Sunday, May 06, 2007

My Angie

“Pada waktu Angie berusia berapakah kamu merasakan paling sulit membesarkannya?”

Pertanyaan ini pernah diucapkan oleh seorang rekan kerja yang memberi nick anaknya Angie, sama dengan my Lovely Star, sekitar awal Februari 2007 kemarin. Aku pun telah menuliskannya dan menge-post-kannya di blog. Sekitar tiga minggu yang lalu, tatkala seorang teman milis—mbak Icha Koraag—datang ke Semarang dan kita sempat ngobrol-ngobrol, dia bertanya hal yang sama kepadaku. Aku tertegun mendengarnya, ternyata tidak hanya satu orang yang berpikiran begitu. J How did I answer that question? Sama persis dengan apa yang kutulis di blog di bulan Februari kemarin.

Sekitar dua minggu yang lalu, seorang teman blog dari India titip salam buat Angie, sambil berkata, “Take care of her wisely. She is in a crucial age to be a rebel, to rebel her parents’ or teachers’ rules.” Ketika aku menyampaikan hal ini kepada Angie, Angie nampak sedikit tertegun, “Mengapa begitu?” tanyanya. “Well ... you know honey. You always complain about your teachers, how nosy they are, also how old-fashioned they are, ga mau mengikuti perkembangan anak muda zaman sekarang, and so on, and so forth.” Angie hanya manggut-manggut.

Sementara itu ...

Angie yang juga belajar bahasa Inggris di English Course tempatku bekerja, aku tengarai kadang-kadang mulai malas berangkat. Aku tahu dia memang banyak tugas dari sekolah, pe-er, belum lagi tuntutan dari sekolah yang lumayan tinggi, nilai yang harus minimal 75 untuk setiap mata pelajaran.

Well, tatkala aku kembali ke bangku kuliah beberapa tahun yang lalu, aku ingin memberi dia contoh bahwa belajar adalah satu proses yang selalu kita alami dalam hidup ini, umur berapapun. Aku ingin dia selalu mendapatkan pengaruh positif dariku yang selalu eager to learn (do you agree with me, anyway, that it is a positive influence? J) And you know what she commented some years ago when seeing me busy reading books, preparing subjects to teach, including when Iwas busy doing the assignments from my study? “Angie ga mau bekerja jadi guru nanti. Capek belajar melulu. Apa Mama ga bosen?” GUBRAKKK!!! Kok hasilnya malah jadi begitu? LOL.

Semula aku tidak begitu memperhatikan tatkala Angie mulai merayuku agar membolehkannya tidak berangkat kursus. Tapi mulai term lalu, Januari-Maret, dia skip classes sampai lima kali. (Oh well, kebetulan memang di English Course tempatku bekerja dan tempat Angie belajar memiliki policy bahwa a student can be absent for five times in one term, and not more than that.)

Term ini—April-Juni—Angie sudah membolos tiga kali. Yang pertama alasannya, “Sekolah libur Ma, harusnya tuh kursus juga libur. Males kan?” Ups ... I didn’t like it of course. But berhubung memang dia berhak untuk tidak masuk lima kali dalam satu term, apa boleh buat? I let her stay at home. Yang kedua, dia complain alasan klisenya, banyak tugas dari sekolah yang harus dikerjakan. I was disappointed tatkala di tempat kursus, I saw her two good friends, Nana dan Mita, tidak membolos hanya karena banyak tugas dari sekolah. Kalau Nana dan Mita berangkat, mengapa Angie tidak? She couldn’t manage her time well, I assume? Selain ternyata kedua temannya itu bakal dimarahi orang tuanya kalau membolos dari kursus. (Mana pernah aku memarahi Angie?) Hari itu Angie’s class teacher sempet berpesan kepadaku agar Angie mempersiapkan diri untuk presentasi di hari berikut Angie masuk. When I told Angie about that, dia yang sedang tidur-tiduran di tempat tidur, kecapekan atau ngantuk setelah mengerjakan tugas sekolah (seperti nyokapnya, kalau dia sedang mengerjakan tugas sekolah, buku-bukunya bertebaran di atas kasur. LOL), langsung complained, “I will not come!”

Dengan sangat terpaksa aku menggunakan otoritasku sebagai orang tua (padahal aku tidak suka memilih cara ini), “You must come honey. Don’t embarrass me and yourself in front of your class teacher.” (Look!!! I showed my ego here. L)

Angie langsung heran mendengarku berbicara dengan nada authoritative begitu.

“I will help you prepare the presentation, if that makes you lazy to go to your English course.” I went on saying.

Angie was quiet for a while. Kemudian merengek meminta disiapkan something to eat and a glass of hot tea. (It was around 9pm, I went back from the office.)

Entah mengapa aku mulai mencurigai ada sesuatu yang Angie sembunyikan dariku. What has made her a bit lazy to attend her English class recently? Atau mungkin aku yang terlalu mengada-ada? Aku bakal sedih sekali kalau sampai Angie harus merasa that she needs to hide something from me, meskipun of course as a free person, she has full right to do that.

Satu hari setelah itu, sepulang sekolah she told me, “Mama, hari Rabu ini Angie ga bisa berangkat kursus. Hari Kamis ulangan Math sama KN. Gila apa kalau ga belajar sejak sore? Tolong dong bilangin Ms. Yuli.”

Aku memang mencurigainya memanfaatkan my position as a teacher to ask my colleague yang kebetulan menjadi class teacher Angie to understand her to skip classes. Meskipun of course I can do that, aku tidak menyukai hal yang bisa menjurus tindakan nepotisme ini.

Akhirnya jadilah dia sudah membolos tiga kali dari her English class this term. Kebetulan juga pada hari yang sama, all of my students who study at the same high school with Angie were absent. They must have prepared to face their assessment at school the following day.

Dan aku masih tetap curiga apakah Angie starts to hide something from me? Of course it is okay for her to do that. But I think I deserve to feel unhappy with that.

PT56 10.15 030507

No comments: