niken dan Rama -- meninggalkan rumah sekitar pukul 19.20, saat hujan sedikit mereda, menuju Mojokerto. Karena masih turun gerimis, suasana Jl. Slamet Riyadi agak lengang. Setelah lewat PGS hujan menderas. Aku mengkhawatirkan kondisi lambung Ranz yang belum sempat makmal. Tapi mau berhenti ke satu warung makan ya susah karena hujan yang deras. Ga mungkin kami ga kebasahan. Apalagi jika harus menggendong Rama ke dalam rumah makan. Akhirnya? Ya sampai kami masuk jalan tol selepas Palur, kami belum berhenti untuk makan malam.

 

Kami keluar dari jalan tol sekitar pukul 22.20. Ranz sudah booking 3 kamar di hotel Almas yang terletak di Jl. Bypass. Rada susah bagi kami untuk booking kamar. Masalahnya jelas: dana terbatas, lol, rate hotel naik selama long weekend, apa lagi ini libur tahun baru. Hotel satu ini jelas terlihat masih baru. Yang kami sesalkan adalah (1) kamar tidak dalam kondisi bersih (2) tidak ada wastafel jadi susah bagi tamu saat akan sikat gigi. Lha di dalam kamar mandi juga tidak ada kran.

 

Saat mencari lokasi hotel, kami berharap bahwa di hotel ada resto tempat kami bisa makan malam. Sesampai hotel, kamar belum siap untuk kami check in.  Juga tidak ada resto, sehingga kami putuskan untuk keluar mencari makan malam somewhere.

 

tuna penyet dan ayam penyet, sambalnya enak!

 

Setelah berputar-putar mencari warung makan di pinggir jalan -- untung mas Martin cukup kenal area sini sehingga dia tahu di mana kami bisa dengan mudah menemukan warung makan, kami berhenti di satu warung makan penyetan. Aku pesan ayam goreng, Angie tuna, mbak Niken + Deven ayam goreng, Ranz iga bakar, mas Martin bebek goreng. Usai makan, kami kembali ke hotel. Saat masuk kamar, mosok lantai  kamar dalam kondisi berdebu. Ranz yang biasanya risih langsung ngomel-ngomel ngalor ngidul. Apa lagi saat tahu tidak ada wastafel juga tidak ada kran yang bisa dipakai untuk wudhu, ngomel panjang lebar dia. Lol. Tapi ya mau bagaimana lagi. Ya wis lah.

 

To be continued

 

Wednesday, January 10, 2024

X-mas Holiday 2023 Day 2

 

di tengah perkebunan teh Kemuning

Senin 25 Desember 2023

 

Waktu akan berangkat ke Solo, aku bilang ke Angie, andai kami tidak jadi menginap di satu hotel di kawasan Wonosari, di hari Senin ini dia kutawari untuk dolan ke Jogja naik KRL (Angie belum melihat Malioboro yang tanpa pedagang kaki lima di sepanjang trotoarnya), atau ke Waduk Gajahmungkur naik KA BATARA KRESNA. Angie lebih memilih ke Wonogiri karena dia sudah males membayangkan KRL yang penuh sesak penumpang. Meski, jika kami naik KA Batara Kresna ini berarti kami sudah harus sampai stasiun Purwosari jam enam pagi.

 

Namun ternyata kami malah pergi ke area Kemuning. Ranz pikir mas Martin ga libur kerja hari ini, jadi kami berempat (aku, Ranz, Deven dan Angie) akan dolan sendiri. Karena mas Martin libur, dan aku membayangkan waduk Gajahmungkur yang panas, aku lebih memilih diajak ke tempat yang sejuk: Kemuning!

 

Pagi itu aku dan Ranz sarapan di soto Hj. Fatimah di Jl. Bhayangkara. Angie yang kadang menolak jika kuajak makan soto (saat di Semarang) tidak menolak jika kuajak sarapan di sini. Bukan masalah rasa sotonya yang memang segeeer dan enak, (di lidah Angie semua jenis soto sama saja rasanya, lol), tapi pasti karena banyak pilihan lauk yang tersedia di atas meja, lol. Kami hanya berdua saja ke sini, naik motor pinjam mbak Niken.

 

Sekitar pukul sembilan kami meninggalkan rumah Ranz menuju Kemuning. Bisa dibayangkan jalanan nan padat merayap.  Dan saat kami melewati alun-alun Karanganyar hingga sampai pertigaan di mana jika kita memilih arah kiri menuju Alas Bromo aku baru ngeh mengapa Ranz complain jika kuajak ke sini: "JAUH!" loh, kok sekarang baru terasa jauh yak? Wkwkwkwk … terakhir kami berdua bersepeda ke Alas Bromo itu di tahun 2020, saat melaksanakan gowes 'virtual' jamselinas X.

 

Setelah melewati pertigaan yang kusebut di atas, tingkat kepadatan di jalan raya semakin terasa, hingga sampai pertigaan Karangpandan. Masih kuingat pertama kali menapaki tanjakan menuju Karangpandan di tahun 2011, saat aku dan Ranz bersepeda menuju Tawangmangu. Itu pertama kali kami nanjak yang 'benar-benar nanjak', lol. Kok ya aku kuat ya? Lol. Setelah melewati terminal Karangpandan tanjakan benar-benar terasa curam, sampai Tawangmangu! Apalagi jika kita memilih arah menuju Ngargoyoso, wogh, tanjakannya lebih 'ciamik'. Lol. Aku ga yakin apakah aku masih mampu menapakinya, meski naik Cleopatra. Maklum, sudah lama aku enggan bersepeda lewat tanjakan, lol. Nanjak Gombel terakhir ya di sekitar awal 2023, saat mempersiapkan dengkulku untuk ikut J150K 2023.

 

Di daerah Kemuning, setelah berputar-putar tidak jelas kami mau kemana, lol, akhirnya mas Martin menghentikan mobil di area parkir Resto Kemuning. Mbak Niken kepengen ke 'sky view' Kemuning, tapi ternyata lokasinya masih jauh dan masih harus nanjak tinggi, mas Martin ga yakin mobil bisa nanjak setinggi itu.

 

Ternyata pilihan berhenti di sini menguntungkan bagi Ranz. Di samping resto, ada lapangan yang cukup luas, yang ternyata dipakai untuk mendarat orang-orang yang 'bermain' paralayang. Ranz yang sudah ngebet pengen mencoba sejak kami ke puncak paralayang Waduk Gajahmungkur setahun yang lalu pun tergoda untuk naik, meski katanya dia phobia ketinggian. Setelah 'maju mundur maju mundur' jadi atau tidak, akhirnya Ranz memutuskan untuk mencoba.

 

Di lapangan ada satu gazebo tempat para 'pilot' yang bertugas membawa 'penumpang' paralayang beristirahat sebelum kembali ke 'puncak'. Ranz memintaku menemaninya ke gazebo dan bertanya-tanya. It costs Rp. 450.000,00 untuk 'terbang' selama kurang lebih 7 menit. Ada sebuah mobil pickup yang akan membawa calon penumpang plus pilot ke 'puncak'. Salah satu pilot itu malah menawariku untuk ikut naik ke puncak untuk melihat suasana di sana. Pulangnya aku bisa nebeng mobil pickup itu lagi.

 

Sesampai puncak, Ranz mendaftar, aku sempat memotret keadaan sekitar yang ramai sekali (banyak di antara pengunjung itu hanya nongkrong-nongkrong di situ menonton orang-orang yang akan terbang) sejenak. Kemudian saat mobil pickup siap-siap turun, aku ikut turun.

 

Siang itu tentu saja kami makan di resto Kemuning. Aku pesan nila bakar sementara Angie pesan nila asam manis. Mbak Niken dan Deven pesan lele goreng, Ranz pesan iga bakar. Mas Martin ogah makan di situ katanya.

 

Saat kami berkemas untuk pulang, sekitar pukul 2 siang, mendung gelap sekali. Wah, mungkin mereka yang berencana terbang naik paralayang tidak jadi karena tak lama kemudian hujan turun disertai kabut tebal.

 

Pukul empat kami sudah sampai rumah.

 

Sekitar pukul 7 malam, Angie yang sudah kelaparan mengajakku ke luar. Keluarga Ranz ada acara menghadiri undangan natalan sepupunya yang merayakan Natal. Ranz menawariku ikut, tapi aku menolak karena khawatir Angie bakal merasa kurang nyaman berada di tengah-tengah keluarga besar Ranz. Plus, aku ingin dolan ke area Balaikota untuk berfoto di hiasan-hiasan Natal yang disediakan oleh pemkot Solo.

 

Kenyataannya? Kami ga jadi foto-foto karena area selepas patung Slamet Riyadi itu macet total! Angie ogah kuajak berhenti memarkirkan motor di dekat area Balaikota. Ya sudah, kami pun beringsut meninggalkan area itu. Dan … jadinya kami ke Paragon mall. Kebetulan saja jalan yang kupilih menuju ke mall yang ingin dikunjungi Angie ini. Pucuk dicinta ulam tiba. (I visited this mall in 2012! Aku ingat saat aku dan Ranz iseng dolan ke situ, saat aku mencari mau beli helm sepeda. Meski begitu, tentu saja aku tidak ingat jalan menuju sana. Wkwkwkwk …

 

chicken cordon bleu

Di Paragon, kami hanya numpang makan malam, lol. Kebetulan di food court lantai 4 (atau lantai 5 ya?) ada kedai Kusumasari, aku langsung mengajak Angie ke situ, dan kami berdua sama-sama pesan chicken cordon bleu. Betapa tidak kreatifnya, lol.

 

Pukul 10 malam kami berdua sudah sampai rumah Ranz. Sekitar 10 menit kemudian Ranz dan keluarganya kembali dari rumah sepupunya.

 

Hari Selasa 26 Desember sebenarnya Angie sudah ambil cuti dari kantornya. Tapi ketika dia tahu bahwa kami tidak jadi menginap di Wonosari, dan belum ada rencana apa-apa di hari Selasa itu, Angie pun setuju diajak ketemu sepupunya dari ayahnya di Semarang. Hari itu kami berdua meninggalkan Solo naik travel pukul 08.00.

 

Sesampai Semarang, Angie baru mengaku ternyata dia 'salah tanggal'. Ruli sepupunya mengajak ketemuan tanggal 28 Desember -- hari Kamis -- sementara Angie berpikir tanggal 28 itu hari Selasa. Lol. Akhirnya? Ya sudah. Kami leyeh-leyeh di rumah sepanjang hari itu. Ternyata kami capeeeeeeeeeeeee. Lol.

 

PT56 05/01/2024

 

P. S.:

 

Angie tidak mau difoto di sini, so ga ada fotonya di daerah Kemuning

 

X-mas Holiday 2023 Day 1

 

air terjun Sri Gethuk

Rencana berlibur di hari Natal 2023 ini nyaris tidak terlaksana sesuai rencana yang kubuat dengan Ranz karena mobilnya Ranz bermasalah. Awalnya aku ingin ke Candi Sukuh, menginap di sana dua malam, ga ngapa-ngapain kecuali hanya jalan-jalan di sekitar Sukuh saja. (out of the blue aku ingin menyepi saja, menjauh dari hiruk-pikuk kesibukan di dunia.) Ranz sendiri juga sudah excited membayangkan kami akan explore area Sukuh. Tapi, rencana ini belum jadi kami lakukan. Mungkin memang kami belum berjodoh dengan Sukuh. Next time deh.

 

Karena hari Sabtu 23 Desember 2023 aku masih harus masuk kerja, aku dan Angie baru berangkat ke Solo di sore hari. Kami naik travel Ar*gon. Baru kali ini kami membutuhkan 4 jam lebih naik travel dari Semarang ke Solo. Selain karena memang macet di sepanjang jalan, sopir travel juga 'mendadak' kudu menjemput penumpang di pool Sriwijaya, padahal biasanya penumpang di pool pusat ini naik terlebih dahulu, baru kemudian menjemput di pool Taman Kasmaran, pool Akpol, dll. Bolak-balik ini sendiri butuh waktu 1,5 jam sendiri! Travel meninggalkan pool Taman kasmaran sekitar pukul 16.10, kami baru sampai pool Banyumanik pukul 17.30! Padahal di hari 'biasa' waktu 1,5 jam ini cukup untuk perjalanan dari pool Taman Kasmaran Semarang sampai pool Jl. Slamet Riyadi Solo!

 

Minggu 24 Desember 2023

 

Kami -- aku, Ranz, Angie, Deven, dan kedua kakak Ranz (plus Rama) -- meninggalkan rumah sekitar pukul 08.00. kami menuju Gunung Kidul. Tujuan kami adalah Embung Nglanggeran dan Air Terjun Srigethuk; dua destinasi wisata yang sudah sangat ingin kukunjungi sejak sekitar 10 tahun lalu.

 


 

Waktu berangkat, kami mampir di warung makan area Gathak, tempat aku dan Ranz biasa sarapan saat bersepeda menuju Jogja. As usual, aku memilih menu timlo. Biasanya aku hanya makan timlo, tanpa nasi. Kali ini, karena Angie butuh tambah nasi, aku pun pesan satu porsi nasi untuk kami berdua. Ranz hanya pesan timlo as usual. Mbak Niken juga pesan timlo, tapi plus nasi. Sementara Deven pesan bakso. Mas Martin tidak merasa perlu sarapan, karena sudah sarapan di rumah.

 

Usai sarapan, kami langsung menuju tujuan pertama: air terjun Srigethuk. Ternyata juauuuuh je, lol. (Semula aku dan Ranz berencana akan mencari penginapan di Wonosari agar malamnya kami ga perlu buru-buru balik ke Solo. Namun karena Ranz ga yakin apakah mobil bisa kami naiki on the D day, dia belum booking.)

 


 

Bagiku pribadi yang menarik dari air terjun Srigethuk ini adalah perjalanan dari tempat parkir menuju air terjun: kami perlu naik perahu yang sudah dimodif sedemikian rupa hingga para penumpang bisa duduk di atas 'kursi'. Air terjunnya 'biasa' saja, mungkin karena baru bulan Agustus lalu kami ke Madakaripura yang air terjunnya 'wah' banget ya. But anyway, lumayanlah buat dolan-dolan. Melihat orang-orang yang berenang di sungai yang terletak tak jauh dari air terjun rasanya pengen nyemplung berenang juga, lol. Tapi, seperti kata Angie, "Angie tuh pengen ikutan nyemplung Ma. Tapi, Angie males kalau kudu berbasah-basah." wkwkwkwkwk …

 






 

Dari air terjun Srigethuk, kami menuju Embung Nglanggeran. Awalnya aku ingin juga ke Gunung Api Purba Nglanggeran. Tapi setelah membaca-baca pengalaman orang ke sini, pengunjung harus jalan kaki ke atas gunung, well, ga usah deh. Cukup ke Embung saja. Dari area Embung, kita bisa memandang ke arah gunung kok. Malah, menurutku, pemandangan ke gunung dari area Embung lebih ciamik. In my point of view, lol.

 

Ketika Angie mengeluh perutnya sakit karena 'mendadak' mens, aku tahu perjalanan ini akan terkesan kurang nyaman. Ya sudahlah. Pablebuat? Sudah untung dia ga memburu-buru untuk balik. Dia hanya ga mau ikutan aku explore ke sana ke mari. That's all. Gapapa.

 

Rencana mau stay sampai menjelang sunset untuk mendapatkan foto yang indah pun ga jadi kami lakukan. Kami sudah meninggalkan lokasi sekitar pukul 16.30. perut lapar karena ga nampak resto yang cukup menarik buat kami mampir maksi di sini. Di kawasan air terjun Srigethuk juga tidak ada warung yang nampak menarik untuk kita makan, selain hanya sekedar beli es teh dan gorengan untuk mengisi perut secukupnya.

 


bentuk 'perahu' yang kami naiki menuju air terjun

Otw balik ke Solo, kami mampir makan di satu warung makan bertuliskan TALIWANG. Kukira menunya ya ala-ala menu Lombok ya. Ternyata tidak, lol. Tapi gapapa. Masakannya enak dan tempatnya nyaman.

 

Kami sampai rumah Ranz sekitar pukul 22.00.

 To be continued

Saturday, January 06, 2024

My Lovely Star and Me

 

Mahavihara Majapahit, Trowulan, 31 December 2023

People around me said that both Angie and I more look like sisters rather than mother-daughter. Well, they just don't know that I used to act "I am your mother so I know things better than you do". When Angie was little / teenager, for sure she didn't mind it, lol. Perhaps she even thought so too, I am her mother, 24 years older than her, so … you know.

 

Nevertheless, not all, lol. Some things which are related to the so-called modern technology are not too familiar to me, a woman who belongs to Gen X. I need to learn these things from her. But when referring to viewing life, I am of opinion that I know better.

 

Not so long ago, though, perhaps around 2 years ago, Angie started to speak up her mind to me. Well, don't ask me in what way, I don't remember the details. We started arguing things. And I started to realize that there are unsaid things between us that never came to the surface. I know I am not a perfect mother, I am oftentimes selfish in some ways as Angie is sometimes selfish while acting as a daughter; although of course this is not comparable.

 

Therefore, I started thinking that we need to spend exclusive 'us time'. In 2023 we went traveling only both of us and I made use of the time to heart-to-heart talk with her more often than before. We went to Gedong Songo -- stayed a night in one tourist destination called Sunrise Hill, in January 2023. We stayed one night in Pijar Park, Kudus, in July 2023. We both joined one event called Sekolah Basis in Omah Petroek Jogja in August 2023.

 

When Fitri persuaded me to go to Bromo mountain in August 2023, I persuaded Angie to let me invite Ranz to join us. Well, four of us -- Fitri, Angie, Rand, and me -- had some experiences to go together before. But, this traveling to Bromo became our first experience to go by train and Ranz's nephew, Deven, joined us too. Angie seemed okay. I still sometimes saw her uncomfortable facial expression during the traveling, but perhaps it was caused by the somewhat exhausting trip.

 

This trip to Bromo -- it seemed to me -- made Angie think that it was okay to go traveling with Ranz's family. Therefore when I told her about my plan to take her to Pacitan together with Ranz's family, she agreed. The same thing happened when I invited her to join the trip to Gunung Kidul and Mojokerto.

 

Honestly, I can see clearly that Angie was jealous of Ranz. Since Ranz came into my life, I have had interesting (biking) trips. Angie could not join us because she cannot bike 'that' far.

 

Hopefully we will have more traveling together (both only Angie and me, and together with Ranz),  in this year 2024 and next years. Amen.

 

PT56 11.32 04.02.2024

 

P. S.:

 

Perhaps you will find this post of mine interesting to read