Wednesday, September 13, 2006

Angie's protest

Waktu menunjukkan pukul 6.45pm tatkala aku dan Angie memasuki kedai “Kahuripan”. Suasana kedai tidak terlalu ramai, hanya kulihat dua pasang laki-laki dan perempuan di meja di tengah ruangan, dan satu pasang lain di pojok sebelah Barat. Penerangan ruangan yang temaram membuatku langsung merasa tersegap keromantisan. Angie memilih duduk di pojok sebelah Timur, meja yang memang khusus hanya untuk dua orang.
Ketika waitress datang, Angie memilih steak ayam dan cappuccino milkshake, sedangkan aku memilih kwetiau goreng spesial dan orange juice.
Sembari menunggu makanan siap dihidangkan, kemudian kita makan bersama, Angie tak henti-hentinya bercerita tentang teman-teman sekolahnya, juga ketika dia menghadapi oral examination di LIA yang baru saja dia selesaikan sebelum kita bersama menuju kedai Kahuripan. Saat-saat yang sangat kunikmati ketika kita eating out berdua, Angie selalu terlihat bright-eyed tatkala bercerita kepadaku tentang segala hal yang dia alami.
Setelah selesai makan, Angie langsung mengajak pulang. Sebelum keluar, aku membayar dulu di kasir. Kasir bertanya ramah padaku, “Itu putrinya mbak?”
“Iya, dia dulu bersekolah di SMP N 1 di seberang jalan itu, makanya dia tahu kedai ini.”

*****
Kita sampai di rumah sekitar jam 7.30. Begitu masuk kamar, Angie dengan kesal bertanya, “Mama tadi ngeliatin ga dua perempuan berjilbab yang duduk di tengah ruangan waktu kita masuk?”
“Iya Mama liat tadi, tapi ga merhatiin banget sih. Ada apa?”
“Matanya waktu ngeliatin Angie kayak mata polisi yang menginterogasi pesakitan aja. Pasti karena dia liat Angie masih pake seragam sekolah. Mana ada anak sekolah masih keluyuran malam-malam pake seragam sekolah? Kalo ada, tuh anak pasti bukan anak yang beres, yang suka keluyuran kemana-mana sepulang sekolah, dan tidak langsung pulang ke rumah!”
Serentak aku ingat kasir yang bertanya padaku, “Itu putrinya mbak?” apakah dia pun berpikiran yang sama seperti yang dituduhkan Angie kepada dua perempuan berjilbab itu?
Well, ini adalah pengalaman kedua kita berdua, Angie masih berseragam sekolah, dan kuajak makan malam di salah satu rumah makan. Yang pertama dulu Angie juga komplain ketika beberapa orang di rumah makan itu memelototinya dan memandang ke badge sekolahnya.
Untuk menenangkannya, aku bilang, “Honey, I am your mother. Angie pergi jam segini sama Mama. Dan kita langsung mampir ke rumah makan dari LIA karena praktis saja, dibandingkan kita harus pulang ke rumah dulu, ganti baju, terus keluar lagi untuk makan. And I know exactly what you have been doing since morning. And you know what you are doing. Don’t care what other people think about us. Bisa mati berdiri kita kalau selalu mikirin omongan orang, what the hell they are thinking about us.”
“But Mom, don’t blame me if that judgmental look from those nosy guys bothers me.”
“Fine. But don’t think of it too much, okay? Remember, we are what we think, we are what we do, and not what other people think, not what other people accuse.”
Telepon yang berdering di ruang tengah menghentikan pembicaraan kita. Angie langsung menghambur keluar, dan asik ngobrol dengan temannya lewat telepon.
This sucking society, with those sucking judgmental people... And they are my fellow citizens in Indonesia. 
PT56 07.49 140906

No comments: