Tuesday, July 15, 2008

Tahun Ajaran 2008/2009


Hari Sabtu 12 Juli 2008 Angie seharusnya berangkat ke sekolah untuk mengembalikan raport. Selain itu, para siswa juga sekaligus melihat pengumuman mereka masuk ke kelas yang mana. Bagi banyak anak, juga Angie, ternyata hal ini bisa jadi merupakan saat-saat yang mendebarkan hati karena merasa excited siapa saja yang akan menjadi teman sekelas mereka di tahun ajaran baru.

Waktu pertama kali masuk sekolah di SMA N 3 Semarang, Angie sangat senang tatkala tahu bahwa dia satu kelas dengan Nana, sobatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Angie dan Nana pun pernah satu kelas waktu duduk di kelas 2 SMP N 1 Semarang. Naik kelas 2 pada tahun ajaran 2007/2008, Angie masuk kelas XI IA 1, satu kelas dengan Mita, yang telah dia kenal sejak tahun 2004, tatkala mereka berdua belajar Bahasa Inggris di English Course tempat aku bekerja.
 
Di tahun ajaran 2008/2009, akankah Angie ‘seberuntung’ seperti dia duduk di kelas X dan XI karena ‘menemukan’ seseorang yang dia kenal cukup baik tatkala memulai tahun ajaran baru, agar merasa ‘secure’ sebelum akhirnya dia menjalin persahabatan dengan teman-teman sekelas yang lain?

Beberapa hari sebelum tanggal 12 Juli, my Mom berpesan pada Angie agar tinggal di rumah pada hari Sabtu itu karena semua orang harus pergi, padahal di rumah masih ada tukang yang membetulkan ini itu. Aku dan kedua adikku masuk kerja di pagi hari Sabtu, dan kebetulan my Mom ada arisan dengan teman-teman pensiunan Bank Bapindo (my late dad’s workplace). Terpaksa Angie tidak berangkat ke sekolah. Seorang teman sekelasnya di kelas XI IA 1 berbaik hati datang ke rumah untuk membawakan raport Angie ke sekolah, plus membayarkan uang BP3 yang ternyata harus sudah dibayar sebelum memasuki tahun ajaran baru 2008/2009.

Sabtu malam, sepulang aku dari kantor, aku disambut Angie dengan wajah cemberutnya.
 
“Masak ga ada teman-teman “es conelo” yang sekelas dengan Angie nanti di kelas XII!!!” keluh Angie.

(FYI, anak-anak kelas XI IA 1 SMA N 3 Semarang tahun ajaran 2007/2008 mempunyai ‘nickname’ untuk kelas kesayangan mereka, yakni ‘es conelo’. Unfortunately, aku lupa ‘es conelo’ itu singkatan apa.)

Aku tidak menanggapi keluhan Angie ini dengan serius. Aku hanya bilang, “You will meet new friends honey. Who knows you will get some kind, good, and nice new best friends you never get in touch before?”
“Angie sekelas dengan SB!” katanya lagi.

SB adalah nama cewe yang kebetulan naksir berat gebetan Angie. Bahkan konon mereka pernah ‘jadian’, walaupun usia ‘jadian’ mereka hanya dalam hitungan minggu. Aku berpikir mungkin Angie akan ill feel pada SB sehingga ga mungkin Angie mau duduk sebangku dengannya.
“Tapi ada seorang teman sekelas SB waktu kelas XI yang sekelas dengan dia, jadi mereka berdua akan duduk sebangku,” lanjut Angie.

“Oh? Is it possible for you to sit at the same bench and desk with SB after what has happened lately?” tanyaku heran.

I couldn’t interpret what her facial expression meant when hearing me say so. Tapi kemudian Angie bilang, “Daripada duduk sebangku dengan seseorang yang sama sekali ga Angie kenal. Duduk dengan SB pun ga papalah...”

Aku kemudian bercerita bagaimana Angie kecil dulu begitu pede memasuki sebuah komunitas baru, tanpa perlu mengenal seseorang terlebih dahulu. Waktu masuk TK Nasima tahun 1995, dia terlihat begitu menikmati hari-hari awal dia masuk sekolah, tanpa terlihat attached kepadaku. Lulus TK, sebelum mulai tahun ajaran baru di SD, selama liburan dia kumasukkan ke sebuah kursus Bahasa Inggris khusus anak-anak yang terletak di kawasan perumahan Semarang Indah. Aku hanya mengantarnya sampai di depan gedung sebelum pukul 08.00, kemudian aku harus segera kabur ke tempat kerja, aku harus mengajar jam 08.00. Kursus Angie selesai pukul 09.30. Namun berhubung aku selesai mengajar pukul 10.00, aku selalu datang menjemputya setelah pukul 10.00. Angie tidak pernah terlihat bete karena dia menikmati kegiatan-kegiatan yang disediakan oleh Lembaga Pengembangan Anak itu bagi anak-anak yang belum dijemput oleh orang tuanya.
 
Waktu masuk SD (aku sengaja tidak memasukkannya ke SD Nasima yang waktu itu masih brand new, belum ketahuan mutu yang dimiliki, sementara uang BP3 cukup mahal bagi kantongku waktu itu), Angie pun terlihat ‘baik-baik’ saja, kecuali sedikit keluhan karena SD N Siliwangi tidak memiliki gedung ‘seindah’ dan sebersih TK tempat Angie bersekolah.

“Where is that Angie, honey?” tanyaku ke Angie.

Angie hanya mengangkat bahunya. Wajahnya terlihat heran, seolah-olah bertanya, “Was little Angie that confident and secure in any new community? Why am I not like that anymore?”

Semalaman itu, sebelum tidur, Angie terus menerus mengeluh, “Angie ga mau masuk sekolah Ma! Gimana sih cara sekolah membagi siapa masuk kelas mana? Masak ga ada satu pun teman ‘es conelo’ yang satu kelas dengan Angie?”

Menjelang pukul 9pm, akhirnya aku berpikir mungkin teman Angie hanya nggodain Angie dengan mengatakan bahwa hanya dia seorang anggota ‘es conelo’ yang masuk kelas XII IA 10.
 
“I think you need to see the announcement by yourself, honey! Siapa tahu ‘Rampink’ sedang keluar isengnya untuk ‘ngerjain’ Angie.” Kataku.

“Ada berapa anak di kelas XI IA 1? Kalau ada 40 siswa, dibagi menjadi 10 kelas, bukankah seharusnya minimal ada 3 sampai 4 anak ‘es conelo’ di tiap-tiap kelas, kalau pembagiannya merata!” kataku lagi.

Harapan Angie muncul lagi, walaupun hanya tipis. Berhubung waktu telah menunjukkan pukul 9pm, aku tidak menawari Angie ke sekolahnya untuk melihat pengumuman itu sendiri. (FYI, aku belum bisa sepenuhnya menghilangkan kebiasaan ‘jam malam’ yang dimulai pukul 9pm di PT56.)

Namun ternyata malam itu Angie tidak bisa tertidur lelap sampai pukul 2 dini hari.

*****

Hari Minggu 13 Juli 08 aku dan adikku ikut ‘fun bike’ yang diselenggarakan oleh sebuah pasar swalayan di Semarang dalam rangka memperingati ulang tahun pasar swalayan tersebut yang ke30. Kita meninggalkan rumah pukul 05.45, Angie masih mendengkur di tempat tidur.

Pukul 09.30 aku dan adikku sudah ramai berkicau di ruang tamu PT56, bercerita to our dearest Mom tentang pengalaman kami berdua mengikuti ‘fun bike’ yang jarak tempuhnya mencapai 12,5 kilometer. Sampai akhirnya aku ingat Angie yang ingin melihat pengumuman pembagian kelas itu sendiri.

Sekalian olah raga dan ngirit bensin, aku dan Angie ke SMA N 3 naik sepeda, aku naik WINNER, Angie naik POLYGON PREMIERE milik adikku.
Ternyata ...

Rampink tidak sedang iseng ngerjain Angie. Angie memang satu-satunya anak ‘es conelo’ di kelas XII IA 10 tahun ajaran 2008/2009.
Angie pun terlihat gusar.

“Honey, believe me, you will find new good friends later. Okay?” Begitu aku terus menerus meyakinkannya.

LL 12.04 140708

Wednesday, June 25, 2008

Sabtu 21 Juni 2008

Hari kenaikan kelas. Alias hari pembagian raport.


Karena undangan untuk orang tua murid jam 10.00, pagi hari aku masih sempat ke Paradise Club dulu. Aku berangkat naik sepeda mini kiriman kakakku dari Cirebon beberapa bulan yang lalu. Ternyata ... memang lebih melelahkan dibandingkan naik sepeda federal. 
Jam 09.15 aku sudah selesai mandi, dan menyuruh Angie untuk segera mandi pula.
Pukul 09.30 waktu kita berdua sedang siap-siap berangkat ke SMA N 3 Semarang, sekolah Angie sekarang ini, atau sekolahku dulu di tahun 1983-1986, Angie ‘melancarkan aksinya’.

“Entar Mama jangan pakai sepatu boots ya?”
“Emang kenapa?” tanyaku.
“Terlalu mencolok ah,” protesnya. LOL. “Mama mau pakai baju apa nanti?” tanyanya.
“Hmm ... celana jeans plus T-shirt ungu yang dibelikan Lily di Bandung?” tanyaku. Aku heran kenapa pula Angie ingin tahu bagaimana aku akan berpenampilan di sekolahnya nanti. 
“Hmm ... Angie udah mengiranya.” Katanya. 

Kok bisa ya? Padahal baru pagi itu aku ingat kalau aku punya T-shirt ungu cerah berhiaskan manik-manik, pemberian Lily. Sudah lama T-shirt itu tidak kupakai.
“If I am not mistaken, semester kemarin di kelas Angie cuma Mama deh yang mengenakan celana jeans, yang lain berpenampilan ‘ibu-ibu’ gitu deh.” Kataku.

“Kalau Mama pakai celana jeans, Mama mau pakai ‘sepatu gunung’ ah.” Sambungku.
Angie langsung memonyongkan mulutnya.
“Well how about these honey?” tanyaku, sambil menunjuk sepatu model terbuka, yang menurutku terlalu seksi karena terbuka begitu.


“Ah good Mama. Pakai sepatu ini aja,” jawabnya.
“Do you forget I have these shoes? Ini sepatu yang Mama beli untuk ujian tesis, kemudian juga Mama pakai waktu wisuda S2,” terangku.
Mungkin di mata Angie, sepatu berhak lima sentimeter plus cukup terbuka itu, sangat feminin dan pantas kukenakan waktu bersamanya ke sekolah mengambil raport, sehingga dia senang mendengarku akan memakai sepatu itu. FYI, dia jarang mau ngikut ke sekolah waktu mengambil raport. Dia lebih suka ngendon di rumah.
“Berarti entar Mama pakai rok aja,” kataku.
Angie mengangguk-angguk.
Waktu aku menunjukkan dua buah T-shirt yang akan kupakai, tidak jadi yang ungu cerah, dia memilih yang bermodel feminin, warna hitam, berhiaskan manik-manik di bagian dada.
“Honey, Mama bener-bener nampak seperti ‘ibu-ibu’ nih!” komplainku, waktu kita siap akan berangkat.
“Loh, bukannya peran Mama kali ini memang menjadi seorang Ibu?” komentar Angie. LOL.
*****
Sampai di sekolah kurang lebih pukul 10.10.
Waktu berjalan dari tempat parkir menuju kelas Angie, Angie mengkritik caraku berjalan, “Mama jangan terlalu membusungkan dada gitu dong Ma?!?”
Ealah, repot amat setelah anakku berusia 17 tahun yak? LOL.
“Loh Sayang, bukannya memang begini cara Mama berjalan? Masak Mama disuruh membungkukkan badan gini? Kan ya ga lucu?!?”
Sesampai di depan kelas Angie, dia langsung berbaur dengan teman-temannya sekelas, dan aku masuk kelas. Belum banyak orang tua/wali murid yang ada di dalam. Kurang dari 10 orang kalau tidak salah. Aku langsung menempatkan diri di samping seorang perempuan kurang lebih sebaya denganku, mengenakan jilbab, yang duduk di bangku nomor 2, lajur ketiga dari pintu masuk. Dia adalah teman akrabku waktu kita duduk di bangku SMP kelas 1.
Aku bersyukur wali kelas Angie tidak terlalu banyak berbicara di depan kelas. Tak lama setelah aku duduk, beliau langsung mempersilakan siapa yang datang lebih dahulu untuk segera menemuinya untuk mengambil raport.
“Padahal aku tadi datang nomor satu, tapi aku ga langsung masuk, duduk-duduk di luar dulu,” kata temanku, berbisik di telinga.
“Kenapa kamu ga langsung masuk saja?” tanyaku.
“Males, lha wong banyak anak-anak yang duduk di dalam kelas tadi,” katanya.
“Ya sudah salahmu sendiri. Ga usah protes,” jawabku.
Aku ingin acara pengambilan raport ini segera berlalu.
Meskipun dulu kita sangat akrab, sekarang aku justru merasa tidak nyaman berada bersamanya. Satu hal utama: dia suka memamerkan kekayaannya. Well, bukan karena aku iri padanya karena dia kaya, tapi kurasa tidak sopan saja tiba-tiba dia berbicara, “Aku ke sini tadi naik mobil yang nyetir anakku. Padahal dia belum punya SIM A.”
Aku tahu dia hanya ingin bilang ke aku, “Na, aku punya mobil sekarang.” Tentu saja tidak masalah anaknya belum punya SIM A karena toh kalau ketangkap petugas, adiknya yang bekerja sebagai polisi bisa membebaskannya dengan mudah?
“Aku baru beberapa hari yang lalu pulang dari Kalimantan loh Na! Aku di sana kurang lebih satu setengah bulan.”

Aku tentu tidak akan sampai hati kalau mengatakan, “Lah, yang merhatiin anak-anakmu siapa kalau kamu keluyuran melulu mengikuti suami paruh waktumu?”

Satu hal yang pernah aku debatkan bersamanya beberapa tahun lalu waktu dia cerita menikah siri dengan seorang laki-laki yang sudah bersuami. Di awal, dia bilang dia ‘ditipu’ oleh laki-laki itu yang mengaku sebagai bujang lapuk. Di kemudian hari, dia bilang ke aku kalau istri pertama suaminya itu tidak layak menjadi istri karena tidak becus mengurusi suami. Ditambahi bumbu, “Mertuaku jauh lebih sayang kepadaku loh Na, dibandingin istri yang pertama.”

Aku bilang kalau dia tidak berhak menghakimi istri pertamanya seperti itu karena di mataku justru suaminya yang brengsek karena berbohong mengaku sebagai bujang lapuk waktu akan menikahinya. Aku juga bilang kalau dia tidak berhak merebut suami orang. 

You can guess dia langsung ngeles ini itu tatkala mendengarku berkata seperti itu, dan bukannya ‘membelanya’ karena dia adalah temanku dan aku tidak mengenal istri pertama suaminya.
Aku tidak ingin berbicara banyak padanya sehingga aku lebih memilih diam.
Untunglah tak lama kemudian nama anaknya dipanggil. Setelah menerima raport, dia langsung keluar kelas.

Waktu wali kelas Angie memanggil nama, “Dzikrina ...?”
Aku langsung maju.

“Angie ya Bu nama panggilannya?” tanya wali kelas Angie itu.
Aku mengangguk-angguk.

“Di kelas Angie adalah anak yang pendiam,” katanya.
“Oh? Di rumah dia banyak omong, terutama kepada saya,” kataku.
“Kalau tiika ditanya, dia tidak mau ngomong apa-apa. Dia harus dipancing dulu,” jelasnya.
“Oh, itu namanya dia tidak mau menonjolkan diri,” kataku. LOL.
“Tapi nilai-nilainya bagus kok,” katanya, sambil melihat raport Angie secara sekilas. “Semua tuntas.”
“Alhamdulillah,” jawabku.
Setelah bersalaman, aku keluar.

Ternyata di depan kelas, temanku itu masih berdiri di sana, bersama anaknya.
Tak lama aku beramah-tamah dengannya, aku langsung mengajak Angie pergi.

“Kita mau jalan-jalan,” kataku.

Dari sekolah, kita meluncur ke kawasan Tembalang. Kita berdua makan siang di “Sim-Six resto garden” yang tepatnya berlokasi di Jalan Ngesrep Timur V nomor 25 Semarang. 

Naik kelas menurutku adalah kewajiban setiap anak, yang harus mereka persembahkan untuk orang tuanya. Menraktir mereka makan enak (“berwisata kuliner” kata Angie) bagiku adalah salah satu cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menunjukkan rasa suka cita mereka, sekaligus rasa terima kasih mereka kepada sang anak yang telah berupaya keras untuk belajar dengan baik. Demi masa depan anak-anak itu sendiri.

PT56 16.56 210608

Saturday, June 14, 2008

This term: 2/2008

I remember at the very beginning of this term when Angie was about to resume her English course (in my workplace so that she could be free of charge ), we were discussing what days and time she would study. The only class she could join was only on Tuesday-Thursday from 19.00-21.00. I could not take her to the English course since I had a class finishing at 19.00 at another branch, located 11 kilometers away from the first branch. I asked her to go by public transportation but Angie didn’t feel secure. She told me one case of her schoolmate who got abused by a driver of public transportation. She refused to go by ‘becak’ (pedicab) too because she was worried about the same thing—to be abused by the ‘becak driver’.
Eventually the problem was solved because my youngest sister was available to take Angie to the English course. I could pick her up when going home.
FYI, I always feel uncomfortable to make other people—although they are my very own sisters—busy, dealing with taking care of Angie. I always want to do anything by myself; such as to take her to the English course and to pick her up, including to/from school. However, since I am a single parent so that I have to work to make our (Angie and me) ends meet, I am not always available to do that. And I always feel guilty for that.
Going back to the previous case. Thursday June 12, it rained heavily from 17.00 in Semarang. Angie sent me a message, “Mama, when will I have the written test?”
To reply her message, I called her, “You will have the test today, honey. You will go for that, won’t you?”
“But it is raining cats and dogs here.” She said.
“Yes, it is raining heavily too here. So, will you take the test today or will you take the makeup test next June 20?”
“Perhaps I will take the test today Ma.” She decided.
However, seeing that the rain didn’t slow down a bit, I started to think if it would be better for Angie to take the makeup test. I started to feel uncomfortable and guilty toward my youngest sister to bother her to take Angie to the course in such a bad weather. But I didn’t do anything, such as calling Angie again to suggest her to take the makeup test, or calling my youngest sister, asking her whether she really wouldn’t mind taking Angie to the English course. FYI, my youngest sister has poor eyesight, much poorer than mine because she has to wear glasses minus 10. It would be very risky for her to ride a motorcycle in the night under the heavy rain, plus the electricity is off.
That’s it. The uncomfortable and guilty feeling toward my youngest sister, my hurried trip from one branch to the main branch, feeling anxious whether Angie would attend the written test on the schedule, were mixed together. And what did I find after arriving? After feeling excited that I would find Angie soon (after a workmate told me that she saw Angie several minutes before), in fact Angie was away. And she herself didn’t know where she would be taken by her classmates.
I have been indoctrinating myself to be a feminist since 2003. I have been convincing myself that it is okay for me not always having full time to take care of my only daughter (read => not to be a “full-time mother” for her). But still, I have oftentimes been haunted by guilty feeling.
The result of the patriarchal indoctrination is in fact still strong in me.
LL 17.20 130608

Angie

“Ms. Nana, you were not rough to Angie last night, were you?”
A workmate asked me—as a greeting—when I entered the teachers’ room around an hour ago (this is Friday June 13, 2008).
 
“Of course not at all,” I answered, feeling like something tickled my stomach hearing her choosing the word ‘rough’. She really likes exaggerating anything, I guess. LOL.

“I was not angry with her, actually.” I continued saying.

This workmate of mine looked into my face, expecting me to explain more.

“I was angry with the situation, perhaps.” I felt a bit amused when finding that my workmates looked at me, astonished with what I just said.

“You know. I went back from Tembalang branch in such a bad weather—it rained very heavily—in a hurry. The electricity was off too. I came here, wanting to see whether Angie came to attend the written test or not. I really wanted to see her here. Rahma told me that she saw Angie a few minutes before. So to find out where she was, I called her cell phone number, ‘Where are you now honey?’ She said, ‘On the street Mum.’ Feeling puzzled, I asked, ‘Street where?’ I thought she was on the street in front of our office, but I was wondering why she didn’t see me coming and entering the office building? Although it was dark—due to the blackout—I believe Angie could see me clearly. Then she said, ‘I’m on the way Mum, with my classmates.’ You can imagine how disappointed I was. I rode the motorcycle in a hurry, to find her here. And in fact she went away with her classmates, without asking for my permission. And I didn’t have any idea where she was. ‘On the way where? What do you mean?’ I asked. She said, ‘Well, a classmate is going to treat us tonight. But I don’t know where we will have our dinner.’”

“So, honey, what am I supposed to do now?” I asked Angie, disappointed.
“Wait for me at the office, Mama?” begged Angie, slowly, not sure whether I would be willing to wait for her.

“What am I supposed to do while waiting for you?” my voice still sounded harsh, I believe.

Angie didn’t answer.

“You know honey there are two things I want to do so that I don’t mind waiting. The first is reading. The second is scribbling anything. And you know when the electricity is off like now, I CANNOT DO THOSE TWO THINGS. How could you ask me to wait for you at the office when I can do nothing?”

Then Angie suggested an idea, “How about going online Mama?” her voice sounded very soft, showing she was not sure with that idea.

“Honey, the electricity is off. The cyber cafes close to the office must be close because of that.” I said.

“Ah … yes. …” Angie got stuck.

“Listen to me. I don’t want to wait for you here. You go home by yourself. Ask someone, your classmate to take you home!” I said that sternly.

“But Mama, how can I ask anybody here to bring me home? I cannot.”
“Honey, this is your responsibility since you go without my permission and you know that I will pick you up here. I am here already and you are nowhere I know. I don’t want to wait for you.”

Feeling upset, I hung up the phone.

“Oh, actually there are some people ready to take Angie home, of course.” My workmate, who happened to be Angie’s class teacher this term, told me.

“Well, I didn’t know if you joined the crowd. If I had known, I would have asked Angie to give her cell phone to you and I would have talked to you directly to be responsible to take Angie home.”

“Well, after Mima called you, and I talked to you using her cell phone, and you guaranteed that there would be someone to take Angie home, I was relieved already.”

“Oh, that is the problem. I thought you were angry because I asked Angie to go out while in fact she had to study to prepare the promotion test at her school.”

“Last night I accompanied Angie to study until 23.30. It was fine with that.”

Another workmate jokingly said, “Ah, you were supposed to ask Ardi to accompany Angie to study until that late. Don’t let her go away when she brought Angie home.”

LOL.

“I cannot be mad at Angie. That’s for sure.” I told my workmates.

LL 15.55 130608

Foto bulan Januari 2025 🥰


Thursday, April 17, 2008

Angie's 17th birthday

Angie reaches the age of seventeen!!!

Rasanya baru kemarin dia suka nggigitin putingku tatkala dia sedang minum minuman terbaik untuk bayi—ASI. Atau mungkin dalam hal ini ASI bisa diganti menjadi ASMN, singkatan dari ‘air susu Mama Nana’. LOL. LOL. Kalau kemudian aku meringis kesakitan, Angie memandangku dengan sorot mata bandel plus iseng, seakan bertanya, “Sakit ya Ma? Kok Angie enak aja? Abisnya, ‘bittenable’ sih...” gitu kali makna pandangan mata itu. LOL. 


Aku ingat tatkala aku duduk di bangku SMA, banyak teman sekolahku yang khusus mengadakan ‘perayaan’ pesta ulang tahun yang ketujuhbelas. Aku—yang di’juluk’i Abangku korban norma yang dibuat oleh masyarakat; and he is 100% right—pun ikut-ikutan. Hal ini membuatku menerka-nerka apakah Angie pun ingin merayakan ulang tahunnya yang ketujuhbelas, yang jatuh pada tanggal 8 April 2008 yang lalu. Namun ternyata ‘Bintang Cantik’ku ini tidak tertarik untuk mengadakan apa yang dulu diselenggarakan oleh my dearest Mom untuk anak perempuannya yang pertama.


No matter what, aku tetaplah menganggap bahwa angka 17 merupakan angka spesial, sehingga aku ingin melakukan sesuatu yang spesial pula buat anak semata wayangku itu. Pilihanku adalah, membelikannya sebuah hape baru. Untuk mendapatkan jenis hape yang dia inginkan, aku beli tabloid PULSA yang khusus mengulas berbagai macam hape. Setelah menimbang-nimbang (dari segi features yang ada, plus harga yang ‘ekonomis’ , akhirnya Angie memilih hape Sony Ericsson K550i. 


Selain itu, sebenarnya aku ingin menraktir Angie dan beberapa teman dekatnya. Alasan yang kukemukakan kepada Angie, “Mama pengen liat teman-teman Angie yang biasa Angie sebut namanya, such as Lia (yang suka manggil Angie “Cinta”, lha kok saingan dengan nyokapnya? LOL), ‘Rampinq’ (bukan nama sebenarnya tentu saja, hanya nama julukan, saking rampingnya anak satu ini) dan beberapa yang lain. Rencana makan siang bersama ini tanggal 9 April karena kebetulan aku masuk ngajar jam 5, sehingga aku bisa ikut menemani anak-anak itu makan siang, sepulang dari sekolah jam 13.30, dan ga perlu terburu-buru. Namun, ternyata rencana ini gagal lantaran kelas Angie hari itu menghadapi pertandingan sepak bola dengan kelas lain (dalam rangka ‘liga SMA3 Semarang’). Angie memilih membatalkan acara makan siang, dan ikut menjadi ‘penggembira’ tim sepak bola kelasnya, bersama teman-teman sekelasnya.



Diam-diam, teman-teman Angie merencanakan sesuatu, untuk membuat Angie selalu ingat peristiwa ulang tahunnya yang ketujuhbelas. Guess what? 


Mereka memberi Angie hadiah yang serba Mickey Mouse (untuk alasan yang private, aku tidak menuliskannya di sini mengapa Angie suka banget pada Mickey Mouse akhir-akhir ini. :)) mulai dari tempat hape, tempat pensil, gantungan hape, ketiganya dihiasi gambar Mickey Mouse, plus boneka Mickey Mouse, dan boneka mungil Mashimaru (if I am not mistaken to remember the name. LOL.)
Selain itu ...


Seusai pertandingan sepak bola yang berakhir seri, Angie di’hujani’ tepung terigu oleh teman-temannya. Plus ... di’kucurin’ telur dari atas kepala sampai kaki, sehingga praktis Angie berbau amis seluruh tubuhnya, termasuk seragam sekolah, tas, sampai sepatu dan kaos kaki. 


Sampai hari ini (Senin 14 April 08) Angie masih komplain bau amis telur yang menurut hidungnya masih menempel di seragam sekolahnya, meskipun telah dicuci berkali-kali, direndam di dalam air yang dicampur pewangi dan pelembut, plus disemprotin parfum sampai setengah botol. LOL. 


Hari Minggu 13 April 08 kemarin aku mengajaknya ke salah satu toko yang berjualan hape, yang terletak di jalan Singosari Raya. Aku membelikannya hape yang dia inginkan (karena ada cybershot) K550i. Sangking senangnya dengan hape yang berwarna hitam cute itu, waktu kita berdua mampir di SANTIAGO, rumah makan tempat kita makan siang, Angie menjadikanku model saat dia mencoba-coba kamera yang ada di d

alam hape barunya. LOL. Sesampai di rumah, ga henti-henti dia mencium pipiku.
Btw, tatkala membaca SANG PEMIMPI, novel kedua Andrea Hirata dalam tetralogi LASKAR PELANGI, ada satu adegan yang sangat menyentuh perasaanku, tatkala Ikal mengekspresikan rasa sayang, hormat, dan kekagumannya kepada ayahnya, karena sang ayah tetap merasa bangga kepada anak kelimanya itu, meskipun sang anak ‘terjungkal’ dari rangking 3 ke rangking 75.

“ ... dan riak-riaknya yang berkecipuk siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku.” (halaman 155)

Jika ada pepatah yang mengatakan “cinta seorang anak (konon hanya) sepanjang galah, sedangkan cinta ibu kepada anaknya sepanjang jalan”, aku ingin sekali satu saat nanti, Angie pun mengekspresikan cintanya kepadaku, “Sayangku pada Mama tak akan lekang dimakan usia.”

Happy birthday, my beloved daughter.
Wish you all the best of the best for your life.
I have always loved you deeply.
And I will always love you forever.


PT56 140408

Friday, March 28, 2008

Jumat 28 Maret 2008

Mumpung libur dari kantor, setelah jemput Angie pulang sekolah pukul 11.30, aku mengajaknya ke KAMPUNG NASI, tempat aku pernah makan dua kali, diajak oleh Rahma, one workmate of mine. Pertama kali aku kesana bareng Rahma, and I loved the atmosphere, plus harga yang lumayan terjangkau buatku, aku sudah kepengen mengajak Angie makan di sana kapan-kapan. But berhubung KAMPUNG NASI libur pada hari Minggu, dan buka hanya pukul 07.00-15.00, aku harus menunggu term break dari kantor, baru bisa nraktir Angie ke sana.
Empat hari kemarin aku sibuk ngikut training di kantor, so meskipun Angie juga libur sekolah selama tiga hari--karena kakak kelasnya sedang try out ujian akhir--aku belum bisa ngajak Angie ke sana.
Di KAMPUNG NASI, aku memesankan Angie 'nasi timbel' berhubung Angie ga tahu dia mau pesan apa. Aku sendiri pesan ayam bumbu asam manis. Untuk minuman, Angie pesan es shanghai, aku pesan es teler. Setelah sang waitress pergi, Angie bertanya kepadaku,
"Tadi ada menu 'nasi goreng kolonial', tapi dari gambarnya kok kayak nasi goreng biasa. Kenapa juga diberi nama 'kolonial'?"
"Do you want to order it, honey?" tanyaku agak menyesal karena Angie tadi ga bilang apa-apa waktu sang waitress menunggu kita mau pesan apa.
"Engga kok, Ma. Cuma heran aja dengan namanya," jawab Angie.
"Or will you like it if we come here again tomorrow, after school? You can oder that menu," I proposed an idea.
Angie tertawa lebar.
"Bagaimana kalau kita coba semua menu yang ada? Setelah itu kita pindah ke rumah makan yang lain?" jawabnya. LOL.

*******

At 1pm, Angie was supposed to get additional lesson, TOEIC Preparation at school, but Angie said she didn't want to attend it. Ya udah, kita jadinya santai aja menikmati makanan kita.
"Entar sebelum pulang Angie mau fotocopy dulu ya Ma? Di dekat rumah kita ada ga sih?" tanya Angie.
"Bukannya di dekat sekolah Angie ada fotocopy center?"
"Males ke situ Ma. Yang kerja di situ ga ramah sama sekali, selalu cemberut. Ga pernah sekalipun tersenyum."
"I sometimes think that being a photocopy center worker is a very boring thing to do. The job is not challenging at all, as well as boring." kataku sembari menirukan lagak seseorang sedang fotocopy: berdiri di samping fotocopy machine, mengulak-alik lembaran-lembaran kertas. Begitu melulu, dari pagi sampai sore/malam.
Angie ketawa melihatku bertingkah seperti itu.
"Do you know what people did in the past before the photocopier was invented?"
Angie diam saja, sembari berusaha membayangkan bagaimana orang-orang zaman dulu menyalin sesuatu. "Did they rewrite it?" tanyanya.
"Exactly! You know some law firms sometimes needed copies of some important documents so they asked someone to rewrite it. People working like that were called THE SCRIVENER. I remember once I read a short story entitled BARTLEBY THE SCRIVENER by Herman Melville. At the end, the character committed suicide because of feeling bored and pessimistic looking at the world. In short, the story is like that."
Angie ngikik mendengarnya. Apalagi waktu aku bilang, "Mana dia matinya berdiri menghadap tembok lagi!"

*******


From KAMPUNG NASI, I invited Angie to drop by at warnet, mumpung liburan, aku puas-puasin ngenetnya, setelah sekian luamaaaaaaaa ... aku jarang ngenet. :)

KPDE 15.12 280308

Monday, February 18, 2008

Angie berenang

‘Ketiba-tibaan’ Angie untuk kembali ikut berenang bersamaku membuat kita berdua berebut kacamata berenang. Kacamata renang Angie yang lama (beli tahun 2002) terpaksa kupakai, dan aku harus merelakan Angie memakai kacamata renangku yang kubeli pertengahan tahun 2006 lalu, karena kacamata renangku yang kubeli bareng dengan kacamata renang Angie hilang waktu itu. (I might accidentally have left them in the shower room of the pool!) Biasalah, seorang anak maunya pake barang yang baru dibeli, dan memaksa nyokapnya memakai barang lama. LOL. (Does it happen to everyone else? I think so. :) )
Namun hari Minggu kemarin tiba-tiba aku mendapati kacamata renang ‘tua’ itu patah tatkala aku akan memakainya. Terpaksa hari Minggu kemarin aku tidak memakai kacamata tatkala berenang. Tanpa kacamata tentu aku tidak tahan berenang lama. Kalaupun tahan, mataku akan mudah terkena iritasi dan berubah warna menjadi merah. Tidak bagus untuk kesehatan mata.
Itu sebab hari Rabu 6 Februari kemarin aku menyempatkan diri ke Mall Ciputra untuk membeli kacamata renang. Demi efisiensi waktu aku tidak masuk ke dalam mall, karena ada satu toko jualan alat-alat/baju olah raga tak jauh dari tempat aku memarkir motor, di deretan luar mall.
Kamu percayakah bahwa para penjual—atau para salesperson—senantiasa melakukan taksiran kepada para calon pembeli? Salah satu pengalamanku: tatkala aku hanging out dengan Angie mengenakan busana yang lumayan keren, para salespersons serta merta menawariku membeli ini itu. LOL. Dibandingkan dengan tatkala aku ‘hanya’ mengenakan celana jeans, T-shirt biasa, tanpa manik-manik, plus sepatu ‘biasa’ tak satu pun salesperson yang tertarik menyapaku. LOL.
Demikian pula tatkala aku memasuki toko olahraga tersebut. Seorang perempuan menyapa, “Mencari apa mbak?”
“Kacamata renang,” jawabku.
Dia langsung mengambilkan sepasang kacamata renang, dengan harga berkisar 70.000-an. Namun berhubung warnanya kuning ngejreng, aku langsung menolak, “Yang warna hitam mbak!” kataku.
Dia langsung mengambilkan sepasang kacamata renang, warna hitam, seharga Rp. 40.000,00. Tentu saja aku senang dengan harga yang sangat ekonomis itu (sebagai perbandingan, di tahun 2002, aku membeli kacamata renang seharga Rp. 40.000,00. Tahun 2006 lalu seharga Rp. 65,000,00.) Namun tatkala aku mencobanya, aku tidak menyukainya.  Ada kesan tidak pas, plus kaca yang agak buram. (Memang di kolam renang, tak bakal ada ‘kecelakaan’ yang mematikan kalau hanya bertabrakan dengan perenang lain karena kacamata renang yang buram.)
Sewaktu aku mencoba itu, si perempuan itu bertanya, yang lebih cenderung ke ‘tuduhan’ daripada ‘pertanyaan’ (atau mungkin karena aku sedang PMS, sehingga kadar sensi tinggi.) “Mbak-e ga kerja?”
“Nanti masuk jam 3.”
“Kerja dimana kok masuk jam 3?” tanyanya (tentu saja kali ini pure pertanyaan, dan bukan tuduhan. LOL.)
(Aku langsung berpikir dia sedang mencoba menaksir kemampuanku untuk membeli kacamata renang berharga berapa dengan pertanyaan itu. LOL.)
“LIA,” jawabku pendek.
“Emang LIA apaan sih?” tanyanya lagi. (This is really not a big deal for me if people don’t know what kind of institution LIA is.)
“Kursus Bahasa Inggris.”
Selain itu sesi ‘interogasi’ masih terus berjalan sementara aku juga terus mencoba kacamata yang lain. Dia berusaha meyakinkanku bahwa kacamata pilihannya yang seharga Rp. 40.000,00 itu lumayan bagus, karena dia telah membelikan sepasang untuk anaknya, dan kacamata itu awet sampai sekitar 3-4 tahun, asal setelah selesai berenang, kacamata langsung dibasuh dengan air bersih, untuk menghapus sisa-sisa kaporit yang menempel.
“Saya telah membelikan kacamata renang buat anak saya tatkala dia duduk di kelas 3 SD. Sekarang dia telah duduk di bangku SMP.”
Perhatikan kata TELAH yang dia pakai. Sebagai seseorang yang berkutat dengan bahasa, pemilihan kosa kata, plus interpretasi di balik pemilihan kosa kata itu hampir tiap hari, aku langsung menginterpretasikan kalimatnya yang terakhir sebagai, “Kok mbak baru beli kacamata renang sekarang? Ga punya duit ya?” LOL. LOL.
Untuk menjawab pernyataan itu, aku bilang, “Kacamata renang yang kupakai, yang kubeli 6 tahun lalu rusak. Itu sebab aku beli yang baru lagi.”
Aku agak ‘tinggi hati’ juga, tidak mau dituduh ‘ga punya duit ya’? LOL. Sehingga aku merasa perlu untuk ‘pamer’ bahwa aku telah punya kacamata renang sebelum itu.
Karena aku termasuk agak ‘rewel’ dengan kacamata yang dia tawarkan, akhirnya dia menunjuk kacamata yang seharga Rp. 110.000,00. “Atau mau yang itu mbak? Tapi harganya mahal.”
Kalimatnya yang kedua “tapi harganya mahal” bisa diinterpretasikan dengan, “Can you afford that?” LOL.
Aku langsung memintanya untuk mengambilkan yang seharga Rp. 110.000,00. Setelah mencobanya, dan langsung merasa cocok, aku serta merta bilang, “Saya minta yang ini aja mbak. Paling enak dipakai, dibandingkan yang lain.”
Sempat kulihat dia melongo, LOL, sebelum akhirnya menuliskan nota buatku.
Well, sebenarnya aku sudah merasa terganggu dengan pertanyaan alias tuduhannya yang pertama, “Mbak ga kerja ya?” seolah-olah di jidatku ini tertulis, “housewife, financially dependent on man” karena pukul 11.30 keluyuran ke mall, memakai bukan busana kerja (I was wearing jeans, T-shirt, jacket—showing I was riding a motorcycle and not driving a car, that meant I did not belong to the haves, that probably wouldn’t spend much money to buy a pair of googles—and carrying a cute backpack.)
Hal ini tidak berarti aku menyepelekan para perempuan yang memilih sebagai housewife karena bagiku menjadi housewife justru merupakan pilihan yang sangat sulit. Being financially dependent on a man akan membuatku meletakkan diri sebagai the second sex, tanpa kusadari, karena (masih) terlalu melekatnya stigma itu di benakku meskipun aku telah membaptis diri menjadi seorang feminis semenjak tahun 2003. Karena aku ingin melepaskan stigma itu dari hidupku, aku memilih untuk menjadi a single parent. Salah satu hal yang diperjuangkan oleh para feminis adalah kebebasan untuk memilih dalam hidup, apakah ingin bekerja untuk menjadi financially independent, ataukah memilih untuk menjadi a full housewife. Seorang perempuan hanya butuh menjadi manusia biasa, dan tidak perlu menjadi seorang superwoman (dengan membebani diri menjadi a good housewife, a good mother, a good career woman, a good social worker who cares much to the neighborhood, etc). Namun, seandainya ada seorang perempuan yang mendapatkan kebahagiaan dengan memaksa diri menjadi seorang superwoman, ya silakan saja, dengan catatan tetap menghargai pilihan perempuan lain—such as being a single woman, being a full career woman although she is married, being a single parent, dll. Tidak perlu ada paksaan bahwa seorang perempuan harus (atawa sebaiknya) berkarir di dalam rumah saja, agar tetap bisa menjadi a full housewife plus a full mother, untuk memberi kesempatan kepada suaminya untuk berkiprah di ranah publik. Beri perempuan hak untuk memilih, dan jangan memakai agama maupun budaya sebagai alat untuk memasung perempuan.
What the hell have I been scribbling? Lha wong dari beli kacamata renang kok menjadi hak-hak perempuan? LOL. Maklum, feminis gitu loh. Cie ... LOL.
PT56 18.40 070108

Berenang di hari I M L E K

Kamis 7 Februari merupakan hari libur nasional karena bertepatan dengan Imlek, alias tahun baru Cina. Sejak aku melek, sekitar pukul 04.30 pagi hari, aku telah mendengar percikan air hujan di luar. Mungkin sejak semalam hujan turun terus menerus. Tanda peruntungan yang baik, kata orang-orang Cina. (So I heard.)

Aku pun melanjutkan meringkuk di bawah selimut, plus memeluk guling kesayanganku saampai satu jam kemudian.

the condition of the pool was the same, since I arrived here in 2000 for the first time, til 2016 the last time I swam here

this pic was taken in 2015, I don't have any pictures of this swimming pool taken in 2007/2008 😓

Setelah mengerjakan ‘tugas rumah di pagi hari’, aku bersiap-siap berangkat berenang sekitar pukul 06.30. Hujan sudah agak mereda, tinggal gerimis. Aku iseng membangunkan Angie untuk ikut berenang. (FYI, Angie ‘mogok’ ikut berenang selama beberapa tahun. Baru mulai bulan Januari kemarin dia tiba-tiba bilang kepengen ikut berenang, karena dia ingin berolahraga. ‘Ketiba-tibaan’ itu berbuah aku harus mengeluarkan ekstra uang untuk membelikannya baju renang, plus membelikan tiket berenang ‘terusan’ bulan kemarin. (Tiket terusan berarti, aku langsung membeli 10 lembar tiket yang berlaku selama 3 bulan. Dengan membeli tiket terusan, aku bisa menghemat Rp. 3500,00 per tiket.) Dan ternyata Angie tidak keberatan untuk berangkat berenang denganku.

FYI, ada satu ‘dampak’ kalau aku berangkat berenang berdua dengan Angie: aku tidak bisa berenang secara maksimal karena Angie sering memaksaku berhenti dan ngerumpi di pojokan. So, kalau sendirian, aku bisa berenang 25 m kali 50 kali dalam waktu satu jam, bersama Angie aku bisa berenang 20 kali sepanjang 25 m itu aja sudah cukup bagus. 

Dan pagi tadi, seharusnya aku bisa menikmati cuaca mendung, plus sesekali gerimis disertai angin berhembus cukup kencang (suasana ngelangut yang kusukai, seperti yang kutulis di blog beberapa bulan yang lalu), aku tidak bisa. Beberapa hari terakhir ini aku dan Angie memang sangat jarang memiliki waktu untuk berbincang-bincang berhubung Angie sibuk melulu sepulang sekolah mengerjakan satu tugas besar: mempersiapkan drama untuk pelajaran Bahasa Indonesia bersama teman-teman satu kelompoknya. Dia baru sampai rumah sekitar pukul 17.00, bahkan kadang lebih. (Sama sibuknya tatkala dia mengerjakan tugas membuat film dalam pelajaran Bahasa Inggris semester lalu). Tatkala aku pulang kerja, Angie sudah tidur kecapekan. 

Di kolam renang tidak banyak orang lain, hanya sekitar 5 orang, termasuk aku dan Angie. ‘Berendam’ di kolam selama kurang lebih 2 jam, paling banter aku berenang hanya 750m, sisanya ya itu tadi, ngobrol dengan Angie.

Sekitar pukul 08.45 Angie sudah memaksaku berhenti berenang dan segera ke shower room untuk mandi. 

Keluar dari shower room setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras. Uh ... my mouth really watered because I wanted to jump to the pool again!!! And this time, alone, without Angie. Ingin aku menikmati tamparan air hujan di wajahku, disertai angin yang bertiup lumayan kencang. Ingin aku merasa ngelangut karena cuaca yang muram. Betapa inginku digigit kesunyian yang perih. (What a sado masochist I am!!!)

“Silakan loh kalo Mama mau nyebur lagi!” goda Angie, melihatku memandangi air kolam yang beriak-riak kecil dengan sorot mata orang yang sedang nyidam. LOL.

Aku tahu seandainya aku benar-benar nyebur lagi, Angie bakal protes berat. Akhirnya kita hanya nongkrong di bangku tempatku biasa nongkrong, sembari menyeruput secangkir nescafe panas untuk berdua.

Sepulang dari kolam renang, setelah mencuci baju renang kita berdua, aku dan Angie kembali menempatkan diri di atas tempat tidur yang hangat, meringkuk di bawah selimut, beralaskan bantal cinta pemberian mbak Icha. 

What a nice start to enter the ‘mouse year’ according to the Chinese calendar. It rained all day!!!

PT56 17.00 070108

Wednesday, December 19, 2007

Angie versus Mia


Angie means my Lovely Star—Dzikrina Angie Pitaloka; while Mia is the nickname of Mia Thermopolis, the narrator of teen-lit novel entitled Princess Diaries written by Meg Cabot.

I bought the first serial of Princess Diaries in 2003, four years ago, when Angie was twelve years ago. In the first book, Mia was fourteen years old. As far as I remember Princess Diaries is the first teen-lit novel Angie read. At first, she complained why I bought here such a book, “Mia is fourteen while I am only twelve,” she said.
 
“Well honey, only two years difference, that’s not a big deal of course. I do hope you can get a good lesson from this novel.” I reasoned four years ago.

And my guess was right: Angie loved it. And sometimes she even was so absorbed that she saw herself as a “princess to be”. LOL. I assume she mixed it with Cinderella story (with its Cinderella complex!!!) (Un)luckily, in the first serial, Meg Cabot didn’t illustrate Mia as a feminist, only her mother: as a feminist who often did weird things with her weird feminist friends. It was similar to Angie and me: Angie didn’t know much about feminism, and perhaps she also saw me as weirdo: a feminist who was much different from her friends’ mothers, or our female neighbors who seemed to enjoy being full housewives. Unfortunately, in the first series of Princess Diaries, the relationship between Mia and her mother was not as open as my relationship with Angie since Mia seemed not to like her mother’s “weird” things many feminists (probably) do: such as not marrying Mia’s father, although she already got a baby from the man: Mia. One thing I remember (though I don’t remember in which serial Cabot wrote about it): when Mia’s mother offered her to talk about sexuality openly by coming to Mia’s room and encouraging her to talk about it heart to heart: instead of having a lively and comfortable talk with her feminist mother, Mia rejected it, saying to herself: “Sex? Oh no, my mom must be insane thinking that I am already interested in sex.” Well, I don’t remember how old Mia was when Cabot narrated that part. (FYI, I have the complete serials of Princess Diaries, only Angie doesn’t collect them in one bookshelf. Perhaps some books are borrowed by her friends. 

Realizing that as a teenager, Angie is still undergoing unstable mental progress, frankly speaking I often feel worried that Angie will blatantly follow her “role models” in some teen-lit novels she reads, including Princess Diaries. (The era when I bought her some religious collection short stories has been over! It is because in those stories the narration is clearly only between black and white, good and bad, no character is in grey area. In the reality, life is not just black and white like that, oftentimes we are surrounded by “grey things”, moreover I raise Angie as a secular, which in my opinion is often related to grey area.) Mostly after reading some teen-lit novels or watching movies/soap operas on television about teenagers, I wait for Angie to ask me about what she has read/watched, and discuss it together. She seldom does that, though.
 
In the last serial of Princess Diaries (the title is “Princess in the Brink” if I am not mistaken), Mia was narrated to be thinking of doing lovemaking for the first time with Michael. I assumed, no matter what, Cabot wouldn’t let it happen. (Honestly, as a feminist living in Indonesia, an area called “the Eastern” part of the globe, thinking of Angie will do it before getting married—moreover in a very young age, just like Mia who was still sixteen years old, the same age as Angie at the moment—really scared me, although I DO REALIZE that doing sex is everybody’s right.)

I must admit that there was a relief feeling in me when coming to the part that Mia didn’t do that with Michael. (silly of me! LOL.) Surprisingly, Cabot then wrote the “intimate scene” between Mia and her mother, because Mia needed to confide in someone, and she chose her mother as the first person to release her disappointment knowing that in fact Michael was no longer virgin. 

After reading that, I noticed that recently, Angie loved to be intimate with me on the bed before both of us fell asleep: one thing she used to love doing as a kid, but she seldom did that after she reached teenage.

Two nights ago, while lying on the bed in the dark, Angie was very close to me, kissing my right ears, and whispered, “You smell nice Mama. Will I still smell good like you after I become a mother?” LOL.

As what always happens to anybody else, kids will always be kid, won’t they? Anyway, I still love when Angie does things like what she used to do to me when she was a small kid.  A mother will always be a mother? LOL. LOL.

PT56 15.30 151207

Thursday, December 13, 2007

My Intermediate 4 Class

My Intermediate 4 class, scheduled on Monday - Wednesday at 17-19 is the naughtiest class of mine this term. The naughtiest here can be meant the noisiest, the craziest, as well as (sometimes) the most annoying class. LOL.
 
This class consists of 19 students, only one of them is college student, one is a junior high school student, and the other 17 students are senior high school students. You can guess their age ranges from fifteen to nineteen years. The senior high school students go to four different schools, one to SMA N 7, I must say not a favorite school in Semarang, LOL, three to SMA N 1 Kendal, a little town in the west of Semarang, perhaps the most favorite school there, LOL, three go to SMA N 5, quite favorite school in Semarang, LOL, and the rest go to the same school with my Lovely Star, Angie, SMA N 3 Semarang, the most favorite state school in my hometown. Therefore, most of them know Angie, and they know that I am Angie’s mother. I don’t know whether due to this relationship, they feel so comfortable in my class, so that they do anything without feeling worried that I would get annoyed.

I must say that there is one troublemaker in this class, a student going to SMA N 5. I am not sure about his capability in mastering the material, but he is very capable to attract his classmates’ attention. He out of the blue loves humming in the classroom; he seems that he doesn’t realize how ugly his voice is. LOL. No one will enjoy listening to his hum, I believe. LOL. But since he is mostly successful to joke around, makes his classmates laugh with his foolish act (such as flirting a girl, by touching her fingers/hand, then kissing his own hand after that, while closing his eyes. Very annoying to me, but very amusing to his classmates!)
I am not always angry with him though when he intentionally does foolish acts to attract his mates’ attention and to make them laugh.
 
There is another student who goes to SMA N 3, the same batch with Angie. He is the one who asked me to write something about his class in my blog. LOL. Well, his name is Rian (he asked me to write his real name here!) with nickname “Pussy”. LOL. (Gosh, doesn’t ‘pussy’ belong to girls? LOL. LOL.) He is quite good-looking, and he claimed that one day when he went sightseeing with some friends—Angie was there too—an agent of one teenage magazine from Jakarta offered him, “Wanna be a model for ANEKA YES?” I in fact didn’t want to believe in him. LOL. Unfortunately (or fortunately), when I asked Angie about it, she said, “Yes, Mama, someone out of the blue offered him like that when we went sightseeing at the mall.” Nah lo. LOL.

Btw, Rian is having a crush on Angie’s best friend, Nana. Several days ago, he asked me if I had her picture, so I encouraged him to visit Angie’s blog and download Nana’s picture by himself. At the same time, I promoted this blog to my students. LOL.

So, Rian, this article was especially written for you. 😅

LL 16.45 131207

Tuesday, December 04, 2007

Dream is (not always) reality

Angie in 2007

 

Sekolah Angie sedang heboh!!!


Pasalnya beberapa hari yang lalu, well let’s say around a week ago, seorang anak kelas XI IA 9, yang mengaku mimpinya sering menjadi kenyataan, bermimpi dalam perjalanan study tour ke Bali, dua bus mengalami kecelakaan, satu bus terbakar, kemudian meledak, sedangkan bus yang satu lagi—yang konon dinaiki kelas IS (dulu disebut IPS)—ditabrak kereta api. Angie sempat bercerita tentang hal ini kepadaku, namun aku tidak menanggapinya dengan serius, yah ... aku anggap sebagai cara seorang anak mencari sensasi. 


Hari Sabtu kemarin, beberapa siswaku berbincang tentang hal ini dengan ribut di dalam kelas, sebelum aku memulai pelajaran. Aku sendiri sudah lupa dengan cerita Angie tentang seorang teman yang tidak dia kenal secara langsung yang bermimpi tentang kecelakaan tersebut. Yang aku tangkap dari perbincangan beberapa siswaku itu adalah dia tidak diperbolehkan ikut study tour ke Bali yang akan diselenggarakan awal bulan Januari 2008.


“Your parents do not let you join the study tour to Bali?” I asked her.


“In fact the problem is not as simple as that, Miss. Tapi ada seorang anak kelas XI IA 9 yang mengaku bermimpi rombongan sekolah mengalami kecelakaan. Dan anak itu mengaku mimpinya sering menjadi kenyataan.”


Aku langsung ingat cerita Angie beberapa hari lalu. 


“Have your teachers known about this?” tanyaku.


“Well, some yes, Miss. Our religion teacher said, “Just wait and see.” We wanted the principal to postpone the study tour several months, not in January but he did not agree. Kalau kecelakaan itu benar-benar terjadi gimana dong?”


“Do you believe if God has destined us to die, we cannot postpone it? not even any single minute?” tanyaku lagi.


“Yang penting kan kita sudah berusaha Miss?” kata salah satu dari mereka.


Aku kemudian bercerita pengalaman seorang rekan guru sekitar satu tahun yang lalu. Satu hari anaknya minta ijin untuk ikut rombongan teman-temannya yang akan pergi ke Jogja untuk mengikuti sebuah kompetisi. Sang ayah—rekan guruku itu—bilang,


“Nak, sebentar lagi kamu akan pergi study tour ke Bali bersama teman-temanmu. Kalau ada apa-apa dalam perjalanan ke Jogja, yang menyebabkan kamu tidak bisa ikut ke Bali, kamu akan sangat menyesalinya nanti.”


Sang anak yang termasuk penurut ini pun menuruti saran sang ayah, dia tidak jadi ikut teman-temannya ke Jogja. Pada hari yang sama dia bermain sepak bola bersama teman-teman yang lain, di halaman sekolah, seusai pelajaran hari itu. Di tengah-tengah permainan, karena tendangan bola yang sangat keras menimpanya, dia pun terjatuh. Entah bagaimana ceritanya, namun salah satu tangannya (aku lupa kiri atau kanan) patah, yang menyebabkannya tidak bisa masuk sekolah selama beberapa hari setelah itu, karena harus mengikuti terapi penyembuhan. Temanku membawanya ke ‘sangkal putung’ yang secara ajaib mengobati patah tulang tanpa melalui operasi. 


Akibat lain? Dia tidak jadi ikut study tour ke Bali.


Mendengar ceritaku, para siswaku yang semula ribut memperbincangkan tentang mimpi aneh itu, pun terdiam. Seorang siswa lain, dari sekolah yang lain menyelutuk,


“Biasanya sih mimpi yang diceritakan kepada pihak lain justru tidak jadi kenyataan. Sekarang kan seluruh sekolah tahu mimpi itu. So, just relax!!!”


Pada saat yang sama aku teringat salah satu cerita dalam AKAR, Guru Liong yang telah memimpikan berulang kali bahwa dia akan menemukan seorang bayi di bawah pohon asam yang terletak tak jauh dari vihara tempat dia tinggal dan mengabdikan dirinya kepada Buddha. Dan mimpi itupun menjadi nyata. Setelah beberapa bulan memimpikan hal tersebut, satu hari di waktu pagi, Guru Liong menemukan seorang bayi. Sang bayi diberi nama BODHI, karena kalau diberi nama ASAM sesuai nama pohon yang menaunginya tatkala dia ditemukan, akan terdengar janggal bagi telinga orang Indonesia. LOL. 


Aku percaya orang-orang tertentu diberi kelebihan oleh Sang Maha Kuasa untuk dapat ‘meneropong’ masa depan, yang mungkin saja melalui mimpi-mimpi yang hadir di tengah tidurnya. Dan sulit bagi kita untuk membedakan—at least for me—yang manakah yang memang diberi kelebihan ataukah hanya sekedar ‘beruntung’ apa yang dia impikan menjadi kenyataan.


Aku ingat di kelas yang sama, sekitar satu bulan yang lalu, kita membahas ‘dream’ yang dimaksudkan ‘keinginan’, namun beberapa siswa tidak bisa membedakan ‘dream’ yang datang dalam tidur sebagai penghias tidur malam, ataukah ‘dream’ yang merupakan harapan atau keinginan untuk masa depan kita. I asked my students, “Have you ever dreamt of something that you thought impossible for you to reach? But after some time, you got that.”


A student—the same student who was forbidden by her parents to follow the study tour to Bali next January due to the weird dream coming to a student—said, 


“Several months ago I dreamed of entering Social major. The following morning, when my father took the report at school, the report told me that my dream came true.”


“Did you really want to major in Social before that?” I inquired.


“No Miss. I wanted to major in Science of course.”


PT56 15.40 021207

Monday, October 22, 2007

Angie and Pocahontas




“Mama, nanti tolong pinjamkan VCD POCAHONTAS di Lestat ya Ma. Ada tugas dari sekolah?”
Itu adalah sms yang Angie kirimkan beberapa minggu yang lalu.
“Kalau Lestat punya Sayang, ntar Mama pinjamkan. Mama juga mau nonton. Soalnya di rental yang di Puspowarno ga punya. Beberapa tahun lalu Mama nyari kesana ga ada.” Itu sms jawabanku.
Dan ternyata Lestat VCD/DVD rental tempatku menjadi member tidak punya VCD “Pocahontas”, yang dimiliki hanya “Pocahontas 2”. Angie semula tidak mau pinjam, namun aku bilang, “It’s okay honey. Let’s rent it. We will look for the story of Pocahontas in the internet, and then combine it with the story in “Pocahontas 2”.
Sesampai rumah, Angie langsung nonton “Pocahontas 2” yang ternyata membuatnya bingung. “Angie ga bisa bayangin ceritanya bagaimana Mama. Harus nonton dari yang pertama dulu.”
Akhirnya aku buka-buka buku THE NORTON ANTHOLOGY OF AMERICAN LITERATURE. Aku baca pas bagian John Smith, salah satu the first settler di Amerika Serikat di awal abad ke 17, sekitar tahun 1620-an. Ada sedikit cerita tentang Pocahontas tatkala dia dan rakyatnya membantu John Smith survive in that wilderness.
*****
Angie dan kelompoknya mendapatkan tugas dari guru Bahasa Inggrisnya untuk mementaskan cerita “Pocahontas”. Mementaskan di sini maksudku tidak hanya bermain di atas pentas, namun merekamnya menggunakan handycam. Untungnya salah satu teman di kelompoknya mendapatkan DVD POCAHONTAS, sehingga Angie dan teman-temannya pun menonton bareng, termasuk VCD POCAHONTAS 2 yang kusewa dari Lestat, untuk mendapatkan gambaran what the story is like.
Kemudian mereka berbagi tugas. Dua anak membuat naskah “Pocahontas” ala mereka. Kemudian mereka menyerahkan naskah itu kepada Angie, sembari berkata, “Bilangin Nyokapmu agar diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dong.” Wah ...  “Jangan lupa, bilangin agar pilihan kata dan grammarnya jangan terlalu canggih, ntar ketahuan kalau naskah itu bukan bikinan kita.” LOL.
Kenyataannya hari Senin 8 Oktober lalu, sepulang dari kursus Bahasa Inggris, (sekitar pukul 21.00, karena mampir dulu ke warnet, trus mampir ke “permak jeans”, baru balik ke rumah, mana hujan deras banget malam itu, yang membuat busi motorku terciprat air banjir dan mogok 10 hari setelah itu), Angie langsung nongkrong di depan monitor desktop sehingga aku mengetik/membaca artikel menggunakan the cutie. I made her a cup of hot nescafe. Angie menerjemahkan naskah yang dibuat temannya ke dalam Bahasa Inggris sendiri, tanpa merepotkanku. Hanya sesekali bertanya beberapa kosa kata, atau grammar.
Sekitar pukul 23.30 aku sudah teler sedangkan Angie masih bekerja di depan desktop. Setelah mematikan the cutie, aku langsung menempatkan diri di pojok, memeluk guling dan pamitan ke Angie, “Mama udah ga kuat Sayang. Mama bobo duluan ya?” Aku pikir tentu ga lama lagi Angie akan nyusul tidur, karena dia kan ga betah melek sampai malam?
Sekitar pukul 02.30 aku terbangun, dan terkejut melihat Angie yang tetap dalam posisi yang sama sebelum aku jatuh tertidur: duduk di depan monitor, mengetik, sesekali memelototi kertas berisi naskah berbahasa Indonesia yang dia letakkan di samping monitor, sambil sesekali juga chatting lewat hape menggunakan fasilitas ‘MXIT” yang akhir-akhir ini populer melanda anak-anak remaja di Indonesia. Oh God, I felt so guilty, to let my Lovely Star work all alone. “Honey ... belum bobo dari tadi?” teriakku.
Dengan tenangnya, Angie menjawab, “Belum Ma. Lah teman-teman minta naskah ini sudah jadi besok. Kita mau latihan di sekolah sekitar pukul 09.00.”
Namun akhirnya sekitar pukul 03.00, Angie beranjak ke tempat tidur, berusaha mengistirahatkan mata dan tubuhnya sejenak sebelum akhirnya kubangunkan pukul 03.30 untuk makan sahur.
Seusai sahur, Angie tidur, setelah sempat mengeluh, “Kerjaan belum selesai. Angie sudah capek dan ngantuk. Ah, Angie mau bobo dulu.”
Akhirnya sekitar pukul 05.00-06.30 aku menyelesaikan menerjemahkan naskah itu.
Angie bangun sekitar pukul 06.45 setelah alarm di hape berbunyi. Dia langsung duduk di depan monitor komputer lagi, siap melanjutkan pekerjaannya. Namun, sebelum ‘nyawanya berkumpul lagi’, LOL, aku bilang padanya, “I have finished it honey. It’s done now.”
Angie menatapku dengan bengong (belum benar-benar bangun dia kayaknya LOL), but then smiled, didn’t say anything. Namun dari sorot matanya aku tahu, she wanted to say, “Thanks a lot Mama. You are the best.” Cie ... LOL.
*****
Minggu pagi 21 Oktober 07 aku sedang bersiap-siap berangkat berenang tatkala aku iseng membaca sms di hapeku. Ada sms dari teman Angie untuk mengajak berkumpul di sekolah sekitar pukul 07.00 karena mereka akan berangkat menuju Gedong Songo untuk pengambilan gambar drama POCAHONTAS. Sehari sebelumnya Angie dan beberapa temannya sudah ke sana, hunting tempat-tempat untuk pengambilan gambar.
“Angie mau pergi lagi hari ini?” tanyaku, retorika. LOL.
Angie yang masih molor cuma mengangguk.
“Mama pengen berenang nih. Gimana?”
“Yah ... ga ada yang ngantar Angie ke sekolah dong Ma? Angie sama teman-teman janjian ketemuan di sekolah pukul 07.00, trus berangkat bersama-sama ke Gedong Songo.”
Setelah sempat bingung sejenak, apakah aku akan memanjakan keegoisanku untuk berangkat berenang, atau mengalah to stay home dan mengantar Angie ke sekolah, akhirnya I made up my mind: kutanggalkan baju berenangku dan menyalakan desktop.
Mengetik sedikit di diary, main game sebentar, kemudian menyiapkan sarapan Angie setelah dia usai mandi.
Sekitar pukul 07.00 aku mengantarnya ke sekolah. Seorang teman Angie wanti-wanti, “Janjian kumpul di sekolah jam 07.00 ya Ngie? Jangan telat loh!”
Kenyataannya, aku harus menemani Angie menunggu teman-temannya kurang lebih 40 menit di depan gedung sekolah agar Angie ga perlu merasa menjadi seperti “anak ilang”. LOL.
Pulang dari mengantar Angie ke sekolah, I made a cup of cold cappuccino, karena meskipun masih pagi, udara di Semarang sudah terasa hangat, sebelum akhirnya menjadi panas di siang hari.  Then, balik ke kamar, nongkrong lagi di depan monitor desktop.
Dan inilah hasil my ‘humming’ about Angie and Pocahontas. LOL.
Btw, beberapa minggu lalu waktu Angie meminta sumbangan ide untuk menulis paper di tempatnya kursus bahasa Inggris, dengan iseng aku bilang, “Hubungan antara Pocahontas dan sejarah berdirinya negara Amerika Serikat...”
Angie langsung manyun. LOL. Dan aku bilang, “Well, your class teacher will comment, ‘Ini sih Bu Nana banget!!!’” LOL.
“Atau ini Sayang ... ‘Keberadaan pusat wisata kuliner Waroeng Semawis sebagai salah satu upaya pembauran etnik di Semarang’ ...”
Angie pun tambah manyun. Hahahahaha ...
PT56 09.20 211007

Wednesday, September 19, 2007

Menulis

Salah satu teen-lit novel kesukaan Angie adalah serial “Princess Diary” yang ditulis oleh Meg Cabot yamg tak lagi seorang teenager. Seperti judul bukunya, isi novel ini tentu saja berupa tulisan diary sang Putri Mia Thermopolis. Kalau tidak salah, pertama kali aku membelikan seri pertama Princess Diary untuk Angie tahun 2003. Usia sang tokoh imajiner, Mia Thermopolis, yang 14 tahun, tidak jauh berbeda dari Angie yang waktu itu berusia 12 tahun membuat Angie merasa tidak asing dengan karakter Mia, meskipun Mia hidup di kota metropolitan New York. 


Karena begitu menyukai cara Mia menulis diary-nya, aku lihat Angie pun terpengaruh dengan cara Meg Cabot menulis sebagai Mia. (Tentu saja aku mengetahuinya dari membaca diary Angie secara diam-diam. LOL.) Aku cukup terkejut mengetahui betapa Angie begitu mudah mengaplikasikan cara Meg menulis diary seorang anak perempuan berusia 14 tahun. 


*****

Ketika aku membaca KUMpulan CERpen milik Djenar Maesa Ayu—mulai dari “Mereka Bilang Saya Monyet” dan mengetahui bahwa Djenar belajar menulis dari Sutardji Calzoum Bachri, Budi Darma, dan Seno Gumira Ajidarma, secara lintas—maksudku aku belum melakukan riset yang mendalam—aku melihat cara menulis Djenar yang agak mirip dengan ketiga gurunya tersebut. 


Hal ini mengingatkanku akan tuduhan orang kepada Ayu Utami bahwa sebagian dari novelnya “Saman” dituliskan oleh Goenawan Mohammad. Siapa tahu cara Ayu Utami menulis mendapatkan banyak pengaruh dari GM, sehingga orang-orang yang tidak rela karena seorang perempuan memenangi Sayembara menulis novel dengan serta merta menuduh GM terlibat dengan aktif—baca  “menuliskan”—dalam beberapa bagian novel tersebut. 


Angie tidak belajar secara khusus dari Meg Cabot cara menulis diary, hanya dengan membaca teen-lit yang berjudul “Princess Diary”, di mataku Angie sudah cukup berhasil “meniru” cara-cara Meg. Apalagi Ayu yang berkawan dekat dengan GM. Anything wrong with that?


Satu waktu ketika aku konsultasi tesis dengan Professor Bakdi Soemanto—salah satu budayawan yang tinggal di Jogjakarta—aku sempat menanyakan kepada beliau tentang hal “tiru-meniru” ini, atau, lebih “terhormat”nya sebut saja “proses belajar menulis” dari orang lain. Pak Bakdi mengiyakan bahwa hal tersebut sangatlah mungkin terjadi. Akan tetapi pada kasus Ayu dan GM, ternyata beliau lebih ‘setuju’ pada publik yang menuduh GM “menuliskan beberapa bagian” novel SAMAN. :) Kemudian beliau malah bercerita tentang orang yang dia sebut “Mas Goen” ini yang konon memang terlibat secara emosial dengan Ayu.


Darimanakah aku belajar menulis? Aku tidak pernah belajar menulis secara khusus dari siapa pun. Aku belajar menulis secara otodidak. Seandainya ada orang yang mengatakan cara menulisku mirip si A, atau B, atau C, well ... bisakah aku mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia yang benar-benar sempit? :)


PT56 14.14 180907

Friday, September 14, 2007

Angie's Oral Exam


 

Angie has been studying English in an English course where I work for around three years. However, she has never been in my class, and I have never been an oral examiner in her class during the promotion test. This term—term III 2007—I almost became her class teacher in High Intermediate 3. (Un)fortunately, when Angie knew about it, she asked me to exchange the class with another workmate of mine. So, she got another teacher in her class—not me.

A week ago when the schedule for the promotion test was issued, which teacher would proctor which class, and which teacher would oral-examine which class, I found my name to be the oral examiner of Angie’s class. I told my workmate who was teaching Angie’s class this term, “I will oral examine Angie’s class. But this time, I will not exchange it with anybody else. I will not tell her either so that it will be a surprise for her.

“I want to know her capability in English,” I reasoned. My workmate smiled widely to hear that.
In the morning before the oral test, Angie asked, “Who will oral examine my class, Mama?”
“I am sorry honey, I haven’t taken a look at the schedule yet,” I avoided giving an answer. LOL.

*****

That afternoon, after the bell rang, I went to Angie’s classroom. I didn’t find her among the students crowding the classroom. However, after I entered the room, talking to some students inside, I saw Angie standing outside, trying to peep who was the oral examiner, and seemed surprised to see me there. I waved and smiled to her. LOL. I heard some of her classmates say, “Angie, you don’t need to take oral test here. You can do it later, at home.” LOL. LOL.

In her turn, as usual, Angie paired up with Nana, her close friend since they were in elementary school. When I asked Angie to read a passage, to score her pronunciation, she seemed relaxed, as if she wanted to tell me, “No need to worry about me, Mama. I am good.” LOL. And yes, she didn’t make any mistake at all! (FYI, she often complains at home when I ask her to practice her pronunciation.) When I gave her compliment, “Good” with one of my thumbs up, she made a V with her right hand on her head, confidently. LOL. By doing that, as if she wanted to tell me, “See? No need to worry about me, right?” LOL.

After the reading step to score the pronunciation, the examiner gave a case to be discussed in pairs. I gave Angie and Nana a case of “designing babies”, Perhaps because both of them—especially Angie—felt really at ease with me, they seemed very relaxed when discussing the topic. I was sometimes amazed with Angie’s answer, and I had to tell myself that she had my intellect in her. LOL. LOL.

Nana agreed with designing babies phenomenon, such as what kind of sex a couple wants to have for their baby. Nana said she wanted to have a baby girl, “So that I can do girly things to her, to make her as beautiful as me.” She said jokingly but confidently. LOL. Angie is on the way around. Although she didn’t mind people’s business to choose what sex for their future babies, Angie didn’t want to do that. “It is up to God what my baby will be. I would prefer to have a surprise rather than a made-up one.”

That’s my girl!!! LOL.

LL 18.53 130907

Saturday, September 08, 2007

Peraturan baru ...


 

Tadi pagi, waktu sedang bersiap-siap akan berangkat sekolah, tiba-tiba Angie bilang, “Ma, sekarang ga boleh pake jaket kalo ke sekolah!”

“Lah, emang kenapa?” tanyaku heran.

“Entahlah. Pokoknya begitu masuk pintu pagar, jaket harus dilepas. Kemarin Mama perhatikan ga dua guru yang berdiri di dekat pintu masuk? Mereka melototin Angie kan? Untung jaket belum Angie pake.”

“Well, kalau tidak ada alasan jelas mengapa seorang siswa ga boleh pake jaket itu kan tidak mendidik namanya. Ingat salah satu adegan dalam film NAGABONAR JADI 2 waktu si supir bajaj bilang ke Nagabonar bahwa bajaj dilarang masuk ke jalan tertentu di Jakarta?”

Angie tersenyum geli mengingat adegan itu.

“Di situ, Nagabonar ngotot meminta jawaban yang jelas dari Tukang Polisi (huehehehe ... ada ga tukang polisi? LOL) yang jaga di jalan bebas bajaj, namun dia tidak mendapatkan jawaban yang jelas kecuali ‘memang peraturannya begitu Pak!’ Lah, pertanyaannya mengapa ada peraturan seperti itu? Dan si tukang polisi yang tidak tahu alasannya cuma muter-muter aja jawabannya. Ketika dilihatnya Nagabonar tetap ngotot akhirnya si polisi bilang, merengek tepatnya, “Pak tolong saya Pak. Kalau Bapak tetap nekad juga masuk jalan ini naik bajaj, saya yang akan dipecat.” Nagabonar yang tetap terlihat penasaran akhirnya mengalah jalan kaki karena dia tidak mau membuat si polisi itu terkena masalah. Polisi itu kan cuma orang kecil di jajarannya. Nah, kalau sekolah Angie ingin mendidik anak-anak, tolong dong diberi alasan yang jelas mengapa siswa tidak boleh pake jaket tatkala memasuki gedung sekolah. Jangan asal membuat peraturan tanpa dasar yang jelas.”

(Beginilah salah satu caraku mendidik Angie untuk berpikir secara kritis.)

Angie cuma manggut-manggut. But then tiba-tiba aku justru mendapatkan jawabannya.

“Honey, do you remember one bad happening during orientation period for the new students? You told me some new students lost their cellphones when they had to attend some ceremonies outside the classrooms. You were even one of the accused students only because you had two cellphones. And then later the school found some smugglers entering the school who stole some cellphones. Mereka pura-pura menjadi siswa SMA N 3 dan memanfaatkan masa orientasi sekolah itu—karena biasanya terjadi kelengahan pada masa tersebut berhubung biasanya anak-anak banyak yang berkeliaran di luar kelas karena kegiatan yang dilakukan pada saat tersebut. Mungkin sekolah ingin mengantisipasi hal seperti itu sehingga tatkala para siswa masuk gedung sekolah, mereka harus menunjukkan identitas mereka dengan menunjukkan badge sekolah.”

Sekali lagi, Angie manggut-manggut. Kali ini wajahnya agak cerah karena menemukan jawaban mengapa tiba-tiba siswa-siswi SMA N 3 tidak boleh memakai jaket tatkala memasuki areal sekolah.
Btw, berhubung gosip terheboh yang baru saja kuperbincangkan dengan Angie semalam adalah free sex masuk sekolah, yang menggayuti pikiranku sebenarnya adalah apakah ada hubungan antara siswa tidak boleh memakai jaket tatkala memasuki gedung sekolah dengan gosip terheboh tersebut? Barangkali pihak sekolah menengarai para pelaku free sex tersebut bukan anak-anak SMA N 3? Tapi semalam Angie sempat menyebut beberapa siswa yang telah diinterogasi pihak sekolah berkenaan dengan hal tersebut. Dan seperti pada tulisanku sebelum ini, sudah ada ‘shock therapy’ yang dilakukan oleh pihak sekolah—meskipun menurutku tidak selayaknya dilakukan oleh well-educated people: langsung menuding oknum-oknum tertentu dengan sebutan yang memerahkan telinga, misal “perek”. Kalo untuk siswa laki-laki, apa ya sebutannya? Angie didn’t mention it. Mengapa shock therapy ini hanya berlaku kepada para siswa perempuan saja? Misogini memang tetap terjadi di segala lapisan masyarakat.
Hhhhhhhh ... ... (aku menghela nafas yang benar-benar panjang ...)

PT56 16.52 060907

Friday, September 07, 2007

Free Sex: ‘co-culture’ in Indonesia (already)?

the pic was taken at PC swimming pool, after swimming, not at Kahuripan

 

Semalam, Rabu 5 September 2007, aku dan Angie makan malam di kafe “Kahuripan”, tempat kita biasa ‘merayakan’ sesuatu hanya berdua saja. Misal: waktu Angie lulus SMP lebih dari setahun yang lalu (kebetulan dia bersekolah di SMP N 1, yang lokasinya dekat dengan kafe “Kahuripan”), kemudian Angie diterima di SMA N 3, Angie masuk jurusan IPA—jurusan yang dia inginkan, agar dia bisa mendaftar di Fakultas Psikologi nanti setelah lulus SMA. Occasion apa semalam? Tentu kemenanganku dalam lomba blog yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata. Namun, tentu saja tidak hanya dalam occasions tertentu saja aku dan Angie mampir ke kafe tempat nongkrong anak-anak SMP N 1 dan SMA N 6 Semarang (kedua sekolah ini kebetulan terletak di jalan yang sama, Jl. Ronggolawe Semarang). Kadang-kadang kalau aku dan Angie kangen masakan yanb biasa kita pesan di kafe ini.

Seperti biasa, yang paling kunikmati tatkala eating out berdua dengan Angie adalah saat Angie bercerita tentang teman-temannya, sekolahnya, dll. Pada saat-saat seperti itu, Angie biasa bercerita banyak tanpa aku perlu ‘menginterogasinya’. LOL.

Dan, yang diceritakan oleh Angie semalam benar-benar membuatku shocked—areal sekolah telah menjadi tempat pilihan untuk melakukan hubungan seks!

Sebenarnya Angie telah membawa ‘wacana’ ini kepadaku sejak seminggu yang lalu, namun aku tidak dengan mudah mempercayainya. Apalagi tatkala Angie menyebut nama seorang guru yang—I am really to say this --menurutku sok tahu dan fussy banget. (Ini berdasarkan pengalamanku sendiri waktu belajar di sekolah itu lebih dari 20 tahun yang lalu.)

Aku bilang ke Angie, “Honey, don’t easily believe in what people say. Moreover you know I know that particular teacher well. Don’t easily judge your friends to do that so-called immoral thing. Ok?”

“But Mama, I am sorry to say that she was not the only one who said such a thing. Some other teachers also said the same thing. One of the janitors also saw some students doing ‘that’ in the classroom. The rumor said that the students threatened the janitor not to tell the teachers.”

Waktu itu obrolan berhenti di situ mungkin karena suasana yang kurang mendukung kita berdua untuk curhat.

Obrolan baru berlanjut tadi malam di kafe “Kahuripan”. Angie bercerita lebih panjang lebar ini itu, itu ini, bla bla bla ...

Dan aku hanya bisa menghela nafas panjang.

Aku mencoba mengingat kembali zamanku dulu tatkala masih duduk di bangku SMA. Tidak ada kisah sepasang cowo cewe terpergok guru ataupun siapa sedang melakukan sesuatu yang tidak selayaknya dilakukan di sekolah. Ada gosip yang mengatakan beberapa temanku saat itu kalau pulang dijemput ‘om om’. Namun tentu saja waktu itu tidak ada kisah ‘terpergok’ di sekolah. Dan aku ingat, pada waktu itu, ruang-ruang kelas di gedung SMA N 3 dipakai oleh sekolah swasta di siang sampai sore hari, SMA PGRI 2 yang memang waktu itu belum memiliki gedung sendiri. (Btw, sekolah itu masih eksis ga ya sekarang? Kok aku ga tahu kelanjutannya? Atau memang aku ini tipe pasif dan ignorant. 😒)

Aku yakin, kisah ini tidak hanya terjadi di sekolah terfavorit di Semarang. Tentu hal ini pun terjadi di sekolah-sekolah lain. Fenomena ini telah menggejala di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar.

(Aku jadi ingat cerita seorang teman chat. Dia pernah chat dengan seorang cewe, masih duduk di bangku SMA. Cewe ini mengajaknya kopi darat. Setelah kopi darat, si cewe yang mengendarai mobil lumayan mewah ini mengajaknya mampir ke sebuah hotel dan mengajaknya having sex. Berhubung si cewe ini cantik, dan temanku mengaku sebagai seorang laki-laki hetero yang ‘normal’, (yang menolak berarti tidak normal. LOL.) they had sex. Waktu mengetahui bahwa ternyata si cewe masih perawan—baca  temanku mengaku dia yang merobek selaput dara si cewe cantik berusia belasan tahun itu, terbukti dari darah yang keluar dari vagina—temanku terheran-heran. Konon setelah kejadian itu, mereka tidak pernah kontak satu sama lain. Tatkala temanku kudesak kira-kira motivasi apa yang dimiliki oleh si cewe itu to invite him for a hot date, dia bilang, “Well, mungkin saja dia taruhan dengan temannya, atau apa kek, dimana dia bakal malu kalau ketahuan dia masih ‘perawan’ dan belum punya pengalaman to have sex. Di Jakarta hal seperti ini sudah umum!”)

Aku ingat zaman kuliah waktu mempelajari tentang ‘sub-culture’ (yang kemudian kuketahui sebagai ‘co-culture’ untuk menunjukkan kesetaraan ‘culture’ ini dengan ‘culture’ yang lain, dan bukan ‘sub-culture’ yang konotasinya berada ‘di bawah’ ‘culture’ yang mainstream) ada pertanyaan, “What is sub-culture of America?” pertanyaan yang kedengarannya nampak mengada-ada ini bisa kita ganti dengan “What is sub-culture of Indonesia?”

Di awal kuliah di American Studies UGM, ada satu pertanyaan yang menggelitik dari salah satu presenter yang juga dosen pada kesempatan “General Stadium”. “What is the culture of America?” Kita-kita yang (masih) orang awam tentang American Studies, menjawab sekenanya, such as, “free sex”, “individualistic” “hip hop culture”, “pluralism” “freedom” dan masih banyak lagi. Bagi mereka yang pernah mendapatkan kuliah “American Studies” waktu duduk di bangku S1, mungkin menjawab dengan jawaban yang lebih keren, seperti “American dream: from rags to riches”, “middle class society”, “the pursuit of happiness”, dll.

Seandainya pertanyaan “What is the culture of Indonesia?” mungkin jawaban yang akan keluar adalah, “gotong royong, andap asor, toleransi, ramah tamah,” dll. Free sex? Tentu kita akan dengan lantang mengatakan “TIDAK!”

Namun lihatlah apa yang telah terjadi pada bangsa kita belakangan ini. Tidak adakah free sex di kalangan orang-orang Indonesia? Jawabannya tentu adalah “ADA”. Akan tetapi karena kita tidak mengakuinya, bisa saja free sex—yang nampaknya telah terjadi secara meluas di masyarakat—kita sebut sebagai ‘co-culture’. Mau tidak mau it has existed.

Bagaimanakah pihak sekolah Angie menyikapi hal ini? Pihak sekolah mulai lebih ketat mengadakan pengawasan kepada anak-anak. Jika sebelum ini para guru membiarkan para siswa-siswinya ‘berkeliaran’ di sekolah (dengan alasan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler ini itu, aktif di OSIS dan sebagainya) setelah jam sekolah usai, sekarang para guru mulai dengan ketat ‘mengusir’ anak-anak untuk segera meninggalkan areal sekolah jika memang tidak ada kegiatan yang jelas.
“Do you want to know why honey?” aku tanya Angie.

“Why Mama?” Angie bertanya balik.

“Pihak sekolah tidak mau ikut bertanggung jawab. No matter what, jika hal tersebut terjadi di sekolah, pihak sekolah akan ikut dituding sebagai pihak yang membiarkan hal tersebut berlangsung. Namun jika hal tersebut terjadi di luar sekolah, pihak sekolah merasa aman, anak-anak bukan lagi merupakan tanggung jawab sekolah begitu meninggalkan areal sekolah. Anak-anak harus bertanggung jawab akan segala hal yang mereka lakukan sendiri. Btw honey, how did school know some particular students who have done that? Even as you told me before, school even also knew how many times the students have done that?”

“Ya mereka dipanggil lah Ma oleh BK, kemudian diinterogasi. Masak waktu si X ditanya, ‘apa kamu ga takut kalau pacarmu hamil?’ dengan innocent X bilang, ‘Tidak dong Bu. Saya kan pake kondom.’“
Hal ini mengingatkanku atas satu diskusi di satu kelas beberapa tahun yang lalu. Waktu aku tanya ke siswaku tentang free sex, salah satu dari mereka menjawab, “Tidak setuju Ma’am. Pertama, dosa. Kedua, ada kemungkinan terkena penyakit kalau ganti-ganti pasangan. Ketiga, kalau si cewe hamil, kan repot saya? Saya masih belum mau menikah dan harus bertanggung jawab memberi makan anak orang lain. Lha wong saya sendiri masih ngikut makan orang tua.”

Tatkala kudesak di antara ketiga alasan yang dia berikan kepadaku yang manakah yang lebih penting, dia mengaku “Takut terkena penyakit kelamin.” Satu hal yang lebih konkrit ketimbang alasan yang pertama.

Dari perbincanganku dengan Angie, aku belum bisa menemukan apa yang membuat free sex ini lebih mengglobal di Indonesia. Guru-guru Angie tidak—atau mungkin Angie yang tidak tahu, sehingga aku pun tidak tahu—atau belum mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan remaja-remaja itu bereksperimen dengan seks? Jika kita tahu ‘sumber’nya akan lebih mudah mengatasinya ketimbang memberikan ‘hukuman psikologis’ kepada para pelaku—yang terpergok melakukannya di sekolah dengan julukan yang sama sekali tidak pantas, contoh ‘perek’ dan sebagainya itu.

For me myself with Angie, the time has come for both of us to talk about sex openly so that Angie doesn’t need to look for information from irresponsible source.

PT56 11.55 060907

Monday, September 03, 2007

Cewe nembak duluan



What do you think of a girl shooting a boy first?


Sebagai seorang feminis yang percaya bahwa perempuan mempunyak hak yang setara dengan laki-laki in all aspects, tentu saja aku menganggap seorang cewe ‘menembak’ cowo terlebih dahulu sebagai sesuatu yang boleh-boleh saja. (Kayaknya aku sudah pernah nulis tentang hal ini deh, lupa. J) Aku juga yang ‘mengompori’ Angie untuk berani nembak cowo yang dia taksir waktu dia duduk di bangku SMP.


Beberapa minggu yang lalu, aku iseng bertanya kepada siswa-siswi Elementary Class 2-ku. FYI, ada satu siswi yang di mataku tomboy karena dia selalu berpakaian ala cowo, misalnya memakai T-shirt gombrong, cara duduk dan berjalan gagah seperti cowo, bahkan hobby-nya pun macho: modifikasi alias utak utik motor plus olah raga bela diri (aku lupa apakah karate, silat, taekwondo, dll). Di luar dugaanku ternyata siswi yang tomboy itu menjawab pertanyaanku “Is it okay for a girl to shoot a boy first?”, 

“NO!” dengan sangat keras. “It is embarrassing Ma’am,” lanjutnya. Loh?


Namun ada beberapa siswi lain yang nampak girlie yang mengatakan, “That’s okay Ma’am.” 


“Why is it okay do you think?” tanyaku lagi.


“Kalau cowonya pemalu dan kitanya ga memulai duluan, gimana ketemunya coba? Nungguin melulu? Ah, garing amat! Apalagi kalau keburu dia digaet cewe lain!”


LOL.


Jawaban ini mengingatkanku pada kakakku cowo yang pemalu kepada makhluk hawa. Kakakku itu menikah dua kali, (yang pertama menikah tahun 1992, unfortunately istrinya meninggal di tahun 2004; yang kedua menikah tahun 2005) dan kedua-duanya JADI karena si cewe ngadain pedekate ke dia duluan. Dan dia pun terus terang ke our dear Mom tentang hal ini. “Wah, orang sepertiku ini kalau tidak didekati cewe duluan, mana pede?” katanya. LOL. 


Waktu bercerita tentang perbincangan di kelas ini kepada Angie, Angie, tanpa kusangka-sangka nyaut, “Wah, seharusnya RM berterima kasih kepada Angie yang telah membuat masa SMP-nya indah. Coba bayangkan kalau tidak ada satu cewe pun yang berani nembak dia waktu duduk di bangku SMP, tentu masa SMP-nya bakal ngebosenin.”


Wakakakaka ... My smart Lovely Star.😜


PT56 19.50 020907

Thursday, August 23, 2007

S B I

 

Angie in 2007

Tatkala Angie masuk SMA N 3 Semarang tahun ajaran 2006/2007, aku tidak tahu apakah yang dimaksud dengan SNBI = Sekolah Nasional Berstandar Internasional (yang belakangan lebih dikenal sebagai SBI = Sekolah Bertaraf Internasional?) Angie ingin masuk sekolah negeri terfavorit di Semarang ini karena beberapa teman dekatnya waktu SMP masuk ke SMA N 3. Aku sendiri ingin Angie bersekolah di situ bukan melulu karena prestise (karena aku belum tahu apa-apa tentang SBI), namun lebih ke romantisme pertengahan tahun 1980-an, aku bersekolah di sekolah yang gedungnya merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang terletak di Jalan Pemuda no 149 ini. 


Setelah Angie masuk SMA N 3, kepala sekolah Drs. Sudjono, menjelaskan yang dimaksudkan dari SBI. Para siswa diharapkan akan mampu bersaing dengan lulusan high school dari luar negeri. Bagaimana caranya? Di kelas X, enam mata pelajaran diberikan dalam Bahasa Inggris: matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, dan tentu saja Bahasa Inggris.  Sedangkan untuk prasarana, semua kelas dilengkapi dengan AC—agar siswa nyaman dan tidak merasa kegerahan, maklum Semarang terkenal dengan hawa panasnya—sehingga siswa diharapkan akan mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu, setiap kelas dilengkapi dengan LCD dan komputer yang bisa dipakai oleh guru maupun siswa. Tak heran jika beberapa guru memberikan catatan dalam bentuk file dan siswa mentransfernya ke dalam flash disk. 

Floppy disk menjadi kuno di sini, karena dianggap tak cukup untuk menampung semua data.
Ada dua hal yang bersifat kontradiktif yang kurasakan. Pertama, aku senang dengan prasarana yang disediakan oleh sekolah—AC, LCD, dan komputer. Angie akan merasa nyaman dan tidak buta teknologi. Yang kedua aku ragu. Seandainya kemampuan Bahasa Inggris guru matematika, fisika, kimia, biologi, dan ekonomi tidak memadai, bagaimana cara mereka mencerdaskan para siswa? Diberikan dalam Bahasa Indonesia saja masih memusingkan, apalagi diberikan dalam English yang masih tetap dianggap sebagai bahasa asing di Indonesia ini? (Sebagai bandingan, English dianggap sebagai bahasa kedua di negara tetangga, Malaysia dan Singapore.) Apa yang akan didapatkan Angie, selain bahwa she is exposed to an English-speaking environment?


Keraguan ini semakin membesar tatkala di lembaga kursus Bahasa Inggris tempatku bekerja dipercaya oleh sebuah sekolah kejuruan untuk memberikan pelatihan Bahasa Inggris kepada para gurunya, untuk mempersiapkan sekolah itu menyongsong era SBI. Kemampuan Bahasa Inggris para guru yang lebih dari 50% telah mencapai usia matang itu sangat memprihatinkan. Untuk daily conversation saja sangat memprihatinkan, bagaimana mereka harus menyampaikan pelajaran dalam Bahasa Inggris?


Sebagai seorang guru Bahasa Inggris, tentu aku sangat senang dengan lebih meluasnya pemakaian Bahasa Inggris dimana pun kita berada. Namun untuk ‘menyulap’ sebuah sekolah siap bersaing menjadi SBI, tidaklah semudah mengatakan abrakadabra. SMA N 1 yang tidak mau kalah dengan SMA N 3 pun mulai tahun ini menyiapkan diri menjadi SBI secara swadaya, lain dengan SMA N 3 yang dipilih oleh pemerintah sehingga mendapatkan bantuan dana. Swadaya? Ya, pihak sekolah membebani para orang tua siswa dengan uang sumbangan pembangunan sejumlah 4-5 juta rupiah per siswa baru, jumlah yang bagiku sangat fantastis untuk masuk ke SMA. Dan seperti yang kukemukakan di atas, untuk perlengkapan fisik kelas, seperti penyediaan AC, LCD, komputer dan internet jauh lebih mudah daripada meningkatkan mutu para guru dan karyawan. Sudah saatnya dalam perekrutan guru baru, syarat mampu berbahasa Inggris aktif harus disertakan, seperti beberapa perusahaan bonafide yang mengharuskan pelamarnya memiliki sertifikat TOEFL dengan skor tertentu. 


Mengenai keraguan beberapa pihak bahwa seorang siswa yang bersekolah di SBI akan melupakan jati dirinya sebagai seorang anak Indonesia, aku tidak setuju. Untuk mengantisipasinya, dalam kurikulum bisa ditambahkan muatan lokal, seperti pelajaran menari tradisional, maupun bahasa daerah. Seseorang yang berbicara bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari tidak akan serta merta membuatnya menjelma menjadi seorang American atau European maupun Australian. Jack C. Richards dalam pidatonya sebagai salah satu keynote speaker dalam seminar TEFLIN di Surabaya tahun 2002 lalu mengatakan bahwa Bahasa Inggris telah menjadi bahasa dunia, bukan semata milik orang Inggris, Amerika, maupun Australia. Semua orang bisa berbicara bahasa Inggris menggunakan dialek lokal masing-masing, dan tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai seorang warga negara Indonesia, Jepang, Korea, dll.


Kembali ke masalah SBI. Kita belum melihat lulusan pertama hasil kurikulum SBI dari SMA N 3 yang kebetulan terpilih sebagai ‘kelinci percobaan’ pemerintah di Semarang. Apakah benar para siswa itu akan mampu bersaing dengan para lulusan high school luar negeri? Sebaiknya kita melihat dulu, dan tidak terburu-buru untuk mengubah sekolah lain mengikuti ‘demam SBI’, hanya demi gengsi sekolah, apalagi hanya demi keuntungan keuangan semata, dan mengorbankan pendidikan anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa.


PT56 22.19 220807